Flower Of War

Flower Of War
Chapter 45 : Langit Berpihak


__ADS_3

Di lain tempat, Istana Bai Qing.


Liu Yu sedang duduk di atas kursi kebesarannya di Aula Qiang Da (Aula keperkasaan dan juga tempat kerja kaisar)


Sudah tiga hari berlalu semenjak kunjungan terakhirnya ke Penjara Langit untuk menemui Yiu.


Ia langsung mengirim pasukan diam-diam untuk menuju Qiu Wang agar mempermudah dia untuk mengobarkan peperangan, mengingat kondisi Qiu Wang yang kehilangan 5000 serdadu yang dikirim ke Bai Qing sehingga mengurangi sedikit total jumlah pasukan dan mempengaruhi sedikit keamanan pemerintahan.


Walaupun Bai Qing juga mengalami sedikit kendala. Namun, BaiQing sudah menaklukan Ling Jian sehingga keseluruhan biaya perang ditanggung Ling Jian.


Untuk pasukan, Liu Yu diam-diam membuat kamp militer tentaranya sendiri di Kota Xin Yang yang berada di bagian selatan negara selama menjadi Putra Mahkota.


Namun, kali ini wajahnya nampak gusar, pasukan yang ia kirim hilang tanpa jejak di gurun rumput milik suku uighur bahkan sebelum mencapai Qiu Wang.


Tumpukan laporan penyelidikan perlahan menggunung di meja kerjanya, ditambah surat permohonan pembebasan Calon Permaisuri Kekaisaran Wang Yingmei yang dilakukan oleh beberapa Jenderal Kekaisaran yang seluruh isinya menyatakan bahwa Putri Ying hanya dijebak oleh konspirasi orang dalam atau ini semua hanya kesalahpahaman lembaga anggota penyelidik dan sebagainya.


Liu Yu berpikir bagaimana bisa Yiu yang bahkan baru beberapa bulan bersama Bai Qing sudah menyedot dukungan kuat dari sebagian prajurit kerajaan, rasanya Liu Yu ingin membungkam mereka semua yang masih berada di pihak Yiu walau pada akhirnya ia memilih pura-pura tuli, menyadari ia masih membutuhkan mereka.


Tujuan Liu Yu tidak membunuhnya melainkan menyiksanya adalah untuk mengindari kecurigaan dari wilayah barat dan hanya dengan menyiksanya bisa mengurangi peluang dia memberontak dan menyebabkan kudeta berdarah bagi negara, di sisi lain Liu Yu juga memerlukan informasi dari dia tentang komposisi bubuk mesiu dengan bahan ledak yang kuat meskipun ia terus bungkam.


"Yang Mulia, jika ada yang ingin Anda sampaikan Anda bisa memberitahu hamba."


Suara rendah milik tangan kanan sekaligus penasihat kaisar, Hai Ran, terdengar lembut setelah melihat raut wajah Liu Yu yang lelah.


Usia pemuda tampan dari keluarga terkaya di Kota Yi bernama Hai Ran itu hanya terpaut beberapa tahun lebih tua dari Liu Yu namun yang membuat ia mencapai posisi terpenting di sisi Liu Yu adalah karena ia pencetus ide di balik seluruh rencana Liu Yu menyatukan Daratan Tiongkok di bawah sayapnya. Sejak Liu Yu menjadi kaisar, posisi Hai Ran menjadi tak tergoyahkan dan pendapatnya sangat berpengaruh kuat.


Liu Yu beralih menopang kepalanya di sandaran kursi. "Para jenderal kerajaan dan pasukan pengintai yang hilang itu sungguh membuatku pusing, kepalaku hampir pecah!"


Hai Ran tersenyum hormat dan berbicara penuh penekanan, "Mengapa Yang Mulia tidak 'membebaskan' Putri Ying dari penderitaan saja?"


Liu Yu masih mematung di posisinya dan menjawab, "Itu tidak mungkin! Aku belum menguasai Qiu Wang dan wilayah barat lainnya, jika aku membunuhnya akan terjadi konflik internal juga."


Hai Ran masih dengan senyum penuh maknanya, "Aku tidak menyuruh Yang Mulia untuk membunuhnya."


Liu Yu mengangkat kepalanya menatap penuh tanya kearah Hai Ran. "Apa maksudmu?"


Hai Ran, "Kenapa Yang Mulia tidak membuat sedikit kegaduhan di Penjara Langit dan mengatakan pada dunia jika itu adalah kecelakaan?"


Liu Yu mengerutkan alisnya, "Apa maksud dari 'sedikit kegaduhan' itu, Hai Ran? Lalu, bagaimana cara menjelaskan pada masyarakat dan negara barat tentang kegaduhan itu?"

__ADS_1


Hai Ran, "Mudah saja, kita akan membakar sel Penjara Langit, namun sebelum itu perbanyak jerami di sekitar sel, jika berita ini bocor kita bisa sebarkan kepada dunia jika ini hanya sebuah kesalahan teknik dari pemanas di penjara."


Liu Yu, "Tidak bisa! Kerajaan barat pasti akan menanyai kita kenapa Putri Ying bisa berada di Penjara Langit dan menjadi korban. Itu terlalu mencolok!"


Hai Ran menggeleng. "Tidak, Yang Mulia. Ah sebelum itu apakah sepupu anda mencoba kembali menarik perhitungan di BaiQing?"


Liu Yu masih berkerut kening tetapi sedetik kemudian tiba-tiba terdiam dan tersenyum penuh arti. "Maksudmu Liu Wen? ... Aku mengerti maksudmu. Ide bagus!"


♣♦♣


Yiu termenung di atas ranjang jeraminya, di samping ranjangnya sudah terukir goresan batu penanda berapa hari ia terkurung di tempat menyeramkan ini.


Tubuhnya kian hari kian melemah, luka di tubuhnya sudah hampir sembuh tetapi setiap hari ia dipaksa meminum racun pelemah energi yang tercampur dalam makanannya. Itu membuatnya kehilangan tenaga secara perlahan dari hari ke hari.


Nafsu makannya pun semakin berkurang walau ia mendapat makanan yang cukup bergizi, Yiu harus memakannya habis agar terus bertahan hidup demi membalas dendam. Terkadang akibat terlalu memaksakan Yiu kembali memuntahkan isi makanannya.


Hari ini seperti biasa Yiu kembali diberikan makanan di dalam rantang makanan yang terbuat dari anyaman bambu yang di dalamnya berisi sayuran cincang goreng dan sepiring nasi yang keras dan dingin.


Yiu mengambilnya dengan sisa tenaga yang ia miliki dan membawanya ke meja di tengah sel. Setelah itu Yiu memakan makanan itu tanpa minat. Namun, ia merasa aneh saat ia mengangkat penutup rantang bambu berniat akan menutup kembali rantangnya ia melihat sepucuk kertas bertuliskan 'obat penawar racun' dan sebuah pil berbungkus kertas tertempel di penutup tersebut.


Yiu mengambil kertas berisi pil alkimia dan mengerutkan keningnya sembari menelusuri kandungan obat dengan mengandalkan penciuman, "Aneh, siapa yang menyeludupkan obat di dalam makananku? ... Ada kandungan tanaman jahe yang di ekstrak dan dapat menangkal racun, dia tidak berbohong tapi ... siapa dia?"


Tak terasa sudah hampir satu bulan Yiu terkurung di dalam sel dingin ini. Namun, ia merasa aneh akhir-akhir ini dirinya tidak terlalu kedinginan walaupun cuaca sedang awal musim dingin. Di selnya juga diberikan beberapa jerami kering menutupi seluruh lantai dan juga ada banyak obor mengelilingi selnya, membuat Yiu merasa lebih hangat.


Suatu pagi atau siang atau malam? Entahlah di dalam sini hanya ada cahaya kuning dari obor, tak ada segarispun sinar matahari yang menembus dinding di sel ini.


Yiu yang tengah tertidur di ranjang jeraminya mencium bau hangus yang samar seperti seseorang sedang membakar sesuatu.


Yiu segera bangkit dan melihat asap sedikit demi sedikit tersebar ke seisi sel, asap tersebut berasal dari sel kosong di sebelahnya dan ternyata api telah menyebar ke seluruh ruangan.


Yiu mulai berteriak meminta bantuan walau sudah selama dan sekeras apapun ia mencoba. Namun, tidak ada satupun tanda-tanda akan ada orang yang datang seolah mereka tengah menutup telinga.


"Api! Ada api! Penjaga! kebakaran!"


Yiu mulai dilanda kepanikan dalam otaknya, asap yang dihasilkan semakin menebal. Ia segera merangkak untuk lebih mendapatkan pasokan oksigen sembari mencoba memecah borgol penjara dengan kaki kursi kayu.


Usahanya sia-sia, Yiu sudah mulai batuk parah akibat menghirup asap terlalu banyak. Api dengan cepat merambat keluar sel, beruntung ia masih sempat menyingkirkan jerami yang berada di tanah ke sudut ruangan yang jauh dari jangkauan api sehingga api tidak cepat berkobar di selnya.


Masih berusaha berjuang melepaskan diri, tiba-tiba dirinya merasakan sesuatu yang aneh bergerak di bawah kakinya. Lantai batu di kakinya bergerak seperti ada yang mendorong dari bawah.

__ADS_1


Penasaran, Yiu memutuskan menyingkir dan mengangkat batu itu. Ternyata di bawah batu itu ada sebuah lubang yang cukup besar, terlihat seperti sebuah jalan rahasia.


Selain jalan rahasia, Yiu juga melihat siluet seseorang yang wajahnya tertutup jubah di bawahnya mendongak menatapnya, sebelum dapat mengambil kesadaran Yiu sudah diseret masuk ke jalan rahasia tersebut.


"Cepat lepas pakaian luar dan perhiasanmu! Cepatlah!" ucap bayangan hitam tersebut sembari sesekali batuk akibat menghirup asap.


Liu Yuanyuan?!


Seseorang berjubah tersebut adalah adik sekaligus Putri kedelapan Kerajaan BaiQing, Liu Yuanyuan.


Di masa lalu interaksi antara Yiu dan Liu Yuanyuan hanya sekedar saling sapa dan bercanda menghabiskan istirahat siang hanya sekedar untuk basa-basi.


"Mau apa kau?!" ucap Yiu sembari bergerak spontan mencengkram leher Liu Yuanyuan, tingkat kewaspadaanya meningkat drastis.


"Uhuk uhuk ... Ying Jiejie, dengarkan aku dulu. Aku berusaha menyelamatkan dirimu ... akan ku jelaskan semuanya nanti setelah kita keluar dari sini. Cepatlah lepas pakaianmu dan ikut aku. Kita sudah kehabisan waktu uhuk uhuk."


Merasa ucapannya ada benarnya sekaligus merasa putus asa akhirnya Yiu memutuskan untuk menurunkan kewaspadanya lalu melepas pakaian luar dan gelang serta anting di tubuhnya kemudian melemparkannya ke sudut sel.


Setelah menutup lubang, keduanya segera berlari menyusuri terowongan yang gelap dan pengap itu dengan hanya bantuan sebatang korek api tiup.


Cukup lama keduanya berlari hingga akhirnya mereka melihat cahaya bulan muncul di kejauhan dan ternyata jalan tersebut terhubung langsung dengan hutan di luar kota.


Liu Yuanyuan segera menuju semak-semak di dekatnya dan mengambil sebuah mantel berbulu yang cukup tebal dan hangat kemudian menyerahkannya ke Yiu sambil tersenyu. "Ying Jiejie, pakai ini agar tidak kedinginan. Maaf membuatmu takut tapi aku memang berusaha tulus membantumu keluar sebisaku. Kakak tiriku itu memang terlalu kejam, aku bahkan tidak menyangka dia akan berbuat sekeji ini bahkan membunuh JieLu Gege."


Senyum di wajah manisnya berubah menjadi tatapan berkaca-kaca, tidak sedap dipandang membuat Yiu tidak tahu harus berbuat apa.


Liu Yuanyuan kemudian berbicara sembari menunjuk kuda bersurai coklat di belakang Yiu sembari menyerahkan surat bercap stempel kekaisaran, "Ah maafkan aku, jie. Sekarang cepatlah pergi aku sudah siapkan kuda serta bekal disana. Pergi sejauh mungkin dan jangan sampai kaisar tahu dan ini izin keluar perbatasan, asalkan jiejie tidak menunjukan wajah semuanya akan aman. Cepatlah!."


Yiu mengangguk dan dalam hati mengucapkan terimakasih lalu pergi berlari menghampiri kuda itu dan segera memacunya menuju kedalaman hutan.


Mengikuti letak bintang malam berbentuk layang-layang yang selalu berada di selatan, Yiu memacu kudanya menuju barat. Ia harus secepat mungkin mencapai perbatasan Qiu Wang.


Paginya Yiu berhasil keluar dari perbatasan Bai Qing namun perjalanannya terhalang saat memasuki kawasan padang rumput.


Dirinya dihadang oleh sekitar dua puluh prajurit yang ia yakini adalah pasukan Bai Qing, terlihat dari bendera perang mereka.


Yiu bertarung melawan kedua puluh prajurit itu, kekuatannya hanya pulih sekitar lima puluh persen, walau Yiu berhasil membunuh seluruhnya, Yiu tetap harus mengalami banyak luka di sekujur tubuhnya dan kali ini menyentuh titik vitalnya.


Tubuh lemahnya bertopang pada pedang di tangan, napasnya memburu, kepala serta seluruh tubuhnya mencelos sakit, darah terus mengucur dari luka-lukanya, dan akhirnya pandangannya ikut mengabur. Kesadarannya diambil alih

__ADS_1


Mungkin inilah akhirnya ....


__ADS_2