Flower Of War

Flower Of War
Chapter 8 : Kesempatan Emas


__ADS_3

Kaisar, Permaisuri, dan Putra Mahkota melangkahkan kaki masuk kedalam kamar Putri Ying.


Yiu sedang menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, ia berpura pura melamun dan tidak menyadari kehadiran orang tua dan kakaknya.


Sebenarnya ia hanya malas saja untuk berdiri dan memberi salam kepada mereka, dan otaknya sedang berpikir keras menebak pertanyaan apa yang akan ditanyakan mereka sekaligus mencari jawaban yang tepat.


"Ying kau kenapa nak? Apa kau sakit? Wajahmu sedikit pucat" Permaisuri menghampiri Yiu yang masih berakting sedang melamun dan wajahnya sedikit dibuat lesu dan lelah.


Ya, kini cara yang ada dipikiran Yiu agar terhindar dari ceramah, omelan, nasehat, hukuman, ancaman, dan serangkaian pertanyaaan yang akan membuat Yiu pusing adalah dengan cara berpura pura sakit, dengan begitu dia akan disuruh beristirahat dikamar.


Yiu menoleh lemah kearah ibundanya, "Ah.. Aku tidak kenapa kenapa ibunda dan aku juga tidak sedang sakit" Yiu mulai melancarkan akting masuk angin namun sok kuat ala dirinya.


"Kau nampak pucat Putri Ying lebih baik kau istirahat sekarang, kau berhutang penjelasan pada kami tentang hilangnya dirimu kemarin Putri Ying dan kau bisa menjelaskannya setelah kau sembuh"


Kaisar berucap lembut namun dengan ekspresi datar, setelah kejadian yang menimpa Putri Ying beberapa minggu yang lalu sikap sang Kaisar sedikit berubah dari yang sebelumnya dingin dan acuh tak acuh sekarang menjadi sedikit lebih lembut pada Ying.


"Tidak perlu Ayahanda, saya tidak sedang sakit dan ini mungkin karena saya sedikit lelah dan kurang tidur"


Kaisar masih dengan wajah datarnya. "Sekarang istirahatlah, biar Permaisuri yang menemanimu agar kau cepat sembuh dan ingat kau masih berhutang penjelasan pada Ayahanda, sekarang Ayah dan kakakmu sedang ada urusan jadi tidak bisa lama lama, cepat sembuh putriku" Kaisar mengusap lembut rambut Yiu dan melangkah keluar pavilium diikuti Putra Mahkota.


Putra Mahkota bahkan tak bertanya kabarnya atau setidaknya menyuruhnya istirahat, dia pergi begitu saja tanpa berucap sepatah katapun dan hanya berdiri memandang Yiu nyaris tanpa ekspresi. Chi chi benar jika dia memang orang yang sangat dingin bahkan melebihi Ayahandanya sendiri!.


Sungguh kakak yang menyebalkan.


Sekarang dikamar Putri Ying hanya tinggal Yiu alias Putri Ying, Permaisuri, dan 3 orang pelayan.


"Sekarang kau harus makan terlebih dahulu kau pasti belum makan bukan?" tanya Permaisuri penuh perhatian yang diangguki Yiu.


Pelayan memberikan sup hangat kepada Yiu, dengan lahap Yiu menghabiskan sup itu.


"Sekarang kau minum ramuan dari tabib Ming agar kau cepat sembuh"


Permaisuri menyodorkan cairan kental berwarna hijau pekat hampir terlihat seperti berwarna hitam yang berada dimangkuk kecil dengan bau tanaman obat rebus yang begitu menusuk hidung.


Apa apaan ini?! Itu obat atau racun hah?! Apakah tabib tak tau diri itu ingin membunuhku dengan membuatkan cairan menjijikan ini?! Dewa tolong selamatkan aku..


Yiu nampak diam menatap tajam kearah mangkuk kecil yang berada digenggaman Permaisuri.


"Ibunda sepertinya saya sudah sehat jadi saya tidak perlu meminum ramuan ini ibunda" ucap Yiu disertai gelengan kecil.


"Tidak Ying kau harus minum ini agar kau tetap sehat" Permaisuri tetap kekeh memberikan ramuan hitam itu pada Yiu.


Oke Yiu berpikirlah agar kau terhindar dari racun siialan ini. Yiu nampak berpikir keras.


"Baiklah ibunda aku meminumnya, tapi bisakah ibunda mengambilkan aku kotak kecil di meja itu ibunda? Aku ingin menunjukan sesuatu padamu dan hanya ibunda yang boleh menyentuhnya selain diriku"


Yiu berkata dengan memberikan senyuman manis sembari menunjuk meja kecil yang berada dipojok ruangan.


Permaisuri mengangguk lalu memberikan ramuan itu ke Yiu dan berjalan kearah meja itu untuk mengambil kotak kecil yang dimaksud Yiu.


Tepat saat Permaisuri bangkit dari duduknya dan membelakangi Yiu, segera mengambil kain lap yang berada dinampan yang dipegang Chi chi.

__ADS_1


Dengan cepat ia menuangkan ramuan itu ke kain lap dan menaruh kain itu dikolong ranjangnya sembari memberikan pelototan kearah Chi chi dan dua pelayan dibelakangnya sebagai isyarat untuk tetap diam dan tak bicara apapun, Chi chi sempat terkejut dan ingin mencegah namun akhirnya hanya menunduk pasrah.


Yiu menaruh mangkuk itu dimulutnya saat Permaisuri berjalan kearah ranjang, ia berlagat seakan ia telah meminum habis ramuan itu.


"Sebenarnya apa isi dari kotak ini Ying?"


Tanpa curiga permaisuri bertanya sembari mendudukan diri diranjang Yiu lalu mengambil mangkuk yang dipegang Yiu dan meletakkannya kembali dinampan, Permaisuri mengira Yiu sudah meminum ramuan dari tabib Ming.


Sebenarnya Yiu menyuruh Permaisuri mengambil kotak itu hanya akal akalannya saja agar ia terhindar dari yang namanya ramuan racun tabib Ming.


Terkadang kau cerdik juga haha..


"Eeee... Itu isinya hadiah dariku untuk ibunda, aku yang membuatnya sendiri" bohong Yiu.


Kotak itu berisi hiasan rambut yang sempat ia beli dipasar malam kemarin, Yiu hanya tertarik dengan hiasan rambut berwarna biru langit dengan sedikit permata hijau menambah kesan elegan.


Ia merasa jika dirinya membeli hiasan ini suatu saat hiasan ini akan berguna dan ternyata dugaannya benar sekarang.


"Sungguh? Wahh Ying kau anak yang baik hati terimakasih putriku" Permaisuri sangat senang dengan hadiah Yiu dan mendekap kotak itu didadanya. Yiu hanya menunjukan senyum manis tanpa berniat membalas.


"Ah iya karena kau sudah selesai minum ramuannya sekarang kau istirahat, ibunda ada urusan yang harus diurus juga. Pelayan tolong awasi dan layani Putri Ying dengan benar" seakan lupa dengan niatan menanyakan kemana putrinya hilang semalam Permaisuri malah menyuruhnya tidur.


Keduanya menggangguk patuh kepada permaisuri yang berjalan keluar menuju pintu kamar Yiu. Karna lelah Yiu memilih untuk tidur sejenak.


♣♦♣


Matahari telah berada diatas kepala, udara semakin menghangat karena sinarnya membuat seorang Yiu yang tengah tertidur nyenyak harus mengalami sumuk parah akibat udara yang semakin panas.


Yiu terbangun dari tidurnya dengan tubuh berkeringat.


Yiu menggerutu sembari mengibas kibaskan kain lengannya didepan wajahnya. Tak lama Chi chi datang setelah mendengar ocehan Yiu dari luar.


"Apakah Putri menginginkan sesuatu?" ucap Chi chi sembari menunduk hormat.


"Temani aku berkeliling istana aku ingin mencari angin sejuk disini sangat panas, aku bisa mati kepanasan jika begini terus"


"Sesuai perintah anda Putri"


Sekarang Yiu dan Chi chi sedang berada digazebo dekat taman istana, Yiu duduk santai sembari menikmati angin yang bertiup.


Dari kejauhan nampak Pangeran Huang yang juga tengah berkeliling setelah melihat keberadaan Putri Ying ia segera menuju ketempat adiknya itu.


Chi chi menunduk hormat saat Pangeran Huang mendekat kearah gazebo dan sekarang telah berada disamping Yiu yang tengah melamun entah apa yang ia lamunkan.


"Kalau sedang sakit lebih baik istirahat dipaviliummu Putri Ying"


Suara Pangeran Huang mengejutkan Yiu namun dengan cepat Yiu merubah ekspresi wajahnya.


"Ada perlu apa Pangeran datang kemari?" tanya Yiu malas tanpa menoleh kearah Pangeran Huang.


"Aku hanya ingin menyampaikan undangan jamuan pesta perayaan 35 tahun pemerintahan Kaisar Wu Zhang padamu, apa kau ingin ikut?"

__ADS_1


Yiu diam pandangannya masih tertuju pada taman didepannya dalam hati ia menimang perkataan Pangeran Huang.


Jujur Yiu penasaran bagaimana sebuah pesta yang diadakan pada masa lalu apakah mereka juga akan memainkan musik tradisional yang beralunan rock atau EDM seperti diklub malam dimasa depan? yahh bisa saja bukan.


"Ku kira kau akan bersemangat menghadiri pesta seperti ini, ada apa dengan dirimu Putri Ying?" Pangeran tampak heran setelah melihat tidak ada wajah bahagia seperti dulu saat Ying diajak menghadiri pesta.


"Apa saja kegiatan dipesta itu?" Yiu mulai tertarik dengan undangan dari sang kaisar.


"Disana akan ada festival lampion, jamuan makan malam kerajaan, pertunjukan seni, untuk putri bangsawan akan ada minum teh bersama dan untuk pangeran akan ada ajang pertarungan pedang dan memanah antar pangeran"


Yiu tersenyum dan sekarang ia sangat bersemangat ingin pergi ke pesta tersebut, bukan karena ingin menghadiri minum teh bersama para putri bangsawan melainkan ia ingin mengikuti pertarungan antar pangeran.


Tapi tunggu, akan sangat berisiko untuk menyamar sebagai pangeran jika disana juga ada Pangeran Huang dan pastinya Pangeran Xiao Ce juga. Yiu tampak berpikir keras untuk menemukan cara menyamar yang tepat.


"Lalu bagaimana dengan pesta untuk para prajurit?"


"Mereka juga akan mengadakan pertandingan pedang memanah maupun bertarung tetapi ditempat terpisah dari para bangsawan, mungkin menjadi satu dengan para rakyat diacara festival lampion nanti"


Pangeran Huang sedikit merasa aneh dengan pertanyaan adiknya itu namun ia bersikap bodo amat setidaknya adiknya itu tidak merasa tersiksa berada dilingkungan istana terus menerus.


Kesempatan Emas Yiu jangan kau sia siakan.


"Baiklah aku akan ikut denganmu Pangeran, kapan kita akan berangkat? Berapa hari kita disana? Dan berapa lama perjalanan dari sini ke Kerajaan milik Kaisar Wu Zhang?" tanya Yiu penasaran.


"Kau bersemangat sekali rupanya. Kita berangkat 2 hari lagi jadi bersiaplah adikku yang cerewet" Huang mengacak acak rambut Yiu gemas sampai membuat sanggul dikepalanya berantakan.


Pangeran Huang berdiri dan kembali berjalan menuju aula istana meninggalkan Yiu yang masih terdiam ditempat namun sesaat kemudian Yiu berteriak marah karena merusak tatanan rambutnya.


♣♦♣


Keesokan harinya, Yiu yang sedang duduk didahan pohon apel sembari memakan apel yang dipetiknya. Yiu nampak menikmati apel itu sembari memandangi lingkungan istana dari atas pohon sesekali ia melamunkan tentang kerinduannya dengan masa depan.


Suara chi chi yang memanggilnya dari bawah mengembalikan kesadarannya.


"Putri kenapa anda bisa diatas sana? Apa sesuatu terjadi pada anda putri?.. Saya mencari anda sedari tadi putri, kurir yang membawa pesanan anda telah tiba dan sekarang berada didepan gerbang istana, Putri"


Chi chi yang awalnya khawatir saat melihat sang putri berada diatas pohon mulai sadar jika sekarang perilaku sang putri sedikit mirip dengan laki laki.


"Biarkan mereka masuk sampai ke pintu paviliumku" titah Yiu yang diangguki oleh Chi chi.


Yiu melompat turun dari atas pohon dan membenarkan pakaiannya yang sedikit berantakan sembari menunggu kurir itu sampai didepan paviliumnya.


Saat kurir itu sampai dan menyerahkan pesanannya lalu Yiu membayarnya dan menyuruh Chi chi membawanya sampai ke ruang kerjanya, dengan tak sabar Yiu membuka kotak berisi senjata pesanannya itu.


Pesanannya memang belum dirakit jadi Yiu sendirilah yang akan merakit pistol dan shotgun itu. Setelah selesai, Yiu memasang peredam suara buatannya sendiri ke senapan dan pistolnya beserta amunisinya.


Yiu membawa senjatanya ketaman dipaviliumnya dan menguji coba senapannya itu.


Yiu mengeluarkan smirknya.


Dengan begini aku akan tenang jika ada musuh yang menyerang.

__ADS_1


TBC


Terima kasih atas vote like dan komennya😊


__ADS_2