Flower Of War

Flower Of War
Chapter 53 : Selangkah Lebih Dekat


__ADS_3

Di kedalaman hutan yang dingin nan sepi, dua orang berjalan menyusuri jalur hutan dengan jubah sederhana mereka yang terkesan lusuh menutupi hampir seluruh wajah dan tubuh mereka sembari membawa tas yang berupa kain lilit sederhana di pundak.


Salah satu yang paling tinggi dari keduanya terlihat menoleh ke belakang beberapa kali, mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru hutan seolah mencari sesuatu sedangkan yang satunya terus berjalan menunduk dengan langkah mantab.


Berjalan menyusuri hutan salju yang dingin tidak membuat langkah keduanya goyah, tak lama setelah itu nampak sebuah kereta datang dari kejauhan menuju ke arah keduanya.


Kereta sederhana itu berhenti tepat di depan mereka. Kusir kereta segera mengambil tangga dan meletakkannya di dekat kereta sebelum bergegas menghampiri wanita itu.


"Yang Mulia, silahkan."


Wanita itu adalah Yiu yang berhasil keluar dari ibu kota berkat ide Xu Gui dan juga pengalihan dari Wu Xiao membuat Yiu dengan mudah keluar dari ibu kota menuju ke utara tanpa menimbulkan kecurigaan dari Liu Yu ....


Setidaknya sampai sejauh ini ....


.


.


.


Yiu berjalan menuju kereta kuda itu dan memasukinya bersama Xu Lan.


Hangat, adalah perasaan yang ia rasakan setelah memasuki kereta yang tidak begitu luas itu.


Hari ini entah mengapa terasa begitu dingin walau sudah berjalan penuh tenaga menyusuri hutan putih ini dan membuat seluruh wajahnya memerah akibat kedinginan.


Kereta itu bergoyang ringan, Yiu bersandar pada dinding kereta untuk mengistirahatkan tubuhnya. Ia menutup manik lentiknya dan berkata pada Xu Lan, "Aku ingin istirahat sebentar, tolong bangunkan aku jika kamu lelah. Kita akan berjaga bergiliran."


Xu Lan menatap wajah lelah Yiu untuk beberapa saat, setelah itu ia melepas jubah tebalnya. "Putri, pakai ini agar Anda tidak terserang hipotermia. Cuaca begitu dingin, sangat berbahaya jika Anda tertidur di suhu yang begitu dingin seperti ini."


Yiu mengangkat kecil kelopak matanya ke arah tangan Xu Lan yang terulur sebelum kembali menutup matanya tanpa minat. "Aku tidak kedinginan, kamu pakai saja."


Xu Lan terlihat tidak ingin menyerah tapi melihat sikap Yiu yang begini ia tidak mempunyai pilihan lain, ia menarik tangannya dan kembali duduk gusar.


Tak berselang lama kemudian, Xu Lan yang tengah memainkan kakinya bosan tak sengaja menendang sesuatu yang keras nan kosong.


Ia menyingkirkan kakinya dan melihat ke bawah tempatnya duduk dan melihat sebuah kotak kayu besar nan kokoh. Xu Lan mengambil dan membukanya, di dalamnya terdapat selimut dan dua set pakaian tebal lengkap dengan mantel bulu.


Xu Lan dengan gembira segera memanggil Yiu beberapa kali tapi ... tidak ada jawaban.


"Putri? Anda sudah tidur?"


Tidak ada jawaban.


Xu Lan menghela napas dan kemudian dengan hati-hati memakaikan selimut paling tebal untuk Yiu.


Tiba-tiba, angin berhembus masuk melalui celah tirai yang tertiup dan mengenai wajah damai Yiu, wajah damai itu mengerut sedikit.


Xu Lan segera berpindah duduk tepat di jendela guna menghimpit tirai itu dan memblokir angin luar agar tidak langsung masuk ke dalam kereta.


Hari sudah hampir gelap, kereta yang ditumpangi Yiu sudah memasuki desa yang berada di tengah hutan panjang berselimut salju ini.


Xu Lan membuka pintu kereta dan berbicara kepada kusir kereta, "Hari sudah akan gelap lebih baik segera menemukan tempat untuk menghangatkan diri dan beristirahat."


Kusir itu mengangguk dan segera memacu kudanya menuju penginapan kecil di pusat desa. Bertepatan dengan itu, Yiu sudah bangun dari tidurnya dan melihat keadaan sekitar yang sudah sepenuhnya gelap.


Ia turun dari keretanya sedikit linglung mencari keberadaan Xu Lan yang menghilang tiba-tiba.


Yiu melihat cahaya kuning samar dari dalam sebuah rumah sederhana yang lebih mirip penginapan. Dengan segera ia berjalan memasuki penginapan itu.


Disaat yang bertepatan Xu Lan baru saja beranjak dari meja resepsionis dan hendak keluar dengan niat ingin membangunkan Yiu.


Ia tampak terkejut saat melihat Yiu sudah berdiri di ambang pintu masuk dan segera berseru, "Anda sudah bangun? Saya tadi sedang memesan kamar dan berniat ingin membangunkan Anda."


Yiu mengangguk dan seorang pelayan penginapan segera membimbing mereka menuju tangan kayu yang berderit kecil saat mereka melangkah.


Hidangan malam bercita rasa pedas tersaji di meja kecil di tengah kamar. Yiu duduk penuh minat melihat hidangan yang semuanya adalah makanan kesukaannya sedangkan kusir utusan Wu Xiao dan Xu Lan berdiri di ambang pintu untuk berjaga-jaga.


"Kenapa makanannya banyak sekali?"


Xu Lan, "Pangeran bilang Anda harus makan makanan yang banyak dan panas agar tidak kelelahan dalam perjalanan."


Yiu menggeleng pelan dan terdiam sesaat.

__ADS_1


"Kalian duduklah. Makan bersama." Suara itu mengagetkan keduanya dan dengan ragu mereka duduk bersama dan berbagi makanan.


Yiu berkata sembari mengangkat sumpitnya, "Dimana kita?"


Sang kusir menjawab, "Menjawab Yang Mulia, kita sekarang berada di Desa Baotou, hampir mendekati perbatasan Qiu Wang. Empat hari lagi jika cuaca mendukung kita akan tiba di Negara LiYui milik keluarga Feng."


"Bagaimana dengan dia?"


"Pangeran mengambil jalan memutar yang sedikit berbahaya tapi kemungkinan mereka akan lebih cepat sampai satu atau dua hari daripada kita tanpa perlu berhati-hati." Yiu mengangguk ringan dan segera kembali memakan makanannya.


Keesokan paginya, salju turun lembut bagai daun jatuh di musim gugur. Yiu sudah melanjutkan perjalanan menuju perbatasan negara.


Di sepanjang jalur perbatasan terdapat barisan tentara penjaga perbatasan dan sekelompok orang yang mengantre. Berkat persiapan yang matang, Yiu berhasil lolos dengan identitas palsu dan setelah empat hari melakukan perjalanan darat mereka sampai di Negara Liyui Feng provinsi selatan.


Yiu berdiri dengan gusar di bawah pohon mangnolia beku yang cukup besar, menunggu kedatangan seseorang sesuai janji mereka bertemu.


"Putri, bagaimana kalau Anda menunggu di rumah makan di seberang jalan? Anda belum mengisi perut seharian. Saya takut terjadi sesuatu pada Anda."


Yiu menoleh menatap Xu Lan, mengedarkan pandangan beberapa kali di sepanjang jalanan yang sepi. Ia mengeratkan jubah bulunya dan mengangguk sembari menghela napas.


Ia masuk ke dalam kereta, sejujurnya ia tidak terlalu tahan udara dingin. Wajahnya memerah, tubuhnya sedikit menggigil. Ia meraih liontin giok dari saku lengannya, menatapnya sejenak dengan penuh arti sebelum kembali memasukkannya.


Hari sudah malam, Yiu bermalam di sebuah penginapan. Hari ini adalah hari ketiga ia tiba di kota ini sesuai janji mereka.


Untuk sesaat Yiu sempat meragu apakah Wu Xiao tidak menepati janjinya? Apa dia memiliki rencana lain? Apa dia juga berusaha membuangnya ke negara lain dan melakukan hal lain di luar pengetahuannya?


Tidak! ... Ya! ... Ya? Apa dia memang begitu?


Kepala Yiu berdenyut sakit, ia akhirnya memutuskan untuk mengakhiri segala pemikiran buruknya dan segera melaju ke alam tidur.


♣♦♣


Hari berikutnya.


Yiu kembali berjalan menuju pohon magnolia beku yang tak jauh dari penginapan yang Yiu tempati.


Bosan menunggu seperti orang bodoh, akhirnya Yiu memutuskan untuk berjalan menyusuri padatnya kota kecil itu diam-diam.


Langkahnya ringan seirama dengan tiupan ringan salju yang anehnya tidak menyurutkan semangat penduduk setempat untuk memenuhi jalanan utama.


"Minggir! Awas! Kuda ini lepas kendali!"


Seketika jalanan ricuh.


Kerumunan segera terpecah dan jalanan kini bersih di tengah hanya menyisakan kuda yang berlari tak terkendali menyeret gerobak dengan seorang duduk di atasnya berusaha mengendalikan kuda itu.


Kusir itu berteriak, "Nak minggir! Awas! Menyingkirlah!!"


Tak jauh di depannya, seorang anak berdiri di tengah jalan dan sibuk bermain dengan mainan di tangannya. Menghiraukan teriakan orang-orang di sampingnya yang menyuruhnya minggir dari jalan.


Jalan itu terlalu lebar sehingga orang-orang masih berpikir dua kali untuk mempertaruhkan nyawa mereka dan berlari menyelamatkan anak yang malang itu.


Melihat itu, Yiu spontan berlari mengejar gerobak, memijak meja kayu pedagang sekitar sebagai awalan lompatan dan melompat mendarat di sisi kanan pria di atas gerobak.


Yiu merebut tali kekang dari pria itu dan dengan cekatan ia mengambil dua gerakan lalu menarik kencang tali kekang kuda ke belakang hingga akhirnya kuda tersebut mengangkat kedua kaki depannya kasar lalu berhenti terdiam tepat beberapa kaki sebelum menabrak sang anak, bak ia tidak pernah mengamuk sebelumnya.


Yiu bernapas lega dalam hati. Pria di sebelah Yiu segera bersuara, "Nona, terima kasih banyak! Terima kasih terima kasih."


Yiu tersenyum samar lalu memegang pundak pria paruh baya itu. "Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya melakukan apa yang bisa ku lakukan, itu saja."


Penonton yang berteriak histeris menyaksikan adegan berdebar beberapa detik yang lalu berubah menjadi ricuh dengan banjiran pujian serta tepuk tangan.


"Bagus! Hebat! Nona muda sungguh berbakat!"


"Nona itu sungguh berjiwa pemberani! Sangat patut dipuji!"


Lalu sang ibu dari anak itu muncul dari kerumunan dan segera berlari memeluk dan mengendong anaknya penuh khawatir sebelum menghampiri Yiu.


"Nona saya berhutang nyawa pada Anda karena telah menyelamatkan anak saya. Saya terlalu lengah hingga kehilangan jejak dan tidak mengetahui anak saya dalam bahaya. Terima kasih, Nona."


Perempuan itu bersujud di jalanan sembari memeluk anaknya. Yiu spontan turun dan menghampiri ibu tersebut dan memapahnya bangun segera.


Bersamaan dengan itu getaran kecil menggetarkan kerikil jalanan, getaran itu makin lama semakin terasa dan terlihat tiga kuda tengah berlari kencang lalu berhenti di samping gerobak.

__ADS_1


Salah satu yang mengendarainya menggunakan jubah keemasan dan wajahnya sedikit familiar oleh Yiu.


Kerumunan kembali riuh dengan bisikan-bisikan halus.


Pemuda berjubah emas itu turun dan menghampiri ketiganya. Mengedarkan pandangan sebentar lalu bertanya, "Kalian tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?"


Yiu menoleh memandang pemuda gagah tersebut yang mendekat, matanya seketika membola. Dia ....


Putra Mahkota Liyui Feng, Feng Pei.


Ibu itu menjawab, "Anak saya baik, untung saja ada dermawan wanita ini yang menyelamatkan nyawa anak saya, Pangeran."


Perhatian Pangeran Feng Pei beralih ke arah Yiu, ia terdiam. Keduanya terdiam.


Yiu menatap lekat manik Pangeran Feng Pei, mencoba memberi sinyal untuk tidak menyebarkan identitasnya dan akan memberi penjelasan tentang hari ini.


Maniknya merendah, "Nona, terima kasih telah menyelamatkan wargaku. Sebagai imbalan atas keberanian Nona, saya secara khusus mengundang Anda ke Kediaman Hong untuk memberikan secara khusus hadiah kepada Nona."


Yiu menghela napas. Ia menjalankan permainan itu, Yiu membungkuk dan suaranya serak, "Terima kasih atas kemurahan hati Pangeran."


Pangeran Feng Pei membuka jalan untuk menaikkan Yiu ke atas pelana kuda. Sebelum Yiu pergi bersama mereka, ia berbalik dan mengelus surai kuda yang baru saja mengamuk.


Ia kemudian mendapat kesimpulan. "Pernapasannya cepat, otot-ototnya mengencang dan gemetar, pupil matanya melebar. Ini gejala keracunan ringan dan membuatnya menjadi tidak terkendali," Yiu menatap pria setengah baya yang berdiri di samping gerobaknya dan melanjutkan, "Tapi ini masih sempat disembuhkan. Pergilah segera mencari tabib hewan dan dia akan bisa diselamatkan."


Analisis Yiu dengan segera diangguki pria itu. "Saya mengerti, sekali lagi terima kasih, Nona."


Setelahnya Yiu menuju kuda yang disiapkan untuknya dan bergegas menuju Kediaman Hong.


Sesampainya disana, Yiu dipandu untuk masuk ke aula tengah tempat menjamu tamu pribadi.


"Aku sangat terkejut kedatangan tamu spesial hari ini. Sudah lama tidak berjumpa bagaimana kabarmu, Putri Wang Ying Mei? Ada tujuan apa Anda kemari?"


Yiu menundukkan pandangan, "Maafkan saya yang menyelinap masuk ke negaramu tapi ... aku sedang mencari kedua kakakku."


Pangeran Feng Pei yang sebelumnya membelakangi Yiu kini membalikkan tubuhnya seraya mengangkat sebelah alis, "Kedua kakakmu hilang? Bagaimana bisa? Ah apa karena masalah pengambil alihan kekuasaan?"


Yiu mengangguk dan Ia kembali melanjutkan, "Aku sempat merasa aneh tentang apa yang tengah terjadi di barat, tidak disangka dugaanku benar."


Yiu menggenggam erat pakaiannya. "Dia licik! Menjebakku untuk terikat status dengannya lalu membantunya memperlebar kekuasaan tetapi air susu dibalas air tuba!"


Tidak perlu dijelaskan siapa itu "Dia", semua orang terdiam, merenung memahami. Yiu berusaha meredam emosinya agar tetap tenang dengan sekuat tenaga.


"Aku turut prihatin atas ini semua. Negara Liyui Feng pasti akan membantu sebisa kami. Sekarang, Anda pasti lelah. Mari istirahat sebentar. Saya akan siapkan kamar untuk Anda dan kebetulan pagi nanti saya akan kembali ke ibu kota jadi Anda bisa bertemu dengan ayah saya untuk mencari kedua pangeran."


Yiu terperangah, ia sudah hampir menyerah pada keadaan dan mendapat bantuan tanpa diduga spontan ia membungkuk berterima kasih, "Terima kasih, Pangeran."


"Apa yang kamu lakukan?! Ayo bangun! Ini terlalu berlebihan. Sekarang Anda istirahat dan bersiap untuk pergi besok."


Yiu ingin mencegah tapi tidak memiliki daya sehingga dia kembali membungkukkan badan sedikit.


"Bisakah menunggu beberapa hari lagi?"


♣♦♣


"Hei pengemis! Jangan duduk di depan tokoku! Kau menghalangi energi baik masuk!"


"Nyonya Bos, kami ingin membeli rotimu dan beristirahat disini sebentar."


"Pengemis seperti kalian mana mungkin punya cukup uang! Jangan banyak alasan! Cepat pergi!"


Pemuda itu bertukar tatap. "Ayo pergi," ucap salah satu pemuda yang terlihat pucat.


Pemuda satunya ingin menolak. Namun, dia tidak bisa. Akhirnya ia membopong tubuh lemah itu dan terus berjalan.


"Segera menuju pohon itu, mereka pasti sudah menunggu lama."


Bruk ...


"Pangeran!!"


"Gege!!"


"Xu Bai?"

__ADS_1


TBC


__ADS_2