
"Bukankah putri pandai menyulam kenapa sekarang tiba-tiba ...."
Chichi tak melanjutkan perkataannya yang mengantung akibat terlalu terkejut.
Yiu mengaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Aku sudah lupa caranya menyulam jadi cepat ajari aku bagaimana caranya."
"...."
Chichi mendekat berlutut di bawah Yiu kemudian mengajari Yiu bagaimana caranya menyulam dari dasar.
Detik demi detik, menit demi menit, dan jam demi jam dihabiskan Yiu dengan peralatan menyulam milik Putri Ying.
Chichi, "Putri, anda seharusnya menarik benangnya hingga tertarik seluruhnya, anda hanya menarik benang itu setengahnya saja itu bisa membuat benangnya kusut, Putri."
Yiu mulai mengerutu sembari mengetuk-ketukkan ring kayu itu di pangkuannya, "Tanganku sangat pegal kau tahu! Kenapa kau mengambil benangnya panjang sekali sampai aku harus menariknya hingga tanganku rasanya ingin terbang ke langit."
Yiu terus mengeluh karena merasa tangannya akan lepas hanya karena menarik benang dan kemudian memasukannya ke kain kemudian menariknya lagi.
Yiu, "Aww dasar jarum terkutuk kenapa kau suka sekali menusuk tanganku hah!"
"..."
Yiu, "Kenapa benangnya mudah sekali kusut hah kau sudah kusut hampir 400 kali!"
Chichi mencoba menjaga suaranya agar tidak meninggi, "Itu karena anda tergesa-gesa saat menarik benangnya keluar, Putri, anda harus lembut sedikit."
Entah sudah berapa ratus kali Yiu terus menggerutu dengan benang dan jarum di tangannya dan Chichi yang terus mencoba sabar mengarahkan dan membenarkan benang yang kusut akibat sang putri yang terus menerus menariknya dengan terburu-buru.
Akhirnya Yiu berhasil menyelesaikan sulaman miliknya dan menghela nafas lega sembari melihat kembali sulaman miliknya yang di buat dengan segenap keringat bercampur darah
"Hmmm tak buruk juga." Yiu mengangguk-anggukan kepalanya senang atas hasil sulaman pertama miliknya.
Saat sedang mengagumi hasil karyanya, sudut mata Yiu tak sengaja melihat sebuah kain yang bermotif sulaman pohon magnolia mekar di musim semi dengan begitu indah nan sempurna di sebelah kotak alat sulamnya.
Yiu, "Siapa pemilik sulaman ini, Chichi?"
Chichi segera menjawab, "Ini milik anda, Putri, seingat saya ini sulaman pertama putri saat putri berumur 9 tahun."
Yiu merasa bulu kuduknya berdiri tegang, "9 tahun?!"
Chichi, "Ya, benar putri saat itu Permaisuri sendiri yang mengajari anda dan setelah itu anda sangat suka menyulam, Putri. Ah ... saya masih menyimpan beberapa hasil sulaman yang diberikan putri kepada saya."
Chichi bergegas pergi menuju keluar kamar entah kemana meninggalkan Yiu yang sudah cukup kehilangan muka hanya dengan melihat sulaman pertama dari Putri Ying yang saat itu masih berumur 9 tahun, jika dirinya harus dibandingkan dengan sulaman Putri Ying saat remaja, Yiu akan lebih kehilangan muka.
Tak lama kemudian, Chichi datang membawa beberapa sapu tangan dan sebuah kipas di tangannya.
Chichi, "Apa putri ingat dengan semua sulaman ini? Lihatlah ini adalah kipas yang sudah anda sulam dan anda hadiahkan pada saya putri, saya masih menyimpannya."
Chichi memperlihatkan dua buah sapu tangan berwarna biru dengan motif burung bangau dan motif bunga peony, kemudian menyodorkan sebuah kipas sulam berwarna hijau dengan motif bunga peony yang mekar di musim semi.
Untuk beberapa saat Yiu sangat kagum dengan bakat Putri Ying dalam menyulam, ia sudah bisa menyulam sebagus ini di usia remaja menurut Yiu itu sudah kemampuan yang luar biasa!
Lalu kenapa banyak orang di luar sana mangatakan bahkan menghujat Putri Ying karena tidak mempunyai bakat, sungguh setelah mengetahui fakta mencengangkan ini tangan Yiu ingin mencincang tubuh orang yang menuduh Putri Ying seorang sampah!
__ADS_1
Namun sesaat kemudian seluruh urat malu Yiu terasa seperti mendorongnya untuk segera membenamkan wajahnya di bantal sesegera mungkin jika berlama-lama melihat sulaman Putri Ying.
Yiu mengibaskan tangannya, "Sudah ... sudah simpan kembali dan jaga baik-baik dan tolong bereskan semua kekacauan ini."
Yiu menyunggingkan senyum manis berharap agar Chichi segera menyingkirkan sulaman itu demi dirinya yang merasa sangat kehilangan muka.
Chichi mengangguk patuh dan segera membawa peralatan dan kain sulam itu pergi.
Yiu menghela napas sebelum membersihkan tenggorokannya, "Baiklah ... mengikuti kontes menyulam adalah ide yang buruk mungkin aku akan mencoba memainkan alat musik saja."
"Apakah ada yang putri inginkan lagi?" Suara Chichi yang sudah berada di depan kamar membuyarkan lamunan Yiu.
Yiu tersentak kecil lalu bersuara, "Ah iya tolong carikan aku sebuah alat musik yang cocok untuk kumainkan."
Chichi, "Anda ingin mendengarkan musik putri? Bagimana jika saya bawakan pemusik untuk anda?"
Yiu berdecak lidah, "Sudah cepat cari alat musik itu aku tak butuh seorang pemusik."
Chichi, "Ah baiklah, Putri"
Tak lama kemudian, masuklah Chichi bersama 3 orang pelayan pribadinya dengan membawa sebuah guzheng dan pipa yang terbuat dari kayu yang kokoh tapi ringan, memang terlihat sederhana namun tetap menawan di masing-masing gedongan pelayan itu.
Guzheng 古筝 (Kecapi tradisional China yang mempunyai 16-24 senar)
Pipa 琵琶 (alat musik tradisional China berbentuk buah pir dengan 4 atau 5 senar)
Chichi, "Saya membawakan alat musik ini untuk anda, Putri, saya awalnya binggung akan membawa alat musik apa dan yang pertama saya lihat di ruang musik adalah ini apa tidak apa, Putri?"
Yiu, "Ya ya apa saja itu terserah yang terpenting adalah alat musik."
Ia dulu pernah belajar bermain alat musik tradisional sewaktu duduk di bangku sekolah menengah walau sudah berlalu sangat lama tapi jangan remehkan ingatan Yiu kali ini.
Jerami lentiknya mulai memetik guzheng dengan tempo pelan namun pasti, menelusuri setiap jengkal senar yang bergema nyaring.
Alunan musik yang begitu halus mengalun layaknya air sungai sejernih mata air mengalir tenang menuruni perbukitan di dini hari, mengalun bersama lembutnya sapuan Sang Bayu diiringi kabut dingin yang bergerak mengikuti aliran, menenggelamkan pikiran Yiu dalam alunan musik dinginnya.
Jemari lentik Yiu terus menerus memetik senar menghasilkan nada-nada indah yang menghanyutkan jiwa. Alunan itu lembut tapi nada tinggi yang dihasilkan seperti menandakan kerinduan mendalam menelisik dari alunan menyayat hati.
Chichi yang berdiri tak jauh dari tempat Yiu bermain pun ikut terhanyut dalam alunan musik bernada tinggi yang Yiu mainkan.
Yiu meletakkan kedua telapak tangannya diatas guzheng-nya setelah nada terakhir permainan Yiu.
Kembali membuka matanya, Yiu melihat kearah Chichi yang sudah bertepuk tangan sembari melompat kegirangan, terkadang mengusap sudut matanya yang berair.
"Waaahhh tadi itu sangat indah! Tidak! Tapi teramat indah! Walau saya belum pernah mendengar lagu tadi namun lagu tadi sangat indah, sang komposer pasti tengah merindukan cintanya sampai rasa itu terlalu membucah namun tetap tidak bisa bertemu seperti, sepasang kekasih berbeda dunia!"
Yiu tersenyum, "kau terlalu berlebihan."
"Tidak, saya bersungguh-sungguh mengatakannya dengan penuh kebenaran! Tapi, Putri, saya belum pernah melihat putri pandai memainkan guzheng, kapan anda belajar bermain itu, Putri?" Chichi mendekat selangkah ke arah Yiu dengan wajah polos penuh rasa penasaran, sadar akan kelancangannya Chichi segera berdiri tegak dan menunduk.
Chichi, "Maafkan saya putri, saya salah mungkin saya yang lupa jika putri sangat pandai bermain guzheng."
Yiu, "Sudah lupakan saja, ah iya aku ingin bertanya padamu sedikit."
Chichi, "Pertanyaan apakah itu putri?"
"Apa kau pandai bernyanyi?" tanya Yiu setengah berbisik.
Chichi mengerutkan alisnya bergumul dengan pikirannya, "Saya rasa saya buruk dalam bernyanyi putri, memang ada apa putri bertanya seperti itu?"
__ADS_1
Yiu memutar kepala santai, "Tidak apa-apa, aku hanya ingin berlatih menyanyi saja."
Chichi mencoba menghibur, "Suara anda saat berbicara saja sudah sangat merdu, Putri, apalagi jika anda bernyanyi jadi anda tak perlu bersusah payah berlatih menyanyi."
Yiu mengerutkan kening dan berpikir sebentar, "Baiklah .. aku akan mulai bernyanyi dan kau dengarkan baik-baik suaraku."
Yiu membersihkan tenggorokannya sebelum menarik nafas dalam dan mulai bernyanyi dengan penuh penghayatan walau sebenernya nilai bernyanyi Yiu di sekolah selalu rata-rata.
*I found a love for me
Darling just dive right in
And follow my lead
Well I found a girl beautiful and sweet
I never knew you were the someone waiting for me
'Cause we were just kids when we fell in love
Not knowing what it was
I will not give you up this time
But darling, just kiss me slow, your heart is all I own
And in your eyes you're holding mine
Baby, I'm dancing in the dark with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favorite song
When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath
But you heard it, darling, you look perfect tonight*
Lagu yang ada dipikirannya sekarang adalah lagu Perfect milik Ed Sheeran.
Yiu mengakhiri nyanyian abal-abalnya, "Bagaimana Chichi nyanyianku tadi?"
Yiu membalikkan badan ke arah Chichi tapi tak menemukan batang hidungnya, ia menilisik penjuru ruangan mencari keberadaannya penuh sorot kebingungan, akhirnya dirinya menemukan Chichi yang ternyata tengah berlutut setengah bersujud tepat di samping kaki Yiu seakan sedang bersujud menyembahnya, refleks Yiu mundur beberapa langkah seketika.
Yiu berteriak setengah terkejut, "Hei apa yang kaulakan?!"
Chichi perlahan mendongakkan kepalanya dan tersenyum canggung dengan ekspresi aneh, "Aiyoo maafkan saya putri tapi saya terlalu terlarut dalam nyanyian putri yang sungguh indah sampai tak sadar apa yang saya lakukan hehe"
Cara bicaranya cepat dengan senyum yang terlihat seperti dipaksakan, Yiu menyadari maksud tersembunyi Chichi lalu menghela nafas kasar, "Huh ... baiklah tak perlu berpura-pura aku tahu jika suaraku sangat bagus bahkan seperti akan membuat gendang telingamu pecah mendengarnya."
Mengetahui sindiran sang putri, Chichi dengan cepat menggelengkan kepalanya dan kembali membungkuk ke arah Yiu, "Aaaahhh tidak ... tidak putri itu tidak benar putri nyanyian anda sangat indah!"
Yiu memutar bola mata jengah, "Huh aku memang tak berbakat dalam bernyanyi lalu, aku harus bagaimana? Kontesnya akan tiba sebentar lagi dan aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa yang membanggakan."
Yiu berjalan ke sisi ranjang dan mendudukan diri dengan kepala tertunduk lesu, "Jangan bersedih hati putri bagaimana kalau anda tetap mengikuti kontes bermain alat musik saja namun tanpa bernyanyi? Saya yakin walau tanpa bernyanyi tapi permainan putri jauh lebih bagus dari yang lain selama putri berlatih lebih keras dan berusaha sebaik mungkin."
Chichi tersenyum tulus membuat Yiu tidak bisa tidak mengangkat kedua sudut bibirnya, "Baiklah akan kucoba dan terima kasih."
Kesedihan di hati Yiu mulai berkurang sedikit mendengar dorongan semangat dari Chichi yang sudah ia anggap saudaranya sendiri.
Untuk sesaat Yiu meragu dengan senyum yang terpancar di wajah Chichi, senyuman itu bukan senyuman biasa tapi seperti mengandung maksud lain yang tidak Yiu ketahui.
Apakah Chichi menyembunyikan sesuatu atau malah merencanakan sesuatu?
TBC
__ADS_1