
Pasukan kecil itu berjalan dengan kecepatan sedang menuju gerbang kota Qiu Wang.
Banyak memori terlintas dalam benak Yiu, membuatnya kembali bernostalgia setelah hampir satu tahun tidak memijakkan kakinya di jalur hutan ini dengan perasaan sebahagia ini.
Tak lama, beberapa prajurit berkuda datang membawa beberapa kuda yang tanpa pengemudi, mereka membawa kuda itu untuk Yiu dan kedua pangeran beserta prajurit yang ada dalam pasukan kecil itu agar dapat lebih cepat sampai ke istana.
Tak lupa mereka juga menyiapkan sebuah kereta kuda dengan gerobak jeruji besi yang kokoh di belakang mereka.
Gerbang kota sudah terlihat di depan mata. Setiap detiknya terasa mendebarkan bagi kedua kakak beradik itu, banyak kenangan pahit dan manis tercampur aduk dalam ingatan keduanya.
Pandangan keduanya bertemu. Xiao Ce menatap Yiu sangat dalam sedangkan Yiu sendiri sedang mengendalikan air mata yang menggenang di pelupuk matanya agar tidak jatuh sembari menyunggingkan senyum manis.
Gerbang kota sudah terbuka lebar menampilkan pemandangan bangunan di dalam tembok tinggi yang mengelilingi kota. Di sepanjang jalan masuk mereka sudah di sambut oleh prajurit dan penduduk Qiu Wang dengan sangat antusias saat mendengar penerus asli kerajaan mereka telah kembali.
Riuh sorak sambutan terdengar sangat keras, warga yang berada di dekat gerbang segera berdesakan hanya untuk menyambut rombongan itu dan melemparkan beberapa bunga yang bisa mereka dapat sebagai wujud rasa bahagia walau bangunan di sekitar mereka sudah hancur berantakan.
Rombongan berkuda mereka semakin mendekati istana, genderang drum raksasa ditabuh penuh semangat menyambut calon raja asli mereka yang telah kembali.
Rombongan mereka memijakkan kaki di pintu gerbang lalu memasuki kawasan istana, di dekat pintu gerbang terdapat barisan prajurit Qiu Wang yang sepertinya adalah bawahan Hai Ran yang berjongkok dengan tangan di belakang tengkuk mereka sembari sesekali menerima cambukan.
Yiu dan Xiao Ce turun lebih dahulu diikuti dengan Wu Xiao. Ketiganya menegakkan kepala lalu berjalan tanpa ragu menaiki anak tangga menuju bangunan besar berupa aula kekaisaran yang ada di depan mereka.
Di setiap sisi anak tangga terdapat prajurit dengan seragam militer yang sama dengan pasukan kerajaan Qiu Wang, yang berbeda adalah mereka mengenakan kain merah yang terikat di lengan kanan.
Di ambang pintu besar berwarna merah sudah berdiri Jenderal Rong bersama petinggi-petinggi aliansi yang sebagian besar adalah utusan adipati kota, tak lupa kedua Xu bersaudara pun ikut berlutut dengan tangan menangkap di depan dada menyambut kedatangan Xiao Ce dan Yiu.
"Selamat datang Yang Mulia Kaisar Qiu Wang yang diberkati Dewa. Semoga Yang Mulia hidup seribu tahun lagi."
Xiao Ce yang notabennya adalah putra mahkota dan belum sah menjadi seorang kaisar menurunkan alisnya lalu menyuruh mereka untuk segera bangun.
"Apa yang kalian lakukan? Itu tidak pantas, aku bukan kaisar! Bangun!"
"Tapi Anda adalah kaisar muda dan sebentar lagi Anda akan resmi memerintah. Silahkan masuk, Yang Mulia, para tetua kerajaan sudah menunggu di dalam."
Xiao Ce yang tidak tahu harus menjawab seperti apa memutuskan menyeret pelan kakinya melintasi karpet merah raksasa yang terbentang hingga ke puncak tempat duduk pemimpin kerajaan.
Yiu dan Wu Xiao beserta para utusan adipati mengikuti langkah sang pewaris takhta murni kerajaan di belakangnya.
Seluruh orang yang berada di aula itu segera berdiri dan menyambut kehadiran Xiao Ce. Para tetua kerajaan di tingkatan kedua yang baru saja di lepas dari penjara akibat menolak tunduk pada pemerintahan Hai Ran itu menyunggingkan senyum yang sangat cerah.
Di aula itu terdapat tiga tingkatan yang diurutkan berdasarkan status kedudukan mereka di istana. Tingkatan dasar untuk para pejabat dan menteri negara, selanjutnya untuk para keluarga dan tetua kerajaan, dan tingkatan paling tinggi sudah sangat jelas adalah milik penguasa negeri dengan kursi emas yang begitu besar dan megah.
Xiao Ce duduk di tingkatan paling tinggi dengan sedikit ragu-ragu karena ini merupakan yang pertama baginya untuk duduk di kursi yang biasa diduduki oleh mendiang ayahnya.
Salah satu tetua berjanggut putih dan terlihat berwibawa segera membuka upacara.
"Hamba ucapkan selamat datang kembali para keturunan surgawi, Sang Buddha telah memberkati Qiu Wang dengan mengirim kembali kesatria langitnya untuk memimpin negeri yang diberkati ini. Walau begitu, kerajaan ini belum memiliki penguasa sahnya. Saya telah bersaksi sejak masa kekuasaan Kaisar Wang Sui Ran yang merupakan kakek dari raja muda kita, untuk keberlangsungan dan kemakmuran kerajaan maka upacara suci akan dilaksanakan pada hari yang diberkati ini."
"Selamat atas berkat langit!"
Serangkaian upacara pengangkatan Xiao Ce menjadi kaisar dilakukan secara sederhana. Namun, tetap terkesan megah. Meski dilakukan dengan terburu-buru karena desakan urusan negara dan kekhawatiran akan risiko suatu negara tanpa kepala, upacara ini dilaksanakan penuh khidmat dan sakral.
Upacara sakral itu akhirnya selesai setelah menempatkan mahkota emas dengan rumbai-rumbai dari emas yang berkilau di depan dan belakang mahkota.
Seluruh hadirin yang menyaksikan kemudian memberikan gerakan tiga kali berlutut dan sembilan kali bersujud kepada kaisar baru mereka, tak terkecuali Yiu, sebagai simbol sujud yang paling tinggi tingkatannya.
Langit kini mulai berkreasi dengan cahayanya yang memukau mata, semburat oranye dan ungu menghiasi kanvas yang membentang sejauh mata memandang, burung-burung terbang membentuk formasi menuju sarang mereka setelah seharian penuh mencari makanan.
Yiu kini tengah berada di dalam Paviliun Dahlia yang sudah terlampau lama ia tinggalkan. Namun, entah kenapa tempatnya masih sangat terawat meskipun berada di kekuasaan Liu Yu.
Tempat ini begitu banyak menyimpan memori sekaligus menjadi saksi bisu tumbuhnya Putri Ying dan saksi bisu akan kematiannya yang kini digantikan oleh roh malang dari masa depan.
Memorinya terlempar saat hari pertamanya terjebak di tubuh baru sehingga menciptakan kerusuhan dan perubahan besar pada pandangan orang-orang disekitar Putri Ying.
Bagaimana kejamnya sang ayah yang mendapati putrinya tersadar dan meracau lalu menuduhnya gila.
Bagaimana lembut dan hangatnya kasih sayang seorang ibu yang belum pernah Yiu rasakan dalam hidupnya, dan bagaimana rasanya menjadi topik panas pembicaraan di seluruh daratan tentang seorang perempuan yang mahir bermain pedang.
Ingatannya juga mulai memutar pada pertemuan pertamanya dengan Wu Xiao yang kala itu sama-sama dalam penyamaran, dan seberapa nakal dan naifnya ia setahun yang lalu sampai sering sekali menyuruh sahabatnya untuk menggantikannya di kelas tata krama hanya demi dapat berjalan-jalan di pasar.
__ADS_1
Ahh ... bagaimana keadaan Chichi sekarang? Aku sangat berharap ia baik-baik saja, aku menyesal karena meninggalkan dia sendirian di Bai Qing. Kumohon bertahanlah dan tunggu aku menjemputmu ke sana, sahabatku.
Tok tok tok ....
Lamunan Yiu buyar segera setelah mendengar ketukan ringan di pintunya, terdengar suara lembut pelayan yang memberi hormat dari luar pintu.
"Putri, Pangeran Huang datang dan meminta ijin untuk menemui Anda."
"Persilahkan dia masuk."
Pangeran Huang menggeser pintu dengan wajah sumringah. Salah satu tangannya bersembunyi di balik punggung yang menggenggam sesuatu.
"Ada perlu apa Gege kemari?" ucapnya sembari berdiri dan mendekati sang kakak.
"Tidak ada. Aku hanya ingin memberikanmu sesuatu. Tutup matamu, A-Ying."
Yiu mengerutkan kening, Huang berusaha meyakinkan ia untuk menutup matanya sebentar. Hal itu membuat Yiu menghela napas dan mulai menutup manik coklatnya.
Huang memindahkan benda di belakang punggungnya menjadi ke depan Yiu. "Buka matamu."
Yiu membuka mata malas sebelum terpaku beberapa detik. Barang yang ada di genggaman Huang adalah sebuah pedang bersarung merah tua dengan ukiran seperti aliran sungai hitam yang mengalir bercabang terlihat sangat menawan dan berani.
Yiu masih belum mengedipkan matanya barang sekejap, untuk lebih memastikan ia dengan sigap menarik keluar pedang itu dari sarungnya, pedang itu terlihat mengkilap dengan ukiran huruf cina kuno di besinya dan ujung pedang yang sangat tajam.
Ini adalah pedang pemberian ayahnya! Dulu Yiu sengaja meninggalkan pedang pemberian ayahnya itu agar sang ibu dapat melepas rindu sementara pada Yiu lewat pedang kesayangannya itu.
"Pedang Sungai Darahku?!" Huang mengangguk mantab bosquee.
Yiu tersenyum kegirangan, tanpa aba-aba ia melompat dan mendekap leher sang kakak dengan erat, sangat erat.
"Terima kasih, Gege! Aku menyayangimu!!"
Huang yang merasa tercekik hanya tersenyum kecut sambil menepuk-nepuk punggung Yiu.
"Baiklah baiklah jangan bersikap seperti anak kecil. Kau berat!"
Yiu yang masih kegirangan tidak mengambil pusing perkataan Huang, ia melepaskan pelukannya dan atensinya beralih pada pedang di tangannya.
♣♦♣
Sinar mentari menyerbu masuk melalui celah-celah jendela kayu berukiran indah di kamar Yiu.
Udara dingin menjadi selimut kedua bagi Yiu yang membuatnya bergerak mencari kehangatan di dalam selimut tipisnya.
Semalaman dia melatih kelenturan dan kecekatan tangannya pada pedang peninggalan mendiang ayahnya hingga ia keletihan dan berakhir dengan bangun kesiangan.
Seorang pelayan wanita membangunkan dia dan berkata ia harus segera bersiap-siap karena kedua kakaknya sedang menunggunya untuk menjenguk Ming Zijing.
Yiu duduk lemas diiringi geraman frustasi akibat tidak cukup tidur semalaman. Namun, ia tetap menyeret tubuh lemasnya menuju pemandian istana dan bersiap-siap.
Set pakaian Yiu kali ini berbeda, ia tampil jauh lebih anggun nan feminin dibandingkan gayanya semenjak ia kabur dari Bai Qing.
Ia memakai set hanfu dan ikat pinggang berwarna putih bermotif teratai putih dipadukan dengan lapisan luar berwarna biru langit bertema musim dingin membuat perpaduan yang sangat sempurna pada tubuh kecilnya.
Rambutnya dibiarkan tergerai seutuhnya hanya saja bagian depan rambutnya ditarik dan diikat sederhana ke belakang dan menyisakan sebagian rambut sebagai poni sepanjang perutnya. Sebagai pemanis, salah satu sisi rambutnya diberi jepit dedaunan berwarna biru yang berkilau.
Yiu sendiri yang melihat penampilannya lewat cermin kuning di hadapannya sempat merasa ia sedang ber-cosply menjadi Putri Salju ala Tiongkok.
Ia merasa ini terlalu berlebihan hanya untuk dipakai di dalam istana. Namun, pelayannya terus berkata jika itu sudah merupakan standar berpakaian seorang putri.
Yiu berjalan memasuki kamar yang di dalamnya sudah ada kedua kakaknya, Wu Xiao, dan tentu saja Ming Zijing yang terlihat lebih baik dari sebelumnya.
Saat alas kakinya melangkah sontak atensi keempat pria di ruangan itu menatap lurus ke Yiu yang dibuat gugup seketika.
Wu Xiao dan Ming Zijing bahkan tak mengedipkan manik mereka dan terus membatu pada satu titik.
"Apa ada yang salah?" Yiu memandang Huang lebih dulu lalu mengedarkan pandangan untuk meminta jawaban.
Huang tergagap dan kemudian menunduk bersamaan dengan yang lainnya. Yiu bergumam tidak nyaman dalam hati.
__ADS_1
Aneh!
Yiu memilih tidak memusingkan hal ini dan bertanya pada Ming Zijing yang duduk bersandar di sandaran ranjang, "Bagaimana kabarmu?"
"Baik." Dingin dan tidak tersentuh seperti biasanya. Yiu kembali bertanya sembari mendudukan dirinya di tepi ranjang, "Kau yakin? Wajahmu terlihat merah, apa kau demam? Setahuku demam bukan efek dari ledakan .... Apa ledakannya melukaimu? Apa kau mengalami trauma atau perasaan terguncang?"
"Aku baik-baik saja, terima kasih."
Seorang pelayan membawa nampan berisi sup dan obat membuat Huang tiba-tiba menyela, "A-Ying, sepertinya ini sudah waktunya Zijing untuk makan dan minum obat."
Yiu berdiri di samping Xiao Ce dan menarik lengannya, bersiap menggandengnya keluar. "Oh, kalau begitu aku tidak akan menganggu waktu makannya."
Huang menyodorkan sup pada Ming Zijing sembari bertanya, "Apa kamu bisa makan sendiri?"
Ming Zijing mengangguk, ia menyendok sup dengan tangan gemetar. Huang yang melihatnya mengulum senyum aneh sembari ia berbisik pada Yiu, "A-Ying, kau harus bertanggung jawab, karena ulahmu dia jadi harus terkena ledakan."
Yiu yang sebenarnya menyimpan rasa bersalah kembali mendudukkan dirinya dan merebut mangkuk porselen itu dari tangan Ming Zijing.
"Biar aku saja. Anggap ini sebagai permintaan maafku karena telah membuatmu seperti ini. Setuju?" ucapnya sembari menaruh sendok di depan mulut Ming Zijing.
Huang semakin tersenyum cerah sedangkan Kaisar Qiu Wang mengerutkan kening tidak suka dan menatap horor Huang yang menunjukkan jurus andalan muka tanpa dosanya sembari melirik Wu Xiao diam-diam.
Di sisi lain wajah Ming Zijing semakin memerah karena keterkejutan, ia mematung beberapa saat sebelum dengan ragu menerima suapan Yiu setelah mendapat persetujuan dari Kaisar Qiu Wang.
Wu Xiao yang melihatnya mengepalkan tangan di balik pakaian biru tuanya, bibirnya membentuk garis sangat tipis dan giginya bergemeretakan.
Wu Xiao mencoba menahan diri, fokusnya masih terpaku pada wajah Yiu yang baru sesaat tadi ia puja dan beralih ke tangan yang tengah menyendok sup hangat untuk Ming Zijing. Namun, ia tidak tahan lagi!
Tepat disuapan kelima Wu Xiao berjalan keluar dengan langkah lebar, gerakan yang tiba-tiba ia membuat Yiu binggung dan Huang yang senyumnya semakin menjadi lebih mengerikan.
Huang hanya ingin memastikan saja apakah Wu Xiao sebenarnya menyimpan rasa pada adiknya atau tidak sekaligus membuatnya semakin panas sehingga ia sengaja menuangkan minyak dalam api yang bergejolak hebat, tanpa ia sadari ada dua orang yang memerah karena tindakkannya.
Yiu meminta ijin untuk menyusul Wu Xiao dan menyerahkan semuanya pada Huang.
"Wu Xiao, tunggu! Kau mau kemana? Hei ada apa denganmu?"
"Penjara bawah tanah! Tanganku gatal ingin memukul orang!"
"Kau sebenarnya kenapa?!"
Wu Xiao memilih terus berjalan dan tidak memperdulikan Yiu. Mendekati sel tahanan milik Hai Ran mereka mendengar suara cambuk yang terus memecut kasar.
"Katakan dimana sisa pasukan kalian berada!"
Konflik keduanya teralihkan dan memilih menghampiri penjaga yang tengah menginterogasi Hai Ran yang sudah berlumuran darah mengenaskan itu.
Yiu sendiri bergerak merebut cambuk di tangan petugas dan mulai mencambuk Hai Ran, membuatnya mengerang tertahan.
"Masih tidak ingin menjawab? Pengawal bawakan aku garam!"
Wajah Hai Ran kehilangan warna semakin cepat. Yiu kembali mencambuk dan mengeluarkan kata-kata kasar membuat Hai Ran terkekeh.
"Kenapa tertawa? Tidak ada yang lucu!"
"Bukan begitu ... aku hanya merasa kalian tidak memiliki otak!"
Yiu kembali mencambuk membuat tawa Hai Ran semakin menggelegar. "Putri, seharusnya Anda sudah bisa menebaknya sendiri."
Yiu menurunkan cambuknya yang sudah bersiap menebas udara. "Apa maksudmu?!"
"Saat itu aku gagal memasuki Liyui Feng dan kau jelas-jelas tahu pasukan kami mundur dan bersembunyi selama tiga minggu, lalu ... menurutmu kerajaan siapa yang paling cocok untuk menjadi mangsa selanjutnya?"
Kini Wu Xiao yang bereaksi lebih dulu, ia menghadiahkan bogem mentah pada wajahnya hingga membuat darah segar kembali mengalir di sudut bibirnya. Dada Wu Xiao naik turun dengan cepat dibuatnya.
"Apa yang kau lakukan pada kerajaanku?!"
Hai Ran menatap Wu Xiao yang menatapnya tajam dengan santai sebelum beralih ke Yiu. "Putri, aku mengakui kecerdikanmu tapi ... untuk mendeklarasikan diri sendiri menjadi Dewa Siasat? Hmm... rasanya dirimu terlalu berbangga hati dan naif."
Kabar buruk!
__ADS_1
TBC