
Yiu melangkah beriringan dengan Pangeran Huang dan Pangeran Liu Yu di sisi kanan kirinya.
Selangkah memasuki aula istana, Liu Yu berbisik pelan di telinga Yiu, "Selamat datang di rumah, Permaisuri Ying."
Yiu tentu saja hanya menunjukkan senyuman manis yang terkesan di buat-buat, tidak mungkin bukan dia meninju Si Sialan Liu Yu di depan rakyat dan keluarganya? Yah walaupun Yiu sangat ingin melakukannya.
Ketiganya berdiri di tingkatan pertama kemudian memberi hormat kepada Kaisar Liu Xun dan Permaisuri Yan Shi.
"Selamat datang di BaiQing Liu, Pangeran Huang, Putri Ying dan Pangeran Liu Yu. Bagaimana perjalanan kalian apakah ada kendala?" Kaisar Liu Xun berbicara. Ia terlihat penuh wibawa di bawah pakaian hitamnya yang terbuat dari sutra terbaik dengan sulaman benang emas membentuk lukisan burung phoenix yang terlihat begitu gagah nan glamour.
Permaisuri Yan Shi pun tak kalah menawan dengan pakaian kuning keemasan dengan hiasan rambut khas permaisuri penuh kilauan membuatnya terlihat seperti bunga mekar di musim semi, indah dipandang.
"Tidak ada kendala berarti selama perjalanan, Yang Mulia. Dan terima kasih karena telah menyambut kami."
"Ahaha itu sudah menjadi tradisi Kerajaan untuk memuliakan tamu agung kami ... ah kalian silahkan duduk, kita akan mengadakan jamuan atas kedatangan kalian. Silahkan silahkan."
Ketiganya bergerak menaiki tangga menuju meja kosong di barisan depan tingkatan pertama, perjamuan kali ini berlangsung hingga beberapa jam dengan beberapa obrolan ringan serta pertunjukan tarian yang mengisi.
Hari telah gelap, Yiu sudah berada di kamarnya yang terbilang cukup luas bernuansa tak jauh dari nuansa kuning disertai beberapa corak warna putih gading.
Karena terlalu lelah setelah perjalanan jauh dan di tambah dengan acara perjamuan tadi membuat Yiu dengan cepat memasuki alam mimpi.
Keesokan paginya, Yiu sedang melangkahkan kaki rampingnya keluar kamar untuk berkeliling dengan dipandu pelayan wanita BaiQing menuju taman belakang istana bersama dengan Pangeran Huang, mereka akhirnya menghentikan langkah di tengah hamparan air kehijauan yang mengenang begitu tenang, berdiri di atas jembatan kayu bercat merah yang melengkung indah di atas kolam teratai.
Seharusnya saat ini mereka membahas tentang persiapan pernikahan Yiu dan Liu Yiu dengan Kaisar Liu Xun akan tetapi sekarang Kaisar Liu Xun sedang memiliki kepentingan mendadak yang tidak bisa ditunda dan beliau telah meninggalkan istana sejak tengah malam.
"Bagaimana kabar DaGe di QiuWang ya, Ge? Apakah dia tidak kesepian karena ditinggal oleh kedua adiknya yang mempesona dan seorang teman yang takut jarum akupuntur?"
Pangeran Huang tersenyum jahil, "Aihh ini baru tiga hari semenjak kau pergi dari istana dan kau sudah rindu DaGe? Hmm sejak kapan kucing kecilku ini bisa merindukan seseorang?"
Yiu menoleh malas ke arah Pangeran Huang yang tengah mengacak-acak rambutnya tanpa dosa, memberinya sinyal jika dia sedang malas untuk membunuh orang untuk saat ini.
"Aku hanya penasaran bagaimana wajah DaGe saat di tinggal sendirian di istana, sepertinya dia akan diam-diam mengerutu sembari mengutuk kita karena meninggalkan dia sendirian di Ibukota. Gege yang malang."
"Mana mungkin dia akan kesepian. DaGe orang yang pendiam dan sangat menyukai bahkan mungkin berjodoh dengan kesendirian. Jadi, sebaliknya dia malah akan merasa teramat senang jika kita pergi dan tidak menganggunya."
Dalam hati Yiu juga menyetujui ucapan Pangeran Huang, memang kakak minim ekspresinya itu sangat pendiam dan menyukai ketenangan.
Tiba-tiba keduanya melihat beberapa pelayan yang membentuk setengah lingkaran kecil dengan punggung menghadap keduanya saling berbicara satu sama lain dengan suara yang terdengar cukup lirih di sudut taman, raut wajah mereka semua terlihat panik dan nada lirih itu begitu serius.
"Ada apa dengan mereka ge?"
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu,bagaimana kalau kita ke sana melihat-lihat?" Yiu mengangguk.
Keduanya berjalan melewati jembatan menuju ke sudut taman istana tempat beberapa pelayan yang entah sedang bergosip atau sedang berdiskusi itu, mereka sama sekali tidak menyadari kedatangan Yiu dan Pangeran Huang di sekitar mereka, terlalu sibuk dengan berita panas mereka.
"Apa yang sedang kalian bicarakan? Apa terjadi masalah?"
Kumpulan pelayan yang berjumlah empat orang itu terlonjak kaget bersamaan. Dengan wajah tertunduk dalam, salah satu dari mereka akhirnya bersuara dengan nada gemetar, "Eee tidak terjadi apa-apa, Yang Mulia. Kami hanya sedang mengobrol biasa, tolong maafkan kelacangan kami, Yang Mulia."
Keduanya tak langsung percaya, merasa bahwa ekspresi seperti itu bukan hanya ekspresi takut yang biasa.
"Sungguh? Ada yang sedang kalian sembunyikan dari kami, jujurlah." Yiu mengambil giliran bersuara. Wajah keempat pelayan semakin menunduk serta kehilangan warna di wajah mereka.
"Hanya permasalahan kecil antara pelayan, Yang Mulia, bukan masalah serius. Ah matahari semakin naik, kami harus segera menyiapkan makan siang untuk Yang Mulia Pangeran dan Putri, kami permisi." Keempat pelayan itu bergegas undur diri dengan langkah tergesa-gesa salah satunya bahkan nyaris tersandung ujung pakaiannya. Yiu merasa ada sesuatu yang aneh sedang terjadi.
"Sudahlah tidak usah dipikirkan, mungkin ini urusan pribadi Kerajaan BaiQing sebaiknya kita tidak ikut campur. Kau mau kemana akan gege temani."
Semoga perasaanku hanya sekedar perasaan saja.
Tepat sebelum keduanya ingin kembali menuju taman, siluet Pangeran Liu Yu bergerak ke arah keduanya dari kejauhan. Wajahnya tampak berseri seperti biasanya, "Kalian di sini rupanya ... aku sudah mencari kalian sejak tadi. Kaisar sudah kembali dan dia ingin kita segera menemuinya. Ayo!"
Tangan Pangeran Liu Yu segera meraih dan menarik kencang tangan Yiu sedikit berlari meninggalkan Pangeran Huang yang masih cengo di belakang.
Sesampainya di ruang kerja Kaisar Liu Yu, ketiganya segera masuk dan berlutut hormat pada Kaisar yang duduk dikursi kebesarannya.
"Ada sesuatu yang sangat penting untukku bicarakan dengan kalian bertiga," wajah Kaisar Liu Xun terlihat serius.
"Silahkan beritahu kami, Yang Mulia."
"Kemarin malam aku mendapatkan kabar jika Kerajaan LingJian Mo menuduh BaiQing Liu melanggar perjanjian dan juga menuduh kita membunuh adik kekaisaran LingJian Mo di perbatasan kota Wei dan memutuskan untuk berperang dengan BaiQing Liu. Mendengar itu aku segera pergi untuk berdiskusi dengan Kaisar Mo ShenLi tapi gagal dan sekarang mereka telah mengirim pasukan ke daerah perbatasan kedua negara untuk berperang."
"Dan ... kalian seharusnya sudah mengerti alasan aku memanggil kalian kemari .... Maafkan aku tapi kalian berdua sepertinya harus kembali ke QiuWang karena situasi sedang genting dan juga perang ini terlalu mendadak. Pasukan dan senjata yang BaiQing miliki tidak sepenuhnya siap dan ..."
"Qiu Wang bersedia memberi bantuan untuk BaiQing Liu, Yang Mulia." Pangeran Huang tiba-tiba berujar tegas dengan kedua tangan menangkup ke depan. Ia kembali melanjutkan, "Saya akan kembali ke Qiu Wang dan menyampaikan berita ini kepada ayah saya dan kembali kemari membawa bantuan."
"Anda sungguh murah hati, Pangeran. Aku akan dengan senang hati menerima bantuan kalian."
"Lalu bagaimana denganku, Pangeran?" Yiu yang sejak tadi hanya menyimak diam membuka suaranya.
"Putri Ying, anda bisa kembali bersama Pangeran Huang ke Qiu Wang dan dapat kembali kemari lagi setelah perang usai."
"Yang di katakan Pangeran Liu Yu ada benarnya, A-Ying. Kembalilah bersamaku agar kau aman."
__ADS_1
Yiu tak habis pikir, mereka ingin dia kembali lalu ditinggal sendirian dengan rasa cemas yang tak berujung dan tak berbuat apapun, begitukah?
"Mohon ijinkan hamba ikut berperang, Yang Mulia. Hamba sedikit banyak mengerti strategi perang dan menguasai gerakan berpedang, Yang Mulia." Kali ini giliran Yiu yang menangkupkan kedua tangannya, kedua pria di samping Yiu memancarkan wajah penuh keterkejutan.
"Tidak, Putri! Anda harus tetap aman! Ku mohon jangan membahayakan nyawa anda sendiri, Putri. Perang ini bukan ajang main-main ini menyangkut hidup dan mati! Sangat berbahaya!"
"Tidak bisa, A-Ying! Kamu perempuan! Kamu tidak seharusnya ikut berperang! Kembalilah denganku ke istana dan aku janji akan pulang dengan selamat, A-Ying .... Kumohon jangan membuatku takut."
Jika ini adalah kehidupan sebelumnya dan yang berbicara bukanlah kakaknya maka pasti Yiu akan bereaksi mengerikan mendengar kata penuh diskriminasi perempuan yang terkesan menganggap seolah-olah perempuan tidak berdaya dan membuat keputusan menggunakan hati bukan akal sehat.
Namun, sekarang situasi telah berubah. Pria yang berbicara itu adalah kakaknya, nada bicara serta kalimat akhir yang ia ucapkan semuanya mengandung makna rasa kekhawatiran akan seseorang. Membuat hati Yiu menghangat seiring dengan senyuman hangat yang juga terpancar untuk beberapa saat sebelum berkih menjadi raut wajah serius.
"Yang Mulia Kaisar, tolong pertimbangan bantuan dari hamba, saya bisa membantu kerajaan dan saya juga dapat membuat senjata yang dapat meledak itu akan membuat kerajaan kita unggul dari LingJian Mo ... tolong pertimbangkan lagi, Yang Mulia. Jika kakak saya memilih berperang maka saya juga akan ikut berperang."
Yiu yang awalnya berdiri sembari menangkupkan kedua tangannya kini telah merubah posisinya menjadi berlutut. Ketiga pria yang berada di ruangan itu lagi-lagi dibuat terkejut dan hampir mati berdiri.
Ada apa denganmu Yiu? Kenapa kau memutuskan membantu mereka? Apa ini memang keputusan yang benar menurutmu Yiu?
Kaisar nampak menimang tawaran Yiu, melihat raut wajahnya yang serius akhirnya mau tak mau Kaisar Liu Xun pun menyetujui tawaran Yiu dan membiarkan ia memimpin pasukan di barisan belakang bersamanya.
Setelah perdebatan panas yang panjang dan menegangkan itu kini Yiu bersama kakak dan Pangeran Liu Yu berjalan di koridor istana dalam diam. Tak ada yang berinisiatif membuka suara semenjak keluar dari ruangan Kaisar.
"Aku akan mengurus keberangkatan ke Qiu Wang esok hari, Liu Yu tolong jaga A-Ying selama aku pergi." Pangeran Huang berjalan pergi meninggalkan keduanya tanpa basa-basi setelah melihat Liu Yu mengangguk atas jawabannya.
"Putri Ying ... aku ingin berbicara denganmu sebentar." Yiu yang sedari tadi melamun tersadar, memutar kepalanya kemudian mengangguk ringan, mereka menuju ke arah taman yang tak jauh dari aula istana.
"Kenapa kamu ingin membantuku? Bukankah kamu membenciku? Lalu mengapa sekarang ingin berperang bersama kerajaanku? Kalau kamu terluka di medan perang, bagaimana? Apa kau tidak peduli pada perasaanku, Putri Ying?"
Yiu semakin menunduk dalam, ia sendiri juga binggung kenapa ia sangat ingin membantu kerajaan yang bahkan baru beberapa hari ini dia tinggali.
"Aku memang tidak pernah peduli dengan perasaanmu tapi untuk kali ini aku sendiri pun tidak tahu mengapa aku ingin membantumu."
"Kerajaanmu sudah membantuku jadi kamu tidak perlu turun tangan untuk membantuku, kau seharusnya kembali, situasi ini tidak aman bagimu .... Aku takut Putri ... aku takut terjadi sesuatu padamu."
Wajah Pangeran Liu Yu tertunduk, matanya memancarkan kilatan merah. Yiu tidak bisa tidak memperhatikan pria di depannya sekarang, ia harus menenangkannya.
"Tenanglah, kau bilang kau mengangumiku karena bakat berpedangku jadi buat apa kau khawatir? Aku tidak bisa membiarkan hanya kakakku seorang memimpin pasukan yang akan berperang di sini."
Pangeran Liu Yu mengangkat kepalanya sedikit, manik keduanya bertemu pandang cukup lama. Dalam satu tarikan napas, Liu Yu bergerak maju dan memeluk tubuh mungil Yiu dengan erat.
"Terima kasih ... Terima kasih sudah bersedia membantuku, berjanjilah kamu akan menjaga dirimu! Seandainya jika nanti aku sudah tidak bisa melindungimu di medan perang lagi maka segeralah lari. Aku tidak ingin melihatmu terluka sedikit saja atau aku tidak akan pergi dengan tenang, mengerti?"
__ADS_1
Yiu hanya diam tak membalas pelukan itu dan setelah itu senyum kecil nan tulus tercetak jelas di wajah Yiu dengan sedikit rona merah di pipi. Pangeran Liu Yu pun perlahan tersenyum di sudut kirinya saja.
TBC