Flower Of War

Flower Of War
Chapter 57 : Harta Karun


__ADS_3

Wu Xiao menarik pedangnya, menangkis anak panah yang menyasarnya. Ia mendekati kereta.


"Liying, kalian jangan keluar! Serahkan pada kami!"


Ketiganya menjadi waspada. Xiao Ce segera memeluk Yiu dan merangkul Huang. "Menunduk! Huang, cabut kursi kayu ini dan jadikan tameng!"


Ming Zijing juga mengambil anak panahnya dan mulai membidik.


Anak panah yang datang terlalu banyak, mereka sulit mengendalikan situasi karena keberadaan musuh yang sulit terlihat di rimbunnya hutan bambu.


Hampir setengah dupa Pasukan Wu Xiao hanya bisa menangkis serangan tanpa balasan. Sementara itu, serangan lawan terus menimbulkan korban nyawa.


"Kita tidak bisa terus menangkis! Kita harus melawan balik!" ucap salah satu prajurit.


"Pangeran, beri kami perintah!"


Wu Xiao berteriak pada Ming Zijing, "Ming Zijing, bawa sebagian pasukan dan kabur bersama Pangeran Wang Xiao Ce dan adiknya. Aku akan menahan mereka sementara."


Ming Zijing yang masih sibuk melesatkan panah buta melirik Wu Xiao tidak suka.


"Aku bukan seorang pecundang yang hanya tau caranya melarikan diri."


"Kamu membawa panah, kamu bisa melindungi mereka. Cepatlah! Jangan sia-siakan anak panahmu!"


Ming Zijing mendecih sebelum berlari mundur mendekati kereta dan mendobrak pintu.


"Cepat pergi dari sini!"


Ming Zijing membawa enam prajurit dan ketiga bersaudara itu kembali masuk menuju jantung hutan.


Yiu berlari terseret-seret oleh Pangeran Huang, ia kemudian memutar kepalanya ke seluruh penjuru. "Kenapa kita lari? Dimana Wu Xiao?"


Ming Zijing, "Dia mengalihkan perhatian. Kita harus sembunyi."


Yiu seketika menghentikan langkahnya. "Kalian meninggalkannya sendiri?! ...."


Yiu merebut pedang prajurit di dekatnya dan hendak kembali menyusul Wu Xiao. Namun, niatnya terhalang oleh kakaknya


"Ge...?!"


"Kamu tidak boleh pergi. Berbahaya."


Yiu meledak marah, "Kalau Gege sendiri tahu itu berbahaya kenapa masih membiarkan Wu Xiao bertarung sendirian?!"


"A-Ying, dengar du-"


Boom!!


Terdengar suara ledakan dari kejauhan diiringi getaran kuat di tanah. Sepertinya suaranya berasal dari jalur kereta tempat Wu Xiao berada.


Yiu dan yang lainnya mematung. Segala pemikiran terburuk muncul di benak Yiu.


Xiao Ce yang pertama bereaksi. Ia menarik tangan Yiu dan menyerahkannya pada Ming Zijing sembari berkata, "Jaga adikku. Aku pergi membantu."


Huang langsung menimpali, "Aku ikut."


Yiu tidak terima. "Kalian tidak akan meninggalkanku, 'kan? Ge ... aku bisa membantu!"


Xiao Ce menggeleng lalu mengusak pelan rambut adiknya. Setelahnya, Xiao Ce dan Huang berlari bersama pedang di tangan mereka dan kembali menuju jalur hutan.


Yiu ingin menyusul. Namun, tangannya ditarik oleh Ming Zijing. Tarikan itu tidak terlalu berarti bagi Yiu sehingga ia dengan cepat mudah melepaskan diri.


Yiu memanfaatkan kesempatan untuk berlari tetapi kali ini baru beberapa langkah berlari tubuhnya seperti terangkat melawan gravitasi.


Rupanya Ming Zijing tanpa izin menggendongnya di bahu. Yiu meronta sembari memukul-mukul punggung Ming Zijing yang tampak tak goyah dalam langkahnya.


Ming Zijing berjalan cepat sebelum lama-kelamaan menambah kecepatannya menjadi berlari.


Saat dirasa sudah cukup jauh dan aman, Ming Zijing menurunkan Yiu dari pundaknya. Yiu yang baru menapak tanah segera mendorong bahu Ming Zijing kuat hingga ia mundur beberapa langkah.


"Pengecut!"


Hanya satu kata. Namun, itu membuat Ming Zijing menundukkan kepalanya.


"Kakakmu yang berpesan untuk membawamu lari."


"Lalu kau menurutinya begitu saja? Apa kau sanggup meninggalkan temanmu berjuang sendirian? Apa kau pikir aku ini wanita lemah yang butuh perlindungan, ha?!"

__ADS_1


Wajah Yiu semakin memerah, entah itu karena marah atau karena ingin menangis. Binar kecil terlihat di sudut matanya, ekspresi tergambar jelas perasaan khawatir nan tidak rela. Namun, kata-kata yang ia keluarkan terlalu pedas dan menggebu-gebu.


Ming Zijing hanya dapat menurunkan matanya sayu. Tidak berani menatap manik gelap Yiu yang kini ikut memerah itu.


"Maaf." Hanya itu yang bisa ia katakan diantara jutaan kata yang bisa dikatakan.


"Wu Xiao ada di sana, kedua kakakku juga ada di sana. Keberadaan musuh tidak terdeteksi dan kau memilih kabur sendirian?! Itukah yang kau sebut sahabat?"


Ming Zijing sudah habis kesabaran untuk menenangkan Yiu sehingga ia membentak tanpa sadar, "Bagaimana pun juga kamu adalah wanita! Kamu berhak dan harus dilindungi! Apalagi kau adiknya! Kakak mana yang ingin adiknya celaka?!"


Yiu seketika terdiam seribu bahasa. Mulutnya terbuka tetapi tidak ada suara sedikit pun yang bisa ia keluarkan.


"Dengarkan kata-kataku, kita bersembunyi dan tunggu mereka sebentar. Jika mereka tidak kunjung datang kita segera atur strategi menyerang. Bagaimana?"


Belum sempat Yiu menjawab dengan anggukan, terdengar gemerisik daun dan ranting yang patah dari arah belakang Yiu.


Keduanya menoleh waspada, dengan satu gerakan Ming Zijing berdiri di depan Yiu. Matanya memincing dan menyadari ada siluet beberapa orang berpakaian serba hitam di depannya.


Mereka kalah jumlah.


Ming Zijing segera menarik tangan Yiu dan lari secepat yang mereka bisa. Namun, di depannya muncul beberapa pria yang berpakaian sama dengan yang mereka lihat.


Ming Zijing dan Yiu saling membelakangi. Terdapat sepuluh orang berpakaian hitam serta penutup wajah, sepuluh pedang mengkilap mengepung mereka.


Sedari awal mereka telah terkepung.


Ming Zijing berbisik, "Tetap di belakangku, aku akan menangani mereka."


Yiu menyunggingkan senyum sinis. "Kau meremehkanku?"


"Baiklah lawan bersama!"


Pertarungan tak terelakan. Ming Zijing membuang busurnya, keduanya bertarung dengan tangan kosong.


Komplotan itu cukup terlatih, apa lagi teknik menyerang mereka sangat mirip teknik menyerang Yiu walau tidak sebatas dan seefektif seperti yang ia ajarkan. Sudah dapat dipastikan mereka adalah prajurit Bai Qing.


Keduanya sedikit kewalahan dengan sepuluh orang berpedang.


Yiu mengambil gerakan dalam dan memukul kuat persendian di tangan musuh hingga terdengar suara tulang patah dan suara jeritan memekakkan telinga.


Pedang orang itu terjatuh dan Yiu tidak sempat menangkapnya. Ia berbalik dan menghindar ke samping dari pedang yang hendak menusuk arterinya, mengambil kesempatan untuk menendang kepalanya hingga tak sadarkan diri.


Bugh...


Satu orang tumbang lagi di tangan Yiu. Sementara itu, Ming Zijing menjegal salah satu kaki lawan dan menendang kepalanya yang berada di tanah.


Pukulan datang dari arah belakang, Ming Zijing bergeser sedikit dan memegang tangan yang terkepal erat itu lalu membanting tangan beserta pemiliknya ke tanah dengan keras.


Ming Zijing tidak suka membuang-buang waktu. Berbekal latihan memanahnya, ia bisa melihat gerakan musuh secepat apa pun itu.


Tangan kanannya mengepal erat, semua kekuatannya berkumpul di tangan dan dengan tenaga penuh ia meninju wajah lawan lain hingga pingsan dan tulang hidungnya patah.


Srieett...


Sebelum prajurit itu pingsan, tangannya yang masih memegang pedang berhasil menggores tipis bahu kiri Ming Zijing.


Ming Zijing menatap lukanya sesaat. Tidak ada waktu untuk memperdulikan itu sekarang jadi ia kembali melanjutkan pertarungan.


Yiu sekarang tengah di kepung empat orang sekaligus. Yiu hanya dapat mengawasi tiga dari empat karena berada pada titik buta.


Yiu sibuk melawan tiga prajurit hingga tidak sadar sebuah pedang datang dari arah belakangnya.


"Hati-hati!"


Yiu menoleh dan mendapati Ming Zijing sudah menghadang pedang itu dengan tangan!


Tangan kanan Ming Zijing menggenggam pedang itu tanpa ragu. Setetes demi setetes cairan berwarna merah kental jatuh ke tanah.


Ekspresi Ming Zijing masih serius, gigi-giginya bergemeletuk keras. Ia menendang pemilik pedang itu hingga pedang berlumuran darah itu terlepas dari pegangannya.


Di detik yang sama, Yiu segera merebut salah satu pedang dan menebas semua lawan yang tersisa dalam hitungan detik.


Yiu berbalik dan melihat tangan Ming Zijing yang bermandikan darahnya sendiri.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Ming Zijing dengan wajah yang perlahan mulai kehilangan warnanya.


"Bodoh! Harusnya aku yang bertanya seperti itu!" Yiu menggaet pergelangan tangan Ming Zijing yang terluka dan mendudukannya di sebuah batu besar tak jauh dari tempat mereka berdiri.

__ADS_1


"Apa kau punya kain yang bisa dijadikan perban?"


Ming Zijing hanya terdiam lalu menggeleng. Yiu membuang napas kasar sebelum menunduk dan menyobek lapisan luar pakaiannya.


Ming Zijing tidak bisa tidak membuka lebar matanya karena keterkejutan. Ia membuka mulutnya tetapi tidak tahu apa yang harus ia katakan dan memilih membuang muka untuk menjaga kesopanan.


Mengerti pikiran Ming Zijing, Yiu berkata sembari membuka kantung wewangiannya, "Ini keadaan darurat."


Setelah merobek pakaiannya ia menepuk-nepuk singkat kain itu, sebelum melilitkan kain ke tangan Ming Zijing ia menumbuk beberapa daun kering yang dapat menghentikan pendarahan dan mengoleskannya ke luka.


"Ini akan sedikit sakit, tahan sebentar."


Selesai mengolesi obat, Yiu mulai mengikat kain dan membalut pelan luka Ming Zijing yang masih berwajah datar walau terlihat sangat pucat seperti mayat hidup.


"A-Ying! Zijing!"


"Liying! Es Batu!!"


Dari kejauhan mereka mendengar samar-samar suara seseorang berteriak.


Keduanya saling memandang sejenak sebelum mengenali siapa pemilik suara itu.


"Gege! Kami di sini!"


Tak lama sekelompok pria terlihat dari kejauhan dan siluet mereka semakin jelas seiring dekatnya jarak antara mereka.


Wu Xiao ada di depan kumpulan. Ia yang menyadari keberadaan Yiu lebih dulu dan segera berlari ke arahnya di ikuti yang lain.


Wu Xiao berjongkok di depan Yiu yang masih membalut tangan Ming Zijing, memegang kedua bahunya dan memperhatikan setiap inchi tubuh Yiu dari atas sampai bawah.


"Liying, kau tidak terluka, 'kan? Pakaianmu robek! Apa mereka berani menyentuhmu? Mana yang disentuh? Mana?!"


Yiu memutar bola mata malas melihat sikap Wu Xiao yang menurutnya selalu berlebihan. "Aku merobeknya sendiri."


Wu Xiao mengerutkan alis. Yiu memberi isyarat mata ke arah tangan Ming Zijing yang terbalut kain yang sudah ternoda darah sembari kembali menyelesaikan balutan terakhir.


Wu Xiao mengerti keadaan, tangannya lalu menepuk bahu kiri Ming Zijing dengan ekspresi tidak rela. "Lukanya tidak parah .... Harusnya kamu menunggu kami sebentar, aku yang akan mengobati dia nanti."


Wajah Ming Zijing kian memucat, tangan kirinya bergerak menepis kasar tangan Wu Xiao dari pundaknya.


Belum sempat Wu Xiao menatap Ming Zijing, ia melihat telapak tangan kanannya yang sudah berlumuran darah. Wu Xiao membola seketika.


Yiu yang melihatnya ikut membola. "Kamu terluka dimana saja?"


Ming Zijing hanya menggeleng tanpa ekspresi. Wu Xiao yang merasa bersalah segera mengambil tangan Yiu dan melanjutkan ikatan di tangan Ming Zijing sembari mendorong Yiu menjauhi Ming Zijing.


"Aku merasa bersalah jadi aku yang akan mengobatimu, oke? Liying, kamu duduk saja dan istirahat. Tidak pantas jika seorang putri mengobati pria lain."


Yiu mendengus."Tidak tahu malu."


Ekspresi Ming Zijing kian menggelap, ia memutar badan membelakangi Wu Xiao yang sibuk dengan luka-luka miliknya.


Kedua kakaknya yang baru saja selesai memeriksa mayat berpakaian hitam akhirnya menghampiri Yiu.


"A-Ying, kamu baik-baik saja?"


"Aku baik, Ge."


Xiao Ce mengeluh lirih, "Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan kereta. Terlalu berisiko."


Yiu merenung sesaat, sekelebat strategi bertahan hidup terbayang di benaknya.


"Kita cari desa atau kota terdekat di sekitar sini. Aku memiliki strategi yang seharusnya cukup ampuh dengan sedikit pasukan."


Kedua kakaknya mengangguk. Perhatian Yiu tiba-tiba tertuju pada sebuah kotak hitam besar yang dibawa dua orang penjaga di belakang Pangeran Huang.


"Huang Gege, apa yang ada di dalam kotak itu?"


Huang mengikuti arah pandang Yiu lalu berseru rendah, "Oh ini kotak berisi barang-barang aneh, tapi jika dilihat dari bentuknya mungkin itu bahan-bahan dapur yang mengerikan atau apa pun itu aku tidak tahu yang jelas ini milikmu."


Yiu mengerutkan kening merasa pernah melihat kotak itu sebelumnya, ia mendekati kotak itu lalu meminta persetujuan untuk membuka kotak pada kakaknya melalui isyarat mata.


Huang mengangguk kecil. "Kotak itu diberikan oleh salah satu pelayan pribadimu yang berhasil kabur saat itu. Dia bilang ia tidak tahu apa gunanya barang ini tetapi yang jelas barang ini sangat penting bagimu."


Kotak itu di turunkan ke tanah lalu salah satu prajurit membuka penutup kotak. Manik Yiu berbinar, warna wajahnya manisnya bersinar terang di rimbunnya hutan bambu.


Hwang yang melihatnya merasa sedikit aneh dan bertanya, "A-Ying ... kau tak apa? Apa bumbu-bumbu ini enak dimakan?"

__ADS_1


Yiu tersenyum lebar sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ini bukan bumbu, Ge .... Kenapa aku bisa melupakan hal sepenting ini! Hah, ... Ge, ... kita akan segera mengambil alih Qiu Wang."


TBC


__ADS_2