
Kini mereka telah berada di dalam kamar Yiu, Kedua kakaknya memutuskan untuk mampir sebentar ke kamar Yiu untuk 'sekedar' berbincang.
Yiu tersenyum kecut mendengar ajakan dari Pangeran Huang untuk mampir ke kamar Yiu.
"Jadi Ying, bisa kau ceritakan aksi heroikmu kali ini? Aku sangat tak sabar mendengarnya" Pangeran Huang sangat antusias.
"Eghh apa kakak yakin tak akan marah padaku?" ucap Yiu sedikit gugup.
"Tergantung" kini Putra Mahkota Xiao Ce yang menyahut.
Sudah bisa dipastikan Yiu sangat susah walau hanya menelan ludahnya sendiri setelah mendengar jawaban dari kakaknya itu.
Yiu menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskan nafas kasar mempersiapkan mentalnya untuk memulai bercerita.
Flashback on
Yiu berjalan sembari bersembunyi mengikuti pelayan yang tadi dilihatnya bersama dengan pria berjubah itu.
Dan si pelayan rupanya berjalan menuju ke arah dapur lalu masuk ke ruangan dapur yang khusus untuk membuat minuman para anggota kerajaan.
Chi chi juga sedang membantu menyiapkan masakan untuk para tamu undangan.
Yiu berpura pura sedang mengecek pekerjaan para pelayan di dapur istana lalu menghampiri Chi chi yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Yiu memanggilnya pelan dibelakang Chi chi seperti tengah berbisik membuat sang empu tersentak kaget lalu berbalik menghadap Yiu.
"Ikut aku sebentar, bantu aku mencari hadiah untuk Kaisar yang sudah aku siapkan di kamar" Yiu sengaja berbicara dengan suara normal agar pelayan yang berada disekitar mereka tidak curiga dengan kedatangan sang pangeran.
"Baik pangeran" ucap Chi chi membungkuk singkat lalu mengikuti Yiu yang sudah berjalan ke luar dapur dari belakang.
Saat mereka sampai dilorong gelap nan sepi di dekat dapur istana Yiu berhenti dan mulai mengamati keadaan sekitar sebelum ia berbicara.
Chi chi yang melihat perilaku aneh sang putri hanya bisa bertanya tanya dalam hati tanpa berani bertanya.
"Aku punya rencana untukmu dan untukku, kerajaan ini sekarang sedang dalam bahaya dan kita harus segera bertindak untuk menyelamatkan nyawa anggota kerajaan Zhang dan kita harus melakukan ini ..." Yiu menjelaskan rencananya kepada Chi chi yang kemudian mengangguk singkat.
Saat ini Yiu dan Chi chi sedang berada di dapur bagian empat untuk membuat minuman keluarga kerajaan.
Dapur kerajaan ini sangat luas mungkin seluas lapangan bola namun berbentuk persegi dan dibagi menjadi 4 bagian yang terhalang oleh dinding kokoh namun terhubung langsung dengan pintu di dinding pemisah satu sama lain.
Dan setiap bilik dapur setidaknya muat untuk 30 pelayan bekerja didalamnya.
Bagian pertama yang berada di bagian pojok timur belakang adalah tempat untuk memasak makanan bagi pelayan, prajurit atau budak dikerajaan ini dan tempat inilah yang paling sempit diantara bilik lain.
Bagian kedua berada tepat disebelah bilik pertama namun tempat ini lebih luas dari bilik pertama, tempat untuk memasak makanan para pejabat negara atau orang yang mempunyai posisi di istana.
__ADS_1
Bagian ketiga berada di sebelah barat pintu masuk dapur, tempatnya sangat luas rapi bersih dan bahan makanan yang lengkap. Bilik ini untuk menyiapkan makanan dan minuman tamu istana dan pejabat tinggi kerajaan.
Bagian keempat sama luasnya dan lengkapnya dengan bilik ketiga tapi untuk bilik ini terlihat lebih cantik dengan ornamen yang menghiasi setiap sudut ruangan. Ruangan untuk menyiapkan makanan bagi anggota kerjaan dan tempat inilah yang sekarang Yiu masuki.
Mereka berdua pun membantu para pelayan yang sedang menyiapkan teh hijau untuk keluarga kerajaan dengan alasan bahwa Putra Mahkota Xiao Ce yang menyuruh mereka membantu atas persetujuan Pangeran Wu Tian.
Yiu sekarang tengah menyamar sebagai pelayan, Ia meminjam pakaian ganti dari pelayan setianya untuk mempermudahnya dalam menjalankan misi.
Yiu yang membantu mengaduk teh hijau di bilik keempat diam-diam memperhatikan pelayan yang tengah ia intai duduk cukup jauh dari tempatnya, pelayan itu berada disudut ruangan.
Pelayan tersebut tengah memegang wadah besar berisi gula putih dan menumbuknya pelan agar menjadi gula halus, maniknya terus waspada melihat ke kanan dan kiri memastikan tak ada yang melihat tingkah mencurigakan dirinya.
Tak lama datang seorang prajurit datang menghampiri pelayan itu lalu membungkuk untuk mensejajarkan kepalanya dengan kepala pelayan itu.
Yiu terus memperhatikan gerak gerik mereka dari jauh sembari mengaduk wadah besar berisi teh hijau.
Tangan kanan sang prajurit memegang kantong hitam yang cukup berisi dan menyerahkannya ke pelayan itu.
Yiu menduga itu adalah racun tambahan yang akan dicampurkan ke gula tersebut agar efeknya cepat bereaksi, terlebih Yiu dapat melihat gestur mulut prajurit itu menyebut kata racun dan gula.
Setelah kepergian prajurit itu, Yiu memberikan isyarat mata dengan Chi Chi dan prajurit sang kakak di depan pintu masuk dapur berpura pura menjadi penjaga pintu dapur istana tentu saja mereka semua menyamar untuk melakukan tugas yang Yiu berikan.
Tidak mungkinkan Yiu akan bertindak sendirian dalam kasus besar yang tengah ia hadapi, selagi ia masih memiliki orang kepercayaan ia harus bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk hasil yang maksimal dan itulah prinsipnya yang terbiasa bekerja sama dengan timnya dikehidupan sebelumnya.
Yiu masih mengaduk teh hijau yang mulai hangat diatas kayu bakar, namun ujung maniknya masih memperhatikan pelayan itu yang mulai mencampurkan isi kantong itu kedalam gula halus dan mengaduknya lalu menutup 2 wadah berisi gula beracun itu dengan kain berwarna merah dan hendak mengangkat kedua wadah itu.
Kesempatan emas untuk Yiu mengambil gula beracun itu tidak ia sia-siakan.
Ia meminta tolong pelayan lain yang berada didekatnya sedang menjaga api agar tetap menyala untuk menggantikannya dan bilang jika ia akan membantu pelayan yang berada di sudut dapur.
Yiu berjalan cepat kearah pelayan yang tengah kesusahan membawa gula beracun itu.
"Biar ku bantu mengangkatnya" ucap Yiu manis kepada si pelayan yang mengangguk singkat lalu menganggkat satu wadah gula itu dan berjalan disamping pelayan itu.
Sesampainya mereka ditempat penyajian minuman yang berdinding tirai, diletakannya kendi berisi teh hijau pelayan itu menyuruhnya meletakan wadah itu disamping kendi.
"Terima kasih atas bantuanmu sekarang kau boleh melanjutkan pekerjaanmu dan untuk bagian ini biar aku yang mengurusnya" ucap pelayan itu manis namun terdapat kecemasan dalam nada bicaranya.
Yiu tak langsung pergi, ia tetap barada dalam posisi tegaknya dan menatap wajah pelayan itu tajam.
Ruangan ini kosong hanya ada mereka berdua saja jadi Yiu tak perlu takut akan ketahuan. Yiu menyeringai tajam kearah pelayan itu yang berhasil membuatnya bergidik ngeri.
"Apa motifmu dibalik ini semua?" ucap Yiu tegas layaknya sedang menginterogasi seorang tersangka.
Pelayan itu tersentak kaget melihat perubahan wajah Yiu.
__ADS_1
"Kau sudah tertangkap basah dan aku sudah tau semua rencana busukmu itu. Sekarang katakan siapa yang menyuruhmu" ucap Yiu mendekatkan diri ke pelayan yang perlahan mundur menjauhi Yiu.
"Apa maksudmu aku tak mengerti maksudmu" ucap pelayan itu tergagap menyanggah pertanyaan Yiu.
"Tak usah berpura-pura tak paham maksudku ular kecil, katakan siapa yang menyuruhmu mencampurkan racun bubuk ke gula halus ini?" Yiu semakin naik pitam.
Yiu mencengkram kedua bahu pelayan itu kuat agar tak memberontak lebih ganas lagi.
"Ak ... Aku ... Ak ... Aku terpaksa!" setelah mengucapkan kalimat itu pelayan yang berada dicengkraman Yiu terisak pelan sembari menundukan kepalanya.
"Apa kau tak mengenaliku ha? Aku ini Pangeran Zhou Li teman baik dari pangeran yang akan kau tuduh atas kejadian ini, apa kau tak tau siapa aku! Aku tak segan-segan menghabisimu dan keluargamu sebelum kau menyakiti sahabatku kau paham itu!" ucap Yiu mengguncang tubuh pelayan yang ternyata masih gadis kecil berusia sekitar 15 tahun yang semakin menangis ketakutan.
"Tolong jangan hukum saya, Pangeran. Saya mengaku salah Pangeran, saya hanya butuh uang untuk pengobatan ibu saya yang kini sedang sakit keras dirumah bersama adik saya" pelayan kecil itu sembari menangis sesegukan.
Yiu bisa membedakan mana tangisan palsu penuh kebohongan dan mana yang tangisan penuh kejujuran didalamnya.
Yiu sering mengintrogasi seseorang disaat dirinya masih menjadi komandan angkatan perang dan dirinya diberikan cara untuk mengetahui gerakan seseorang sedang berbohong atau tidak melalui gerak mata dan anggota tubuh.
"Lalu siapa yang menyuruhmu melakukan ini semua" suara Yiu melembut, ia tau gadis ini masih sangat polos dan harus dihadapkan dengan situasi yang sulit.
"Mentri ... Men ... Mentri Mu Tong" pelayan itu masih ketakutan.
"Lalu apa tujuan ia melakukan ini semua? Apakah gula beracun itu hanya untuk keluarga kerajaan saja atau memang ia ingin meracuni seluruh istana?" Yiu berujar pelan berusaha mengintrogasi pelayan ini tanpa paksaan.
"Tidak, ia hanya bilang jika saya hanya harus mencampurkan bubuk racun ini digula halus untuk anggota kerajaan saja"
Saat hendak merangkul pelayan itu terdengar seseorang membuka tirai ruangan membuat keduanya terkejut.
"Pangeran, saya sudah membawakan madu yang anda minta dari kamar anda" ternyata itu adalah Chichi yang memang disuruh Yiu untuk membawakan madu persediaannya yang biasanya ia jadikan pengganti gula saat dirinya meminum teh.
"Letakkan madu itu disini lalu campurkan kedalam wadah teh itu, amankan gula ini secepatnya karena sebentar lagi para pelayan akan tiba disini untuk mengambil teh hijau ini dan gula itu akan aku jadikan bukti kepada raja dengan menunjukan sidik jari yang berada diwadah itu. Oh ya tolong suruh penjaga kita untuk menjaga dan mengintrogasi siapa saja yang terlibat aku akan menganti pakaianku sebentar" ucap Yiu yang masih mencengkram bahu pelayan yang tidak mengerti maksud perkataan dari Yiu dan diangguki pelan oleh Chichi yang memang sudah mengerti rencana sang putri.
Yiu tidak bodoh walau ia juga memegang wadah itu namun ia memakai sarung tangan tipis terbuat dari usus kambing agar sidik jarinya tak menempel di wadah itu.
Yiu sangat membenci pakaian perempuan karena itu terlalu rumit dan membuatnya tidak bisa bergerak sehingga ia memutuskan menganti pakaiannya menjadi pakaian pangeran dan berjalan menuju taman istana yang sudah terdengar keributan.
Flashback off.
"Aku tak menyangka kau secerdik itu Ying, aku salah menduga tentang dirimu rupanya" Pangeran Huang berucap bangga.
"Aku belum puas dengan ceritamu, masih banyak hal yang akan ku gali dari ceritamu jadi jangan coba-coba membohongiku" ucap Putra Mahkota Xiao Ce datar disertai dengan wajah dingin.
Glekkk ...
TBC
__ADS_1