
Tubuh Permaisuri membeku saat Yiu memeluknya dan membiarkan pedang yang harusnya tertuju padanya malah mengenai punggung Yiu.
Luka goresan panjang tercipta di punggung Yiu demi melindungi Permaisuri.
Yiu tak mengeluarkan suara sedikit pun saat pedang prajurit itu mengenainya, seperti tak merasakan sakit sama sekali akibat luka di punggungnya justru pelukan kepada ibundanya semakin mengerat.
Lalu Yiu berbisik lirih di telinga ibundanya yang masih berada di dekapannya.
"Ibunda ... Kau baik-baik saja kan?"
Pertanyaan Yiu hanya di balas anggukan kecil nan dongkol dari sang Permaisuri.
Prajurit yang melukai Yiu tak ingin membuang kesempatan emasnya itu, ia segera mengangkat pedangnya lagi berniat menusuk Yiu dari belakang.
Menyadari hal itu, Yiu mendorong tubuh ibundanya dan dengan cepat berbalik lalu menangkis serangan prajurit itu kemudian menusukkan pedangnya tepat di jantung sang prajurit.
Permaisuri masih terlihat belum sadar akan keadaan sekitar dan masih mematung di tempatnya, mungkin ia terlalu syok sehingga belum sadar apa yang telah terjadi. Perkataan Tabib Ming kembali tengiang di kepalanya.
"Ibunda segera kembali ke Istana! Disini berbahaya!"
Yiu terus berteriak ke arah Permaisuri sembari melawan prajurit-prajurit musuh yang hendak mendekati Permaisuri.
Sepertinya ibunda syok berat ... tak ada cara lain aku harus menghantarkan ibunda kembali. Tapi, bagaimana dengan pasukanku? Pasukan Pangeran Huang saja belum terlihat.
Yiu berdebat dengan dirinya sendiri, namun tanpa pikir panjang Yiu merangkul Permaisuri dan berlari ke belakang menuju gerbang istana.
Saat akan tiba di gerbang Yiu segera berteriak kepada prajurit yang berada di atas gerbang untuk menurunkan tali yang di ikat kuat.
"Hei!! Cepat lemparkan tali dan ikat ujungnya di batu atau apapun yang kuat! Cepatlah!" prajurit itu mengangguk.
Tak lama kemudian, sebuah tali meluncur jatuh ke arah Yiu dan Permaisuri. Yiu segera mengikat pinggang Permaisuri dengan tali tersebut dengan kencang.
"Cepat tarik Permaisuri! Dan segera bawa menuju istana!"
Prajurit itu mengangguk paham dan segera menjalankan perintah Yiu.
Kesadaran Permaisuri kembali saat kakinya merasakan sudah tak menapak tanah.
Ia segera mengedarkan pandangannya dan menyadari jika ia sudah di ikat dengan sebuah tali yang membawanya ke atas gerbang dan tepat di bawahnya terdapat anaknya yang menatapnya dengan cemas.
"Ying'er ... Lepaskan aku! Turunkan aku! Kalian harusnya menyelamatkan putriku dahulu! Dia terluka! Lepaskan aku kumohon lepaskan aku ... aku ingin menemani putriku hiks hiks."
Permaisuri meronta mencoba melepaskan tali ikatan yang ada di pinggangnya namun sedetik kemudian tubuhnya lemas dan setitik air mata keluar dari matanya.
"Tenanglah ibunda, Aku baik-baik saja. Sekarang yang terpenting adalah keselamatan ibunda. Kalian! Kawal Permaisuri dan jangan biarkan ia keluar istana sampai keadaan kondusif."
Yiu berteriak berusaha menenangkan Permaisuri dan menyuruh beberapa prajurit yang menarik ibunda untuk melindungi dan mengantarnya sampai istana.
Setelah tubuh ibundanya sudah hilang di balik dinding gerbang, kaki Yiu tiba-tiba lemas tak kuat menahan berat tubuhnya sendiri.
Ia jatuh terduduk dengan tangan kanan yang bertumpu pada pedang yang tertancap ke bawah.
Yiu terluka cukup banyak, namun tak ada yang menyadari jika dirinya sedang terluka. Karena pakaian yang ia kenakan berwarna hitam seluruhnya sehingga menyamarkan darah yang merembes keluar.
Wajahnya mulai memucat, Yiu mencoba bangkit lagi namun gagal dan ia mencoba kembali.
Tiba-tiba dari arah samping di sudut matanya, Yiu melihat seorang prajurit mendekat dan hendak menghunuskan pedangnya kearah Yiu.
Yiu terlambat menyadari kehadiran prajurit itu, spontan ia menaruh tangan kirinya di depan wajahnya untuk melindungi diri.
JLEEBB..
BRUUKK..
__ADS_1
Satu detik, dua detik, tiga detik ...
Yiu yang masih terpaku pada posisinya mulai membuka matanya, ia tak merasakan sakit akibat pedang atau benda apapun yang menyentuh kulitnya.
Ia membukanya perlahan dan ternyata prajurit yang hendak melukainya sudah jatuh tak bernyawa di depannya dengan darah yang mengucur keluar dari dadanya.
Lalu, ia menaikkan pandangannya untuk melihat sosok pemuda di depannya yang sangat familier baginya dengan pedang yang berlumur darah ditangan kanannya.
"Pangeran Huang?"
Yiu terdiam nampak masih belum percaya jika yang berdiri di depannya adalah sang kakak.
"Jangan hanya melamun! Cepat masuk ke dalam! Terlalu berbahaya!"
Pangeran Huang berbalik dan melawan prajurit yang berusaha mendekat ke arah Yiu yang masih dalam posisi berlutut.
"Terima kasih atas tawarannya pangeran! Namun aku akan tetap disini!"
Yiu tersadar dari lamunannya, seolah mendapatkan energi yang begitu kuat, Yiu berdiri tegak dan segera menghunuskan pedangnya ke arah prajurit yang mendekati mereka.
"Jangan bertindak bodoh Ying! Kau bisa terluka kalau terus berada disini! Situasinya berbahaya!"
Aku memang sudah terluka *ErGe_-
*ErGe (二哥) \=> Er (二) artinya dua dan Ge/Gege (哥哥) artinya kakak laki-laki. Jadi ErGe adalah Kakak laki-laki kedua.
"Jika aku mundur bagaimana dengan pasukanku, Pangeran? Kau pikir siapa yang menyuruh dan memimpin pasukan untuk menahan serangan selagi menunggu bala bantuan darimu?!"
"Kau yang memimpin? Ada apa dengan ibunda? Tidak mungkin ibunda mengijinkanmu memimpin pasukan!"
"Ceritannya panjang! Akan ku ceritakan nanti! Sekarang kita hanya perlu fokus mengalahkan pasukan Tian Lu," ucapan Yiu di angguki Pangeran Huang tanpa menoleh ke arahnya dan masih terfokus pada lawan di depannya.
Akhirnya, mereka berdua fokus menganyunkan pedangnya masing-masing.
Sehingga kini jumlah pasukan Yiu lebih banyak dari Pasukan Tian Lu yang posisinya juga semakin terdesak.
Yiu yang sibuk bertarung mendengar suara teriakan yang ternyata berasal dari Jendral Rong.
Setelah melihat-lihat, Yiu melihat lengan kanan Jendral Rong terkena tusukan pedang dari Pangeran Lu Fei sehingga pedangnya jatuh tergeletak di tanah.
Jendral Rong memegangi lengan kanannya sembari sesekali meringis menahan sakit di tangan kanannya.
Jendral Rong mundur perlahan saat Pangeran Lu Fei berjalan mendekat ke arahnya dengan tatapan tajam dan mengejek.
Yiu segera berlari menyusul Jendral Rong saat Pangeran Liu Fei mengangkat pedangnya ke samping bahunya, bersiap ingin memengal kepala Jendral Rong.
TRINGG..
Belum sempat pedang sang Pangeran menyentuh kulit Jendral Rong, pedangnya bertemu dengan pedang milik Yiu terlebih dahulu.
"Oh, kau mau jadi pahlawan setelah beberapa saat yang lalu menjadi seorang pengecut yang melarikan diri?" Pangeran Lu Fei mengeluarkan smirknya mengejek Yiu yang menatapnya dingin dan tajam.
Tanpa berkata apapun, Yiu mendorong pedang Pangeran Liu Fei kesamping dan menyerang Pangeran Liu Fei dengan brutal.
"Kau harus mati di tanganku, Pangeran"
Pertarungan antar keduanya sangat sengit, walaupun mereka berdua sama-sama tengah terluka parah namun mereka seperti melupakan rasa sakit yang mereka derita.
Yiu bergerak dan berhasil mengores bahu, pinggang, serta perut Pangeran Lu Fei.
Yiu semakin agresif menyerang Pangeran Lu Fei, ia terlihat seperti sedang meluapkan amarah terpendamnya.
Amarah yang di pupuk dan di pendam dalam hati terdalam sang putri kepada Pangeran Lu Fei karena telah berani menghilangkan nyawanya.
__ADS_1
Yiu sendiri pun juga menyimpan dendam kepada Pangeran Lu Fei karena telah menyakiti Putri Ying lalu membuatnya kehilangan nyawa dan membuat jiwanya datang kemari untuk mengambil alih tubuh lemahnya lalu berusaha mengambil alih kerajaan.
Ditambah pasukan Tian Lu yang melukai pasukannya dan beberapa warga sipil yang tak berdosa yang kebanyakan adalah wanita dan anak-anak. Sungguh itu semakin membuat Yiu marah.
Pangeran Lu Fei yang semakin tersudut dan kewalahan menghadapi serangan Yiu, akibatnya ia harus menerima luka yang semakin banyak ditubuhnya.
Pangeran Lu Fei melirik sekitar di sela-sela pertarungannya, pasukannya semakin menipis dan ternyata Qiu Wang juga mendapat bala bantuan .
Akibat tak fokus pada pedangnya, Yiu berhasil menusuk perut bagian kiri Pangeran Lu Fei lalu mencabut pedangnya kembali dan melakukan tebasan ke arah leher.
JLEEBB..
SRINGG..
Seciprat darah mengenai wajah Yiu dan sebuah kepala mengelinding di bawah kaki Yiu. Ya, itu kepala Pangeran Lu Fei.
Setelah melakukan tebasan yang berhasil mengenai Pangeran Lu Fei, Yiu berdiri tegak dan menunduk.
Kita berhasil ...
Tak lama seorang Panglima Perang juga berteriak bahwa Pangeran Huang berhasil membunuh Jendral dari Tian Lu dan di ikuti sebuah suara dari sejumlah prajurit.
"Kita menang! Pangeran Lu Fei, Jendral dan para Panglima Perangnya berhasil dibunuh!! Kita menang!"
Seluruh prajurit Qiu Wang bersorak gembira dan meneriakkan lagu kemenangan dengan mengacungkan pedang tinggi ke angkasa.
Tak terkecuali para pelayan istana dan warga sipil yang juga ikut berperang, mereka bersorak kegirangan bahkan ada yang berpelukan kemudian menangis karena terlalu senang.
Yiu yang melihat pasukannya merayakan kemenangan Qiu Wang tersenyum haru, hatinya juga merasakan kelegaan karena ia berhasil menuntaskan dendam dan berhasil mempertahankan kerajaannya dari tangan Tian Lu.
"Kumpulkan prajurit musuh yang masih hidup lalu masukan mereka ke penjara bawah tanah dan segera evakuasi prajurit yang terluka serta kumpulkan mayat-mayat prajurit kita untuk di makamkan dengan layak."
Pangeran Huang berbicara dengan Jendral Guang yang berada di dekatnya dan dibalas dengan anggukan dari Jendral Guang yang langsung melenggang pergi.
Pangeran Huang mengedarkan pandangannya ke arah lautan manusia dengan darah bercecer dimana-mana bak sungai darah, mencari sosok adiknya yang sangat ia khawatirkan itu.
Kemudian maniknya tertuju pada sosok wanita yang berpakaian layaknya panglima perang dan sedang memapah laki-laki yang sedang terluka di bagian lengan kanannya.
Tanpa pikir panjang Pangeran Huang segera mendekati keduanya, untuk memastikan jika mereka adalah Putri Ying dan sahabatnya Jendral Rong.
"A-Ying ... Rong ... ternyata kalian di sini." Pangeran Huang segera mendesak masuk di antara keduanya dan mengantikan Yiu untuk memapah Jendral Rong dan mengandeng tangan Yiu.
Keduanya terkejut akan kedatang tiba-tiba Pangeran Huang namun sedetik setelah Pangeran Huang menyusup masuk dicelah antara mereka, mereka hanya terdiam.
Pangeran Huang yang masih memegang tangan Yiu menengok ke arahnya.
"Kau baik-baik saja kan? Apa kau terluka?" ucapannya terdengar seperti sangat mengkhawatirkan Yiu.
Yiu menggeleng cepat lalu tersenyum manis seakan ia membuktikan bahwa tidak terluka sama sekali walau kenyataannya sebaliknya.
Perasaan Pangeran Huang menghangat setelah melihat senyum adiknya itu.
"Maaf pangeran tapi aku juga sedang terluka parah kenapa kau tidak mengkhawatirkan atau menanyaiku?"
Jendral Rong berbicara dengan ekspresi manyun seperti anak kecil yang tidak mendapat permen.
Ucapan Jendral Rong di balas dengan tinju di bagian perutnya, membuat ia merintih kesakitan.
"Buat apa aku mengkhawatirkanmu! Daripada kau terus merengek lebih baik biarkan pelayan mengobati lukamu dengan jarum akupuntur!"
Ucapan Pangeran Huang spontan di balas gelengan cepat dari Jendral Rong, walau tampangnya garang namun sebenarnya Jendral Rong sangat takut dengan jarum akupuntur.
Yiu yang mendengar mereka bercanda hanya tersenyum samar sambil mengelengkan kepalanya singkat.
__ADS_1
TBC