Flower Of War

Flower Of War
Chapter 54 : Ini Sungguh Kamu?


__ADS_3

"Perkenalkan ini Jenderal Shen Xi, adik iparku sekaligus pemilik Kediaman Hong ini. Ini malaikat kecil yang baru saja lahir dari rahim adikku."


"Shen Xi memberi salam kepada Putri Wang Ying Mei."


"Salam. Terima kasih sebelumnya karena telah mengijinkan saya kemari."


"Tidak perlu khawatir, Putri. Teman Kakak Pei adalah teman saya juga."


Yiu menundukkan pandangannya menatap manusia kecil yang terbungkus kain dan tengah tertidur nyenyak di gendongan sang ayah.


Wajahnya terlihat sangat kecil dan bulat dengan pipi penuh berisi yang bergerak kecil karena menguap lebar seperti kucing malas. Menggemaskan.


"Anda ingin menggendongnya, Putri?"


Yiu terkesiap, menunduk dan sedikit warna merah muda menghiasi pipinya. "A-aku belum pernah menggendong ...."


"Saya juga baru pertama kali menjadi ayah dan masih tahap belajar, Anda hanya perlu menggendong seperti ini."


Yiu menoleh ke Feng Pei dan dia mengangguk singkat. Akhirnya, Yiu mengulurkan tangannya di depan bayi laki-laki yang belum diberi nama itu.


Tangannya sedikit gemetar. Namun, merileks setelahnya. "Dia tampan sepertimu."


Shen Xi tersenyum lebar. Tiba-tiba pintu aula terbuka dan masuklah seorang pria dengan membawa pedang di tangan kanan.


Pria itu memberi salam pada ketiganya sebelum berjalan mendekat ke Shen Xi dan berbisik padanya.


"Sepertinya saya harus pergi sebentar, ada beberapa hal yang harus saya atasi. Maaf jika saya lancang."


"Lalu bagaimana dengan dia?" Yiu menatap bayi di gendongannya.


Feng Pei segera berseru, "Ada aku kamu bisa pergi, aku akan menjaganya sebentar." Shen Xi undur diri.


Feng Pei menatap Yiu dan keponakannya lalu mengusap pipi bulatnya.


"Sebelumnya aku ingin meminta maaf karena tidak mengetahui tentang apa yang terjadi di Qiu Wang tapi memang semenjak pernikahan kalian diumumkan, Qiu Wang seperti menutup diri tentang apa saja yang terjadi lalu beredar kabar bahwa Anda membelot. Aku tidak menyangka dia sekejam itu."


Yiu terdiam sejenak lalu membuat gerakan-gerakan kecil untuk membuat bayi itu nyaman. "Tidak masalah. Aku akan menusuk jantung dan memotong kepalanya di masa depan setelah aku menemukan kedua kakakku dan membentuk pasukan."


"Aku akan berusaha membujuk ayah untuk membantumu. Xiao Gie dan aku pernah berguru di guru yang sama. Kami adalah teman baik."


"Terima kasih."


Pintu aula tiba-tiba terbuka, Shen Xi masuk kali ini ia tidak sendirian. Di belakangnya terdapat empat orang pria, dua di depan berpakaian cukup rapi. Namun, dua di belakangnya berpakaian asal, lusuh, dan kotor seperti orang jalanan dan salah satu membantu yang lain berjalan.


Yiu segera mengenali mereka, maniknya membulat.


"Maaf Pei Gege dan Putri Ying, saya sudah menjemput kedua pengawal Anda, Putri. Namun, ada dua orang lagi yang mengaku sebagai kenalan Anda dan pengawal Anda juga mengatakan seperti itu. Maka saya ingin mengkonfirmasi hal ini langsung pada Anda."


"Yah! Aku kenal mereka. Mereka adalah Wu Xiao dan saudara dari pengawalku."


Feng Pei menyela, "Pangeran Wu Xiao? Kenapa dia berpakaian seperti itu?"


Wu Xiao yang masih bertumpu di pundak Xu Gui mendongak setelah mendengar suara yang akrab.


Wu Xiao menatap Yiu, wajahnya yang pucat semakin kekurangan warnanya. Ia berjalan gontai menghampiri Yiu dengan ekspresi rumit membuat Xu Gui yang masih menopang tubuhnya ikut berjalan terhuyung-huyung.


"LiYing... Ba-bagaimana bisa? Ki-kita baru berpisah beberapa minggu dan kau .... Bagaimana itu mungkin?! LiYing, aku tidak tahu sebelumnya kalau kamu ...."


Feng Pei memandang Shen Xi. Shen Xi segera mendekat ke Yiu dan mengambil kembali bayinya.


Feng Pei memerintah, "Kamu kembalilah, dia tidak boleh jauh-jauh dari ibunya dan kamu juga harus menemani A-Qi. Serahkan ini padaku."


Shen Xi mengangguk dan sekali lagi pamit undur diri dengan membawa serta anaknya.


Feng Pei melanjutkan, "Sepertinya terjadi salah paham. Bayi yang digendong Putri Ying tadi adalah anak dari adikku. Saya bertemu dengan Putri Ying di jalan besar sehingga mengundangnya kemari."


Warna di wajah Wu Xiao perlahan kembali. Punggung kembali ditegakkan dan berdehem ringan. "O-owh ... begitu rupanya. Sedikit salah paham."


Raut wajah Feng Pei sedikit memerah menahan tawa. Namun, sedetik kemudian kembali pada ekspresi damainya.

__ADS_1


"Maaf jika saya lancang, kenapa Anda berpakaian seperti ...? Kenapa Anda tidak mengirim surat padaku agar aku bisa menjemput kalian?"


Wu Xiao menunduk melihat pakaiannya sendiri beberapa detik. "Astaga aku hampir lupa. Akan kujelaskan ini nanti, sekarang apa Anda tahu dimana keberadaan Pangeran Xiao Ce dan Pangeran Huang? Mereka hilang dan Qiu Wang dalam bahaya!"


"Maaf tapi saya baru mengetahui hal ini sekarang tapi saya janji saya akan membantu kalian mencari Pangeran Xiao Gie dan Pangeran Huang. Maka dari itu, besok pagi kita akan berangkat ke ibu kota dan meminta bantuan ayahku untuk mengerahkan pasukan mencari mereka."


"Terima kasih sekali lagi, Pangeran."


"Anda sudah berkata terima kasih lebih dari tiga kali hari ini, Putri. Tidak perlu berterima kasih lagi di masa depan."


Wajah Wu Xiao tiba-tiba menjadi muram. Ia membatin layaknya anak kecil, "Aku yang menyelamatkanmu, menyembunyikanmu, merawatmu, bahkan bersedia menjadi umpan tapi kenapa hanya dia yang terus mendapatkan ucapan terima kasih?! Ini tidak adil!"


"Baiklah kalian sepertinya perlu istirahat. Pelayanku akan memandu kalian."


Wu Xiao dan Yiu berjalan keluar dengan seorang pelayan memandu di depan sedangkan Xu bersaudara mengekor di belakang.


"Kamu berhutang penjelasan padaku."


"Kau tahu? Setelah aku melewati Kota Jing dan hendak melewati hutan perbatasan negara ... ah sudah lupakan itu tidak penting lagi."


Yiu memutar bola mata. "Xu Gui, ceritakan!"


Xu Gui mendekat dan bersuara, "Penjagaan perbatasan ternyata di perketat hingga wajah pun akan di periksa dan ternyata wajah pangeran juga tercetak di daftar pencarian orang. Jadi, kami memutuskan untuk menukar pakaian dengan pengemis setempat lalu diam-diam bergabung dengan kereta pembawa budak untuk lolos. Setelah itu kami kabur dan berjalan seharian untuk mencapai kota ini, Putri. Oh dan, tubuh pangeran juga melemah bahkan sempat pingsan saat perjalanan ke Kediaman Hong."


Wu Xiao menatap nyalang, ingin menampar mulut terlalu jujur milik pemuda bermarga Xu itu. Namun, mereka lebih dulu sampai di kamar untuk Wu Xiao.


Yiu hanya mengantar jadi ia kembali berjalan menuju kamarnya tanpa berucap sesuatu lagi.


Wu Xiao masuk di temani Xu Gui, setelah puas memarahinya tentang pentingnya menjaga martabat pria di depan wanita. Wu Xiao segera mandi dan berbaring sebentar karena merasa pusing.


Pintu terketuk, Wu Xiao terlalu malas untuk menyambut orang di depan pintu. Xu Gui menjalankan perintah Wu Xiao. "Maaf. Pangeran sedang .... Silakan masuk."


Orang di depan pintu itu masuk dan duduk di samping ranjang. Wu Xiao yang berbaring menghadap dinding beralih posisi sambil melenguh, "Apa orang itu sudah pergi? ...?!"


Wu Xiao menatap wajah orang di samping ranjangnya, terkejut. "Kamu? Kenapa kamu kemari?"


"Bangun!" Wu Xiao bangkit dan duduk.


"LiYing ...."


"Makan!"


Wu Xiao membuka mulutnya dan menerima suapan. Wajahnya memerah seketika tetapi ekspresinya masih tenang.


Suapan kedua datang tetapi ia menolak membuka mulut. Yiu menegur, "Makan! Kamu belum makan seharian dan akan sakit nanti, aku juga yang akan kesusahan!"


"Kalau begitu urusi saja urusanmu sendiri untuk apa mengurusiku."


Yiu menurunkan mangkuk, ia terdiam sesaat sebelum bersuara lirih, "Wu Xiao... terima kasih. Terima kasih atas semua bantuanmu selama ini, setelah merebut kembali Qiu Wang aku pasti akan membalas budi. Maaf harus menyusahkanmu kali ini."


Wu Xiao tertegun, ia mengenggam tangan Yiu. "Jangan membuat raut wajah seperti itu! Dengar, aku melakukan ini atas kemauanku sendiri. Tidak perlu membalas budi."


"Tapi ka-" Wu Xiao mengambil sendok di mangkuk lalu dengan cepat menyuapkannya ke Yiu untuk membungkamnya.


"Kalau kamu bersikeras, baiklah .... Suapi aku lagi." Yiu terkejut dan setelah selesai menelan ia berseru, "Kamu!!"


Wu Xiao tersenyum tanpa dosa dan membuka mulutnya layaknya bocah berumur tiga tahun. Yiu mendengus kecil sembari menyuapkan sesendok sup ke Wu Xiao hingga tandas.


"Sekarang minum obatmu lalu pergi tidur. Obatnya sudah tidak panas lagi."


"Aku belum sakit, LiYing. Tidak perlu minum obat."


"MINUM!" Wu Xiao menggeleng cepat.


"Apa aku harus membantumu mi-" Yiu terdiam, ia hanya berniat menyuapi obat dengan sendok tetapi bayangan sewaktu dirinya tidak sadarkan diri beberapa hari saat di Kota Qiu terlintas di benaknya membuat pipinya panas.


Wu Xiao tersenyum miring. "Boleh." Yiu menetralkan wajahnya, menatap dingin Wu Xiao dan beranjak keluar dengan suara marah, "Terserah! Mau kamu buang pun aku tidak peduli!"


"Selalu saja tidak ingin berhutang budi."

__ADS_1


♣♦♣


Hari-hari berlalu cepat.


Setelah menuju Ibu Kota Liyui Feng, Kaisar Feng telah mengatur pertemuan bersama dua kerajaan besar lainnya--Guang Ming dan Zhang Wu--tepat setelah surat Feng Pei sampai empat hari sebelum kedatangannya di ibu kota.


Pertemuan itu diatur di Istana Guang Ming. "Kaisar Wang dan Permaisurinya tidak diketahui keberadaannya, kedua pangeran pun sama. Beruntung, kami bisa menemukan Putri Ying yang berhasil melarikan diri dari Bai Qing Liu."


"Aku sudah mengirim anakku untuk mencari kedua pangeran di Kota Qiu tapi dia hanya bisa menyelamatkan Putri Ying. Dan juga akhir-akhir ini Qiu Wang entah kenapa menyerang beberapa desa dan kota di perbatasan. Mereka punya senjata yang mengerikan yang dapat meledak dan efeknya tidak main-main."


Wu Xiao menyela, "Itu semua ciptaan Putri Ying, Ayah! Liu Yu hanya memanfaatkan dia untuk menguasai dunia!"


"Tenanglah, Nak. Ayah tahu. Mari selesaikan ini dulu."


Wu Xiao menunduk, ketiga pemimpin itu kembali berdiskusi. Kaisar Ming yang paling sedikit angkat bicara. Ia menghela napas kasar. "Sebenarnya ada sesuatu yang belum aku katakan ...."


"Yang Mulia! Kami melihat Pasukan BaiQing Liu dan Qiu Wang tengah menuju kemari dari wilayah barat! Mereka hanya berjumlah sekitar tiga ratus pasukan tapi mereka membawa sesuatu yang telah meledakkan beberapa bangunan di Kota Cai!"


Kaisar Ming menghela napas, "Mereka datang. Ia tengah memperingatkan kita tentang kekuatan luar biasa mereka. Saya akan urusi ini dulu. Jenderal Kang, segera kirim pasukan."


"Ayah, aku akan ikut."


"Saya juga, Yang Mulia."


"Pangeran Wu Xiao dan Pangeran Feng Pei telah diijinkan. Namun, demi keamanan Anda sebaiknya Putri Ying tetap disini."


"Tidak! Saya yang menciptakan senjata itu, saya yang paling tahu tentang senjata itu. Saya mohon biarkan saya bergabung dengan pasukan."


"Baiklah. Tapi ingat, jangan sampai terluka." Yiu mengangguk lalu berterima kasih.


Ketiganya pergi meninggalkan ruangan dan segera bersiap menuju Kota Cai.


--Di Kota Cai--


"Apa pun yang terjadi jangan sampai kehilangan penutup wajahmu dan tetap pakai kerudung itu untuk mengecoh musuh. Aku dan Feng Pei juga akan memakainya."


Awal pertemuan kedua pasukan, Pangeran Ming Zi Chen mencoba berdiskusi dengan pemimpin pasukan yang wajahnya terasa familiar bagi Yiu.


Itu Hai Ran!


Yiu menggertakkan gigi, buku jarinya memutih di tali kekang kuda. Negosiasi tidak berhasil. Kedua pasukan saling serang.


Yiu telah memperingati pasukan jika ada yang membawa kotak besi kecil di tangannya, rebut, tarik sumbunya, dan lempar balik atau jika tidak memungkinkan segera menjauh dari area itu.


Yiu memperkirakan sisa bubuk mesiu mereka hanya tinggal beberapa, mereka tidak akan membawa banyak. Karena, hanya Yiu yang dapat membuat bubuk mesiu dengan komposisi ledak yang sempurna.


Yiu berada di barisan belakang. Ia menebas leher musuh dengan lihainya, merebut beberapa tombak dengan tangan kirinya yang bebas dan berusaha melemparkannya ke arah pemanah.


Duar!!


Ledakan pertama tercipta, kali ini jarak ledak terjauh berjarak beberapa kaki dari Yiu. Gumpalan asap hitam membubung tinggi ke udara dan menyebar dengan cepat.


Wu Xiao memandang arah ledakan lalu beralih melihat Pangeran Feng Pei yang tengah berhadapan dengan Hai Ran kemudian mengedarkan pandangannya mencari Yiu dan tidak menemukan seseorang yang berpakaian sama dengannya.


Wu Xiao segera menuju sumber ledakan. Ia turun dari kudanya, mencari Yiu di dalam kabut hitam dan memanggil namanya seperti orang gila.


Tiba-tiba ia melihat bayangan pria tengah mengendong seseorang di kedua tangannya melintas di depannya.


Wu Xiao berlari menghampiri pria itu dan menemukan Yiu berada di gendongan pria itu, ia mendongak untuk melihat wajah samar yang membawa Yiu bersamanya.


Manik Wu Xiao seketika membola. Ia mematung. Pria itu berujar dingin dan terus melangkahkan kakinya, "Minggir!"


Pria itu membawa Yiu ke atas pelana kuda dan bersiap pergi. Namun, Wu Xiao berhasil mencegahnya. "Pangeran Huang? Bagaimana Anda ... Anda bi-"


Pria di atas kuda itu adalah Pangeran Huang ia menatap dingin Wu Xiao. "Aku akan membawa A-Ying sebelum terlambat. Mereka juga mengincar adikku! Kamu minggir! Jangan halangi jalanku!"


Pangeran Huang mendorong Wu Xiao menjauh dan segera menembus asap hitam yang kini sedikit memudar itu. Memacu kudanya dengan kecepatan tinggi meninggalkan area pertarungan.


Wu Xiao masih belum percaya yang baru saja ia temui adalah Pangeran Huang. Namun, kali ini bukan Pangeran Huang yang sering ia lihat. Wajahnya kurus pucat, maniknya terlalu dingin dan tidak ada senyuman seperti yang dulu selalu ada di wajahnya.

__ADS_1


Wu Xiao tersadar dari lamunan dan kembali bertarung menghalangi beberapa Prajurit Bai Qing yang berusaha mengejar kuda Pangeran Huang.


TBC


__ADS_2