Flower Of War

Flower Of War
Chapter 32 : Benci dan Penghormatan


__ADS_3

Yiu merapikan pakaiannya sebentar sebelum bergegas maju memasuki arena pertandingan panahan dengan satu prajurit yang membawa peralatan memanah Yiu di belakangnya.


Disusul dengan Pangeran Lin Yun yang berjalan santai tapi penuh dengan aura kesombongan dan sorot mata meremehkan.


Para bangsawan yang menonton pun juga nampak malas untuk melihat pertandingan mereka karena beranggapan bahwa sudah jelas siapa yang akan memenangkan pertandingan di antara mereka berdua.


Namun berbeda dengan beberapa putri kerajaan yang terlihat sangat antusias melihat jalannya pertandingan babak pertama antara Putri Ying dan Pangeran Lin Yun entah itu karena mereka merupakan pendukung dari Pangeran Lin Yun atau karena ingin melihat kegagalan dari Putri Ying.


"Tenanglah aku tak akan serius dalam menarik busurku jadi kau tak akan terlalu mengalami kekalahan yang telak." Pangeran Lin Yun yang berjarak beberapa langkah darinya berbicara sebelum mengambil busur dan anak panahnya.


"Terima kasih ... tapi aku tak butuh belas kasihanmu, Pangeran. Urusi dirimu sendiri!" Yiu mendengus dingin dan mengelengkan kepalanya pelan sebelum mengikuti tindakan Pangeran Lin Yun yang mengambil busur dan anak panahnya.


"Babak pertama adalah menembak target dengan kesempatan tiga kali menembak dan total poin terbanyak akan melaju ke babak selanjutnya. Perserta bersiap menembak!" suara Jendral Meng Yao memulai jalannya pertandingan, diikuti Yiu dan Pangeran Lin Yun yang sudah bersiap menarik busur masing-masing mulai membidik sasaran yang jaraknya sekitar 300 kaki.


"Bersiap ... tembak!"


Kedua panah melesat cepat secara bersamaan menembus angin membelah udara dan menancap di target.


Panah Yiu berada tepat di tengah target sedangkan panah Pangeran Lin Yun berada lingkaran terluar target.


Lin Yun, Apa?! Sungguh tidak mungkin ini pasti hanya kebetulan!


Semua orang menatap dengan berkedip cepat dua kali ke arah Yiu dan ke arah target tempat panah Yiu menancap seolah merasa ini hanyalah ilusi mereka semata.


"Bersiap untuk panah kedua!"


Yiu dan Pangeran Lin Yun kembali mengambil busur dan mulai membidik.


"Jangan bersenang hati dulu itu hanya kebetulan dan aku tadi hanya pemanasan jadi bersiaplah untuk kalah!" Pangeran Lin Yun kembali berujar pelan ke arah Yiu. Tapi Yiu sendiri malah sama sekali tak menggubris ucapan Pangeran Lin Yun dan terus fokus membidik ke arah target.


"Bersiap ... tembak!!"


Anak panah yang melesat pertama melesat dari busur Pangeran Lin Yun diikuti dengan panah Yiu.


Wushh ...


Panah Yiu lagi-lagi berhasil menancap di tengah target lingkaran berwarna merah itu sedangkan panah Pangeran Lin Yun berada di lingkaran nomor dua.


Seluruh peserta dan para bangsawan yang menonton kembali berdecak kagum dan beberapa yang awalnya nampak acuh kini mulai menaruh perhatian ke arah Yiu.


Wajah Pangeran Lin Yun nampak mulai memerah antara menahan malu dan juga amarah, ia juga melempar tatapan tajam ke arah Yiu yang disambut dengan senyuman ramah layaknya tanpa dosa dan lambaian singkat dari Yiu yang semakin membuat wajah Pangeran Lin Yun semerah kepiting rebus.


"Bersiap untuk panah terakhir!" Jendral Meng Yao kembali meneriakan aba abanya, keduanya kembali mengambil anak panah dan mulai membidik dengan tajam.


"Bersiap ... tembak!!"

__ADS_1


Yiu memejamkan mata sembari menghembuskan nafas tenang dari mulut dan melepaskan anak panah yang berada di busurnya yang kemudian melesat cepat ke arah papan target.


Dengan mata masih terpejam Yiu terus menunggu reaksi dari orang di sekitarnya untuk memastikan hasil akhir dari anak panahnya.


Satu detik ... dua detik ... tiga detik ...


Suasana masih begitu hening seperti tak ada seorangpun yang berada disekitar Yiu kemungkinan jika sebuah koin kecil jatuh saja suaranya akan bergema seperti gong istana dan akhirnya Yiu membuka manik coklatnya.


Tepat setelah Yiu membuka mata, sorak tepuk tangan dan suara kekaguman terdengar begitu keras nan riuh layaknya guntur yang saling bersahutan.


Panah terakhir Yiu berada di tempat yang sama seperti panah-panah Yiu sebelumnya, yang berbeda adalah panah Yiu yang terakhir membelah salah satu panah dari dua panah sebelumnya menjadi dua bagian hingga batang panahnya jatuh ketanah.


"Pertandingan ini dimenangkan oleh Putri Ying dan Putri Ying akan melaju kebabak selanjutnya." Mendengar pernyataan Jendral Meng Yao, Yiu memandang ke arah target milik Pangeran Lin Yun dan memang panahnya menancap di titik tengah tapi jika di bandingkan skornya masih jauh di bawah Yiu.


"Apakah rumor tentang Putri Ying yang mengalahkan pasukan Tian Lu memang benar adanya? Kemungkinan aku akan mempercayai rumor itu setelah pertandingan persahabatan ini selesai."


"Apakah dia seorang master panah level 9? Bakat memanahnya terlalu mengerikan!"


"Terlalu mencengangkan!! Ini mustahil!"


Tanpa memperdulikan pujian dari sekelilingnya, Yiu segera kembali menuju barisan Qiu Wang dan berdiri di antara kedua Pangeran.


Pangeran Huang, "Kau mungkin adalah lawan terberatku yang kedua setelah Pangeran Ming ZiJing kali ini Putri Ying."


"Astaga! Aku lupa jika dalam lomba ini Pangeran Huang juga ikut berpartisipasi. Ah baiklah aku akan mengalah untukmu Pangeran hihi." Yiu menunjukan cengir kudanya dan Pangeran Huang langsung memberikan cubitan kecil dilengan Yiu membuat Yiu meringis kecil.


"Tak perlu sungkan Putri Ying, entah kau mengalah atau tidak kau tak akan bisa menang melawanku dan busurku." Pangeran Huang menunjukan smirknya dan mengangkat sebelah alisnya dua kali ke arah Yiu yang dibalas Yiu dengan nada dibuat sedingin mungkin.


"Aaah baiklah kau meremehkanku Pangeran. Kita lihat saja nanti siapa yang menang." Yiu dan Pangeran Huang saling memandang satu sama lain dengan tatapan horor cukup lama layaknya yang berada di depan mereka adalah seorang musuh yang berada di depan mereka.


"Perhatikan sikap kalian!" Suara yang cukup tegas dan tak begitu keras namun bisa membuat Yiu dan Pangeran Huang berhenti saling tatap dan kembali ke posisi awal mereka.


Pertandingan terus berlanjut dan semakin sedikit peserta yang tersisa semakin sulit pula rintangan yang harus dilalui.


Yiu terus memenangkan pertandingan dengan skor yang begitu memuaskan seperti seharusnya dan akhirnya melaju sampai babak final setelah mengalahkan Pangeran Lin Yang.


Namun nasib malang harus dialami oleh Pangeran Huang yang terhenti dibabak semifinal setelah dikalahkan oleh Pangeran Ming ZiJing dengan hasil akhir yang begitu tipis yang secara otomatis adalah lawan terakhir untuk Yiu.


Skor total dari babak awal hingga semi final antara Yiu dan Pangeran Ming ZiJing adalah seri sehingga bisa dipastikan final kali ini akan sangat mendebarkan.


Para bangsawan yang menonton semakin bersemangat melihat jalannya pertandingan terutama bangsawan wanita yang diam-diam mengagumi sekaligus takut akan bakat Putri Ying yang luar biasa.


Dan setelah babak semi final mereka semakin tak percaya dengan bakat milik Putri Ying yang sangat langka bahkan bisa dibilang ia adalah satu satunya wanita kerajaan yang dapat memainkan senjata bahkan mengalahkan para pangeran yang terkenal sangat mahir.


"Pertandingan penentu pemenang pertandingan panahan tahun ini akan segera dimulai antara Pangeran Ming ZiJing dari Kerajaan Ming Guang dan Putri Wang YingMei dari Kerajaan Qiu Wang"

__ADS_1


Suara Jendral Meng Yao membuat para prajurit Kerajaan Ming Guang dan Qiu Wang bersorak memberikan semangat untuk keduanya.


Para Bangsawan tak mau kalah dengan terus berdiskusi atau membuat taruhan untuk menebak siapa pemenang dari pertandingan kali ini.


Yiu maju dari barisan dan melangkah menuju arena bersamaan dengan Pangeran Ming ZiJing yang berjarak tak begitu jauh dari Yiu dan meliriknya sedikit untuk beberapa saat.


"Tantangan kali ini adalah memanah target dengan halangan dari tiga buah cincin api di depan target dan masing-masing hanya memiliki satu kali kesempatan. Kesempatan pertama adalah milik Pangeran Ming Zingji dari Kerajaan Ming Guang."


Pangeran Ming Zingji mengambil busur dan anak panahnya kemudian maju menuju batas memanah yang jaraknya diperpanjang menjadi 1 li.


Ketiga cincin api itu berayun dari kanan ke kiri dan saling berlawanan arah sehingga harus membutuhkan waktu dan perhitungan yang tepat serta akurat untuk mencapai target.


Wajah Pangeran Ming ZiJing yang secerah mentari dan seputih nan sedingin salju dengan manik yang menatap tajam bagai elang yang membuat hampir seluruh kaum wanita menatapnya dengan tatapan takjub.


Ditambah dengan bakatnya yang cukup luar biasa dalam hal memanah dan belum pernah ada seorangpun pangeran atau jendral yang dapat mengalahkan bakat surgawinya semakin membuatnya memiliki reputasi dan kehormatan setinggi langit tak heran jika ia memiliki banyak pendukung yang setengahnya adalah wanita.


Setiap ia menarik busurnya seluruh pasang mata entah pelayan maupun bangsawan wanita menatapnya tanpa berkedip. Kali ini ia menarik busurnya sekali lagi menunggu beberapa saat dan ....


Wushh ....


Panahnya melesat melewati ketiga cincin api dengan mulusnya dan menancap tepat ditengeah target. Hebat Tepat dan Akurat seperti biasanya.


Banyak putri kerajaan maupun pelayan yang bertepuk tangan sembari meneriakan kata "bagus" dan "luar biasa" kepada Pangeran Ming ZiJing seperti biasanya.


Bagai tak mendengar apapun Pangeran Ming ZiJing tak berekspresi sedikitpun dan mundur kembali menuju tempatnya membiarkan Yiu mendapat gilirannya.


Yiu melangkah perlahan dan lagi-lagi tidak bisa tidak melirik ke arah Pangeran Ming ZiJing yang berdiri tegak dengan wajah sedingin es miliknya sebelum kemudian bersiap menarik busur.


Tantangan ini tergolong mudah untuk Yiu, ia sudah sering berlatih dengan Pangeran Huang dengan rintangan ini.


Yiu menarik busurnya dan mencoba fokus ke arah target dan dalam satu tarikan nafas Yiu melepaskan anak panahnya yang melesat cepat.


Wushhh ....


Panah Yiu menancap tepat ditengah target dan tak kalah mengundang decak kagum dari para bangsawan pria maupun wanita.


"Karena hasil pertandingan adalah seri antar dua pesaing maka akan ada babak tambahan dengan rintangan yang lebih sulit lagi," Jendral Meng Yao menginstrupsi dengan suara lantang.


Yiu berbalik dan berjalan kembali menuju tempatnya dan kali ini menyempatkan untuk melihat ke arah Pangeran Ming ZiJing yang menurutnya sangat misterius dan perlu dipertanyakan apakah dia memiliki ekspresi wajah atau tidak.


Kedua manik Yiu bertubrukan dengan manik elang nan beku milik Pangeran Ming ZiJing untuk beberapa saat sebelum mencapai tempat awal ia berdiri tapi secepat mungkin memutus kontak mata di antara mereka.


Apakah dia membenciku atau memang tatapannya tak pernah mengenakan hati seperti itu?


TBC

__ADS_1


__ADS_2