Flower Of War

Flower Of War
Chapter 59 : Kamu Tidak Sendirian


__ADS_3

Huang mengeluarkan suara dingin, "Dasar Binatang! Tidak tahu malu! Aku akan menyeretmu ke neraka bersamaku!"


"Yohh?! Kamu begitu bersemangat sekali, Pangeran. Apa kamu masih suka berkhayal seperti dulu?"


"Cukup!" Yiu menyela dan mendesis, "Hai Ran... Aku akan menghabisimu hingga tulang pun tidak bersisa."


Hai Ran kembali menyunggingkan sudut bibirnya sembari mengeluarkan pedang yang berkilat dari pinggangnya.


"Coba saja kalau bisa."


Tanah bergetar, derap langkah tegas mengalun seirama dengan suara dentingan nyaring bagai musik perang yang selalu mengiringi perjalanan mereka.


Yiu sudah memperkirakan hal ini akan terjadi cepat atau lambat. Ia mengeluarkan pedangnya dan dengan gesit menebas pasukan lawan yang menuju ke arahnya.


Pasukan milik Hai Ran tidak terlalu banyak, awalnya bisa Yiu perkirakan ia membawa seratus orang tapi dengan keyakinan yang sama ia dapat mengetahui jika pasukan Hai Ran kali ini berkurang lebih dari setengah ditambah mereka sekarang terpencar-pencar.


Di sisi lain, Huang yang sudah termakan api mulai mengamuk dengan gerakan pedang yang begitu kuat.


Meskipun ia tidak terlalu menguasai seni pedang. Namun, kali ini ia seolah dirasuki oleh roh pedang yang membuatnya semakin berapi-api.


Pedang keduanya berdenting memekakkan telinga, Hai Ran masih dengan mudah menghadapi serangan cepat itu walau sedikit demi sedikit merasakan perubahan.


Bagaimana rasanya berhadapan kembali dengan pembunuh kedua orang tuamu yang ternyata lebih kuat darimu?


Apakah kamu kesulitan bernapas saat melihat bayangan orang tercintamu berdiri dengan wajah pucat di samping pembunuhnya?


Apakah kamu memiliki keberanian untuk membalas? Apakah kamu sanggup menghadapi wajah mereka saat mereka tahu kamu tidak cukup kuat?


Musim dingin hampir berakhir, hawa dingin masih memeluk erat tubuh lemahmu, dan ranting-ranting pohon itu masih belum tertutup hijaunya daun.


Menyeramkan dan menyedihkan.


Itulah Huang sekarang.


Dengan susah payah ia menahan air matanya yang terus mendesak keluar, tangannya yang kokoh gemetar, mata kelabunya berubah merah semerah luka yang sudah muncul di beberapa titik tubuhnya.


Meski begitu, ia mengabaikan semuanya dan tetap berusaha mengalahkan Hai Ran dengan tekad sekuat baja, tak tergoyahkan.


Yiu yang berada tak jauh dari kakaknya terus mencuri pandang pada luka-luka kecil kakaknya yang terus berdarah.


"Gege! Biarkan aku saja!"


"Diam! Biar Binatang ini aku yang membunuhnya!"


Merasa ia harus melakukan sesuatu untuk membantu kakaknya, Yiu memutar kepalanya untuk mencari bayangan Wu Xiao.


Ia berteriak, "Wu Xiao!"


Merasa namanya dipanggil, sang pemilik nama mengalihkan atensinya.


Ia tahu betul suara itu milik Liyingnya, manik keduanya bertemu untuk beberapa saat dan Wu Xiao segera mengerti maksudnya.


Ia menggores beberapa leher sebelum berlari mendekati Yiu, ia menyarungkan pedangnya dan menggulung naik lengan kanannya hingga terlihatlah sebuah benda melingkari lengan putih itu.


Wu Xiao meluruskan tangannya dan mulai membidik dengan perhatian penuh, ia mempercayakan nyawanya pada Yiu yang kini terus memutari tubuhnya untuk melindunginya dari pasukan musuh selagi ia membidik.


Tangan kirinya bersiap menekan. Namun, ia kesulitan untuk mengunci targetnya yang terus bergerak.


Wu Xiao menarik napas.


Satu detik, dua detik, ... lima detik.


"Argh...." Hai Ran merasakan sakit seperti tertusuk di bahunya secara tiba-tiba, padahal ia sangat yakin jika pedang Wu Xiao tidak menyasar bahunya.


Tak lama kemudian *titik meridiannya di bahu yang lain merasakan hal yang sama. Akibatnya, kekuatannya sedikit melemah ditambah Huang sudah berhasil mendominasi permainan.


A/N: Meridian dalam akupuntur atau pengobatan tradisional China adalah jalur lalu lintas energi dalam tubuh. Dan sebagaimana lalu lintas, pada meridian ada jalur/jalan, ada hambatan, ada persimpangan, ada titik awal, ada titik akhir dan sebagainya.


Huang menjadi semakin bersemangat mengetahui Hai Ran yang semakin melemah dan terus melancarkan serangan untuknya.

__ADS_1


Hai Ran memuntahkan seteguk darah begitu pedang Huang menembus perut bagian kirinya dan kemudian jatuh terduduk setelah Huang menarik kembali pedangnya.


Ia menurunkan pedangnya yang kini berlumuran darah, menatap penuh jijik dan amarah ke arah Hai Ran.


Yiu yang mengetahui pertarungan keduanya telah terhenti segera menarik Wu Xiao dan membuka jalan dengan pedangnya menuju tempat sang kakak berdiri.


Pertarungan seketika terhenti, seluruh pasang mata menatap ke arah keempatnya. Semuanya terdiam. Hening. Bahkan suara angin menyapu pelan dapat terdengar jelas.


Hai Ran menunduk dan menyentuh perut sebelah kirinya yang terus berdarah, ia mengangkat tangannya untuk melihat noda merah yang memenuhi seluruh telapak tangannya. Seketika seluruh tubuhnya terasa sakit. Sangat sakit.


Ia mendecih lalu mengangkat pandangannya yang mulai kabur. "Tunggu apa lagi? Kenapa tidak membunuhku? Ayo bunuh! Bunuh aku!"


Yiu menempatkan ujung pedangnya di dagu Hai Ran, sedikit menunduk dan tersenyum dingin. "Dengar, ... kamu tidak pantas mati begitu cepat. Jadi, mari kuantar kau bersenang-senang di istana yang kau ambil dari kami, menikmati detik-detik terakhir hidupmu dengan bahagia."


Hai Ran meludah ke tanah, Wu Xiao yang mendidih tanpa sebab segera menampar wajah Hai Ran dengan begitu keras hingga ujung pedang Yiu sedikit menggores kulitnya.


Yiu dan Huang sedikit kaget melihat Wu Xiao yang naik pitam. Namun, kembali menganggap itu hal biasa. Toh Hai Ran juga tidak akan bisa membalas, jangankan membalas, menggerakkan tangan atau kakinya saja ia tidak mampu berkat racun dari senjata rahasia yang dipakai Wu Xiao.


Wu Xiao menegakkan punggungnya lalu berseru untuk menghentikan prajurit lawan yang masih berniat melawan, "Berhenti! Kalian sudah kalah. Pemimpin kalian ada di tangan kami!"


Wajah Hai Ran semakin kehilangan warnanya dan tubuhnya semakin melemah.


Belum sempat Wu Xiao mengucapkan niatnya, suara derap langkah kuda dari kejahuan menarik perhatian yang lainnya.


Seorang prajurit berkuda dengan membawa bendera perang Qiu Wang memacu kudanya menuju keberadaan Huang dan Yiu.


Ia turun dan segera berlutut sembari memegang tongkat bendera itu dengan kedua tangannya yang menjulur ke depan. "Lapor, Pangeran, Putri, Qiu Wang telah berhasil direbut oleh Pasukan Jenderal Rong."


Wajah ketiganya segera berseri, Huang menoleh ke Yiu.


"A-Ying, kita menang! Kita menang!" ucapnya sebelum mendekap Yiu dalam pelukannya yang dibalas dengan pelukan erat dari Yiu.


Wu Xiao yang melihatnya kemudian tersenyum hingga sudut matanya menyipit.


Sedangkan Hai Ran nampak syok, dengan sisa tenaganya ia mencoba bangkit karena tidak terima. "Apa?! Ba-bagaimana bisa?!"


Gerakan itu sontak membuat prajurit pembawa pesan itu menyilangkan pedangnya di leher Hai Ran.


Ia mengalihkan atensinya pada sesuatu di bawahnya yang tengah dilanda badai petir sebelum tersenyum hangat yang terkesan sangat tidak natural.


"Memangnya di dunia ini hanya kamu dan tuanmu itu saja yang bisa bermain taktik? .... Kamu melupakan seseorang, Pak Tua."


Flashback on.


Rumah persembunyian di desa kecil.


"Bagaimana kalau kita membawa seluruh pasukan yang ada untuk berperang dari hutan? Kita bisa tinggal di goa-goa terdekat dan menyerang di malam hari."


"Cukup masuk akal, Pangeran Wu Xiao. Namun, saya mohon ijin untuk menambahkan saran. Bagaimana kalau kekuatan ini kita bagi dua sehingga bisa mengacuhkan perhatian musuh?"


"Kenapa tidak langsung menyerang kota-kota saja? Itu lebih mudah untuk mendapatkan pasukan tambahan."


"A-Huang ... itu terlalu berbahaya."


Yiu yang sedari tadi memainkan belati perak di tangannya kini mengangkat kepalanya menatap semua orang yang duduk di meja makan kecil ini untuk berdiskusi.


Ia menancapkan belati itu ke meja dengan gerakan cepat, membuat beberapa orang sedikit terkejut atas tindakannya.


"Aku sudah menyusun strategi. Ijinkan aku mengungkapkan pendapatku."


Setelah mendapatkan anggukan kecil dari Xiao Ce dan yang lainnya Yiu kembali bersuara, "Aku setuju dengan pendapat Pangeran Ming Zijing. Aku berencana membagi dua pasukan, pasukan inti akan terdiri dari dua puluh orang dan akan berperang dari hutan lalu diam-diam menyelinap ke dalam kantor bupati dan mengambil alih kendali."


Yiu mengedarkan pandangannya sesaat sebelum melanjutkan, "Setelah dapat menguasai suatu kota, pasukan inti akan kembali memasuki hutan untuk menuju kota selanjutnya sedangkan pasukan cadangan yang akan mengambil alih penuh atas suatu kota dan menyebarkan desas-desus tentang pasukan inti. Tujuannya adalah agar perhatian masyarakat terfokus pada pasukan inti dan pasukan cadangan dapat leluasa untuk membentuk pasukan yang jauh lebih besar lagi."


Ming Zijing bertanya, "Lalu bagaimana dengan Hai Ran?"


Yiu mengepalkan tangannya yang berada di bawah meja, wajahnya yang masih datar kembali menjawab, "Itulah tujuanku membagi dua pasukan. Pasukan inti akan diisi oleh aku, kedua kakakku dan kalian berdua. Itu cukup untuk menarik perhatian Hai Ran untuk menyerang kita ke dalam hutan dan memberi waktu untuk pasukan dua menyerang inti kota."


Seluruh pria yang duduk di satu meja mulai saling berpandangan lalu mengangguk setuju.

__ADS_1


Xiao Ce yang berada paling dekat dengan Yiu membelai singkat surai hitam milik Yiu dan mengukir senyumnya untuk pertama kali setelah sekian abad. "Gege bangga padamu, A-Ying."


Hal itu sontak membuat seluruh pasang mata terfokus pada keduanya tanpa berkedip, terutama untuk Yiu, ia sendiri mengulum senyum manis sebelum kembali serius.


Termasuk hal yang sangat langka bisa melihat senyuman maut dari Putra Mahkota Qiu Wang itu, itu mungkin hanya terjadi seribu tahun sekali.


"Jenderal Rong, kamu bawalah kedua pengawalku untuk menemanimu di pasukan cadangan lalu rekrut jenderal-jenderal besar dari kota-kota yang sudah ditaklukan untuk masuk juga. Pasukan ini sangat penting jadi tolong jangan sia-siakan kepercayaanku."


"Saya akan mengemban rahmat mulia dari Tuan Putri dengan menyerahkan seluruh jiwa!"


Flashback off.


Hai Ran menatap nyalang dengan ekspresi sangat jelek yang hanya dibalas Yiu dengan senyuman tak kalah jelek.


"Seret binatang ini pergi dan masukan ke sel terdalam," titah Huang.


Setelah kepergian Hai Ran, Yiu menghela napas berat, kakinya entah bagaimana tiba-tiba menjadi gemetar.


Ia menghadap Huang kembali dan memeluknya singkat, setelah itu, Yiu membalikkan badannya ke Wu Xiao untuk mengucapkan terima kasih.


Manik keduanya saling bertemu, belum sempat Yiu ingin membuka mulutnya tiba-tiba Wu Xiao ikut mendekapnya dengan tangan kokohnya melingkari seluruh tubuh Yiu. Persis seperti yang baru saja dilakukan kakaknya.


Napas Yiu seketika memburu, tangannya yang menyentuh dada bidang Wu Xiao seolah semakin mati rasa, kakinya tiba-tiba terasa lemas dan ia juga kesulitan bernapas. Wu Xiao terlalu kuat mendekapnya!


Wu Xiao samar-samar mengecup pucuk rambut Yiu yang selembut kapas dan seharum mawar, tangannya bahkan memperkuat pelukan seolah-olah ia sangat takut untuk membiarkan perasaan hangat yang ada pada Liying-nya terlepas dari pelukannya, Liying-nya mungkin sudah berubah menjadi candunya sekarang dan ia menyukai itu.


Satu hal yang Wu Xiao lupakan. Pangeran Huang!


Ia membuka manik hijau zamrudnya dan terkejut melihat sosok Pangeran Huang yang tergambar sangat menyeramkan di depannya.


Huang yang melihat adik semata wayangnya didekap oleh pria lain merasa terbakar dan tidak terima. Dengan cepat ia mendorong bahu Wu Xiao kemudian menendang perutnya sebelum beralih ke Yiu dan menjewernya kuat.


"Jangan dekat-dekat dengan meimei-ku atau kubunuh kau!"


"Aww Gege ini sakit!!"


"Rasakan!"


Yiu yang kesakitan memutar otak untuk mengalihkan amarah sang Kakak karena tubuhnya masih sedikit lemas untuk melawan.


"Gege! Kita ... kita harus mencari Ming Zijing dulu dan mengubungi Da Ge!"


Seketika Huang dan Wu Xiao yang menahan sakit di perutnya kembali tersadar akan hilangnya rekan mereka sekaligus mengalihkan perasaan canggung yang akan datang.


Ketiganya mencari keberadaan Ming Zijing yang masih tidak pasti. Beruntung Pasukan Xiao Ce sudah tiba sehingga membantu proses pencarian.


Seorang prajurit melihat seseorang berbaju putih meringkuk di balik tumpukan kayu potong yang sebagian sisinya telah gosong, prajurit itu menghampirinya dan terkejut lalu berteriak, "Pangeran! Pangeran Ming Zijing ada disini!"


Wu Xiao yang berada paling dekat langsung berlari dan menyingkap kasar beberapa kayu gosong yang menutupi tubuh Ming Zijing yang tak sadarkan diri.


Huang dan Yiu datang bersamaan, Wu Xiao menarik perlahan tubuh Ming Zijing, wajah dan pakaian seputih saljunya kini ternoda debu dan abu.


Huang dan Wu Xiao membopong Ming Zijing di pundak dan menaikkannya ke atas kuda yang dinaiki prajuritnya setelah itu giliran Huang menaiki kuda tersebut.


"Aku akan membawa dia lebih dulu. Da Ge, tolong jaga A-Ying, jangan sampai ada yang berbuat macam-macam padanya!" ucapnya sarkas sembari memberi pelototan tajam ke Wu Xiao yang dibalas dengan gerakan menggaruk belakang lehernya canggung.


Setelah kepergian Huang dan Ming Zijing, Xiao Ce berjalan sembari menatap wajah Yiu yang merah padam lalu beralih mengedarkan pandangannya dari Wu Xiao hingga Hai Ran yang dibopong dengan terseret-seret di belakang bersama sisa pasukannya.


"Siapa yang ingin macam-macam padamu, A-Ying? A-Huang tadi terlihat sangat marah. Apa karena dia?" tanya Xiao Ce sembari memberi isyarat mata untuk menatap Hai Ran.


Yiu terkesiap lalu menjawab dengan gugup, "Ahaha... tidak ada, Ge. Huang Gege hanya terlalu berlebihan. Tidak ada yang terjadi."


Melihat dari tatapannya membuat Xiao Ce merasa kurang puas. Ia beralih menghadap Wu Xiao yang ikut terkejut hingga sedikit mengejang akibat mendapat tatapan mengerikan yang lagi-lagi berasal dari kakak Liying-nya.


"Pangeran tenang saja. Meimei-mu akan baik-baik saja, ada aku dan kamu yang menjaganya. Benarkan, Liying?" ucap Wu Xiao sembari tersenyum sangat lebar ke arah Yiu.


Yiu sendiri merasa bulu kuduknya hampir berdiri melihat senyum itu. Namun, ia mengerti dan ikut tersenyum sembari menggaet lengan Xiao Ce untuk kembali fokus berjalan menuju Qiu Wang.


"Gege, sebentar lagi kita akan sampai rumah."

__ADS_1


TBC


__ADS_2