
Tantangan untuk babak tambahan telah selesai dipersiapkan.
Tiga target berjejer sejajar dengan jarak yang lebih jauh dan ukuran target yang dua kali lipat lebih besar dari babak sebelumnya.
"Tantangan untuk babak tambahan adalah memanah tiga target secara bersamaan dengan satu kali kesempatan menembak."
Para bangsawan sedikit riuh membuat riak dalam gelombang pasang melihat tantangan kali ini karena menganggap tantangan kali ini sangat mustahil untuk seseorang lakukan dengan sangat sempurna, bahkan jika panahnya dapat menancap di tiga target entah di lingkaran nomor berapapun itu sudah merupakan pencapaian yang luar biasa.
Yiu menoleh singkat ke arah Pangeran Ming ZiJing dan menyunggingkan senyum tipis seperti berusaha menyemangati Pangeran Ming ZiJing agar berusaha sekuat tenaga.
Pangeran Ming ZiJing hanya meliriknya sedikit dengan manik elangnya dan kembali fokus ke depan dengan raut wajah datar dan tanpa ekspresi.
"Huh sombong sekali! Tapi kenapa dia terlihat sangat membenciku padahal aku hanya ingin berteman dengannya. Apa dulu Putri Ying pernah membuat kesalahan padanya? Tapi kenapa aku tak dapat mengingat apapun? Ah sudahlah aku terlalu banyak berpikir." Yiu berbicara dengan diri sendiri dengan suara lirih yang hanya dapat di dengar dirinya sendiri.
"Putri Ying sekarang adalah giliran anda." Jendral Meng Yao manatap ke arah Yiu dan dibalas dengan anggukan mantab dari Yiu sembari berjalan memposisikan dirinya.
Sebelum Yiu mengambil tiga panah sekaligus dari tangan prajuritnya ia malah menyerahkan busur yang selama pertandingan ini ia bawa kepada prajuritnya dan melepas kain hitam yang terlilit di lengan kirinya.
Kemudian mengikat kain itu menutupi kedua matanya yang seindah rembulan di malam tanpa bintang yang meneduhkan hati dan membuat barisan prajurit dan para bangsawan kembali heboh dengan tindakannya kali ini.
"Apa dia bercanda?!"
"Membidik dua target secara bersamaan dengan mata telanjang saja sudah begitu sulit untuk mengenai tengah sasaran bagaimana mungkin ia dengan mata tertutup kain seperti itu membidik secara tepat ke arah tiga target secara bersamaan?!"
"Benar-benar berniat mempermalukan diri."
"Kita lihat saja apakah dia memang benar ingin membunuh dirinya sendiri jika ia gagal, maka kita bisa menganggapnya terlalu sombong."
Suasana pertandingan semakin memanas ditambah dengan terik matahari yang semakin meninggi membuat setiap orang berkeringat panas dingin melihat jalannya pertandingan.
Yiu mengambil busur dan ketiga anak panahnya lagi, kemudian mendatarkan busurnya dan mulai memposisikan ketiga anak panah di tangannya di atas busur dengan jarak kelima jemari lentiknya sebelum mulai menariknya.
Yiu tiba-tiba menendang kerikil yang berada dibawah kakinya, Chichi yang melihat itu segera memberi instruksi lanjutan pada ketiga prajurit yang memegang ketapel dan kerikil di kedua tangan mereka, bersiap menembak dari arah belakang target.
Dengan bunyi 'tuk' yang begitu nyaring dan lemah membuat banyak pasang mata yang sedang diam terfokus pada Yiu tak menyadari itu sedikitpun.
__ADS_1
Bunyi itu membantu Yiu untuk menentukan posisi target dan menembak secara bersamaan. Yiu mundur selangkah, bersiap menembak.
Mengandalkan pendengarannya Yiu mencoba fokus dan pada arah angin yang membimbingnya untuk menentukan posisi ketiga target dan dengan penuh keyakinan ketiga panah Yiu melesat terbang cepat menuju ke arah yang berbeda.
Wushhh ...
Suasana masih begitu hening dan kali ini Yiu meneguhkan hatinya untuk tidak akan membuka penutup matanya sebelum mendengar seseorang berbicara.
Tak berselang lama, suara tepuk tangan dan sorakan selamat yang begitu keras bahkan hampir memekakkan telinganya memenuhi pendengarannya.
Yiu berbalik kemudian berjalan kembali ketempatnya bersamaan dengan ia melepaskan kedua penutup matanya tanpa merasa perlu melihat hasil dari bidikannya.
Saat tak sengaja melihat raut wajah kedua kakaknya yang berdiri tak jauh dibelakangnya dengan beberapa barisan prajurit dibelakang mereka, raut wajah mereka berdua dipenuhi dengan keterkejutan yang sulit diartikan, ekspresi yang cukup rumit bagi Yiu pahami emosi apa yang tengah mereka rasakan.
Yiu hanya tersenyum kecil dan mengangguk singkat ke arah keduanya dan kemudian membalik badannya ke arah depan seperti posisi sebelumnya.
Yiu sempat menoleh sedikit menatap Pangeran Ming ZiJing yang beberapa waktu lalu sempat membuat Yiu berpikir ingin berteman dengannya, tapi untuk sekarang Yiu ingin melihat bagaimana reaksinya setelah melihat hasil dari panah Yiu walau hasil yang ia ingin dapatkan adalah nihil, Pangeran Ming ZiJing sama sekali tak mengubah raut wajahnya sedikitpun ia tetap dingin dan misterius.
Dibarisan peserta pertandingan, Pangeran Huang terus menatap Yiu yang sudah membelakanginya dengan tatapan penuh ketidak percayaan dan akhirnya berbisik rendah ke arah Pangeran Xiao Ce.
"Apakah dia se-'mengerikan' itu, Pangeran? Kenapa aku belum pernah melihat bakat surgawinya yang begitu mengerikan bahkan melebihi diriku! Dia bahkan bisa menembak tepat sasaran ditiga target itu dengan menutup matanya?! ... apakah dia benar-benar manusia atau monster?"
Pangeran Huang yang mendengar jawaban itupun menatap Pangeran Xiao Ce dengan tatapan malas dan menghela nafas layaknya seseorang yang tengah mencoba bersabar, "Kalau itu tentu saja aku mengerti, kau selalu seperti itu, Ge. Terlalu menyayangi meimei-mu sampai didi-mu sendiri kau abaikan."
Pangeran Xiao Ce balik menatap Pangeran Huang dengan manik elang miliknya dengan sebelah alis yang terangkat.
"Ahhh baiklah baiklah aku mengaku salah baiklah kau selalu benar, Ge," jawab Pangeran Huang dengan kepala sedikit mengangguk beberapa kali lalu memutar bola mata malas sebelum mengalihkan pandangannya ke arah depan.
Kini adalah giliran Pangeran Ming ZiJing untuk menebak target dan ia sudah bersiap mengambil ketiga anak panah dan mulai menariknya.
Ketiga anak panah melesat bersamaan dari busurnya dan keempat anak panahnya menancap sempurna dititik tengah target, hanya saja anak panah terakhir milik Pangeran Ming Zingji manancap di lingkaran nomor dua dari pusatnya.
Dengan hasil ini pemenangnya sudah dapat terlihat siapakah pemenang pertandingan memanah kali ini.
"Jadi ... Selamat kepada Putri Ying dari Kerajaan Qiu Wang yang telah memenangkan pertanding memanah hari ini selamat selamat," Jendral Meng Yao memberikan selamat sembari membungkukan badannya diikuti sorak tepuk tangan dari seluruh bangsawan yang menonton dan teriakan selamat dari para prajurit kerajaannya.
__ADS_1
"Harus saya akui Putri Ying memang memiliki bakat surgawi yang terlalu mencengangkan Kaisar Wang, anda sungguh beruntung diberkati para dewa langit dengan memiliki putri seperti Putri Ying dengan kedua Pangeran yang juga sangat berbakat baik di bidang taktik perang maupun masalah kerajaan."
Kaisar Ming yang berada di samping kanan Kaisar Wang memuji Yiu dan kedua pangeran Qiu Wang dengan penuh senyum penuh rasa bangga di wajahnya.
"Yahh saya juga merasa entah perbuatan mulia seperti apa yang saya lakukan dikehidupan sebelumnya sehingga mendapatkan berkat dewa seistimewa ini."
Kaisar Wang tersenyum bangga lalu menghela nafas seolah tak percaya dengan kenyataan ini kemudian mengangkat cangkir arak didepannya dan mengarahkannya ke arah Kaisar Ming berniat mengajaknya bersulang.
♣♦♣
Kini setelah jeda istirahat selama 2 Ke (30 menit), giliran pertarungan pedang yang diselenggarakan disebuah tempat dengan empat menara duduk bertingkat tiga yang mengelilingi sebuah tempat kosong berbentuk persegi ditengahnya sebagai arena bertanding.
Seluruh bangsawan baik itu Kaisar sampai para putri kerajaan sudah duduk ditingkatan menara mereka masing-masing yang dimulai dari tingkatan pertama untuk para Kaisar dan Permaisuri masing masing kerajaan dan dibawahnya untuk para pangeran dan putri kerajaan dan tingkatan terakhir untuk bangsawan setingkat menteri atau jendral.
Yiu duduk bersama dengan para putri kerajaan lainnya ditingkatan kedua karena peraturan kerajaan yang mengharuskan pria dan wanita untuk duduk di menara yang berbeda termasuk kaisar dan permaisuri sekalipun.
Yiu yang masih memakai pakaian bertarungnya duduk dengan posisi tegak dan dagu sedikit terangkat terlihat seperti seorang pendekar surgawi yang agung tengah duduk anggun disana dengan wajah secerah matahari nan selembut kelopak bunga peony dan manik setajam elang yang mampu membuat orang sekitar terpana oleh aura dingin yang khas milikinya.
Para putri kerajaan yang sebelumnya dengan terang-terangan maupun dari balik punggung menertawakan bahkan mengejeknya sekarang berubah drastis menjadi bersikap lembut dan tersenyum ramah saat tak sengaja manik mereka bertemu pandang dengan manik Yiu namun segera mengalihkan pandangan dengan raut wajah sedikit menegang.
Namun Yiu tak memperdulikan mereka sama sekali beserta dengan senyuman palsu mereka yang mana malah membuatnya semakin ingin memuntahkan seluruh isi perutnya.
Yiu kembali dengan pandangan lurus dan raut wajah sedingin es sembari menyeruput teh hangatnya menunggu pertandingan yang akan segera dimulai. Sesaat kemudian terbesit sedikit pikiran tentang akan menganti pakaiannya menjadi layaknya seorang putri kembali seperti sebelumnya.
Toh saat ini dia tidak memiliki kegiatan lain selain hanya melihat pertandingan berpedang dan mendukung satu-satunya wakil dari QiuWang, siapa lagi kalau bukan Pangeran Xiao Ce.
Karena statusnya yang merupakan putra mahkota sehingga tidak sepatutnya sebagai seorang adik sekaligus putri kerajaan QiuWang menjadi lawan dari penerus kerajaan seperti Pangeran Xiao Ce.
Setelah menghabiskan tegukan terakhir di cangkirnya, Yiu bersiap bangkit untuk mengganti pakaiannya Kan tetapi maniknya lebih dulu menangkap sosok Pangeran Xiao Ce yang juga bangkit dari duduknya di menara seberang membuat Yiu menghentikan gerakannya dan memfokuskan pandangan kepada Pangeran Xiao Ce.
Yiu melihat Pangeran Xiao Ce beranjak dari tempatnya kemudian membungkuk memberi salam kearah Ayah dan Ibunya kemudian beralih memberi salam kearah Kaisar Feng Lan dan Permaisuri Hua Ji sebelum pergi meninggalkan aula istana.
Masih dengan menatap kepergian Pangeran Xiao Ce sembari memperbaiki posisi duduknya seperti semula, Yiu bergumam lirih, "Kemana perginya Xiao GeGe? Bukankah pertandingan sebentar lagi akan dimulai kenapa malah pergi begitu saja?! Apakah telah terjadi sesuatu yang penting?"
Tak lama kemudian, suara dengungan gong besar terdengar hingga seluruh penjuru aula yang nyaris ikut bergetar karenanya sebagai tanda pertandingan berpedang akan segera dimulai dan tepat setelah gong berhenti bergema Chichi entah sejak kapan sudah berlutut di belakangnya dan membisikan sesuatu di telinganya.
__ADS_1
"Putri bersiaplah, Kaisar Wang memberikan titah untuk anda menggantikan posisi Pangeran Mahkota dipertandingan kali ini. Selamat Berjuang Putri!"
TBC