
Setelah memasuki gerbang pusat kota, mereka berjalan ke arah sebuah tenda darurat yang sudah di siapkan Yiu sebelum memulai perang untuk mengobati Prajurit yang terluka.
Beberapa prajurit yang membawa tandu berlarian menuju tenda darurat dengan membawa prajurit yang terluka parah.
Semua pelayan dan tabib kewalahan mengobati prajurit yang terluka, terdengar juga teriakan kesakitan dari para prajurit yang membuat hati Yiu mencelos sakit.
"Pangeran ... apakah aku boleh membantu para tabib untuk mengobati prajurit kita?"
Yiu menoleh dengan tatapan memohon ke arah Pangeran Huang yang sedang mendudukan Jendral Rong di sebuah ranjang darurat berbahan bambu untuk diobati.
Pangeran Huang nampak berpikir sebentar.
"Kau boleh membantu mereka namun kau harus sembuhkan lukamu terlebih dulu"
Ucapan Pangeran Huang membuat Yiu mengerucutkan bibirnya.
"Tapi aku baik-baik saja, lihatlah prajuritmu meraung kesakitan dan membutuhkan perawatan segera namun tenaga medis yang kita punya sekarang sangat sedikit sehingga tidak semua bisa langsung di tangani."
"Huh! Baiklah bantu mereka tapi jika kau merasa lelah segera istirahat aku tau kau pasti sangat lelah karena semua ini."
Pangeran Huang tersenyum singkat namun cukup membuat Yiu terlonjak senang.
Yiu tanpa pikir panjang segera meminta beberapa ramuan yang sudah di siapkan para tabib dan segera menangangi para prajurit yang terbaring menahan sakit.
Ia bahkan lupa dengan luka pada tubuhnya sendiri, baginya lukanya adalah urusan belakangan selama ia masih sanggup menahannya yang lebih penting sekarang adalah menyelamatkan nyawa para prajurit dari jurang kematian sebanyak mungkin.
Pangeran Huang duduk di sebuah kursi bambu di dekat tenda darurat salah satu tangannya memegang sebuah ramuan seperti saleb dari tabib untuk di oleskan di bagian tubuhnya yang terluka.
Tiba-tiba seorang pria berpakaian perang namun terlihat mewah layaknya seorang Jendral duduk disebelah Pangeran Huang.
Pangeran Huang hanya melirik sekilas pemuda di sampingnya lalu kembali fokus pada luka-lukanya.
"Putri Ying bukan hanya gadis yang pemberani namun juga sangat ahli dalam pertarungan pedang bahkan sampai bisa mengalahkan Pangeran Mahkota dari Tian Lu haha kau sungguh beruntung mempunyai saudara sehebat dia, Pangeran."
"Diamlah Pangeran Wu Xiao! Ying memang hebat namun tak akan pernah ku biarkan kau mendekatinya!"
Pangeran Wu Xiao yang juga ikut dalam pasukan Pangeran Huang sebagai Jendral Besar perwakilan dari Kerajaan Zhang Wu terkekeh ringan mendengar perkataan Pangeran Huang.
"Mana mungkin aku menyukai Putri Ying bahkan sampai berusaha mendekatinya, ia bagai singa betina yang sedang kelaparan. Sejengkal saja aku mendekatinya sudah pasti tubuhku akan terkoyak habis di lahapnya."
Pangeran Huang hanya bertindak acuh tak acuh seolah olah tidak mendengar perkataan Pangeran Wu Xiao.
Manik keduanya masih terfokus pada Yiu yang sedang sibuk mengobati para prajurit yang terluka.
Pandangan Pangeran Wu Xiao menyipit mencoba menatap lebih intens ke arah Yiu.
"Pangeran ... kenapa kau membiarkan Putri Ying mengobati prajuritmu?"
"Dia memaksa ingin mengobati mereka lagipula selama ia baik-baik saja aku tak mengapa jika dia ingin menolong prajuritnya" Pangeran Huang masih dalam sikap acuh tak acuhnya.
"Baik-baik saja kau bilang? Dia terluka cukup banyak dan darah merembes kemana-mana kau bilang ia baik-baik saja?"
Ucapan Pangeran Wu Xiao sukses membuat Pangeran Huang melotot tajam kearahnya.
"Jangan bicara asal!"
"Siapa yang bicara asal? Coba kau perhatikan baik-baik pakaian hitam dari Putri Ying, bukankah di pakaian bagian perut seperti lebih gelap dan di punggung kemudian di lengan dan bagian bahunya, juga pakaian itu telah robek-robek ... jika itu keringat seharusnya seluruh pakaiannya ikut basah dan tidak ada warna hitam kemerahan di bagian yang basah itu."
Pangeran Huang beralih menatap Yiu, pandangannya kini lebih tajam melihat adik perempuan satu-satunya itu.
__ADS_1
"Ying, kau! ... kenapa kau tak pernah berubah selalu saja mementingkan orang lain terlebih dahulu daripada dirimu sendiri!"
Pangeran Huang mendesis, wajahnya mulai kemerahan antara ingin marah dengan sikap Yiu dan marah dengan dirinya sendiri akibat tak jeli dalam memperhatikan keadaan adiknya.
Pangeran Huang mencoba berdiri berniat ingin menghampiri Yiu namun segera ditahan oleh Pangeran Wu Xiao.
"Tenangkan dirimu, Pangeran. Sebaiknya kau urus dahulu luka-lukamu aku yang akan membunjuk dia untuk mengobati lukanya dulu."
Ucapan Pangeran Wu Xiao dibalas anggukan dari Pangeran Huang yang kembali duduk di kursinya lagi dan Pangeran Wu Xiao segera berjalan menghampiri Yiu.
"Sebaiknya obati lukamu dahulu, Putri Ying"
Suara berat dari arah belakang yang tiba-tiba membuat Yiu terlonjak kaget dan menoleh ke belakang.
"Kau?! Bagaimana bisa kau disini?"
"Apa kau lupa jika saat di Istana Zhang Wu, Pangeran Xiao Ce meminta bantuan dari Kerajaan Zhang dan aku juga sudah diangkat menjadi Jendral Besar jadi siapa lagi yang akan turun tangan jika bukan diriku?"
Pangeran Wu Xiao berbicara dengan nada sombong sedangkan Yiu memutar bola mata jengah.
Tiba-tiba Pangeran Wu Xiao menggapai tangan Yiu membuat Yiu terkejut dan melotot tajam.
"Mau apa kau! Kau sudah gila ya? Lepas!"
"Kau ini sudah tau kalau sedang terluka parah tapi masih saja berkeliaran ke sana kemari, jadi siapa yang gila?!"
"Aku tidak terluka dan aku baik-baik saja camkan itu!"
"Oh, tidak terluka ya?"
Pangeran Wu Xiao memukul lengan kiri dan bahu sebelah kanan Yiu yang terluka, Yiu meringis saat lukanya di pukul cukup keras oleh Pangeran Wu Xiao.
Yiu terdiam seribu bahasa dan akhirnya membiarkan Pangeran Wu Xiao membawanya menuju tenda.
Tanpa diduga, Pangeran Wu Xiao mengendong Yiu, membuat Yiu spontan mengalungkan kedua tangannya dileher putih Pangeran Wu Xiao.
"Hei turunkan aku! Aku masih bisa berjalan sendiri!" wajah Yiu berubah menjadi merah dalam waktu singkat.
"Diamlah! Semakin kau bergerak semakin banyak kau kehilangan darah. Semakin kau berteriak semakin banyak pasang mata yang akan mengawasimu."
Pangeran Wu Xiao berjalan melewati kerumunan prajurit dan anggota medis dengan santai, tak sedikit orang yang menatap nyata keduanya membuat Yiu menyembunyikan wajahnya di bahu Pangeran Wu Xiao.
Pangeran Wu Xiao tersenyum samar, " Kau ringan juga ternyata, sudah tidak makan berapa hari, Nona?"
Yiu yang masih menyembunyikan wajahnya di bahu Wu Xiao segera menjawab dengan nada kasar, "Diamlah dan cepat jalan!"
Pangeran Wu Xiao lagi-lagi tidak dapat menyembunyikan senyum di wajahnya.
Setelah berjalan beberapa saat, Wu Xiao membawa tubuh Yiu masuk ke dalam tenda khusus, ia menidurkan tubuh Yiu di sebuah ranjang bambu dan menyerahkannya kepada tabib wanita untuk di obati.
Sebelum beranjak pergi, Pangeran Wu Xiao berbicara kepada tabib wanita itu, "Tabib, tolong periksa juga otak Putri Ying, aku mengira mentalnya terganggu dan mengakibatkan dia kehilangan cukup banyak berat."
Wajah Yiu yang sedari tadi sudah memerah ditambah mendengar ocehan sinting dari Pangeran Wu Xiao, tanpa pikir panjang segera mengambil sepatunya dan melemparkannya ke arah Pangeran Wu Xiao membuat sang penyandang nama segera menghilang dari pandangannya, "Diamlah kau, Sialan!"
Setelah selesai memberi saleb yang terbuat dari bahan-bahan herbal, para tabib wanita yang mengobatinya segera mengundurkan diri membiarkan Yiu beristirahat dengan posisi duduk.
Karena punggungnya terkena pedang dan lukanya cukup dalam, ia tidak diperbolehkan tidur terlentang terlalu lama dan ramuan dari tabib ditempatkan disebuah kain yang dililit layaknya selempang di punggungnya.
Tak berselang lama, Pangeran Huang masuk ke dalam tenda tempat Yiu berada, maniknya memancarkan penyesalan dan amarah yang terpendam namun Pangeran Huang bukan marah pada Yiu tapi pada dirinya sendiri karena gagal menjaga adiknya.
__ADS_1
"Maafkan aku *Meimei, aku terlambat datang andai saja aku datang lebih cepat pasti kau tak akan terluka."
*Meimei (妹妹) artinya adik perempuan.
Pangeran Huang menunduk tak berani menatap manik coklat gelap milik Yiu, ia merasa sangat bersalah.
"Ini bukan salah Gege, aku sendiri yang suka rela turun tangan demi mempertahankan Kerajaan Qiu Wang."
Yiu tersenyum, tangannya menggenggam tangan Pangeran Huang mencoba meyakinkannya.
"Tapi tunggu ... bagaimana Ibunda bisa mengijinkanmu berperang? Melihat jarimu tertusuk duri saja Ibunda akan memarahi tanpa ampun siapa saja yang berada sekitar mu ... kau tau bukan jika tempramen Ibunda tidak akan stabil jika sudah berhubungan dengan anaknya."
"Ee, Baiklah akan ku ceritakan semuanya pada Gege."
Yiu mengaruk tengkuknya yang tak gatal lalu menghela nafas panjang sebelum menceritakan kejadian saat makan malam sampai komando perang di suarakan.
Pangeran Huang menatap tak percaya kearah Yiu, dalam benaknya saja ia tak pernah sedikitpun terpikir tentang siasat secerdik itu.
Baru saja hendak memberikan pujian pada Yiu tiba-tiba seorang pelayan wanita meminta ijin untuk masuk karena kedatangan seorang utusan yang membawa pesan Pangeran Xiao Ce dari perbatasan Desa Zin Shu.
Utusan itu masuk dan berlutut memberi salam kepada keduanya dan mulai menjelaskan pesan yang ia bawa.
"Hormat saya, Pangeran Huang dan Putri Ying. Saya membawa pesan dari Pangeran Xiao Ce bahwa pasukan Tian Lu berhasil di kalahkan dan Qiu Wang meraih kemenangan. Mereka akan segera kembali ke Qiu Wang dan di perkirakan tiba 2 hari lagi ... Pangeran di minta untuk mengadakan upacara penyambutan untuk Kaisar dan Kerajaan Sekutu."
Senyum cerah terpancar dari wajah Pangeran Huang dan Yiu setelah mendengar pesan itu lalu Pangeran Huang melempar sekantung uang kearah utusan itu.
"Kabar yang sangat baik. Terima ini sebagai hadiah dan cepat pergi ke Istana dan beritahu Permaisuri tentang hal ini."
Utusan itu berulang kali membungkuk dengan senang, "Anda sangat murah hati Pangeran. Saya akan segera sampaikan berita baik ini kepada Permaisuri. Saya mohon ijin, Pangeran, Putri."
Setelah utusan itu pergi, Pangeran Huang bergegas pergi untuk memberitahukan berita baik ini pada seluruh pasukannya dan segera menyiapkan Upacara Penyambutan di Istana.
Sebelum Pangeran Huang melenggang pergi, Yiu berulang kali merengek agar di perbolehkan pergi bersamanya namun ditolak mentah-mentah oleh Pangeran Huang yang beralasan jika Yiu harus beristirahat.
Matahari hampir terbenam seutuhnya.
Kini Pangeran Huang, Yiu, Pangeran Wu Xiao, Jendral Rong dan sebagian pasukan sudah bergerak kembali menuju Istana Qiu Wang menyisakan sebagian prajurit yang berjaga ketat di sekitar gerbang ibu kota.
Tak berselang lama, rombongan mereka telah memasuki kawasan istana yang tenang hanya ada beberapa prajurit dan pelayan yang berjalan mondar-mandir.
Tak ada penyambutan, tak ada pesta perayaan, begitu tenang dan membuat Yiu bertanya tanya saat turun dari kereta.
Dimana ibunda?.
Yiu ingin bertanya keberadaan ibundanya kepada Pangeran Huang.
Namun tak berselang lama, Seorang tabib istana datang menghampiri Yiu.
"Putri ... ada sesuatu yang ingin saya bicarakan-"
Tabib itu menunduk hormat saat Yiu berjalan di depannya dan langsung menghentikan langkahnya saat mendengar suara sang tabib.
Yiu menoleh lalu membalik badan ke arah sang tabib dengan pandangan penuh tanya.
"Tentang permaisuri. ..."
TBC
Jangan pelit" like dan komen ya gratis kok hehe😚
__ADS_1