
Pasukan itu bergerak menuju desa terdekat. Musuh sudah berhasil dikalahkan ... atau lebih tepatnya mereka mundur tiba-tiba.
Tidak ada yang tahu mengapa.
Semuanya kebinggungan saat itu. Namun, seorang prajurit menemukan sebuah kotak hitam yang tiba-tiba tergeletak tak berdaya di ujung jalan dengan sebuah surat terselip di atasnya.
Merasa aneh, Pangeran Xiao Ce yang kebal racun memeriksa kotak tersebut dan tidak mendapati kesalahan.
Di surat itu tertulis untuk menyampaikan kotak ini demi reformasi. Perubahan hitam menjadi putih terjalin antara keseimbangan yin dan yang. Hingga surat beserta kotak itu jatuh ke tangan Yiu.
Di desa, semuanya beristirahat beberapa hari dan mempersiapkan keperluan untuk memulai perang dari hutan.
Di sana mereka juga menambah sedikit pasukan yang tiba dengan penyamaran.
Suatu malam sebelum keberangkatan.
"Liying, waktunya makan. Jangan memaksakan dirimu." Wu Xiao berdiri mengetuk pintu kamar Yiu sembari membawa nampan.
"Masuklah dan tinggalkan di atas meja!" ucapnya dengan berteriak. Manik malamnya tak lepas dari mahakarya besarnya yang berada di genggamannya.
Wu Xiao masuk dan melihat banyak besi ringan yang berserakan dimana-mana serta bau khas bahan kimia yang sangat asing baginya menusuk masuk ke dalam hidung tingginya.
Wu Xiao ingin menyembur marah saat kakinya tidak sengaja menendang sesuatu. Namun, Yiu berekasi lebih dulu.
"Jangan bergerak! Jangan sentuh apa pun! Tinggalkan makanannya di lantai, aku akan memakannya nanti."
Wu Xiao berdecak kesal, ia langsung menghampiri Yiu tanpa peduli benda apa yang telah ia injak dan menaruh nampan dengan sedikit keras hingga isi mangkuk di atasnya sedikit tumpah.
"Aku tahu kamu sangat bersemangat tapi kamu juga harus makan! Kalau kamu sakit nanti siapa yang bisa aku goda?!"
Yiu menghentikan aktifitasnya sesaat dan menoleh tajam ke arah Wu Xiao. Ia menghela napas beberapa saat dan menjawab, "Baiklah, aku akan makan nanti .... Eh tunggu, kau kemari dan lihat ini!"
Yiu segera berdiri dan mengaret tangan Wu Xiao setengah berlari menuju halaman belakang rumah tempat mereka bersembunyi.
Tangan kanannya memegang sebuah busur ciptaannya dan dengan semangat berseru pada Wu Xiao untuk melihatnya baik-baik.
Busur itu berbentuk horizontal dengan beberapa mekanisme manual yang dirakit dengan menggunakan bahan dasar tali busur panah yang dibuat sedikit lebih tebal.
Itu adalah crossbow buatan Yiu sebelumnya yang sedikit ia modifikasi lagi. Ia mengangkat panah silang itu dan ....
Wush wush wush....
Tiga anak panah melesat secepat kilat hampir tak tertangkap mata, menancap tiang kayu di ujung rumah kecil itu.
Wajah Wu Xiao yang terkena semburat kuning dari obor yang tengah meliuk-liuk ganas melawan angin memandang tanpa berkedip ke arah tiang yang naas itu. Mulutnya terbuka hampir terlihat akan lepas dari engselnya.
"Bagaimana?"
"Liying, senjata mengerikan apa itu? Kamu yang membuatnya sendiri?"
Yiu mengangguk ringan. Ia semakin bersemangat dengan eksperimennya lalu menggulung sedikit lengan pakaiannya dan memperlihatkan sebuah benda melekat di sepanjang lengan putihnya.
"Sekarang lihat ini!"
Ia mengangkat dan meluruskan tangannya ke udara lalu kembali menembak dengan menyentuh pucuk besi ringan di atas. Kini Wu Xiao hanya diam. Tidak mengerti.
"Tidak terjadi apa-apa. Apa alatmu rusak?"
Yiu menghela napas kecil. Ia menunjuk dengan dagunya, memberi isyarat untuk Wu Xiao melihat lebih dekat.
Wu Xiao berjalan menuju arah yang ditunjuk Yiu dengan penuh kecengoannya. Manik hijau zamrudnya sekali lagi melebar dan berkilat.
"I-ini .... Liying, apa kamu benar-benar manusia?"
Yiu tidak berniat menjawab. Dengan wajah sedikit memerah, ia mendekat sembari melepas alat di pergelangan tangannya dan memasangkannya ke lengan Wu Xiao.
"Senjata ini hanya ada satu ... sangat sulit untuk membuatnya sendiri, terutama besi tipis itu. Aku harus melelehkan 7 jarum jahit dan membentuk cetakan besi yang sangat tipis hingga bisa setajam itu."
Ia menghela napas dan melanjutkan, "Jadi kuserahkan ini padamu, jaga baik-baik, mengerti? .... Jangan berpikir macam-macam, aku hanya tidak ingin melihatmu mati konyol mengingat sifatmu yang selalu mencari mati seperti kemarin."
Wu Xiao bisa merasakan detak jantungnya memacu sangat cepat sampai ia sendiri khawatir jika Yiu dapat mendengarnya.
Wajahnya terasa panas, bibirnya terbuka hanya untuk menutup kembali. Wu Xiao merasa ada jutaan kupu-kupu tengah menari di perutnya.
Liying membuatnya khusus untukku? Apa ia juga merasakan hal yang sama denganku? Tapi tadi dia ... dia bilang ....
__ADS_1
Wu Xiao tanpa pikir panjang segera menarik Yiu ke dalam pelukannya. Masa bodoh dengan jantung dan wajahnya yang semerah kepiting rebus. Memeluk Yiu sudah menjadi kebiasaannya saat merasakan perasaan yang berlebihan.
Yiu sendiri sedikit terkejut dengan sikap Wu Xiao. Wajahnya terlukis kebingungan. Dengan satu gerakan mendorong, ia melepaskan pelukan Wu Xiao.
Suasana berubah canggung, Yiu membuang muka dan berkata, "Sudah malam. Aku akan tidur .... Jaga baik-baik dan jangan sampai rusak atau aku akan menembak jantungmu!"
Yiu berjalan kembali ke kamarnya meninggalkan Wu Xiao yang masih setia menatap siluet indah Yiu yang telah hilang di balik dinding.
"Tidak perlu. Tanpa diminta pun kamu sudah menembak jatuh seluruh perhatianku."
♣♦♣
Sudah satu minggu berlalu. Segala macam persiapan hampir selesai. Yiu terus mengembangkan dan memperbanyak semua hasil ciptaannya.
Mulai dari busur silang hingga bom rakit yang jauh lebih canggih berkat bubuk-bubuk penting yang hanya bisa ditemukan di Qiu Wang saja yang kini juga berada di dalam kotaknya.
Dalam satu minggu itu, seluruh pasukan Yiu yang total berjumlah dua puluh orang itu mulai berlatih menggunakan busur silang dengan satu tembakan dalam sekali menarik pelatuk.
Sedangkan busur dengan tiga tembakan diberikan pada Pangeran Hwang dan Pangeran Ming Zijing yang lebih mahir dalam hal memanah.
Namun, walau seluruh pasukan berlatih menggunakan busur silang, tetap harus ada yang menggunakan pedang untuk bersiap pada kemungkinan pertarungan jarak dekat.
Ratusan jenis bom mulai diserahkan sama rata dan dimasukkan dalam kantung.
Pasukan kecil itu telah bersiap untuk merebut Qiu Wang mulai dari wilayah terkecil. Seperti perkataan pepatah, "Sedikit demi sedikit lama-kelamaan akan menjadi bukit."
"Semoga Surga mendukung misi mulia ini."
Hanya itu kata yang terucap untuk membakar jiwa. Namun, itu sudah sangat cukup.
Kelompok itu menyamar sebagai pedagang dari suku padang rumput yang terkenal akan keliaran di arena sehingga tidak akan ada yang curiga jika mereka membawa pedang di pinggang.
Kelompok itu berjalan memasuki Kota Nichang, dengan dalih menawarkan senjata dan daging berkualitas pada adipati yang berujung pada penyergapan tertutup di balik pintu kediaman adipati.
Dalam satu minggu mereka telah menaklukkan dua kota di tangan mereka tanpa mencurigakan pemerintah pusat walau mereka tahu itu tidak akan bertahan lama. Maka dari itu mereka harus bergegas.
Waktu berjalan begitu cepat hingga tanpa sadar kudeta telah berhasil mengambil alih puluhan kota dan desa dengan tujuh kota besar berpengaruh di dalamnya.
Meski harus bertaruh dengan darah dan lelah untuk menaklukkan sebuah kota, beberapa kota tanpa perlawan bersedia menggabungkan diri dalam aliansi kudeta merebut kembali Qiu Wang setelah mengenali pemimpin kelompok kecil itu.
Ia dengan segera mengerahkan pasukan untuk membasmi kelompok liar dari padang rumput yang juga terkenal tidak kenal takut badai angin sekalipun. Meninggalkan ibu kota Qiu Wang dari pengawasan ketatnya.
Sesuai kesepakatan antara Liu Yu dan Hai Ran. Setelah berhasil merebut Kerajaan Ling Jian Mo dan Qiu Wang, maka Qiu Wang akan berada dalam kekuasaan Hai Ran walau masih tetap di bawah kontrol Liu Yu.
Pasukan Hai Ran bergerak ke utara. Menurut kabar, pasukan kecil itu kehilangan hampir separuh dari kelompok inti. Namun, terus ditambah pasukan baru yang menggenapi jumlah awal yaitu dua puluh orang dan sekarang tengah berada di jalur hutan antara dua kota sebelum sampai ke ibu kota Qiu Wang.
Kesempatan bagus untuk mengepung pasukan itu. Tak butuh waktu lama bagi pasukan Hai Ran untuk sampai ke hutan rimbun itu.
Di sana mereka melakukan pencarian besar-besaran dengan membagi pasukan menjadi beberapa kelompok.
"Kau yakin ini akan berhasil, A-Ying?"
"Da Ge tenang saja. Ini akan berhasil."
Seseorang mendekat dan berbisik pada Yiu. "Semua sudah siap, Putri."
Yiu mengangguk. "Sekarang aku butuh enam dari kalian untuk berjaga di tiga pos itu. Satu pelari yang handal untuk umpan dan satu lagi punya pendengaran yang tajam."
Dua prajurit bertubuh ramping mengajukan diri diikuti dengan dua orang lagi yang bertubuh sedikit berotot.
Semua anggota lama yang tersisa telah maju, sisanya masih belum mahir dan mengerti betul tentang cara kerja bom milik Yiu.
Tim inti mereka sekarang hanya tersisa sepuluh orang termasuk dengan Yiu, kedua kakaknya, dan dua pangeran lain.
Intinya, mereka kekurangan orang.
Yiu menghela napas. "Baiklah, pos ini biar aku saja yang memegang. Kalian bersiap di pos masing-masing. Untuk sisanya, bersiap sesuai rencana."
"Laksanakan!"
Yiu beralih menatap Xiao Ce. "Da Ge, bisakah kamu memimpin anggota baru?"
Xiao Ce mengangguk ringan, ia memegang tangan Yiu erat dengan tatapan lemah yang aneh sebelum bergegas pergi.
Sekarang hanya tersisa Yiu, Huang, dan dua pangeran. Mereka saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
Yiu membersihkan tenggorokannya untuk memulai pembicaraan dengan ragu, "Jadi ...."
Wu Xiao segera menyela seolah mengerti arah percakapan, "Biar aku yang melakukannya. Aku jauh lebih gesit daripada kau dan Zijing."
"Tidak! Badanku yang paling kecil jadi lariku yang paling cepat. Kalian di sini saja."
"A-Ying. Kamu tidak bisa."
Terjadilah perdebatan antara ketiganya. Prajurit Hai Ran hampir mendekati pos tetapi tidak ada yang menyadari karena sibuk berdebat.
Di lain sisi, Ming Zijing hanya melihat mereka saling berebut untuk mati. Ming Zijing memutar bola mata karena merasa mereka seperti anak-anak dan segera berdiri lalu berlari menjadikan dirinya sendiri umpan, membuat ketiganya segera mematung.
Terdengar suara teriakan dari kejauhan. "Wang Xiao Ce! Keluarlah! Hutan ini sudah terkepung, sia-sia saja usaha kalian."
Yiu meringkuk di dalam parit kecil di hutan bersama Huang dan Wu Xiao. Ia tersenyum miring dalam diamnya.
Itulah yang aku harapkan.
Tak lama suara bersahut-sahutan terdengar mengelilingi hutan.
"Siapa?! .... Tangkap dia!"
"Kejar! Jangan sampai lolos!"
Ayo kejar mereka! kejar sampai mati.
Walau batin dan pikirannya sangat bersemangat tetapi lain dengan hatinya. Telinganya terpasang erat menanti derap langkah gemerisik dari seseorang.
Menanti penuh was-was akan kedatangan Ming Zijing yang menjadi penentu berhasilnya misi kali ini.
Sebuah tembaga cekung ia tempelkan di antara telinga dan dinding parit. Yiu dapat mendengar suara derap langkah cepat puluhan pasang kaki yang semakin mendekat.
Yiu menoleh menatap Wu Xiao di belakangnya.
"Sekarang!" Wu Xiao menarik tali dan ketiganya semakin meringkuk di parit dengan tangan menutupi seluruh kepala.
*Satu ... dua ... Zijing....
Boom! Boom! Boom*!
Suara ledakan menyerang masuk ke dalam gendang telinga. Debu dan ranting memenuhi pandangan mata di udara dalam beberapa detik.
Semuanya kacau, tidak bersisa. Asap hitam mengepul tinggi di beberapa titik. Tak lupa terdengar jeritan-jeritan pilu yang saling bersahutan dan akhirnya perlahan-lahan hilang.
Suara ledakan yang saling bersahutan pun kini telah hilang, menyisakan semburat coklat pekat dan bau bahan kimia yang pekat menyebar bebas di udara.
Yiu perlahan mengangkat kepalanya, menghalau debu dengan sapuan tangannya. Ia bangkit dan menatap sekitar yang sunyi, teramat sunyi.
Ketiganya naik dari parit dan berjalan tanpa arah mencari keberadaan Ming Zijing di dekat parit dengan lengan melingkar di antara hidung dan mulut.
"Zijing! Kamu dimana?! Kamu mendengar kami? Jawab kami!"
Dalam situasi penuh kekacauan ini tanah kembali bergetar, suara ringkikan kuda terdengar dari keempat penjuru.
Hal itu membuat ketiganya segera merapat dan menyatukan punggung penuh waspada. Genggaman tangan pada pedang masing-masing mulai mengencang.
Dari kejauhan terlihat siluet tinggi bergerak semakin mendekat, siluet itu kian berbentuk jelas yang ternyata adalah Hai Ran dengan beberapa prajurit berkuda di belakangnya.
Wajahnya tampak merah dan mengerikan, buku-buku jadinya terkepal di balik mantel bulu berwarna biru malamnya.
Ia menggeram dengan penuh penekanan, "Beraninya kau!"
Yiu sempat terkejut beberapa saat melihat wajah yang sangat tak asing baginya.
Awalnya, ia ingin mendekat setelah melihat Hai Ran turun dari kuda bersurai emasnya dan melangkah maju. Namun, aksinya terhalang dengan blokade dari pagar hidup Huang dan Wu Xiao.
Tidak terlukis sedikit pun rasa takut di wajah ketiganya. Terutama Huang.
Hai Ran menyunggingkan senyum tipis. "Aku tidak menyangka kau akan memaksaku hingga ke titik ini, Putri. Satu hal yang perlu kamu tahu, sebanyak dan sekeras apa pun kamu berusaha, membunuh hampir setengah pasukanku. Sia-sia saja. Kalian tidak akan bisa dan tidak akan pernah."
Huang mengeluarkan suara dingin, "Dasar Binatang! Tidak tahu malu! Aku akan menyeretmu ke neraka bersamaku!"
"Yohh?! Kamu begitu bersemangat sekali, Pangeran. Apa kamu masih suka berkhayal seperti dulu?"
"Cukup!" Yiu menyela dan mendesis, "Hai Ran... Aku akan menghabisimu hingga tulang pun tidak bersisa."
__ADS_1
TBC