Flower Of War

Flower Of War
Chapter 42 : Perang Selatan


__ADS_3

Tiga hari berlalu dengan penuh kesibukan, bukan kesibukan menyiapkan pernikahan seperti yang direncanakan sebelumnya melainkan kesibukan persiapan peperangan antara kedua negara di wilayah perbatasan selatan.


Bantuan dari Kerajaan Qiu Wang kemungkinan akan datang tiga sampai lima hari lagi di perbatasan.


Yiu dan Pangeran Liu Yu ditambah kedua saudara Pangeran Liu Yu yang memegang kendali atas kamp militer sudah bersiap untuk menuju perbatasan beserta delapan ribu pasukan dengan membawa beberapa peralatan berat.


Pasukan itu segera berangkat menuju perbatasan negara menempuh perjalanan melalui jalur gunung yang memiliki medan berat dengan ditemani tebing menjulang tinggi di kanan kirinya.


Selama perjalanan yang memakan waktu sehari semalam jika tanpa istarahat di isi dengan ocehan Liu Yu yang menceramahi Yiu agar berhati-hati dalam medan perang seperti 'Jangan maju sebelum pasukan sayap kanan bertindak' atau 'Jangan melawan pria yang kuat', 'Jangan berdekatan dengan pria manapun', 'Jangan memaksakan diri' dan masih banyak lagi.


Mendengar ocehan bebek Liu Yu yang menceramahinya seperti anak kecil yang ceroboh membuat Yiu habis kesabaran.


Dia mendekatkan kudanya ke arah kuda Liu Yu lalu tangannya bergerak melepaskan kain yang mengikat lengannya kemudian segera membekap mulut Liu Yu dan mengikatnya dengan simpul mati.


"Begini lebih nyaman. Jangan dilepas jika kau masih sayang nyawamu!"


Liu Yu berteriak namun suaranya teredam kain yang melilit di mulutnya membuatnya hanya mengeluarkan bunyi tertahan sembari melotot tajam ke arah Yiu.


Yang mendapat tatapan tajam hanya bersikap acuh tak acuh seolah tak terjadi apapun, membuat Liu Yu akhirnya mengalah dan memilih diam selama perjalanan.


Di samping keduanya adalah kuda yang ditunggangi oleh kedua kakak Liu Yu, Pangeran Liu Yao dan Pangeran Liu Song. Keduanya dikabarkan selalu kontra dengan Liu Yu dan kini tengah tertawa mengejek ke arah Liu Yu.


Hubungan antara Pangeran Liu Yu dan keduanya memanglah kurang bersahabat, rumornya kedua kakaknya itu bekerja sama untuk menggulingkan Liu Yu dari gelar Putra Mahkota.


Keduanya yang sejak tadi diam mengamati interaksi Yiu dan Liu Yu akhirnya bersuara.


"ErGe, apakah wanita di kediamanmu pernah bertindak keterlaluan terhadapmu?" Pangeran Song yang pertama membuka suara.


"Pernah, tapi yang paling parah hanya karena dia tidak becus dalam menyajikan teh dan itu sangat membuatku marah lalu mengusirnya keluar."


"Apakah wanitamu tidak pernah marah atau memukulimu, Ge?"


"Sebagai pria sejati seharusnya dapat mendisiplinkan wanita, dimana harga diri seorang pria jika istrinya saja berani membentak bahkan memukulinya dan dia tidak melawan sama sekali huh bagaimana bisa pria itu layak menjadi seorang pemimpin? Dia lebih pantas menjadi seorang pesuruh atau kusir haha."


Keduanya tertawa cukup keras, Yiu tidak bisa tidak melirik ke arah Liu Yu yang terlihat tidak peduli sama sekali.


Yiu ingin ikut berdebat dengan kedua saudara Liu Yu namun segera dicegat oleh tangan kiri Liu Yu sedangkan tangan kanannya membuka kain yang menutupi mulutnya dengan sedikit usaha lalu menggeleng pelan.


Sepanjang perjalanan diisi dengan kedua saudara Liu Yu yang terus bergurau sembari sesekali menyindir Liu Yu namun yang disindir sendiri sama sekali tidak terganggu dan asyik mengobrol juga dengan Yiu seputar peperangan meski kali ini Yiu masih menjadi seorang yang sedikit pendiam.


Hari sudah gelap, pasukan BaiQing itu pun beristirahat di hutan bambu yang cukup luas. Mereka dengan cekatan membangun tenda dan perapian.


Yiu seperti biasa berkeliaran menjauh dari tenda perkemahan untuk menyendiri dan menikmati suasana dinginnya malam di hutan.


Apa keputusanku untuk ikut berperang sudah benar? Aku merasa aku tidak seharusnya terlibat tapi aku juga merasa harus membantu. Kenapa hatiku terlalu gelisah? Sebelumnya, saat aku menghadapi peperangan aku tidak pernah segelisah ini.

__ADS_1


"Ternyata benar kau disini. Aku mencarimu sejak tadi, A-Ying." Suara redah milik Liu Yu memecah keheningan di sekitar Yiu.


Kenapa orang ini selalu muncul disaat aku ingin menyendiri?! Menyebalkan.


"Pergilah, aku ingin sendirian dulu."


Bukannya menjauh pergi, Liu Yu malah berjalan mendekat dan berdiri tepat di samping Yiu dan kinj keduanya berjarak hanya beberapa centi saja.


"Kenapa kau suka sekali menyendiri? Jika ada masalah beritahu saja aku .... Aku pasti akan membantumu."


"Tidak perlu. Aku tidak apa-apa."


"Kau khawatir tentang peperangan kali ini? ... Haha sudah kuduga. Mata tidak akan pernah bisa berbohong, A-Ying. Tenanglah jika kau mau kau bisa kembali ke Istana, aku juga tengah khawatir jika akan terjadi sesuatu pada belahan jiwaku ini. Aku lebih baik kehilangan nyawa dari pada kehilangan dirimu, A-Ying."


Keduanya kini saling menatap, Liu Yu tersenyum lebar sebelum kembali melanjutkan bicaranya, "Jangan paksakan dirimu, bagiku keselamatanmu lebih penting dari apapun yang aku punya bahkan nyawaku sendiri .... Kau tau A-Ying? Saat pertama kali melihatmu aku merasa sesuatu dalam diriku bergetar hebat, aku merasa seperti ada ribuan kupu-kupu berterbangan di perutku. Aku ingin bersama dengan dia dan menua bersamanya. Menjadi satu satunya yang mencintainya ... selamanya."


Yiu segera mengalihkan muka menatap depan memandang kegelapan malam. Wajah Yiu tanpa sadar memerah di bawah cahaya rembulan, entah kenapa dia merasa bahagia saat ini, seluruh kekhawatirannya runtuh seketika. Yiu akhirnya berani menoleh perlahan ke arah Liu Yu.


"Terima kasih A-Ying, terima kasih telah menerimaku di hidupmu, terima kasih karena sudah bersedia menjadi matahariku dan juga selalu disisiku. Aku tidak tahu bagaimana aku harus melewati semua ini tanpamu. Aku akan buktikan kepada saudara-saudara yang membenciku bahwa aku lebih baik dari mereka karena hanya mencintai dan melindungi satu wanita saja di hidupnya. A-Ying, maukah kau mencapai puncak dunia bersamaku?"


Yiu merasa jutaan kupu-kupu mulai berterbangan penuh kegilaan di perutnya, Liu Yu masih menampilkan senyum manisnya membuat lesung pipinya terlihat lebih jelas di bawah sinar rembulan.


Untuk sesaat Yiu masih terdiam dan tak mengerti harus berbuat apa, otaknya terlalu kosong saat ini.


Tidak mudah untuk mendapatkan kepercayaanku, aku tau kau sangat baik dan bersabar menghadapi kepribadianku, dan juga kedua kakakku bersikap baik terhadapmu bahkan bersedia membantumu.


Yiu mengangguk perlahan.


"Jadi bagaimana jawabanmu, A-Ying?"


Yiu tanpa sadar kembali mengangguk lagi.


Wajah Pangeran Liu Yu semakin berseri, tanpa banyak pertimbangan ia segera menarik Yiu ke dalam pelukannya.


Yiu masih dalam keadaan linglung, namun segera tersadar setelah mendapati dirinya tengah berada dalam pelukan Liu Yu. Hatinya perlahan terasa menghangat.


Tolong jaga kepercayaanku, Liu Yu.


♣♦♣


Hari demi hari berikutnya berlalu, pertempuran antara kedua negara sudah berjalan sekitar dua hari di lembah gunung Qin di perbatasan kedua negara.


Pasukan bantuan dari Qiu Wang juga telah lama sampai, berjumlah 5000 pasukan. Namun Pangeran Huang sendiri tidak bergabung dalam pasukan sebaliknya Qiu Wang mengirim Jendral Guang sebagai pemimpin pasukannya.


Pertempuran terjadi di dua tempat yang berbeda sehingga pasukan BaiQing juga harus terpecah menjadi dua, Pasukan Barat dan Pasukan Timur.

__ADS_1


Pasukan BaiQing Barat berada dibawah komando Liu Yu dan Yiu sedangkan Pasukan BaiQing Timur berada dibawah komando Pangeran Liu Yao dan Pangeran Liu Song.


Pertempuran antara kedua negara berlangsung sengit, tujuh hari pertama Pasukan BaiQing Timur dan Barat mengalami kemenangan yang cukup mudah akibat granat buatan Yiu yang banyak berkontribusi dalam perang.


Namun hari selanjutnya Pasukan BaiQing Timur menderita kekalahan, bahkan hampir setengah pasukan terbunuh. Diketahui penyebabnya adalah akibat musuh yang mengetahui senjata ampuh dari BaiQing, mereka secara sadis melumuri pasukan mereka sendiri di garis terdepan dengan minyak sehingga saat granat di lemparkan terjadi ledakan besar dua kali lipat.


Kemudian setelah api di ledakan pertama mulai mereda, pasukan gelombang kedua musuh mulai dikerahkan membuat pasukan BaiQing mau tak mau harus meluncurkan prajurit mereka menerobos api yang masih berkobar.


Dan lagi-lagi mereka bertindak sadis, Pasukan pemanah LingJian mulai menembakkan panah api dari busur mereka. Sekali lagi ledakan demi ledakan terus terjadi hingga membuat tanah sedikit berguncang.


Kekalahan telak terjadi di pihak Pasukan BaiQing Timur, hingga membuat kedua pemimpin, Pangeran Liu Yao dan Pangeran Liu Song meregang nyawa karema tak sempat menyelamatkan diri dan sisa pasukan yang berhasil lari segera menuju kamp Pasukan BaiQing Barat untuk melapor.


Kaisar Liu Xun sangat marah mendengar berita kematian kedua putranya, dengan segera Kaisar Liu Xun mengirim batalyon 6 dan 7 yang dibawahi langsung oleh komando Pangeran Liu JieLu.


Pertempuran terjadi terlalu sengit, kali ini Pasukan BaiQing Barat yang mengalami kendala akibat salah strategi. Akibatnya, Yiu terluka di bagian lengan kiri dan lukanya cukup dalam saat bertarung.


Beruntungnya sisa Pasukan BaiQing Timur memberikan bantuan di saat-saat terakhir, memukul mundur Pasukan LingJian hingga mundur ke kota terdekat.


"Ini salahku, jika saja aku datang lebih awal kau pasti tidak akan menderita seperti ini."


"Bukan salahmu, saat itu memang aku terlalu lengah. Sudahlah ini bukan masalah besar, lagipula yang terluka adalah tangan kiri jadi tidak akan mempengaruhi permainan pedangku. Lebih baik kita membuat strategi untuk pertarungan esok hari."


Setelah matahari terbenam, Yiu bersama Pangeran Liu Yu, Pangeran Liu JieLu bersama lima Jenderal inti berkumpul di tenda yang di dalamnya sudah tersedia meja besar dengan peta topografi daerah lembah Qin dan disana sudah tersedia beberapa pion berbendera dengan dua warna terpisah di atasnya.


Yiu membuka diskusi pertama. "Pasukan LingJian sudah mundur ke Kota GuangDong. Aku berpendapat karena sebelumnya mereka melakukan hal bodoh dengan membakar pasukannya sendiri sehingga mereka kekurangan pasukan dan mundur ke kota terdekat. "Walaupun mereka bisa mendapatkan wilayah pertempuran timur tapi pasokan makanan mereka semakin menipis setelah kita berhasil membakar gudang makanan mereka. Mereka tak punya pilihan lain, mereka memilih untuk menyandera warganya sendiri sehingga membuat kita tidak dapat sembarangan menyerang."


Kemudian Pangeran Liu JieLu menanggapi dengan mengerakan pion berbendera merah ke topografi kota GuangDong. "Jika kita bergerak maju mengepung kota di malam hari dan berkemah di gerbang luar lalu menyergap mereka di pagi hari itu bisa menjadi cara yang cukup efektif."


Yiu menanggapi dengan mata masih terfokus ke arah peta dengan wajah serius, mengabaikan luka di tangan kirinya. "Tidak, itu cukup berbahaya. Pasukan mereka pasti berjaga di atas gerbang dan jika mereka tahu kita melakukan pergerakan mereka tidak akan tinggal diam dan melakukan hal bodoh lagi. Posisi mereka sedang tersudut sekarang jadi kita tak perlu terlalu terburu-buru."


Pangeran Liu Yu kini mengambil giliran berbicara, "Justru karena mereka sedang terpojok kita bisa menuntaskan perang ini. Kita bisa menembakkan panah api kedalam kota dan menciptakan keributan di sana, bagaimana A-Ying?"


"Tidak, kita bisa melukai warga sipil yang tidak bersalah. Bagaimanapun juga ini sudah melewati batas medan perang dan mereka menggunakan warganya sendiri sebagai tameng untuk mencegah kita mengambil keuntungan lebih. Terlalu beresiko."


Pangeran Liu JieLu terlihat frustasi, dia memukul meja membuat beberapa pion yang sudah tersusun menjadi jatuh berserakan.


Brukk ...


"Lalu kita harus bagaimana?! Mereka bukan warga BaiQing lalu kenapa kita harus memikirkan nyawa mereka!"


"Bagaimanapun warga sipil itu tidak bersalah, Pangeran. Jadi kita tidak seharusnya merenggut nyawa mereka, itu menyalahi perjanjian perang. Jika di dalam kota hanya ada pria dewasa kita bisa menerobos masuk tapi di dalam kota juga terdapat wanita, orang tua, dan anak-anak." Jendral Shan berusaha meredam amarah Pangeran Liu JieLu.


Yiu tidak menyia-nyiakan waktu dan kembali angkat bicara, "Situasi seperti ini kita tidak bisa mengandalkan granat ledak, jadi kita harus memikirkan cara lain! ... Biarkan aku berpikir sebentar."


Keheningan sejenak menyelimuti tenda yang dipenuhi cahaya kuning dari lilin di sekeliling tenda.

__ADS_1


"Aku mengerti sekarang. Dengarkan aku baik-baik."


TBC


__ADS_2