
Keesokan paginya, setelah pasukan LingJian semuanya sudah mundur ke barat daya dan mencapai kota terdekat dari pegunungan Qin, Kota GuangDong.
Pasukan BaiQing yang awalnya terpecah menjadi dua kini kembali bersatu di bawah komando Pangeran Liu Yu dengan wakil komando sayap kiri di pegang oleh Pangeran Liu JieLu dan pasukan sayap kanan dipegang oleh Yiu.
Pasukan berjumlah tiga ribu prajurit dengan seribu prajurit berkuda itu mulai bergerak maju menuju gerbang masuk utara kota GuangDong.
Terlihat di atas gerbang kota telah bersiap prajurit pemanah LingJian yang sudah menarik busurnya.
Di depan gerbang sudah bersiap juga pasukan berkuda maupun yang tidak, Pasukan BaiQing terus bergerak maju hingga 1 Li dari gerbang kota.
Pangeran Liu Yu, bersama dengan Pangeran Liu JieLu dan Yiu di garis terdepan mulai membuka suaranya, "Pangeran Mo WeiLi! Kau sungguh bernyali rupanya untuk menyandera rakyatmu sendiri, apa kau sudah putus asa sekarang?"
Sesosok pemuda tampan berkuda putih dengan baju besi perak lengkap dengan zirah berwarna senada yang membuatnya tampak mencolok di antara yang lain pun membuka suaranya, "Bukan urusanmu! Aku tidak mengorbankan rakyatku sendiri! Mereka yang berada di garis depan saat itu semua adalah tahanan perang LingJian jadi buat apa aku peduli?"
Yiu sedikit tertegun mendengar pernyataan Pangeran Mo WeiLi, membuat Yiu berpikir dimana sebenarnya pasukan asli yang mereka sembunyikan itu.
Pangeran Liu JieLu yang sudah habis kesabaran mulai berbicara ngawur yang membuat ekspresi Pangeran Mo WeiLi semakin suram. "Tetap saja kau terlalu kejam! Leluhurmu pasti akan malu melihat sikapmu ini!"
"Simpanlah omong kosong kalian itu hingga mati! Aku akan balaskan dendam keponakanku yang kehilangan orang tuanya saat disaat ia masih bayi akibat ayahnya kau bunuh dengan cara yang keji! Aku akan membuat kematianmu lebih hina dari seekor anjing!"
Yiu pernah mendengar sedikit banyak tentang percikan api yang menyulut peperangan ini.
Kaisar Liu Xun di duga menyuruh ketiga Jenderalnya untuk melakukan penyamaran ke negara di wilayah selatan guna memata-matai sekaligus mencari kelemahan negara tersebut.
Salah satu anak buah Jenderal yang bertugas memata-matai negara LingJian Mo diduga terbongkar identitasnya oleh pejabat setempat yang berada di bawah perintah keponakan Kaisar Mo---Mo JiHan---yang saat itu menjabat sebagai Wali Kota di Kota Wei.
Memang luas kota tidak terlalu besar tetapi letaknya yang berada di perbatasan negara membuat perdagangan di Kota Wei menjadi mata pencaharian yang menjanjikan bagi rakyat dan kerajaan, ditambah wilayah ini cukup subur untuk ditanami sehingga menambah pemasukan negara, tak heran kota ini menjadi salah satu pusat perdagangan terkenal di Negara LingJian.
Dengan segera Mo JiHan membawa mata-mata Negara Bai Qing itu untuk di interogasi dan menutup segala akses keluar masuk baik akses masuk antar kota maupun antar negara, melibatkan sebagian pasukan penjaga perbatasan untuk mengeledah seluruh rumah dan tempat tanpa terkecuali demi menemukan markas mata-mata yang sudah diyakini telah memasuki dan bersarang di Kota Wei sejak sepuluh tahun terakhir.
Akibat sudah terkepung dan tak dapat mengirim sinyal meminta bantuan, Jenderal beserta sisa anak buahnya yang belum tertangkap menyerang kediaman Mo JiHan dan membantai seluruh penghuni yang berada di rumah tersebut tanpa meninggalkan seekor lalat sekalipun, beruntung putra tunggal Mo JiHan yang saat itu masih berumur 1 tahun dititipkan ke tempat ibu asuhnya sehingga terhindar dari maut.
Kaisar Mo sangat marah mendengar berita itu, ia merasa ini sebuah penghinaan berat dan memutuskan untuk menghukum mati Jenderal dari BaiQing beserta anak buahnya dengan cara dibakar hidup-hidup disaksikan oleh seluruh warga LingJian di alun-alun kota, kemudian mengeluarkan titah mutlak untuk menyerang BaiQing Liu.
Dan terjadilah seperti ini ....
Yiu tersadar dari lamunannya akibat Pangeran Liu Yu yang sudah berteriak untuk menyerang, genderang perang menyiram bensin dalam kobaran semangat pasukan. Pasukan dari kedua kubu pun bergerak maju mengeluarkan serangkaian teriakan yang memekakkan telinga diiringi suara nyaring dari pedang yang saling beradu.
Yiu diam-diam mundur dari jalannya pertarungan beserta tiga puluh serdadu pasukan sayap kanan, menemaninya masuk ke dalam hutan terdekat.
Yiu memacu kudanya secepat mungkin menuju ujung hutan yang berbatasan langsung dengan gerbang selatan kota Wei.
Di depan gerbang berdiri sekitar seratus prajurit bersenjata dengan pagar runcing dari kayu berjejer gagah di depan gerbang.
Saat pasukan berkuda Yiu muncul dari ujung hutan, seluruh prajurit penjaga gerbang serempak mengeluarkan pedang dari sarungnya.
Raut wajah Yiu masih seserius biasanya, sorot mata elangnya senantiasa terpasang di wajah dinginnya dan dengan santai menjalankan kudanya perlahan mendekati gerbang dengan langkah tak gentar.
"Aku disini tidak datang untuk bertarung, sebaliknya aku menawarkan perdamaian." Nada bicara Yiu terdengar tegas tetapi raut wajahnya sama sekali tidak berubah.
__ADS_1
"Apa maksudmu?!" salah satu prajurit LingJian memberanikan diri membalas.
"Yah ... aku hanya ingin kalian menandatangani surat pengambil alihan kekuasaan di Kota Wei dan beberapa desa di sekitarnya dengan itu kami akan berbaik hati pada kalian."
Prajurit itu langsung meludah sebagai reaksi pertama kemudian berteriak tak kalah lantang, "Ini tanah kami! Tanah leluhur kami! Kami tidak akan menyerahkan tanah ini pada pendosa tamak seperti kalian!"
"Baiklah jika itu pilihan kalian, aku juga akan bertindak sesuai pilihanku." Yiu menyeringai ringan, tangan kanannya kemudian terangkat dan melambai ringan.
Pertarungan di gerbang selatan tak terelakan, karena kalah jumlah lebih dari dua kali lipat membuat Yiu dengan segera terpojok.
"Keadaan berbalik sekarang, Calon Permaisuri BaiQing ... Oh bukan, Calon tahanan neraka LingJian. Aku pastikan kau akan merasakan neraka terpanas di muka bumi ini."
Yiu masih tak banyak bereaksi di atas kudanya yang sudah terkepung oleh prajurit LingJian.
"Kau yakin tidak ingin menerima tawaranku?" Yiu kembali menyeringai, sorot matanya masih tajam seperti biasanya. Tak ada sedikitpun ketakutan tersirat di wajah cantiknya.
"Kau sudah hampir mati tapi masih berani mengancam kami? Wah sungguh bernyali juga kau, Nona. Turun atau aku bunuh kau sekarang juga?!"
Yiu turun dari kudanya, masih dengan ekspresi andalannya. Bahkan saat turun kakinya segera di jegal sehingga Yiu jatuh berlutut di tanah dengan pedang runcing berada dekat dengan lehernya, ekspresinya masih tak berubah sama sekali.
"Baiklah jika itu keputusan kalian, aku tak akan memaksa," ucap Yiu dengan nada sedatar wajahnya.
Tawa pecah dari kesepuluh prajurit yang mengelilingi Yiu, tetapi Yiu masih menampakan raut wajah acuh tak acuhnya.
"Aku memiliki pilihan bagus untukmu, Nona muda. Bagaimana jika kau ikut kami ke kamp? Kamu mungkin tidak akan berakhir disini? Hei hei dengarkan aku jika aku sedang berbicara! Kau sungguh bernyali ya, Nona muda!"
"Setidaknya sesaat tadi aku sudah berbaik hati tapi kalian malah mengancamku menjadi budak kalian." Seringai Yiu menjadi semakin tajam dengan raut wajah prajurit LingJian yang tersisa segera menjauh mundur berkumpul mendekati gerbang, mengacungkan pedang mereka dengan gemetar.
Yiu berdiri kemudian menepuk tangan, membersihkan debu di tangan dan pakaiannya dengan santai.
Flashback on.
"Aku mengerti sekarang ... dengarkan aku baik-baik. Kita pecah prajurit menjadi dua, kirim sebagian prajurit terkuat atau prajurit yang tahan udara dingin untuk bergabung dengan pasukan cadangan malam ini. Kita kirim pasukan cadangan secara bergilir selama *1 ke sekitar 20 orang untuk mengepung gerbang selatan dan biarkan aku yang mengurusnya besok."
*1 ke dalam penghitungan waktu tradisional China telah didefinisikan sebagai 1/96 hari sehingga 1 ke sama dengan ¼ jam atau 15 menit.
Malam itu juga total 5000 prajurit terpecah menjadi dua kubu, prajurit dengan daya tahan tubuh dan ketahanan akan udara dingin malam hari dikirim secara bergilir dan diam-diam menuju perbatasan.
Flashback off
"Kalian sudah terkepung sekarang dan tak akan ada gunanya lari masuk apalagi menunggu bantuan dari gerbang utara."
Yiu berjalan mendekati prajurit LingJian, muncul dari kerumunan Prajurit BaiQing didepannya.
"Kalian ********! Tak tahu malu! Kami akan melindungi tanah ini hingga kematian menjemput kami. Lebih baik kami mati daripada diperbudak oleh kalian!"
"Baiklah jika itu mau kalian .... Namun, aku tidak yakin dengan jawaban pemimpin kalian akan sama dengan kalian."
Pasukan BaiQing di selatan sudah menguasai wilayah, mereka menerobos masuk kota dan menyandera seluruh warga kota dan membuka pintu gerbang utara.
__ADS_1
Pangeran Mo WeiLi yang sudah tersudut akhirnya memilih menandatangani perjanjian 'damai' dari BaiQing. Negara LingJian juga tengah mengalami krisis baik ekonomi maupun pertahanan akibat konflik ini sehingga tak akan melakukan perlawan untuk waktu yang cukup lama.
Pasukan BaiQing pulang membawa kemenangan telak namun sayang lagi-lagi mereka harus mengorbankan satu pangerannya lagi, Liu JieLu.
Upacara penyambutan digelar di seluruh negeri, menyambut kedatangan pasukan Liu Yu dan Yiu. Namun penyambutan tidak dilakukan terlalu meriah akibat harus melakukan upacara pemakaman untuk ketiga saudara Liu Yu.
Setelah upacara pemakaman selesai empat hari setelahnya mereka menggelar perjamuan yang dihadiri seluruh isi istana.
"Aku senang kalian bisa bekerja sama untuk memenangkan perang kali ini, dan juga aku sangat berterima kasih kepada Putri Ying atas bantuannya. Yu'er memang tidak salah memilihmu sebagai Calon Permaisuri BaiQing Liu, jadi ... mari bersulang untuk kemenangan kita!"
Kaisar Liu Xun berbicara sembari mengangkat cawan berisi araknya diikuti oleh seluruh pejabat dan keluarga kerajaan termasuk Yiu yang hadir disana.
"Bersulang atas kemenangan Yang Mulia!"
Seluruh aula bergema kemudian hening sesaat untuk meminum arak dicawan mereka masing-masing.
"Aku juga memberi tahu sesuatu, aku juga telah memutuskan gelar Putra Mahkota tetap akan ku sematkan pada Pangeran Liu Yu sehingga setelah aku meninggal nanti yang akan menjadi penerus ku adalah Pangeran Liu Yu."
Kaisar Liu Xun terlihat bahagia, maniknya mengarah ke Pangeran Liu Yu yang juga tengah tersenyum.
"Yang Mulia sangat bijak, Selamat Putra Mahkota Liu Yu dan Putri Mahkota Ying MeiWang."
Seluruh pejabat menunduk memberi salam ke arah Kaisar dan Liu Yu. Yiu pun juga menganggukkan kepalanya ke arah Kaisar dan tersenyum kearah Liu Yu.
Gelas arak kedua kembali terangkat di udara, mereka kembali meminumnya.
Namun, berbeda dengan sebelumnya, ekspresi Kaisar Liu Xun bermasalah. Ia menjatuhkan cawannya dan memegang dada kirinya kemudian jatuh tersungkur ke depan.
Setelah itu satu aula riuh, keadaan tak terkendali. Sangat kacau.
"Kaisar diracuni! Lindungi kaisar dan keluarga kerajaan!" Pangeran Liu Yu membuka suara ditengah kericuhan. Dia dengan cepat membopong tubuh Kaisar Liu Xun dibantu oleh Yiu yang juga mengamankan Permaisuri Yan Shi bersamanya.
Keesokan harinya, berita kematian Kaisar Liu Xun bocor dikalangan pejabat istana. Dan hari itu juga Pangeran Liu Yu diangkat menjadi Kaisar meski tanpa Permaisuri, agar pemerintahan tetap berjalan dan Kerajaan lain tidak mengambil keuntungan lain dari kematian Kaisar BaiQing.
Setelah penobatan, hal pertama yang dia lakukan adalah menyelidiki otak dibalik rencana pembunuhan Kaisar yang diduga berasal dari dalam istana.
Sejak hari itu, Kaisar Liu Yu di sibukkan dengan urusan kerajaan dan juga penyelidikan, sehingga hampir tidak mempunyai waktu untuk bertemu Yiu sama sekali.
Perlu dua hari hingga kasus akhirnya menemukan titik terang, tetapi tidak ada kejelasan siapa nama tersangka. Seluruh pejabat berkeringat dingin menanti persidangan terbuka yang digelar siang ini di aula kerajaan.
"Tujuanku membuka sidang kali ini pasti kalian sudah mengetahuinya. Aku mengumpulkan kalian tanpa satupun pengecualian karena otak dibalik kejadian itu adalah salah satu dari kita. Aku memimpin sendiri Lembaga Penyelidikan dalam kasus ini bersama dengan Divisi Pertahanan dan kami menemukan bukti racun dan nota pembeliannya yang berasal dari negeri seberang."
Kaisar Liu Yu membuka persidangan, para pejabat menampilkan raut wajah penuh tanda tanya sekaligus penasaran.
"Sejujurnya aku sangat berat hati mengatakan ini. Namun, pembunuhan Kaisar sangat tidak dapat ditoleransi .... Prajurit! Tangkap Putri Mahkota Ying MeiWang atas dugaan pembunuhan Kaisar dan jebloskan dia ke penjara!"
Yiu tidak bisa tidak terkejut mendengar pernyataan Kaisar Liu Yu.
TBC
__ADS_1