Flower Of War

Flower Of War
Chapter 46 : Keluarga Xu


__ADS_3

"Yiu ... kemari nak ...."


Yiu terbangun dari tidurnya karena seseorang dengan suara yang familier memanggil namanya.


Yiu membuka kelopak matanya, dia terbangun di pinggir sungai yang airnya sebening kaca dan pohon-pohon tumbuh subur di sekitar sungai dan samar-samar ia mendengar suara deras air jatuh.


Yiu mengedarkan pandangannya dan mendapati seseorang pria tua yang berpenampilan modern duduk berdampingan dengan seorang gadis muda yang berpakaian tradisional di pinggir air terjun membelakangi Yiu.


Keduanya sedang asik bercengkrama, Yiu merasa mereka terlihat sangat familier baginya, sebelum itu Yiu melirik pakaiannya sedikit. Dirinya ternyata memakai pakaian terakhirnya saat gugur dalam misi.


Yiu mencoba melangkah mendekati keduanya, berjarak beberapa langkah lagi pria tua dan gadis muda itu menoleh ke arah Yiu dengan senyum tercetak jelas di wajah.


"*Xiao Yu'er, kau sudah datang? Ah kemarilah," pria tua itu berucap sembari melambaikan tangannya untuk duduk di atas batu bersama mereka sedangkan gadis muda tersebut hanya tersenyum sambil mengangguk.


* Xiao ( 小 ) artinya kecil dan tambahan er di belakang nama panggilan sering digunakan orang tua untuk memanggil anaknya alias panggilan kesayangan. Jadi Xiao Yu'er bisa diartikan Yu kecil.


"Panggilan itu ... suara itu ... Kakek? Putri Ying?" gumamnya.


Yiu mematung kemudian mengerjapkan matanya beberapa kali. Ternyata sosok familier itu adalah Kakek Zhou dan Putri Wang Ying Mei. Panggilan kedua Yiu tersadar dari lamunan dan berjalan sedikit terseret lalu duduk di antara keduanya.


Kakek Zhou segera membelai lembut penuh sayang rambut Yiu yang di kuncir kuda. Mata Yiu seketika berkaca-kaca, tanpa pikir panjang Yiu memeluk erat tubuh rapuh kakeknya, melepas segala kerinduan yang memuncak di dadanya.


"Aih Xiao Yu'er ku ternyata tidak berubah, masih tetap seperti anak kecil."


"Kakek ... Yu'er rindu kakek," ucap Yiu diiringi air mata kerinduan. Pelukannya semakin mengencang.


Kakek Zhou membelai lembut punggung Yiu. "Kakek juga, Yu'er."


Ditengah acara melepas rindu, Yiu mendapat tepukan ringan di pundaknya.


Yiu melepas pelukannya dan beralih menatap gadis muda yang duduk di sampingnya tak lupa dengan senyum manis di wajahnya.


"Hai Yu *Jiejie, bagaimana kabarmu?"


*Jiějiě (姐姐) artinya adalah kakak perempuan, bahasanya tidak terlalu formal.


Yiu mengernyitkan dahi. "Putri Wang Ying Mei?" gadis muda itu mengangguk.


"Panggil saja aku Ying."


Yiu kemudian menyadari keadaan, maniknya memutar ke segala arah, "Aku dimana? Kenapa aku bisa berada disini? Bukankah aku aku ...."


Masih dengan senyumnya ia berucap tenang, "Jiejie tidak perlu tahu dimana jiejie berada, aku memiliki sesuatu yang lebih penting untuk dikatakan. ... Yu Jiejie, terima kasih atas bantuanmu, berkat dirimu aku tidak dipandang sebelah mata lagi oleh mereka."


Ekspresi Yiu menggelap. "Apa maksudmu?"


Putri Ying, "Biar ku jelaskan, awalnya aku tidak tahu mengapa jiejie bisa masuk ke dalam tubuhku tapi setelah jiejie mengambil alih tubuhku semuanya berubah, itu membuatku senang. Setidaknya tidak ada lagi nama buruk bagiku-"


"Tapi maafkan aku, jie. Sekarang jiejie harus menanggung penderitaan ini. Jika jiejie ingin, jiejie bisa tinggal bersama kami di sini selamanya, lupakan semuanya lupakan dunia fana," wajah Putri Ying meredup sedetik kemudian kembali tersenyum, tapi dengan cahaya sedikit terpaksa.


Yiu, "Lalu jika aku disini bagaimana nasib keluargamu? Bagaimana nasib Qiu Wang?"


Ucapan Yiu membuat ekspresi Putri Ying semakin gelap, dia kembali menundukkan kepalanya kemudian menggeleng pelan.

__ADS_1


Putri Ying, "Jiejie tidak perlu khawatir, mereka pasti bisa menghadapi ini semua atau mungkin mereka akan segera menemuiku di sini."


Batin Yiu membara dan ekspresinya rumit, Bagaimana kau bisa setenang ini? Posisi mereka sedang terdesak dan sekarang Bajingan itu ingin menghancurkan kerajaanmu. Bagaimana kau bisa setenang itu ha?!


Putri Ying, "Aku khawatir, tapi aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Semuanya tergantung kamu. Kalau kamu memilih menyerah pada dunia kami bisa menemanimu disini berbahagia selamanya tapi jika kamu ingin kembali untuk keluargaku ... itu semua tergantung padamu, jie."


Manik Yiu bergerak gelisah, batinnya bergejolak. Dirinya berbalik menghadap kakeknya berharap saat memberikan saran.


Kakek Zhou, "Kau sudah bekerja keras, nak. Ikutlah bersama kami. Mereka jahat padamu, kakek tidak suka itu."


Tidak! Bukan jawaban seperti itu yang ingin didengar oleh Yiu ... dan apa maksudnya mereka sudah menyusul?!


Ditengah gejolak bimbang secercah cahaya putih menyilaukan datang dari arah punggung Yiu.


Putri Ying, "Sudah waktunya kau memilih, jie. Jika kau ingin bersama kami maka hiraukan cahaya itu hingga ia menghilang dengan sendirinya. Namun, jika kau ingin kembali, setelah masa sulit penuh kegelapan akan ada cahaya yang bersinar menemanimu."


Apa maksudnya?!


Yiu terjebak dalam dua perasaan berat. Di satu sisi dia ingin bersatu dengan kakeknya lagi tapi di sisi lain ada tanggung jawab yang Yiu rasa harus ia selesaikan.


Kepalanya berdenyut sakit seperti balon yang terisi penuh udara, seperti akan meledak. Cahaya putih mengelilinginya. Yiu menjambak kasar rambutnya dan jatuh berlutut.


Tidak tidak tidak!! Aku tidak bisa memilih antara keduanya! Tetapi aku masih memiliki tanggung jawab ... Arghhh sakit sekali!!


Yiu, "Aku ingin kembali!"


Yiu bangkit dari mimpi anehnya. Dirinya terbangun dengan keringat dingin membasahi seluruh lapis pakaiannya, seperti selesai berenang di sungai.


Dengan nafas tak beraturan, Yiu mengedarkan pandangannya ke kamar yang terbilang cukup sempit dengan sedikit perabotan sederhana yang kasat mata. Tak lupa ada tungku api kecil menyala di sudut ruangan.


Yiu berjalan penuh tekad keluar ruangan. Rumah ini terbilang cukup kecil, seharusnya milik seorang petani atau pedagang kecil. Yiu berjalan memasuki bangunan utama dan menyusuri dapur yang tinggal sedikit kepulan asap, menunjukkan bahwa ada yang memasak dalam waktu dekat ini, akan tetapi ia tak menemukan siapa pun. Ia kemudian berjalan terseret menuju keluar rumah.


*A/N : bangunan bagian selatan biasanya merupakan bangunan utama yaitu untuk ruang tamu dan ruang makan maupun sembahyang.


Sedangkan untuk bangunan sayap kanan kiri untuk kamar tidur orang tua dan anak.


Bagian utara adalah pintu masuk dan biasanya terdapat tanah kosong di tengah Bangunan-bangunan ini*.


Salju putih musim dingin telah turun menutupi seluruh permukaan tanah maupun atap dari bangunan rumah, ia berharap dapat menemukan seseorang tetapi nihil.


Yiu sudah menyusuri setiap sudut ruangan yang bersekat kayu. Namun, tidak ada seorangpun yang terlihat. Putus asa.


Yiu hendak berjalan kembali menuju kamarnya, di saat yang bersamaan pintu gerbang berderit.


Tampak sekumpulan pria tengah asyik berbincang sembari membawa tas kayu di punggung, di belakang mereka ada dua wanita yang terlihat seperti ibu dan anak. Anak kecil itu terlihat berusia sekitar sembilan tahun.


Menyadari keberadaan Yiu, salah satu pria berseru, "*Guniang? Anda sudah bangun?"


*Gūniáng ( 姑娘 ) artinya nona muda atau gadis muda.


Kumpulan itu segera menghampiri Yiu yang bertumpu pada dinding kayu bangunan. Ia mengangguk ringan sebagai jawaban.


Wanita yang terlihat dewasa menerobos dan segera menghampiri Yiu. "Nak, bagaimana perasanmu? Maaf jika kepergian kami membuatmu binggung. Aku tadi keluar sebentar untuk berbelanja sayuran dan aku tidak menyangka kau akan bangun melebihi perkiraanku."

__ADS_1


Yiu masih memandang penuh tanda tanya. "Maaf kalian siapa? ... bagaimana bisa aku bersama kalian?"


Salah satu pria dengan kumis janggut tipis penuh senyum segera memperkenalkan diri kemudian menunjuk satu persatu urut dari kiri, "Ah perkenalkan margaku Xu, saya Xu Rui dan ini istri dan anak-anakku, Ning Chu dan ini Xu Lan, Xu Gui, Xu Bai, dan yang paling kecil adalah anak perempuanku, Xu Ruo."


Yiu mengangguk kecil, "Margaku Yan namaku Qing. Terimakasih sebelumnya atas bantuan kalian."


Pria bernama Xu Rui itu tersenyum dan kembali bersuara, "Selanjutnya akan ku jelaskan nanti, Nona. Lebih baik kau duduk dulu sembari menunggu istri dan anak perempuanku selesai memasak."


Yiu dipapah dan didudukkan di meja ruang makan, para pria yang berjumlah empat orang itu berpencar dengan alasan membersihkan diri.


Setelah menunggu cukup lama, berbagai masakan pedas tersaji di meja makan, tak lupa hot pot dan kompor kecil dengan aroma kuah pedas mendidih yang menguggah selera.


Meja kayu bundar itu cukup besar sehingga muat ditempati hingga sepuluh orang berdesakan. Semua orang menatap lapar hidangan di depan mereka.


Xu Rui, "Nona, apa kau tidak keberatan dengan masakan pedas?"


Yiu, "Ah tidak, aku suka makanan yang membakar lidah apalagi ini adalah musim dingin."


Kemudian mereka menyantap sembari berbincang-bincang mengenai asal usul mereka yang ternyata adalah seorang pedagang sayur dan kain yang berasal dari desa kecil di timur laut Qiu Wang yang ingin ke ibu kota untuk berdagang. Xu Rui juga menyuruh anak tertuanya, Xu Lan, untuk menceritakan tentang bagaimana dia menemukan Yiu.


Xu Lan dengan gugup bercerita, "Saat itu aku sedang berburu di padang rumput untuk makan malam, dari kejauhan aku mendengar dentingan pedang beradu setelah ku telusuri aku menemukan Nona jatuh pingsan bermandikan darah di tengah gundukan mayat berseragam perang pasukan BaiQing."


Xu Ruo menyela penuh kepolosan dengan sedikit kuah berkilat di sudut bibirnya, "Apa Kakak ini bisa menggunakan pedang? Dia bisa menghabisi mereka semua?"


Yiu menggeleng, dia harus berhati-hati untuk tidak mengungkapkan jati dirinya. "Aku tidak tahu kenapa mereka menyerangku tapi yang jelas saat itu ada pemuda yang menolongku tapi sayang dia harus menjadi korban dan tersisa satu orang, aku tidak bisa mengelak tapi aku berhasil membunuh dia sebelum pingsan."


Keluarga itu menganggukkan kepalanya. Xu Lan membersihkan tenggorokan dan bersuara, "Lalu Nona, darimana asalmu? Aku akan mengantarmu pulang agar keluargamu tidak khawatir."


Yiu segera menimpali dengan mimik wajah rumit, "Aku sendirian, kedua orang tuaku bekerja di istana sejak aku kecil dan aku diasuh oleh kakek nenekku. Namun, sekarang mereka telah tiada. Jadi, aku ingin ke ibu kota untuk mencari kedua orang tuaku tetapi diperjalanan dihadang oleh sekelompok Pasukan Bai Qing."


Maafkan aku yang harus berbohong, aku terpaksa. Semoga langit memaafkanku.


Tangan Madam Ning bergerak mengelus rambut Yiu yang tergerai bebas. Ia berkata lembut tak kalah dengan wajahnya, "Kami juga ingin ke ibu kota, kamu bisa ikut bersama kami, benarkan, Suami?"


Melihat anggukan dari Xu Rui, Yiu tidak bisa tidak membalas budi.


Kelompok itu berjualan kain dan mengambil sayur kemudian menjualnya lagi di kota yang akan mereka lalui dan tinggal dua hari satu malam di sana sebelum kembali berjalan kaki. Dengan kecepatan seperti ini, diperlukan waktu sekitar seminggu untuk mencapai ibu kota.


Hari kelima, Yiu sedang sibuk membeli sayuran di pasar kota Qinghe bersama Madam Ning tetapi ia merasa aneh, kenapa kota ini banyak prajurit Bai Qing yang berlalu lalang seperti tengah berpatroli. Yiu mau tak mau harus berusaha menyembunyikan wajahnya.


"Apa kau tahu, Putri Ying yang ditahan di Kerajaan Bai Qing telah mati. Rumor bilang sepupu Kaisar Bai Qing menyerang Bai Qing untuk mengambil tahkta, karena gagal dia terpojok dan menyekap Putri Ying di Penjara Langit. Namun naas, pemanas penjara bermasalah dan membakar keduanya hidup-hidup beserta pasukan yang menyergap Liu Wen. Kabarnya Kaisar Bai Qing sangat tertekan akibat kehilangan calon permaisurinya, ia lalu memperketat penjagaan di ibu kota Qiu Wang, karena kabarnya sekutu Liu Wen ingin merebut Qiu Wang juga," ucap wanita berbaju ungu.


"Ya! Kaisar Bai Qing sangat mencintai Putri Ying bagaimana bisa dia tidak berbuat sesuatu setelah kepergian orang tercintanya? Kita juga harus berhati-hati, ibu kota tidak aman sekarang. Jadi cepatlah mengungsi ke daerah terpencil untuk tetap bertahan hidup," ucap wanita berbaju hijau menimpali.


Yiu tak sengaja mendengar percakapan dua orang wanita yang juga tengah membeli sayur.


Dasar licik! Memutar balikkan hitam menjadi putih! Sekarang ingin merebut rumahku. Tunggu saja Liu Yu aku pasti akan menghabisi jiwa ragamu sebelum kau berhasil!


Setelah membeli beberapa bahan, Yiu dan Madam Ning memutuskan kembali ke rumah yang disewa keluarga Xu selama beberapa hari itu.


Saat membuka pintu melangkah masuk, sebuah panah melesat cepat ke arah Yiu. Refleks Yiu mendorong Madam Ning menjauh kemudian melakukan back flip untuk menyangkutkan anak panah itu pada ujung sepatu bootnya yang runcing, menghentikan panah yang melesat dan menampakkan kaki sempurna di tanah.


Xu Rui dan ketiga putranya yang tengah berlatih memanah sempat terkejut lalu mendadak terdiam dan segera berlutut satu kaki sembari menangkupkan kedua tangan di depan kepala, "Maafkan kami, Yang Mulia Putri Ying. Kami tidak mengenali Anda sebelumnya!"

__ADS_1


TBC


__ADS_2