Flower Of War

Flower Of War
Chapter 28 : Kontes Menyulam


__ADS_3

Tak lama kereta Yiu sudah sampai di gerbang masuk pusat kota. Yiu turun dari keretanya sebelum berganti menaiki kuda yang sudah disiapkan oleh prajurit Pangeran Huang untuk dirinya.


Yiu memakai hanfu berwarna biru tua dengan tambahan jubah warna senada dan tambahan cadar untuk menutupi identitas.


Yiu segera memacu kudanya membelah hutan yang rindang di bawah sinar mentari bersama pengawal berkuda yang sedari tadi bersamanya menuju ke arah Istana.


Sesampainya mereka di samping tembok istana berwarna coklat muda yang menjulang tinggi beberapa prajurit memacu kudanya menuju pintu masuk istana untuk menjalankan rencana mereka sebelumnya, menyisakan Yiu dan dua prajurit disana yang menunggu sinyal selanjutnya dari mereka.


Sekitar satu pembakaran dupa, terdengar bunyi gong yang di pukul cukup keras berasal dari dalam istana sebanyak tiga kali yang menandakan bagi seluruh prajurit istana untuk berkumpul ke asal suara secepatnya.


Bunyi gong itu juga merupakan sinyal aman dari prajurit Pangeran Huang untuk Yiu menyelinap masuk ke dalam istana menuju paviliun miliknya.


Alasan para prajurit istana di kumpulkan adalah karena surat pemberitahuan pencarian seorang tahanan Balai Pengawasan di Nanjing yang kabur dari selnya dan di duga menyelinap masuk ke dalam Istana sebagai salah satu prajurit yang setiap hari memberikan laporan dari Balai Pengawasan ke Istana.


Tentu saja semua cerita ini hanya kebohongan belaka dan hanya sebagai pengalih perhatian prajurit agar Yiu bisa menyelinap ke dalam Istana, mengingat akhir-akhir ini Yiu sendiri yang mengatur keamanan istana agar lebih diperketat apalagi saat siang akan sangat mudah mengetahui jika ada penyusup masuk berbeda dengan malam hari yang biasanya sangat sulit mendeteksi musuh dengan pakaian gelap.


Dan jangan tanyakan lagi siapa pelaku di balik rencana gila ini lagi. Tentu saja pelakunya adalah Yiu dengan bantuan pasukan dari Pangeran Huang.


Setelah berhasil menyelinap masuk kedalam kamarnya, Yiu melihat seorang gadis dengan pakaian megah dan menggunakan cadar tengah tertidur di atas alas di samping ranjang miliknya.


Yiu berjalan mendekat ke arah gadis itu dan menggoyang sedikit bahu gadis itu untuk membangunkannya.


"Hei Chichi bangun, kenapa kau tidur di bawah. Hei ayo bangunlah hari sudah siang!"


Gadis mungil itu membuka matanya yang sedikit bengkak sebelum tersentak kaget saat melihat pemandangan pertama yang ia lihat.


"Ahh Putri? Putri kau sudah kembali? Apakah putri baik-baik saja? Kenapa Putri lama sekali kembali? Apa terjadi sesuatu pada anda, Putri?"


"Kau ini kenapa? Tidak bisakah kau bertanya satu-satu, kepalaku sangat pusing mendengarnya," ucapnya rendah dengan jari menyentuh pelipisnya berlagak seperti orang yang tengah sakit kepala.


"Aiyoo ... maafkan saya, Putri, anda pasti lelah setelah melakukan perjalanan kemari, mari saya bantu anda untuk beristirahat," ucap Chichi yang dengan cepat bangkit berdiri dan sedikit membungkuk untuk membantu Yiu duduk di ranjangnya.


"Apakah Putri ingin mandi untuk menghilangkan penat? Saya akan siapkan air hangat untuk anda," tanya Chichi yang sebenarnya tidak buub jawaban.


Belum sempat Chichi pergi selangkah untuk mempersiapkan air mandi untuk Yiu, tangannya sudah ditahan lebih dulu oleh Yiu.


"Kenapa kau tadi tidur di lantai? Kenapa matamu bengkak? Apa kau baru saja menangis?"


"Ee ... Saya tadi hanya merasa lelah saja jadi saya memutuskan untuk tidur sebentar, saya juga tidak sedang menangis," sanggah Chichi dengan nada tergagap sembari menundukkan kepala dalam, tak berani menatap manik tajam milik Yiu.


Yiu hafal betul bahasa tubuh gadis di depannya ini, jika Chichi menghindari kontak mata dengannya itu tandanya ia sedang berbohong.


Yiu, "Jika kau lelah kenapa kenapa kau tidur di bawah bukannya di ranjang?"


Chichi, "Karena itu adalah tempat tidur anda, Putri, saya tidak layak tidur di ranjang anda dan pakaian ini juga terlalu bagus untuk saya gunakan tidur di bawah alhasil saya tidur di alas lembut ini, Putri."


Yiu "Kau terlalu dramatis. Tempat tidur ya gunanya untuk tidur dan siapa saja boleh tidur disitu oh ayolah kau itu sudah seperti saudaraku sendiri jadi untuk apa merasa dirimu tak layak."

__ADS_1


Chichi menjawab dengan sedikit gemetar, "Saya hanya pelayan Putri saja sungguh sangat tak pantas bagi saya."


Yiu, "Baiklah baiklah lain kali jangan sampai terulang lagi hal seperti ini. Ah iya, kau masih belum jujur denganku tentang mata bengkakmu itu."


Chichi, "Sa-Saya khawatir dengan keselamatan anda, Putri, anda bilang jika anda akan pulang dalam 2 hari dan ini sudah hari keempat bagaimana saya tidak cemas apalagi Pangeran Xiao Ce juga datang kemari kemarin."


Yiu meninggikan suaranya, "Ha? Pangeran Xiao Ce datang? Lalu bagaimana? Apakah kau ketahuan? Aduh bisa di cincang habis tubuh malangku ini jika ketahuan."


Yiu nampak gelisah dalam duduknya, namun dengan cepat Chichi berlutut di depan Yiu dan memegang kedua tangan Yiu yang mengepal gelisah.


"Tenang saja, Putri, saya sudah membuat ramuan yang Putri buat untuk mengelabuhi tabib. Untung saya meminumnya beberapa jam sebelum Pangeran Xiao Ce datang, awalnya untuk berjaga-jaga tapi siapa sangka ternyata berguna juga karena Tabib melarang Pangeran menemui anda hingga hari itu."


Chichi tersenyum manis dan membuat Yiu yang mendengar penjelasan Chichi merasa lega.


"Kau memang saudaraku yang paling bisa diandalkan."


♣♦♣


Sore harinya.


Yiu tengah berjalan-jalan santai mengelilingi istana akibat bosan.


Sebelumnya, Yiu sudah bertemu dengan tabib istana untuk diperiksa dan akhirnya ia dinyatakan sembuh total bahkan membuat beberapa tabib pembantu menatap penuh rasa tak percaya dengan sembuhnya Sang Putri dari penyakitnya yang tergolong parah bagi mereka dalam sekejap.


Yiu berjalan menuju taman di dekat paviliun bangsawan wanita, ia ingin memakan buah apel langsung dari pohonnya.


"Putri Ying."


Sebuah suara bariton halus mengejutkan Yiu yang sudah memeluk pohon dengan satu kaki di angkat menapak ke pohon.


Sungguh pemandangan yang sangat tidak patut dilihat untuk standar seorang putri bangsawan.


Namun Yiu tetaplah Yiu yang akan bertindak semaunya dan berperilaku hampir menyerupai laki-laki dengan memanjat sebagai salah satu hobi yang akan ia lakukan jika ingin mencari angin sembari berteduh di musim panas yang terik ini.


"Kau sedang apa?"


Yiu kenal betul pemilik suara itu. Suara bariton penuh wibawa milik sang kakak, siapa lagi kalau bukan Pangeran Xiao Ce.


Aiyoo aku akan mati. Bunuh saja diriku aku sudah kehilangan muka! Masih dalam posisi bersiap memanjatnya, Yiu membatin dan merutuki kebodohannya yang membuat dirinya kehilangan muka dihadapan kakaknya.


Yiu memutar kepalanya perlahan sebelum menampilkan senyuman yang terkesan canggung lalu berbalik dan mencoba membenarkan pakaiannya yang kacau.


"Selamat sore, Pangeran, ada perlu apa anda mencari saya?" ucap Yiu seramah dan setenang mungkin sembari menunduk untuk mencoba membunuh perasaan malunya.


"Aku hanya ingin mengetahui keadaanmu saja karena tabib bilang kau sudah sembuh, benarkan?" tanya Pangeran Xiao Ce.


Yiu, "Aaa iya benar pangeran. Eee apa ada hal lain lagi, Pangeran?"

__ADS_1


Ayolah aku sudah kehilangan muka, aku ingin lari ke kamar. Ayolah biarkan aku pergi!


Pangeran Xiao Ce, "Ada, 2 minggu lagi akan ada pertandingan persahabatan antar kerajaan dan juga perayaan dengan berbagai macam pertunjukan di ibukota Fufeng."


Yiu, "Ee iya aku tahu, Chichi baru saja memberi tahuku, lalu?"


Pangeran Xiao Ce, "Kau akan mewakili Qiu Wang di kontes menyulam antar putri bangsawan dari kerajaan lainnya jadi persiapkan dirimu dan lakukan yang terbaik."


Yiu berteriak tanpa sadar, "Ah baiklah baiklah ... A-Apa?!!"


Yiu terpaku mendengar penyataan Pangeran Xiao Ce, ia merasa ada badai angin topan yang tiba-tiba datang menghampirinya dan mengobrak abrik hati dan pikirannya.


Pangeran Xiao Ce menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa? Bukankah kau sangat suka menyulam dan aku juga sudah melihat beberapa hasil sulamanmu, itu sangat bagus, Putri Ying."


Iya memang Putri Ying sangat berbakat dalam hal menyulam tapi aku sama sekali tidak! Aku bisa di angkat kesurga jika harus meniru sulaman dari Putri Ying!


"Aaa apakah tidak ada yang lain selain menyulam? Tanganku sekarang mudah kebas jika harus menahan papan sulam selama berjam-jam?" ucap Yiu mencoba mencari alasan apapun itu untuk tetap menjaga harga dirinya yang akan hancur jika orang lain tau kemampuannya dalam menyulam. Dia bahkan belum pernah menyulam seumur hidupnya!


Pangeran Xiao Ce mengernyitkan dahi sebentar lalu ekspresinya kembali setenang air, "Baiklah kalau begitu, aku dengar kau pandai dalam bermain guzheng sambil bernyayi? Baiklah, kau ikut kontes bermain alat musik saja, Putri Ying."


Wajah Pangeran Xiao Ce masih datar setenang air saat mengucapkan kalimat itu, berbeda dengan Yiu yang menatapnya dengan ekspresi tak percaya.


Itu akan jauh lebih membunuhku pangeran! Aku lebih baik bertarung dengan sepuluh naga buas daripada harus bernyanyi sambil bermain alat musik!


"Aaa ... kenapa tiba-tiba tubuhku mendadak sakit semua aahh dan kepalaku rasanya sangat sakit, mungkin penyakitku kambuh lagi, Pangeran, kalau begini saya dengan terpaksa tidak dapat mengikuti kontes itu Pangeran, maafkan aku," ucap Yiu.


Yiu tidak dapat berpikir jernih akibat rasa malu yang masih melingkupinya dan juga pernyataan Pangeran Xiao Ce sebelumnya menambah buyar seluruh ide beralasan Yiu.


Yang terlintas di pikirannya sekarang adalah membuat alasan klasik seperti seorang anak sekolah yang berpura pura sakit agar di ijinkan tak masuk sekolah.


Tangan Pangeran Xiao Ce tergerak membelai lembut rambut Yiu, "Aku tahu kau mungkin merasa malu dan takut akan diremehkan seperti tahun kemarin tapi ini adalah kesempatanmu untuk menunjukkan siapa dirimu sebenarnya dan bisa aku pastikan tidak akan ada yang berani meremehkan dirimu lagi dan juga Ayahanda akan disana untuk melihatmu. Kau pasti bisa!"


Yiu mengangkat kepalanya yang sebelumnya tertunduk, tersenyum kecut tapi lebih ke arah senyuman pasrah.


Sebenarnya ia ingin membujuk Pangeran Xiao Ce lagi agar ia hanya menjadi penonton saja tapi setelah melihat sekelebat harapan di manik milik kakaknya Yiu akhirnya memutuskan untuk mengurungkan niatnya dan menerima dengan pasrah.


Setelah pertemuan singkat dengan Pangeran Xiao Ce, Yiu sudah kehilangan hasratnya untuk memanjat pohon dan memetik apel yang merah matang di atas sana, memilih untuk kembali ke paviliun Dahlia untuk menenangkan pikirannya.


"Chichi cepat ambilkan peralatan menyulamku," ucap Yiu sembari melangkah mendudukan diri di kursi besar nan empuk dalam kamarnya.


Tak lama Chichi datang dengan membawa sebuah kotak hitam berukuran sedang dan sebuah kain yang sudah di jepit diantara bundaran kayu itu.


"Cepat ajari aku bagaimana caranya menyulam," titah Yiu.


"Ha?!"


TBC

__ADS_1


__ADS_2