
Seseorang datang menghalau pedang itu dan kemudian menghindar untuk melakukan tebasan kilat dua kali sebelum menendang prajurit itu ke tanah hingga tak dapat mengerakkan ujung jarinya.
Kedua wanita itu menengok ke belakang, salah satu wanita itu berteriak, "Ayah!"
"Lari!!"
Belum sempat mereka lari, prajurit Bai Qing datang dari arah belakang dan mencoba menusuk jantung Kaisar Zhang Wu itu.
Wu Xiao yang melihat dari jauh spontan berteriak, "Ayah, awas!"
Jleb....
Dor dor dor....
♣♦♣
Waktu terasa terhenti untuk beberapa saat, jantung Wu Xiao hampir tidak berdetak lagi seakan-akan nyawanya akan melayang saat ini juga.
Ia berjalan layaknya mayat hidup mendekati objek perhatiannya sejak tadi. Dua orang tergeletak tak bernyawa di tanah dengan bersimbah darah.
Tubuhnya dalam sesaat merosot jatuh menapak tanah tanpa peduli pada kubangan darah yang tercipta di kakinya. Pedangnya pun ikut tergeletak tak berdaya di tanah dekat sang tuan.
Ia masih belum percaya pada pemandangan di depannya. Telinganya seolah tuli pada kebisingan yang hampir memekakkan telinga di sekitarnya.
Tak lain halnya dengan pikirannya yang kosong. Bagaimana tidak, satu-satunya alasan dia hidup, satu-satunya pelipur laranya, satu-satunya alasan ia tetap tersenyum walau hidup penuh dengan tekanan, kini ia tengah terbaring pucat penuh darah melekat di pakaian dan sudut bibirnya.
Wajah cantik yang selalu menyambutnya saat kembali dari tugas kerajaan sebagai seorang Jenderal Besar Kerajaan, tingkah manjanya yang akan melompat-lompat kecil saat Wu Xiao melarangnya untuk menaiki kuda mulai saat ini tidak akan pernah ia jumpai lagi.
Di sisi lain, wanita yang bersamanya tadi menyangga kepala putrinya di pangkuan lemahnya sembari terus berteriak dan menangis. Sang ayah mencoba menepuk-nepuk pipi putrinya yang perlahan mulai kehilangan warnanya.
Di tengah kekacauan itu suara ledakan keras kembali terdengar. Anehnya, tanah di sekitar mereka tidak bergetar dan bunyi ledakan itu terasa sedikit asing.
Banyak orang-orang yang jatuh seketika tanpa sebab saat hendak mendekati keluarga yang tengah berduka itu tepat setelah ledakan asing itu terdengar dan yang paling parah adalah posisi keluarga itu tanpa perlindungan dari siapa pun dan lokasi mereka yang cukup terbuka.
Wu Xiao tersadar dari dunia suramnya setelah beberapa kali ledakan nyaring terdengar. Ia memutar pandangannya ke seluruh penjuru lalu menggapai pedangnya dan dengan susah payah berdiri dengan bertumpu pada pedangnya yang tertancap ke tanah.
"Ayah, Ibu, ini bukan saatnya bersedih. Pikirkan nyawa kalian!"
Tidak ada yang menanggapi untuk waktu yang cukup lama, justru isakan ibunya semakin keras.
Tiba-tiba sang ayah bersuara sangat lirih, "Seharusnya Ayah yang mati. Kenapa meimei-mu melakukan hal bodoh!"
"Apa jadinya negeri ini nanti jika kalian menyerah? Tidak ada yang harus disalahkan, aku yakin A-Yi melakukannya karena ia tidak ingin negeri ini hancur di tangan pendosa seperti mereka!"
Sang Ayah mulai merenung dan mengangguk singkat. "Yah.... Kita harus memberikan pemakaman terbaik untuk adikmu. Istriku, ayo, kita harus mengamankan A-Yi."
Wu Xiao berjaga bersama beberapa pemimpin pasukan yang baru saja tiba.
"Pangeran, Anda pergilah. Kami akan menjagamu."
"Berani sekali kalian menyuruh atasan!"
"Kami tidak berani, Pangeran. Tapi ini demi kebaikan Anda, lagi pula bantuan dari Kerajaan Guang Ming baru saja tiba. Setidaknya kita dapat mengimbangi jumlah pasukan."
"Berhenti berbicara dan terus buat jalan untuk Kaisar dan Permaisuri."
"Laksanakan!"
Mengayunkan pedang mereka tanpa kenal lelah dan takut sembari terus mundur untuk mengamankan Kaisar dan Permaisuri.
Hari mulai semakin dingin, mentari mulai menampakkan sinar oranye kemerahan. Pasukan Zhang Wu kini memimpin pertarungan dan berhasil memukul mundur pasukan mereka hingga keluar wilayah kerajaan.
Namun, siapa sangka? Pasukan Bai Qing mendapat bala bantuan yang muncul dari gerbang kota menuju hutan selatan.
Hal itu membuat keadaan semakin memanas, tidak ada tanda-tanda siapa yang akan memenangkan pertarungan kali ini.
Keadaan berganti dengan cepat, Pasukan Bai Qing kembali mendominasi pertarungan. Pasukan Wu Xiao hanya tersisa seperlima dari pasukan Bai Qing, mereka tersudut di gerbang kota.
Terjadi adu mulut antara Wu Xiao dan pimpinan pasukan Bai Qing, Wu Xiao dengan tegas terus menyerukan kata "Langkahi jasadku dulu sebelum bermimpi untuk menguasai Zhang Wu".
Huang yang berada di samping Wu Xiao terus memutar otaknya untuk bernegosiasi.
"Hei kau!" Suara Pangeran Huang memecah perhatian. Pandangan pemimpin pasukan Bai Qing pun turut beralih kepadanya.
"Hari akan gelap, apa tidak bisa kita lanjutkan ini esok?"
Pria dengan tombak itu terkekeh jelek sebelum membalas, "Bilang saja Anda sangat takut akan terbunuh hari ini, Pangeran. Tenang saja, kami akan melakukannya dengan lembut."
Tawa Huang pecah seketika, ia menancapkan pedangnya ke tanah sebelum kembali mengangkat wajahnya yang masih terkekeh.
"Kau tahu? Negeri ini dilindungi oleh Surga, seharusnya kalian berpikir seratus kali untuk menguasai tanah yang diberkati ini dengan tangan kotor kalian."
Giliran tawa pria pemimpin pasukan itu yang pecah. "Omong kosongmu sangat lucu, Pangeran."
"Kau tidak percaya? Mau aku tunjukkan teknik membunuh tanpa menyentuh lawan dalam satu kedipan mata?"
__ADS_1
Tawanya semakin lebar diikuti oleh anak buahnya yang mengganggap Huang konyol.
Huang sendiri hanya tersenyum, ia mengangkat tangan kanannya dengan jari telunjuk yang menunjuk tegas ke arah pemimpin pasukan itu.
"Aku hanya perlu menunjuk seseorang dan seseorang itu akan mati." Suaranya sangat dalam dan penuh penekanan.
Mereka masih sibuk tertawa hingga tak sadar sebuah jarum kecil melesat menusuk bagian inti tubuh sang pemimpin pasukan yang membuatnya seketika ambruk ke tanah tak sadarkan diri.
Keadaan menjadi hening, raut wajah pasukan Bai Qing mulai ketakutan. Huang kembali memainkan perannya. "Lihat, aku tidak berbohong, 'kan?"
Sebuah suara berani menyangkalnya, "Saudaraku, jangan percaya perkataannya! Pangeran itu memiliki senjata tersembunyi di balik lengan bajunya."
Huang sempat memaku karena triknya telah terbongkar, masih memasang wajah tenang ia kembali memutar otaknya.
"Sudah kubilang ini berkat Surga yang membantu. Kenapa kalian susah sekali untuk mengerti perkataan manusia!"
Pemuda Bai Qing yang menyangkalnya tadi kembali bersuara, "Kalau begitu cepat buktikan pada kami jika Surga berpihak padamu! Bunuh kami tanpa mengerakkan kedua tanganmu!"
Huang merutuki tindakannya dalam hati, ia bahkan belum sempat mengisi ulang senjata rahasianya dan sekarang kembali ditantang membunuh lebih dari satu orang.
Huang memberi kode pada Wu Xiao lewat gerakan tangan kirinya, sebab hanya Wu Xiao yang memiliki senjata rahasia yang memiliki kemampuan tiga kali tembak.
"Baiklah, kalau begitu mari kita mulai dengan dirimu dulu, Anak Muda. Oh, dan beberapa orang di sampingmu juga tentunya."
Wajah mereka kembali memucat, Huang mulai merapalkan kalimat ngawurnya dengan sikap berdiri tegap, "Wahai Dewa Petir! Aku memohon padamu untuk membunuh mereka yang ingin merebut tanah yang diberkati ini dengan tangan kotor mereka!"
Belum ada sedetik, ketiga jarum Wu Xiao melesat diikuti dengan suara ledakan nyaring bertubi-tubi yang kembali muncul dan kali ini terdengar sangat jelas dari atas gerbang oleh pasukan Wu Xiao yang berada tepat di bawahnya.
Dor dor dor dor ....
Tujuh orang di barisan depan Bai Qing tumbang seketika. Raut wajah Pasukan Bai Qing itu menjadi semakin tidak berwarna.
"Tanah ini telah dikutuk! Tanah ini telah dikutuk! Mundur!!"
Pasukan itu mulai mundur perlahan, menciptakan kelegaan bagi Pasukan Wu Xiao.
Meski begitu, baik Wu Xiao dan Huang sendiri tengah dalam kebingungan.
Senjata Wu Xiao hanya bisa melepaskan tiga jarum dalam sekali tembak, tapi bagaimana bisa ada tujuh orang yang tumbang?
Belum sempat Huang menemukan jawabannya, derap langkah pasukan dengan bendera merah menghiasi suasana sore yang mencekam.
Bantuan dari Qiu Wang tiba!
Kini keadaan kembali berbalik, dengan berat hati, Pasukan Bai Qing menyerahkan diri dan berubah menjadi tawanan.
Namun, ia tidak dapat menemukannya. Salah satu prajuritnya berkata jika Pangeran Wu Xiao memasuki gerbang dan naik ke atas pertahanan gerbang di atas.
Merasa penasaran Huang menyusul Wu Xiao ke atas. Sesampainya di atas gerbang ia melihat punggung Wu Xiao yang terpaku bak patung.
Huang mencoba mendekat dan melihat kemana arah pandang Wu Xiao tertuju.
Deg....
"A-Ying?!"
Yiu yang sebelumnya juga terpaku kini meringis sembari mengaruk tengkuknya yang tak gatal sembari melambai dengan tangan lainnya. "Hai, Gege."
Posisi Huang kini sejajar dengan Wu Xiao, berjarak beberapa langkah dari Yiu. Ia memandang wajah Wu Xiao yang masih mematung dan kemudian melihat meimei-nya.
Kini ia tahu kenapa Wu Xiao tidak berani mendekat.
"A-Ying, benda aneh apa itu yang kau kalungkan?"
"Oh ini..., Ini hanya hiasan saja, Ge."
Tanpa merubah ekspresinya, Wu Xiao berkata, "Kau yang membuat suara ledakan aneh itu, 'kan? Kau juga yang membunuh empat orang prajurit tadi dengan benda itu, 'kan?"
Wajah Huang tidak dapat kembali santai lagi, maniknya melebar setelah melihat benda panjang mengalung di bahu Yiu hingga sampai ke pahanya. "A-Ying, katakan yang sejujurnya, sebenarnya benda mengerikan itu apa?!"
"Gege, Wu Xiao, jangan takut. Ini tidak akan meledak. Ini ... ini ... ini senjata ciptaanku yang terbaru. Ini bisa menembak orang dengan jarak paling jauh sekitar *satu li."
Li yang dalam Hanzi ditulis (里) memiliki ukuran standar yakni 500 meter atau setengah kilometer (sekitar 1.640 kaki). Sebuah Li modern setara dengan 1.500 kaki atau chi yang dipakai di Tiongkok.
"A-Ying, meimei-ku tersayang, aku semakin meragukan apakah dirimu ini masih manusia atau sudah berubah menjadi monster....."
Wu Xiao mulai berjalan mendekat, ia menggapai kedua tangan Yiu dan mengedarkan pandangannya ke seluruh tubuh Yiu, memeriksa apakah ia terluka atau tidak.
"Aku baik. Tidak perlu khawatir. Lihatlah, kakakku saja malah takut padaku, haha."
Awalnya Yiu ingin mencairkan suasana. Namun, sepertinya leluconnya terlalu garing, dan sebaliknya Wu Xiao semakin menggenggam erat pergelangan tangan Yiu.
Dalam sepersekian detik, Wu Xiao menarik Yiu untuk turun dari gerbang. "Pangeran Huang, ijinkan aku meminjam meimei kesayanganmu sebentar."
Keduanya menuruni tangga dan berlari menyusuri dinding gerbang bagian dalam.
__ADS_1
Yiu tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menatap tidak senang pada Wu Xiao. "Apa sebenarnya maumu? Kenapa harus sampai membawaku kemari?!"
"Sudah kubilang sebelumnya untuk jangan kemari! Kenapa kau kemari?!"
"Apa salahnya? Aku hanya ingin membantu, itu saja."
"Bagaimana caramu sampai kemari?"
Pandangan itu, mengerikan. Ada apa sebenarnya dengannya?
"Aku awalnya berniat datang dengan pasukan bantuan karena aku tidak tahu jalan tapi, aku pikir datang lebih awal itu lebih bagus. Oh ya, awalnya aku tersesat tapi untung saja aku bertemu dengan pasukan bantuan dari Guang Ming yang telah menerima surat dari Ming Zijing. Jadi, aku putuskan untuk mengikuti mereka dari belakang dan aku datang te-"
Belum sempat Yiu menyelesaikan ceritanya, tubuhnya sudah direngkuh erat oleh Wu Xiao. "Syukurlah kamu baik-baik saja. Terima kasih sudah menyelamatkanku."
Mendengar kata "Terima kasih" dari Wu Xiao dengan suara serak tepat di telinganya entah kenapa membuat jantungnya berdegup sangat kencang.
Perasaan yang familiar kembali menyelimutinya, perasaan yang membuatnya tak tahu harus berbuat apa, dan ia benci perasaan itu.
Ditambah dengan dirinya yang kini tengah berada di pelukan orang gila yang tak tahu malu, membuatnya semakin-
"Hey, Sialan! Jangan macam-macam dengan adikku!"
Pelukan itu terlepas seketika, keduanya spontan mendongak ke arah suara itu berasal.
Suara itu berasal dari Huang yang mencondongkan tubuhnya di atas gerbang untuk melihat kemana Wu Xiao membawa adiknya, dan ia sangat terkejut melihat adiknya yang tiba-tiba dipeluk oleh sialan satu itu.
"Liying, kita harus kabur."
♣♦♣
Malam yang gelap mulai menyelimuti seluruh daratan, obor-obor kecil dinyalakan di sepanjang jalan di sudut kerajaan.
Istana tampak ramai tetapi hampa. Tidak ada yang akan merayakan kemenangan disaat Kaisar dan Permaisuri Zhang Wu tengah berduka karena kehilangan putri mereka yang terkenal cerdas itu.
Beberapa prajurit sibuk memperketat keamanan di luar maupun di dalam istana, beberapa tenaga kesehatan sibuk merawat prajurit yang terluka, dan sebagian lainnya sibuk membersihkan istana yang hampir porak-poranda.
Yiu kini tengah berjalan santai, berniat mencari udara segar. Ia melewati jalan batu dan sampailah ia pada kolam ikan dengan jembatan lengkung terhias di atasnya. Ini tempat favoritnya saat berkunjung ke Zhang Wu dulu.
Ia menajamkan pandangannya dan melihat seseorang duduk membungkuk di ujung jembatan ditemani teko besar berwarna sepituh permata berisi arak yang bisa dia cium baunya dari tempatnya berdiri.
Siluet pria itu nampak tak asing, ia memberanikan diri untuk mendekatinya dan bayangan samar itu kini berubah menjadi sosok Wu Xiao yang berbeda.
Seluruh wajahnya merah di bawah sinar rembulan, matanya tak fokus, dan terus meracau kecil sembari menenggak teko besar di tangannya.
Yiu duduk di samping Wu Xiao dan berkata sedikit cemas, "Apa kau baik-baik saja?"
Wu Xiao menoleh dan kembali meracau, "Aku? Tentu saja baik! Kau tidak lihat aku tersenyum sekarang? Hicc!"
Yiu merenggut teko itu dari Wu Xiao. "Berhenti minum, kau sudah mabuk. Jika kamu mendapat masalah kamu bisa memberi tahuku."
"Apa kau punya adik perempuan?" Yiu menggeleng dan Wu Xiao kembali melanjutkan, "Maka kamu tidak akan mengerti perasaanku."
"Tapi aku juga perempuan, aku bisa jadi adik perempuanmu jika kau mau."
Wu Xiao mengalihkan pandangannya, mendekatkan pandangannya pada Yiu. "Kau... Liying, 'kan?"
Yiu mengangguk ragu.
"Maka kau pasti tidak akan mengerti perasaanku."
"Ceritakan saja, setidaknya bebanmu akan sedikit berkurang."
Wu Xiao merenggut kembali teko di tangan Yiu, menenggaknya hingga tandas sebelum memulai bersuara, "Aku kehilangan satu-satunya kerabatku. Dulu, ibuku meninggal karena berusaha menyelamatkanku yang tenggelam di danau. Sekarang, adik kandungku satu-satunya meninggal karena ...."
Wu Xiao menundukkan kepalanya sangat dalam. Yiu menggerakkan tangannya untuk mengelus lembut punggung Wu Xiao.
"Kau tahu? Wanita memang seperti itu. Mereka memang lemah tetapi mereka sebenarnya adalah makhluk yang paling kuat."
Wu Xiao mengalihkan atensinya pada Yiu. "Wanita mungkin tidak bisa melindungimu tetapi mereka bahkan tidak akan berpikir panjang tentang hidupnya jika itu menyangkut pada orang yang ia sayangi. Mereka akan mengorbankan segalanya untuk melihatmu tersenyum dan bahagia dalam menjalani kehidupan yang penuh kebohongan ini. .... Aku yakin meimei-mu pasti ingin kau dan ayahmu melanjutkan hidup dengan bahagia karena ia tahu jika salah satu dari kalian yang terbunuh saat itu maka pada akhirnya sama saja ia juga akan terbunuh di tangan Pasukan Bai Qing dan tak akan ada lagi hari bahagia. Adikmu memang anak yang cerdas."
Wu Xiao mengerutkan kening membuat Yiu was-was jika perkataan setengah ngawurnya itu menyinggung perasaannya. Asal kalian tahu, ia sangat buruk dalam menghibur orang.
Wu Xiao berseru marah, "Kalau begitu aku menyayangi orang yang tepat! Dia tidak lemah walau tidak secerdas A-Yi, tak waras, dan mirip embun beku tapi setidaknya dia bisa bertahan sebentar hingga aku tiba untuk menyelamatkannya. Aku akan berlatih lebih keras untuk melindungi wanita yang kusayangi, dan kamu, Liying, kamu bisa berhenti berkelahi dari sekarang!"
Yiu mengernyit tidak paham, ia bertanya, "Apa hubungannya denganku?"
Wu Xiao mengangkat kedua tangannya dan menghempaskannya ke arah bahu Yiu. "Karena, kamu, satu-satunya wanita yang kusayangi sekarang dan aku akan menjagamu dengan ketat mulai sekarang!"
Tubuh Yiu seketika mati rasa, ia ingin menampar wajah mabuk Wu Xiao tetapi kini logika dan perasaan sedang terlibat dalam perang internal yang hebat.
Ia menarik napas dan berusaha tenang. Ia berusaha menyingkirkan tangan Wu Xiao di pundaknya. "Kamu mabuk. Ayo kuantar kau kembali."
Wu Xiao menolak dan semakin menggenggam erat bahu Yiu. "Aku tidak mabuk! Liying, aku berkata jujur!"
"Aku mencintaimu, Liying."
__ADS_1
TBC