
Semburat oranye mulai menghiasi perjalanan rombongan pasukan Yiu yang terus bergerak mengikuti jejak darah di tanah dan bebatuan kali.
Rombongan berkuda itu memutuskan untuk berhenti di tepi sungai untuk minum sekaligus merehatkan kuda mereka sebentar setelah berlari sepanjang malam.
"Liying, kita sudah hampir dekat ke wilayah armada laut Bai Qing, jadi tolong jangan gegabah. Armada ini bukan lawan kita."
Yiu yang bersandar di bebatuan besar sembari meminum air dari botolnya itu terlihat tidak menggubris ucapan Wu Xiao.
Wu Xiao menghela napas sebelum berjalan dan merebahkan dirinya tepat di samping Yiu. Ia mengeluarkan bungkusan dari lipatan pakaiannya.
Ia membelah bakpao yang dibawanya menjadi dua lalu menyerahkan salah satunya pada Yiu. Hal itu tentu saja mendapatkan tatapan tidak mengenakan dari Yiu.
"Untuk mengisi tenaga. Kamu belum makan sejak sampai di markas. Kamu akan sulit fokus jika lapar."
"Aku tidak lapar."
Wu Xiao nampak frustasi. Ia mencubit sedikit bakpaonya dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya dengan cepat mencengkram rahang sehingga terbukalah mulut gadis keras kapala disampingnya itu.
Gerakan itu cepat dan sebelum pihak lain merespon, mulutnya kembali dibungkam dengan bakpao berisi daging oleh Wu Xiao yang kemudian harus menerima tendangan kuat di perut sampingnya hingga tersungkur di alas bebatuan sungai.
Meski begitu, Wu Xiao tidak goyah pada tindakannya. Ia kembali memasukkan sisa dari setengah bakpao itu ke mulut Yiu diiringi tatapan intimidasi yang jarang sekali bahkan hampir tidak pernah dilihat oleh Yiu sendiri.
Manik hijau zamrud itu terasa begitu menusuk matanya. Kedua tangannya masih mencengkram erat rahangnya dan berusaha berusaha mendorong masuk bakpao itu masuk ke mulut Yiu.
"Makan. Aku tidak suka penolakan." Yiu mematung dan tangannya sedikit gemetar. Ini bukan Wu Xiao yang seperti biasanya, apa dia marah karena tendangannya? Biasanya dia hanya akan merengek kesakitan seperti bayi. Namun, kali ini ....
Yiu yang tiba-tiba tidak dapat berpikir dengan cepat menuruti perkataan Wu Xiao. Dilahapnya seluruh bakpao tanpa bersisa dengan manik yang masih terkunci dengan pesona hijau zamrud milik Wu Xiao.
Tepat setelah Yiu selesai menelan makanannya, manik mata Wu Xiao baru merileks dan ia kembali pada posisi duduknya semula.
Suasana menjadi tegang cenderung canggung. Yiu sendiri masih tidak percaya pada aura intimidasi Wu Xiao yang sangat berhasil menaklukkannya. Suasana menjadi hening beberapa saat sebelum sebuah tangan kembali terulur pada Yiu dengan cuilan bakpao milik Wu Xiao.
Yiu menoleh dan melihat Wu Xiao yang melihat lurus ke depan dengan santai. Yiu berusaha menolak dengan halus, "Itu bagianmu."
Namun, Wu Xiao seolah menyalin tindakannya tadi yang pura-pura tuli. Menyadari itu, Yiu berinisiatif meraih bagian bakpao yang lebih besar dan hendak memakannya sendiri. Jujur saja, ia sangat lapar sekarang tapi harga dirinya harus tetap tinggi.
Gerakan itu membuat Wu Xiao menyembunyikan bakpaonya di balik baju dengan tidak suka. "Aku suapi, kamu duduk."
Wu Xiao tidak mudah dihadapi kali ini jadi Yiu memutuskan untuk menurut saja agar segera dapat melanjutkan pengejaran. Meski menyuapi dengan raut wajah sok cool-nya yang seolah tidak peduli. Namun, tangannya dengan lembut terus menyuwir dan menyuapkannya pada Yiu.
Bakpao sudah tandas dan pasukan itu segera memacu kuda mereka menyisir sungai.
Tak lama, Yiu menangkap siluet pria berkuda yang melaju pelan di kejauhan. Dengan sekali pandang, Yiu dapat memastikan itulah buronan yang mereka incar.
Derap kuda dan tanah yang bergetar membuat pria yang telah kehilangan warna di wajahnya itu mulai panik. Tangannya segera memacu tali kekang kudanya untuk berlari.
Pasukan di belakangnya semakin dekat, jenderal itu mulai memutar otaknya yang sebenarnya sudah pening setengah mati. Ia meraih cambuk panjang yang terikat di pinggangnya dan mulai mengitari pohon di kiri kanannya untuk menghambat pasukan Qiu Wang.
Alhasil, pasukan berkuda Yiu banyak yang tidak sadar akan keberadaan tali itu sehingga tersandung dan jatuh secara beruntun.
Hanya tersisa lima orang yang mengejar, hal ini sangat menguntungkan bagi pihak jenderal Bai Qing itu, apalagi sebentar lagi ia sudah memasuki wilayah patroli armada laut kerajaan Bai Qing.
Baru saja ia akan menyiapkan jebakan berikutnya, ia mendengar derap kuda dari inti hutan.
Derap itu berasal dari pasukan Ming Zijing, seketika kedudukan kembali berubah.
Kedua pasukan dengan total hampir dua puluh orang berhasil mengepung sang jenderal yang terpojok tepat di tepi sungai.
"Percuma saja kabur, Jenderal. Kamu tidak bisa mengalahkanku sama sekali," sarkas Yiu sedikit congak.
Jenderal itu tidak gentar dan malah semakin percaya diri menyunggingkan senyum. "Yang Mulia Kaisar Bai Qing seribu kali lebih hebat dan telah mengalahkan mengalahkanmu berkali-kali, Putri. Bagaimana bisa kamu begitu berbangga diri? Lihatlah setelah ini kamu akan kalah."
Yiu turun dari kudanya dan menghampiri sang jenderal yang ikut turun. Yiu terlihat menahan amarahnya dan berkata, "Kalo begitu berduellah denganku."
Jenderal itu makin tersenyum lebar nyaris tertawa. Ia menjawab, "Tidak perlu, tangan dan telingaku sedang terluka, kamu bisa melawan mereka saja."
__ADS_1
Yiu merasakan sesuatu tidak beres, maniknya menyipit tajam dan seluruh tubuhnya waspada.
Wushhh ... Stringg!
Sebuah anak panah melesat bertubrukan dengan pedang yang menghalau arah serangan. Perhatian seluruh orang tertuju pada arah timur tempat panah itu terlesat.
Sebuah siluet besar yang bermandikan sinar silau dari matahari terbit terlihat mendekat menuju tempat mereka.
Itu adalah kapal patroli Bai Qing!
Baru sedetik setelah mereka menyadari kehadiran kapal besar yang tidak terdeteksi berkat sinar mentari yang menyilaukan mata mereka, hujan panah segera memulai pertarungan di tepi sungai kali ini.
Ming Zijing turun untuk memeriksa keadaan Yiu sekaligus mengambil kembali pedangnya lalu melindungi Yiu dari hujan anak panah.
Kapal semakin menepi dan beberapa awak kapal bersenjata mulai melompat dari kapal. Pasukan mereka ternyata dua kali lipat lebih banyak dari pihak Yiu.
Pasukan Yiu mulai bertarung dengan musuh yang tidak seimbang. Meski begitu, pihaknya masih diuntungkan dengan adanya dua pangeran dari Zhang Wu dan Guang Ming yang masing-masing setara dengan sepuluh pasukan terlatih.
Yiu melawan empat orang dengan cepat, ia mengedarkan pandangannya mencari batang hidung sang jenderal yang tidak boleh lolos hidup-hidup. Karena, ia memegang informasi as dari pihak musuh.
Ia menoleh ke belakang dan melihat sang jenderal tengah susah payah berenang menuju kapal. Yiu tanpa pikir panjang segera memasuki sungai untuk mengejarnya.
"LIYING, JANGAN DIKEJAR! JANGAN GEGABAH!"
Teriakan Wu Xiao menyadarkannya yang sudah masuk ke air. Yiu memutar otak, ia membuang pedangnya ke tepi sungai dan menggulung lengan bajunya.
Yiu tengah berkonsentrasi membidik hingga tak memperhatikan keadaan sekitar.
"LIYING HATI-HATI!"
"A-YING AWAS!" Suara itu terdengar beberapa saat sebelum Yiu melepaskan bidikan sehingga tangannya goyang dan fokusnya buyar.
Baru saja Yiu ingin merespon, tubuhnya sudah direngkuh dalam pelukan pria berbaju putih. Yiu hanya terdiam saat melihat sebuah panah menancap di punggung pria yang tengah memeluknya.
Pikiran Yiu menjadi sangat kacau, dia bahkan bagai mayat hidup. Bagai boneka yang hanya diam di pelukan pemiliknya.
Setelah menyentuh batuan sungai, Ming Zijing segera berbalik dan dengan tenaga yang tersisa ia menembakkan senjata di pergelangan tangannya pada para pemanah yang berada di atas kapal sebelum jatuh bersandar Yiu yang terlihat masih shock.
Kejadian itu hanya berlangsung dalam beberapa detik, membuat Yiu kebingungan mencerna situasi ini.
Yiu tiba-tiba panik dan segera mendudukkan Ming Zijing sembari menopang kepala Ming Zijing di lengan kirinya. Matanya berubah merah dan ia terus meracau, "Bertahanlah! Ming Zijing dengarkan aku! Kau harus bertahan!"
Situasi menjadi kacau, Wu Xiao yang melirik Ming Zijing sudah bersimbah darah segera berteriak marah dan membunuh seluruh sisa pasukan yang ada di depannya.
Sedangkan kapal patroli Bai Qing memutuskan untuk segera menjauh setelah menyelamatkan sang jenderal yang setengah sekarat juga, tidak berniat untuk memperpanjang pertarungan dan kembali ke ufuk timur.
Pertarungan pun berakhir, Wu Xiao segera berlari menghampiri Yiu yang sudah berteriak asal dan berusaha membopong Ming Zijing menuju kuda terdekat untuk dibawa ke desa terdekat.
"Apa disini ada dokter?!! Kau harus bertahan, kita akan menuju ke desa! Ming Zijing, jangan tidur! Wu Xiao bantu aku membawa dia!"
Di sisi lain, warna di wajah Ming Zijing mulai menghilang. Ia sudah lemas dan bajunya telah sepenuhnya berubah menjadi warna merah. Namun, tangannya terus mengisyaratkan Yiu untuk tenang.
Dengan suara lirih ia berusaha menghentikan Yiu, "A-Ying, tidak ... kamu tidak perlu."
Tepat setelah Ming Zijing berulang kali mencegahnya baru Yiu mau berhenti dan menatapnya dengan mata merah.
"A-Ying, aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir," ucapnya lirih membuat Yiu semakin tak kuasa membendung air matanya sembari menggeleng kuat.
"A-Ying, dengarkan aku .... Apa kamu terluka?" suara Ming Zijing sangat lirih dan napasnya sangat berat.
Yiu menggeleng sembari tangan kanannya mengelus-elus pipi pucat Ming Zijing. Ming Zijing tersenyum, sangat manis untuk pertama kalinya.
"Syukurlah...." Tangan Ming Zijing terangkat dengan gemetar ingin menyentuh balik pipi Yiu. Segera digapainya tangan itu oleh Yiu dan ditempelkannya di pipi.
"Zijing, kita ke desa, ya? Kamu harus segera diobati," ucap Yiu yang sudah setengah mati menahan air matanya untuk turun.
__ADS_1
Ming Zijing menggeleng untuk kesekian kalinya dengan senyum manis masih terpahat di wajah yang biasanya selalu sedingin es itu.
"Ada hal penting yang ingin kusampaikan pada kalian berdua."
Manik hitam elegan Ming Zijing kembali menatap Yiu. Ia batuk darah sebelum membuka suaranya, "A-Ying, aku berniat menyampaikan ini saat aku siap, tapi sepertinya kesempatan itu tidak akan datang. Dengar, A-Ying .... kamu sangat cantik kalau tidak menangis."
"Bodoh ...."
Entah bagaimana Yiu harus merespon tetapi yang jelas bagaimana bisa ia berkata seperti itu disaat ia sedang seperti ini! Nyawanya puluhan ribu kali lebih penting daripada ucapan itu!
Air mata Yiu lolos dan jatuh di pipi Ming Zijing, dengan lembut ibu jari Ming Zijing segera mengusap sudut mata Yiu dan melemparkan tatapan yang menyuruhnya jangan menangis.
Atensi Ming Zijing beralih ke Wu Xiao yang berlutut di samping kirinya dengan mata merah dan dagu yang semakin menegas.
"Wu Xiao j-" Ucapannya terjeda dan ia kembali batuk darah. Wu Xiao segera mengapai tangan lain Ming Zijing yang bebas dan mengenggamnya erat seolah menandakan jika ia akan terus menemaninya.
Meski keduanya terus terlibat dalam perang dingin atau perang-perangan dan masih banyak lagi. Namun, di dalam hati masing-masing terjalin sebuah ikatan yang samar layaknya saudara.
Ming Zijing menarik napas berat sebelum melanjutkan bicaranya, "tolong jaga Putri Ying."
Belum sempat Wu Xiao ingin menjawab, tangan Ming Zijing di pipi Yiu sudah jatuh dan tangan yang tengah digenggam Wu Xiao kini juga kehilangan tenaganya.
Yiu spontan menepuk-nepuk pipi Ming Zijing, tepukan itu semakin kuat dibarengi dengan gertakan dari Yiu.
"Ming Zijing! Jangan tidur atau ... atau .... Ming Zijing! Hey bangun, aku berjanji akan akan memukuli Wu Xiao sampai patah tulang kalau kau bangun! Bukankah kau suka itu? .... MING ZIJING!!!"
Wu Xiao hanya tertunduk lemas di samping Yiu yang terus meracau. Selang beberapa saat Wu Xiao berdiri dan memerintahkan prajurit yang tersisa untuk mencari kereta dan melaporkan hal ini ke markas barat.
Wu Xiao kini berdiri membelakangi Yiu. Ia meninju batu yang cukup besar di sampingnya hingga buku-buku jarinya berdarah.
Setitik air mata turun di pipinya bersamaan dengan darah yang mengucur di batu kali tersebut. Wu Xiao berteriak sangat kencang sebelum berlutut dengan badan yang lemas dan bahu yang perlahan bergetar.
Yiu sendiri menangis dalam diam, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Direngkuhnya tubuh Ming Zijing yang masih hangat itu dengan kuat dalam pelukannya cukup lama sebelum mematahkan batang anak panah yang tertancap di punggungnya.
Yiu membaringkan tubuh kaku Ming Zijing di atas bebatuan. Ia mengambil sapu tangan putih dari lengan bajunya, membasahi kain itu lalu diusapkannya ke wajah dan tangan Ming Zijing yang bersimbah darah.
Usapan itu sangat halus seolah takut jika ia menekan sedikit kuat bisa membuat Ming Zijing kesakitan. Dengan telaten Yiu membersihkan wajah pucat Ming Zijing sembari berkata, "Harusnya aku tidak meminta bantuanmu, dan harusnya aku yang terkena panah itu. Kenapa malah menjadi kamu, hah?! Harusnya aku yang mati. Kenapa kamu melindungiku, bodoh!"
Yiu menyentil ringan dahi Ming Zijing lalu kembali berkata lembut, "Sekarang bagaimana aku menjelaskan ini pada keluargamu, rakyatmu, dan kedua kakakku, hm?! Aku dan kedua kakakku sudah banyak berhutang nyawa padamu dan sekarang bagaimana aku harus menghadapi ini, hah?! Kau kejam, Ming Zijing. Akan kucincang habis dirimu dikehidupan selanjutnya, tunggu saja!"
Kaki Yiu mati rasa sehingga ia dengan susah payah merangkak mengambil pedangnya lalu menjadikannya tumpuan untuk berdiri.
Yiu terdiam sejenak. Ia pun mendongakkan kepalanya dan berseru, "Tapi, sebelum itu terjadi aku bersumpah pada semesta tidak akan hidup tenang sampai aku membalaskan dendam kedua orang tuaku, kamu, dan semua orang yang kucintai!"
♣♦♣
Langit malam ini tertutup awan, tidak membiarkan satu bintang pun terlihat untuk dinikmati keindahannya seolah mengejek pada para pemimpin pasukan markas barat yang tidak becus dalam menjalankan tugas.
Suasana sangat sunyi, hanya terlihat beberapa prajurit yang lalu lalang untuk berpatroli. Yiu kini tengah duduk beralaskan bantal duduk di depan sebuah peti mati yang terletak di tengah ruangan yang sudah terbalut kain-kain putih bersama dengan Wu Xiao dan Huang.
Ketiga orang itu sudah duduk di sana sedari siang. Tidak ada dari mereka yang meninggalkan tempatnya sejengkal pun. Salah satu prajurit terus membakar uang kertas di samping peti mati Ming Zijing.
Tidak akan ada lagi orang yang bisa diajak beradu panah, tidak akan ada lagi yang bisa Yiu ajak diskusi serius tentang strategi perang dan penempatan pasukan, mengajak bicara Pangeran Huang saja sudah membuatnya stress apalagi jika mengajak Wu Xiao, mungkin dia akan segera menyusul Ming Zijing.
Yiu akan merindukan saat-saat dimana Ming Zijing mengajaknya berkeliling istana sembari berdiskusi, saat dimana mereka berlomba untuk mengkompor-kompori Pangeran Huang agar berhenti makan dan mulai berlatih, saat dimana Ming Zijing menceritakan semua kisah konyol kakaknya yang sangat tidak bisa diam dan pembuat masalah sejak kecil hingga tumbuh dewasa.
Disaat itu Yiu baru sadar bahwa ia telah kehilangan seorang sahabat yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri.
Pemuda yang mungkin awalnya sangat terlihat dingin seperti es batu tetapi perhatiannya pada sekitar tidak akan pernah bisa ditandingi oleh siapa pun.
Meskipun berat. Namun, kehidupan harus terus berlanjut. Seluruh kenangannya bersama Ming Zijing akan terus hidup dalam hatinya, disimpannya rapi di sudut hatinya.
Selamat jalan, Ming Zijing. Sekarang bersenang-senanglah di surga sembari menungguku membalaskan kematianmu.
__ADS_1
Aku akan sangat merindukanmu.
TBC