
Perjalanan kali ini memakan waktu 2 hari 1 malam untuk sampai di ibukota BaiQing Liu dengan pasukan berkuda melewati hamparan hutan dan padang rumput.
Yiu terus termenung di dalam kereta kudanya yang mulai bergoyang kencang akibat jalan yang penuh batu, artinya rombongannya sudah memasuki hutan menuju perbatasan selatan.
Merasa sudah memasuki kawasan hutan, Yiu membuka jendela di samping kanannya dan terus melihat ke arah luar, mencoba membunuh waktu dengan menghitung berapa banyak burung yang ia jumpai disepanjang perjalanan.
"Berhenti! Kita istirahat di sini malam ini, cepat dirikan perkemahan!"
Suara Jendral Rong menghentikan langkah pasukan berkuda dan mereka dengan cekatan mendirikan perkemahan. Yiu segera masuk ke dalam tenda berwarna putih gadingnya.
"Putri, anda menginginkan sesuatu?"
Suara Chichi membuyarkan lamunan Yiu yang entah sudah berkeliaran kemana jauhnya.
"Ah tidak ada, aku akan pergi mencari udara sebentar."
"Saya ikut, Putri."
"Tak perlu, lebih baik kau menyiapkan makan malam kita. Aku hanya akan jalan-jalan, tidak akan jauh dari tenda."
Hari sudah gelap, Yiu melangkah keluar mencari udara dingin untuk menjernihkan pikirannya.
Yiu berjalan agak menjauh dari perkemahan, ia menemukan sebuah batu besar yang cocok untuk menikmati semilir angin malam.
Yiu lagi-lagi termenung di atas batu besar tersebut, membiarkan pikirannya berkelana jauh entah kemana pun itu.
Udara malam semakin dingin, Yiu masih enggan beranjak dari duduknya. Tiba-tiba sebuah jubah hitam berkilau tersampir di kedua pundaknya bersamaan dengan aroma wewangian khas wilayah tengah menusuk indra penciumannya.
"Kau bisa sakit jika terus berada di sini, ayo kembali ke perkemahan untuk makan setelah itu istirahat. Perjalanan esok hari masih panjang."
Tubuh tegap itu merangkul Yiu dan mencoba membujuknya kembali, Yiu sempat terkejut namun ia bergeming, "Aku tidak lapar, kembalilah."
Terdengar helaan napas berat dari Liu Yu bersamaan dengan suara 'hap' dari makhluk di sampingnya.
Pangeran Liu Yu mengambil posisi duduk di batu besar tepat di sebelah Yiu, kemudian mengikuti arah pandang Yiu yang menatap langit mala, "Baiklah, aku akan disini menemanimu."
Yiu menoleh sebentar menatap manik hitam segelap malam milik Liu Yu, merasa di perhatikan, Liu Yu menoleh sehingga manik keduanya saling bertemu dalam keheningan cukup lama hingga Yiu pun akhirnya membuka suara, nadanya terdengar serius, "Kenapa kau ingin menikah denganku? Jawab dengan jujur!"
Yiu terlalu benci dengan yang namanya basa-basi. Liu Yu masih bergeming dan menatap manik Yiu dengan lekat, "Karena aku tau kau sangat berbeda dengan gadis lainnya, sesuatu dalam dirimu belum pernah aku temui dalam diri wanita lain."
Raut wajah Yiu tak berubah, masih terlihat serius, "Harusnya kau tidak menikahiku karena aku tidak ingin menikah dan aku sangat tidak sudi harus berbagi lelaki dengan wanita lain ... spa kau bisa mengabulkan permintaanku yang ini?"
Liu Yu mematung sebelum tertawa rendah membuat Yiu menekuk dalam kedua alisnya
"Maaf tapi aku mungkin tidak bisa mengabulkan permintaanmu karena aturan kerajaan ... Tapi percayalah aku tidak akan melihat wanita lain dengan penuh cinta ... Hanya dirimu seorang dan kau bisa menghukumku jika aku menatap wanita lain."
Napas Yiu tercekat si tenggorokan, hatinya entah bagaimana mulai melunak sekaligus mencelos sakit, entahlah ia sendiri binggung menjelaskan.
"Aku tahu ini sulit untukmu, tapi percayalah kau adalah calon istriku dan otomatis posisimu lebih tinggi dari para selir terutama di hatiku ... Maafkan aku tapi ini sudah peraturan seluruh kerajaan di wilayah tengah dan aku tidak bisa tidak patuh, setidaknya hanya dirimulah yang ada di hatiku. Aku bisa jamin itu!"
__ADS_1
Yiu semakin diam, tak bisa berkata-kata lebih tepatnya. Lidahnya kaku, nafasnya tercekat, hatinya mencelos sakit sekaligus senang disaat yang bersamaan. Entahlah Yiu sendiri binggung harus berekspresi seperti apa.
Merasa mengerti perasaan Yiu, tangan hangat Liu Yu mengenggam tangan dingin Yiu dan pipi kanan Yiu.
Yiu ingin menampar tangan itu agar menjauh namun kekokohan tangan itu lebih kuat sekarang, "Aku benci kau!"
"Aku tahu kau membenciku, aku mengerti. Tapi tolong jangan jauhi atau campakkan aku, aku tidak akan bisa tidur sepanjang malam. Ah bagaimana kalau kita membuat masalah di BaiQing dan kita akan berlagak sebagai pahlawan lalu setelah itu aku akan segera naik tahta dan akan aku ubah tradisi sialan itu kemudian menjadikan kamu satu satunya wanitaku, Bagaimana?"
Untuk sesaat Yiu sempat setuju dengan ide bodoh Pangeran Liu Yu sebelum akhirnya tersadar kembali kemudian tangannya bergerak memukul kepala pria sok manis di depannya beberapa kali.
"Aww ahh baiklah baiklah jangan anggap serius, aku hanya bercanda! Hentikan Ying ini sakit!"
Yiu medengus kasar setelah puas memukul kepala Liu Yu, hatinya lebih puas sekarang, senyum tipis terpaku di wajah Yiu.
"Nah begini lebih baik ... Ah tidak harusnya kau tersenyum lebih lebar lagi. Ayo senyum ..."
Tangan Liu Yu bergerak mencubit kedua pipi Yiu lalu menariknya, membuat eksperi Yiu seolah sedang tersenyum lebar.
Beraninya kau! Terima pukulan ini sialan!
"Sudah sudah bermesraannya bisa kalian lanjutkan besok, ini sudah malam."
Baru saja Yiu ingin melayangkan tinju mautnya ke mahkluk sialan di depannya, sebuah suara rendah dan halus mengejutkan Yiu dan Liu Yu yang segera menarik tangannya dari wajah Yiu.
Pangeran Huang berdiri lumayan jauh, berjalan perlahan menghampiri keduanya dengan ekspresi tersenyum yang terkesan memiliki maksud lain bagi Yiu.
"Jarang sekali kalian terlihat akur. Apa kalian sudah berbaikan karena akan segera menikah? Haha jangan membuat raut wajah seperti itu Ying. Gege hanya bercanda haha. Ah ya makan malam sudah siap kalian makanlah lalu segera tidur, besok pagi-pagi sekali kita berangkat agar dapat segera sampai dan setelah itu kalian bisa melanjutkan acara bermesraan kalian lagi di sana."
"Tak akan ku ampuni kau ge! Kemari kau akan ku bunuh lalu ku potong tubuh sampai tak ada satu urat pun yang tersambung!"
Yiu bangkit dari duduknya dan segera mengejar Pangeran Huang yang sudah berlari ke arah perkemahan. Aksi kejar-kejaran antar keduanya tak terelakan, menciptakan keributan yang memekakkan telinga akibat Yiu yang terus menerus mengutuk.
Di tengah-tengah aksi saling mengejar dan mengutuk bahkan melemparkan benda apapun di sekitar keduanya, Liu Yu tiba-tiba menangkap pergelangan tangan Yiu dan menarik paksa untuk duduk di dekat perapian di pusat perkemahan.
"Lepaskan! Kau sedang apa! Menarik tangan orang lain seenaknya!"
"Duduk! Ayo kau harus makan dulu setelah itu baru mengejar Pangeran Huang untuk membunuhnya."
Di tangan kiri Pangeran Liu Yu sudah ada semangkuk sup daging hangat dan tangan kanannya memegang sendok yang sudah di arahkan di depan mulut Yiu.
"Aku bisa sendiri, aku bukan anak kecil!"
"Tidak, aku tetap akan menyuapimu. Ayo buka mulutmu!"
"Tidak!"
"Ekhem ... Sepertinya keberadaanku terlupakan begitu saja, baiklah aku pergi saja ...."
Pangeran Huang yang merasa terabaikan beranjak pergi dengan ekspresi kesal yang di buat-buat.
__ADS_1
Yiu segera bangkit untuk kembali mengejar gegenya sekaligus kabur dari makhluk sialan ini namun tangan Liu Yu dengan sigap menahan bahu Yiu agar segera duduk kembali dan memakan makanannya, membuat Yiu tak punya pilihan lain selain menurut.
Setelah selesai memakan sup dagingnya Yiu segera kembali ke perkemahannya untuk tidur tanpa berucap sepatah katapun kepada Liu Yu.
Alih-alih dapat tertidur nyenyak, Yiu terus terjaga entah sekeras apa dia berusaha untuk terlelap.
Pikirannya selalu terfokus pada pria sialan itu, dia sangat menyebalkan dan kelewat batas tapi entah mengapa dirinya tidak bisa membencinya.
Yiu benci situasi seperti ini!
Setelah berusaha cukup keras mengeluarkan pria sialan itu dari pikirannya, perlahan rasa kantuk mulai menyerang Yiu.
♦♣♦
Mentari pagi mulai terbit perlahan menciptakan semburat oranye di langit pagi, embun pagi turun burung-burung berkicau menyambut sang surya.
Yiu dan rombongan istana sudah memulai perjalanan mereka menuju BaiQing.
Yiu duduk bersandar di kereta kudanya di temani oleh Chichi untuk teman mengobrol Yiu.
Kota demi kota hutan demi hutan terlewati, akhirnya rombongan Yiu tiba di pintu masuk Ibukota BaiQing.
Mulai dari pintu gerbang sudah berjejer puluhan prajurit yang berbaris rapi disusul oleh rakyat ibukota yang berbaris rapi di sisi-sisi jalan menuju istana.
Rakyat menyambut kedatangan rombongan keluarga kerajaan Qiu Wang dengan antusiasme tinggi. Banyak dari mereka yang berteriak histeris meneriakkan selamat datang untuk Yiu, membuat Yiu tidak bisa tidak menahan senyumnya di balik kereta.
Rombongan itu pun akhirnya sampai di gerbang masuk istana. Dentuman genderang berbunyi sangat keras di iringi hujan bunga dari para pelayan wanita dengan pasukan berkuda yang berbaris di sisi jalan masuk gerbang istana.
Kereta Yiu pun akhirnya berhenti. Yiu bersiap untuk turun, tangannya terulur untuk membuka pintu kereta.
Tanpa di duga Liu Yu sudah membuka pintu dari luar dan tangan kanannya sudah terangkat ke arah Yiu.
Yiu ingin menolak namun setelah melihat banyak pasang mata dari kerajaan yang mengawasinya membuat Yiu lagi-lagi tak bisa berulah. Kehormatan kerajaannya di pertaruhkan di sini.
Yiu segera di tuntun memasuki istana bernuansa kuning keemasan itu, Pangeran Huang yang sudah menunggu segera bergabung di sisi kirinya dengan raut wajah penuh senyum seperti biasanya.
Ornamen dan bangunan istana ini begitu mewah dan berkilau bagai emas dan juga sangat luas. Yiu tidak bisa tidak mengamati sekitar saat berjalan menuju aula tempat Kaisar dan anggota kerajaan menunggu.
Di depan Yiu sekarang berdiri sebuah bangunan besar dengan anak tangga yang berkarpet merah menambah kesan mewah dengan pintu yang diukir dengan begitu teliti dan para prajurit istana yang setia berdiri di sisi anak tangga dan pintu masuk.
Pintu terbuka. Aroma wewangian khas wilayah tengah beraroma bunga begonia tercium keluar, pemandangan yang terlihat adalah aula istana begitu megah dengan tiang-tiang yang besar dan kokoh serta para pejabat kerajaan berbaju resmi sudah menunduk hormat menyambut Yiu dan Pangeran Huang.
Ditingkatan dasar berjejer para pejabat kerajaan dan ditingkatan pertama duduk beberapa pangeran dan putri dan ditingkatan tertinggi adalah milik Kaisar dan Permaisuri BaiQing Liu, Kaisar Liu Xun dan Permaisuri Yan Shi.
"Selamat Datang dirumah, Permaisuri Ying."
TBC
**BTW kalian mau ngak nih dibikinin visual cast tapi menurut dari sudut pandang ku hehe:v kalo misal gak cocok ya dibayangin aja sendiri:v
__ADS_1
tergantung kalian sih mau ato ngak:* komen aja ya maacih😁**