
Mentari mulai menyebarkan sinar emasnya menembus seluruh penjuru daratan. Udara mulai menghangat seiring burung-burung yang mulai berkicauan.
Hari itu mood Yiu sedikit buruk, ia tidak bisa tidur semalaman karena terus merasa terganggu oleh pikirannya yang mulai tertular kegilaan dari Wu Xiao.
Ditambah dengan sang kakak yang tiba-tiba menjadi aneh dalam waktu semalam. Ia menyuruh Jenderal Rong mengekor kemana pun Yiu pergi dengan dalih sebagai teman bicara dan bisa diandalkan kapan saja.
Yiu hanya mendengus kesal mendengar dalih penuh muslihat kakaknya itu. Lihatlah, sekarang siapa yang mulutnya sangat manis?!
Ia lalu meminta ijin pada Pangeran Wu Yu Chen yang tak sengaja bertemu di persimpangan lorong untuk berlatih memanah di lapangan kerajaan.
Ia menarik busurnya dengan kuat, melampiaskan rasa kesalnya pada anak panah yang melesat secepat kilat menembus sasaran kayu yang cukup jauh dari tempatnya berdiri.
Di sampingnya, Wakil Jenderal Rong terus memperhatikannya seolah Yiu adalah hantu yang bisa dalam sedetik menghilang saat perhatiannya teralihkan.
Wakil Jenderal Rong bertugas untuk memberikan Yiu anak panah baru untuk dilesatkan.
Yiu sudah muak! Ia melemparkan busurnya ke tanah lalu berjalan sembari menghentakkan kakinya menuju sembarang arah. Merajuk layaknya anak kecil.
Jenderal Rong memunggut busur dan menaruh serta wadah anak panahnya di pinggir lapangan sebelum menyusul arah pergi Yiu.
"Putri, Anda ingin pergi kemana?"
"Ke Hongkong!"
Jenderal Rong mengernyitkan dahi sembari bergumam, "Hongkong? Tempat apa itu, Putri?"
Yiu menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Rong. "Itu tempat dimana aku bisa lepas dari penjagaan ketatmu!"
"Tetapi Pangeran Huang memerintahkan saya untuk menemani Anda pergi kemana pun itu."
"Huh! Kamu itu wakil jenderal, kenapa mau sekali disuruh menjadi pengawal rendahan seperti ini. Dimana wibawamu?"
Jenderal Rong hanya menunduk, tak berani mengangkat wajahnya menghadapi Yiu. "Perintah atasan adalah hal mutlak yang harus dipenuhi segenap jiwa."
Yiu kembali mendengus dan membalas dengan nada sarkastik, "Sungguh prajurit yang sangat setia."
Yiu kemudian berjalan menuju taman dengan kolam ikan yang menjadi tempat favoritnya, walau pikirannya sedikit tercemar akan bayangan Wu Xiao mabuk yang lagi-lagi menghantui pikirannya.
Yiu pergi memetik bunga-bunga kecil yang menurutnya indah hanya karena merasa bosan. Ia duduk di gazebo sembari menyusun bunga-bunga kecil berwarna putih itu di atas meja.
Di sisi lain, Jenderal Rong terus memperhatikannya dari belakang. Hal itu membuat Yiu sedikit kasihan padanya karena terlalu setia pada kakak jahanamnya itu.
Ia menoleh tanpa berniat menatap Rong dan berbicara dengan suara dinginnya, "Apa kau sedang berlatih menjadi patung hidup? Di sana masih ada kursi kosong."
Rong pun duduk di kursi sebelah Yiu dengan perasaan canggung. Sementara Yiu terus mengutak-atik bunganya seolah ia tengah mengerjakan mahakarya besar.
"Bunga-bunga ini ingin Anda apakan, Putri?" ucap Rong yang berusaha mengubah suasana canggung.
"Aku tidak tahu. Aku hanya asal memetik tanpa berpikir akan kuapakan."
Sekelebat ide muncul di benaknya, Rong kemudian meminta ijin untuk merangkai bunga-bunga itu. Yiu hanya mengangguk dan mengamatinya yang berlari memotong ranting kayu lunak dari pohon anggur dan kemudian mulai membentuk sebuah lingkaran yang cukup besar.
Yiu tampak sedikit penasaran, ia mencondongkan tubuhnya pada Rong yang sibuk mengikat ranting dengan bunga-bunga kecil yang ia petik.
"Kamu sedang membuat apa?"
"Ini keterampilan yang diajarkan Pangeran Huang pada saya saat masih berusia lima belas tahun, Putri."
"Keterampilan membuat bunga? Kenapa kakakku mengajarimu hal yang tidak berguna seperti ini?"
Rong kembali menjawab tanpa mengalihkan fokusnya, "Pangeran Huang berpesan jika keterampilan ini haruslah dimiliki oleh pria untuk membuat wanita senang."
Sesaat kemudian keadaan menjadi hening, Rong pun menghentikan pergerakan tangannya dan ekspresinya mulai bermasalah.
Yiu sendiri hanya tertegun untuk beberapa detik kemudian menggelengkan kepala karena ulah kakaknya. "Seharusnya kamu tidak mendengarkan perkataan aneh dari kakakku. Otaknya hanya tentang gadis cantik dan makanan saja."
Wajah Rong yang sebelumnya berkeringat dingin perlahan mulai merileks. Ia dengan gerakan kaku kembali mengerjakan karya di tangannya.
Tak lama kemudian, lingkaran itu kini telah terikat dengan bunga-bunga putih kecil yang dipetik oleh Yiu tadi. Sangat cantik!
"Ini ... untuk Tuan Putri Ying. Maaf jika terlihat sangat berantakan."
Di dalam hati Yiu tertegun pada kecantikan hasil karya Rong itu. "Ini sangat indah! Omong-omong apa kegunaan benda ini? Lingkaran ini sangat besar jika dipakai di lenganku."
"Ini bukan untuk di pakai di tangan melainkan di kepala, Putri. Saya mohon ijin memasangkannya untuk Anda."
Tangan Wakil Jenderal Rong terulur mendekati puncak kepala Yiu, ia memasangkan ranting kayu itu diatas puncak kepala Yiu yang nampak antusias.
Ikatan ranting itu terpasang sempurna melingkari puncak kepala Yiu, ranting kayu berhiaskan bunga-bunga itu tampak menawan bersanding dengan rambut hitam berkilau milik Yiu dan setelan pakaiannya yang berwarna putih gading.
"Anda terlihat sangat cantik, Putri."
Tangan ramping Yiu mulai meraba-raba puncak kepalanya, ia membayangkan wajahnya dengan mahkota bunga itu saat ini.
Ia kemudian melepasnya dan memperhatikan setiap detail kecil mahkota bunga buatan Rong dengan wajah berbinar.
"Ini namanya mahkota bunga, Putri. Jika Anda menyukainya saya dapat membuatkan yang lebih cantik untuk Anda."
__ADS_1
Yiu menggeleng sembari menjawab, "Tidak perlu, kamu harus memberikan ini pada gadis yang kau suka nanti. Dia pasti akan menyukainya! .... Kakakku ternyata sangat berbakat dalam merayu wanita hahaha."
Tawa Yiu pecah hanya karena membayangkan sang kakak yang menggoda banyak wanita tetapi tetap saja jomblo. Salahkan wajahnya yang tidak setampan Pangeran Xiao Gie dan tingkahnya yang seaneh wajahnya.
Di sela tawanya, Yiu mulai meraih pergelangan tangan Rong yang berada di meja dan menggegamnya erat. "Bisakah kamu mengajariku kerajinan tangan yang lain? Aku juga ingin membuat yang seperti ini tapi, jangan sampai melibatkan benang dan jarum! Karena aku membenci dua benda itu."
Ditatap sebegitu intensnya membuat Rong membatu. Guncangan ringan di pergelangan tangannya semakin kuat, Rong segera tersadar dari dunianya.
"Ah, baiklah, Putri. Saya akan mengajari Anda membuat gelang dari ranting pohon. Konon, jika Anda memberikan gelang kayu pada seseorang maka gelang itu akan menyelamatkan ia dari bahaya dan membuat hubungan antara kalian semakin erat. Apakah Anda tertarik?"
Yiu berpikir sejenak, entah kenapa di benaknya langsung terlintas wajah buluk Wu Xiao.
Ia menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran anehnya sebelum mengangguk antusias pada Rong, keduanya mulai sibuk membuat kerajinan tangan dari ranting kayu dan bunga-bunga yang bisa mereka temukan di taman itu.
Ia ingin membuat banyak untuk diberikan pada para pelayannya sekaligus menjadikan ini sebagai bahan menyombongkan diri di depan Chichi suatu hari nanti. Ia sangat tidak sabar ingin menemui sahabatnya.
Tanpa sadar hari mulai gelap, Pangeran Huang yang tengah berjalan bersama dengan Pangeran Wu Yu Chen dari Aula tengah menuju Kediaman Pangeran Wu Yu Chen sengaja memutar jalan melewati taman berhiaskan kolam ikan di sudut istana.
Keduanya tak sengaja melihat Yiu dan Rong tengah duduk sembari mengerjakan sesuatu dengan serius. Karena penasaran, keduanya menghampiri Yiu dan Rong yang terpisahkan oleh meja yang penuh dengan bunga-bunga dan potongan kecil ranting.
Saking fokusnya, keduanya sempat tidak menyadari keberadaan kedua pangeran itu. Rong-lah yang pertama kali menyadari keberadaan keduanya.
Ia segera berdiri dan membungkuk dalam, Yiu sendiri mengadahkan kepalanya beberapa saat sebelum ikut melakukan hal yang sama dengan Rong.
Senyum Pangeran Huang masih terpasang indah di wajah anehnya, berbeda dengan wajah Wu Yu Chen yang sulit dideskripsikan.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Wu Yu Chen.
"Ah, kami hanya membuat beberapa hiasan dari bunga, Pangeran."
Pangeran Wu Yu Chen mengambil sebuah gelang yang berhiaskan bunga berwarna kuning dan terlihat sangat cantik.
"Apakah kamu mengajari Jenderal Rong cara membuat hiasan ini?"
Yiu tergagap dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Mmmm... Sebenarnya, Jenderal Rong-lah yang mengajari saya membuat ini."
Pangeran Wu Yu Chen terdiam sejenak lalu kembali tersenyum, "Seorang putri memang harus memiliki kemampuan untuk membuat karya-karya indah. Ini sangat indah."
Yiu tersenyum kaku melihat senyuman Pangeran Wu Yu Chen yang sedikit aneh. Namun, ia tetap membalas dengan ucapan terima kasih.
Hari mulai gelap sepenuhnya, Yiu merasa perasaan bosan kembali menyerangnya. Ia menatap lesu pada rangkaian bunga-bunga yang dibuatnya bersama Wakil Jenderal Rong itu.
Tiba-tiba sekelebat ide nakal kembali muncul di benaknya. Ia berlari membuka pintu kamarnya dan mendapati dua bersaudara Xu yang tengah berjaga di setiap sisi pintu.
Ia menyeret kerah keduanya secara paksa untuk masuk ke dalam kamarnya dan segera ditutupnya pintu itu.
"Kalian berdua, bantu aku keluar dari istana ini!"
Tak lama kemudian, Yiu telah siap dengan pakaian menyamarnya. Ia keluar melewati jendela sedangkan dua bersaudara Xu keluar melewati pintu, ketiganya kemudian bertemu di sisi timur kediaman tamu.
Ketiganya berjalan keluar menuju gerbang istana dengan dalih mendapat utusan dari Putri Ying untuk membeli sesuatu, kemudian Xu Lan mengeluarkan plakat kayu bersimbol khusus yang menunjukkan bahwa ia adalah orang Putri Ying.
Ketiganya berhasil keluar dengan mulus. Xu Gui menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri mencari sebuah kereta kosong di tengah ramainya masyarakat yang berlalu lalang.
Mereka akhirnya menaiki sebuah kereta kosong dan melaju membelah ibu kota menuju pasar penuh lampion yang terkenal di Ibu Kota Zhang Wu.
Xu Lan memulai pembicaraan dengan ragu, "Putri, bagaimana jika Pangeran Huang tahu jika Anda menghilang?"
"Tenang saja. Dia sibuk dengan diskusi negara bersama Kaisar dan Pangeran Wu Yu Chen. Kita aman malam ini."
Xu Gui ikut bertanya, "Kalau kami boleh tahu, Putri ingin mencari apa?"
Yiu tersenyum cerah lalu merangkul pundak keduanya. "Aku ingin membeli tanghulu."
Raut wajah keduanya memucat seketika, keduanya seakan menggumamkan hal yang sama.
Putri Ying menyelinap keluar dan akan membuat semua orang khawatir hanya demi sebuah manisan bernama tanghulu?!
Seolah mengerti jalan pikiran keduanya, Yiu segera melanjutkan, "Tenang saja, aku juga ingin mencicipi arak putih yang terkenal di seluruh penjuru Zhang Wu. Tapi, aku tidak ingin menikmatinya sendirian jadi kubawa saja kalian!"
Itu bahkan hal yang lebih mengerikan lagi. Ya Dewa, tolong selamatkan kami dari sifat aneh Putri Ying yang satu ini.
Kereta itu sudah berhenti di sebuah toko di jalan besar ibu kota, Yiu turun setelah Xu Lan dan Xu Gui dengan menenteng sebuah tanghulu berwarna merah cerah yang mengkilap di bawah sinar lampu lampion di atas mereka yang ia beli di tengah perjalanan.
Ketiganya berjalan masuk dengan Yiu yang berjalan lebih dahulu. Dekorasi toko arak ini lebih mirip seperti restoran mewah yang menyediakan berbagai fasilitas dan pertunjukan musik serta meja VIP berpemandangan lampu lampion di bagian atas toko.
"Selamat datang, Tuan. Anda ingin memesan apa?"
Yiu mengigit tanghulunya sebelum mulai memesan, "Aku pesan tiga arak putih terbaik dan hidangan pencuci mulut terbaik yang kalian miliki. Oh dan, aku ingin meja dengan pemandangan terbaik disini."
Pelayan itu menatap aneh pada Yiu, tatapannya mengatakan bagaimana bisa pemuda biasa di depannya berani memesan makanan paling mahal di restoran ini. Intinya, apakah pemuda ini punya cukup uang atau tidak?!
Yiu membalas tatapan aneh dari pelayan itu, ia segera memberikan kode pada Xu Lan yang segera ditanggapi dengan menyerahkan sekantung penuh uang pada pelayan itu.
Ekspresinya segera berubah total. Ia langsung menyambut penuh hormat dan mengarahkan ketiganya menuju meja di lantai atas. Pelayanan mereka segera menjadi begitu menakjubkan dalam sedetik.
Setelah tiga kendi arak tiba, Yiu segera berdiri dan mengangkat tangan kanannya yang memegang kendi berwarna hitam itu. Meski kendi itu berwarna hitam tetapi sebutannya adalah arak putih, karena keunikannya itulah arak ini menjadi terkenal.
__ADS_1
Huh, strategi marketing yang luar biasa.
"Bersulang!"
Sebelum ketiganya sempat bersulang suara gemrusuk benda tumpul menghantam lantai kayu diiringi suara pecah terdengar dari meja sebelah yang hanya terpisah oleh sebuah sekat tipis.
Yiu tidak bisa tidak memiringkan kepalanya untuk mengintip apa yang terjadi di meja sebelah.
Manik coklatnya seketika membola, ia segera mendekati seorang pria berpakaian serba hitam yang bersandar di sekat sembari memegang sebuah kendi dengan wajah lelahnya.
"Wu Xiao?!"
Yiu berlari menyeret lututnya dan segera menepuk-nepuk pipi Wu Xiao akibat panggilannya tidak mendapat respon dari Wu Xiao.
Akhirnya Wu Xiao menoleh, ia menatap lekat wajah Yiu yang sedikit khawatir untuk beberapa saat sebelum ia kemudian tertawa dengan wajah mabuk.
"Wu Xiao, aku tahu kamu sedang bersedih tapi ... bukan seperti ini caramu untuk melupakan kesedihanmu. Hei dengarkan aku, ingat, kamu masih memilikiku, kakakmu, ayah dan ibumu. Mereka masih ada untukmu."
Wu Xiao hanya tertawa kecil sebelum mendorong Yiu dengan sekuat tenaga, membuat Yiu terpental beberapa langkah ke belakang.
Sontak kedua bersaudara itu menopang tubuh Yiu sebelum Xu Gui hendak maju menghampiri Wu Xiao.
"Tunggu! Xu Gui, kembali. Biarkan aku yang mengatasi ini."
Di lain sisi, Wu Xiao masih tertawa menyedihkan. Hal itu membuat sesuatu di dalam diri Yiu seolah pecah dan pecahan itu menyakitinya. Sesak dan perih.
"Kamu? Ada untukku? Huh... omong kosong yang sangat menyentuh, Putri Ying. Seharusnya aku saja yang terbunuh hari itu agar aku bisa terbebas dari beban dan juga terbebas dari perempuan bermulut penuh bisa sepertimu!"
Amarah Xu Gui segera memuncak. Namun, sekali lagi Yiu menghalanginya untuk maju.
"Kenapa kamu berkata seperti itu?" ucap Yiu dengan nada sepelan dan sehalus mungkin.
Wu Xiao tiba-tiba termenung sejenak sebelum menoleh dengan tatapan tak percayanya.
"Kenapa? Kamu bilang kenapa? Huh, aku lupa jika kamu manusia paling tidak peka di dunia ini .... Silahkan lanjutkan kembali merangkai bunga-bunga di taman sambil bercanda seharian penuh atau apa pun yang sedang kau lakukan. Maaf karena aku sudah mengganggu waktumu dengan kisah sedihku."
Wu Xiao bangkit dengan terhuyung-huyung dan tangan yang gemetar bertumpu pada meja sembari kembali menyesap kendi arak putihnya yang entah sudah kendi yang ke berapa dengan tangan kirinya.
Sekarang Yiu mengerti inti permasalahannya, hal itu semakin membuat kepalanya seperti tertusuk ratusan jarum bersamaan.
Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung pinggangnya. Dengan cepat, Yiu menggaet lengan Wu Xiao agar pria itu tidak jatuh.
"Wu Xiao, lihat. Lihat! Aku membuatkan ini untukmu, tadi Wakil Jenderal Rong berkata jika aku membuat gelang dari ranting kayu maka orang itu akan dilindungi oleh Dewa Bumi."
Yiu menggapai tangan Wu Xiao dan mengikat gelang berlilit ranting lunak dan sebuah benih pohon pinus kecil pada pergelangan tangan Wu Xiao.
"Aku hanya ingin kamu dan semua orang terdekatku selamat, mengerti? Disaat aku mengatakan aku akan ada untukmu maka aku akan ada untukmu. Berjanjilah kamu tidak akan seperti ini. Kamu menyakiti hati semua orang yang peduli padamu."
Wu Xiao menatap pergelangan tangannya sebelum merubah wajahnya cemberut. "Tapi aku masih tetap marah padamu!"
Yiu menghela napas lega melihat wajah cemberut Wu Xiao, ia segera membalas tak kalah cemberut, "Tolong katakan apa yang harus kulakukan untuk membuat Pangeran merasa senang?"
Wu Xiao tersenyum cerah, sangat cerah melebihi kilau lampu lilin. Ia kemudian merentangkan tangannya dengan senyum bahagia tidak lepas dari wajah setengah mabuknya.
"Peluk!"
Astaga! Apakah Wu Xiao masih berusia tiga tahun?! Demi Dewa dan Demi Nenek Tapasya, Yiu belum pernah melihat seorang pria dewasa berkharisma seperti Wu Xiao bisa berubah menjadi bayi hanya karena ARAK?!
Di lain sisi, dua bersaudara Xu mulai merasakan atmosfer aneh dan keduanya segera membalikkan badannya, memberikan ruang bagi Yiu dan Wu Xiao.
Yiu masih terpaku bak patung. Wu Xiao menatap cemberut pada Yiu yang memasang wajah tertekan.
Namun tiba-tiba, telinga Wu Xiao mendengar pergerakan yang aneh ....
Wushhh...
Sebuah anak panah melesat dan menancap di salah satu tiang kayu di sudut ruangan.
Sebelum panah itu mencapai tempat mereka berdiri, Wu Xiao dengan cepat memeluk Yiu dan menjatuhkan punggungnya ke lantai, membuat panah meleset dan tertancap di tiang kayu.
Xu Lan dan Xu Gui berusaha mengerti keadaan. Xu Lan tanpa pikir panjang segera berlari turun dan Xu Gui yang memanjat pagar dari lantai atas untuk turun dan mengejar pakaian hitam di seberang jalan yang berlari dalam bayangan.
Akibat serangan mendadak dan punggung yang membentur keras lantai kayu, kesadaran Wu Xiao sepenuhnya kembali. Ia sempat terkejut mendapati Yiu yang menindih tubuhnya.
Wajahnya memerah seketika. Ingatannya saat mabuk samar-samar mulai muncul meski belum terlalu jelas, ditambah, kepalanya sangat pusing saat ini. Apakah dia berhalusinasi?
Ia bergumam untuk memastikan, "Li-Liying...."
Yiu tidak menanggapi dan segera bangkit untuk berlari menghampiri anak panah itu.
Di batang anak panah itu terlilit sebuah gulungan dari kulit hewan. Yiu membuka gulungan itu.
Manik Yiu segera membola tak percaya, Wu Xiao yang memanggilnya sejak tadi pun tak ia gubris.
Penasaran, Wu Xiao mendekat dan melihat benda yang digenggam Yiu. Raut wajahnya kini berubah tak jauh beda dengan yang Yiu lakukan.
__ADS_1
"Peta penempatan prajurit Bai Qing?!"