
Pasukan itu melewati jalur gunung yang cukup landai walau berbatas jurang untuk segera sampai ke Qiu Wang.
Formasi pemimpin akan berputar tiba-tiba sebanyak lima kali sepanjang perjalanan dengan genderang perang sebagai sinyal demi menghindari musuh yang bisa saja mengintai Yiu, secara dia adalah jenderal sekaligus pemimpin inti pasukan.
Sinar mentari yang menyengat bertengger di atas kepala, angin yang berhembus pun menjadi angin panas dalam sauna. Yiu melajukan kuda memutar posisi sembari mengelap peluh dengan ujung jubah perangnya secara tak sadar.
Ia bergumam, "Sudah masuk musim panas rupanya, seluruh kulitku terasa sangat terbakar."
Tiba-tiba sebuah tangan bertengger di pundaknya sembari memegang sebuah payung kertas.
Yiu segera menoleh dan mendapati Wu Xiao tengah mengipasi dirinya sembari memayungi keduanya.
Belum sempat Yiu ingin menyemprot tindakan tidak pantas itu, Wu Xiao seakan sudah menebak pikirannya dengan segera mendekatkan kipas lukis itu di depan wajahnya.
Sejuk.
"Aku hanya merasa hawanya terlalu panas, bagaimana sejuk, 'kan? Kita bisa bergantian mengipas, aku yang akan memegang payungnya."
"Wu Xiao! Kita sedang di ruang publik! Hei pegang tali kudamu, bagaimana jika ia lepas kendali?!"
Wu Xiao terlihat tidak peduli dan terus memandang ke depan.
"Kuda ini bisa berjalan sendiri, tenang saja."
Kemudian wajahnya mendekat dan sedikit berbisik pada telinga Yiu, "Hmm, memangnya kenapa? Lagipula aku memiliki niat baik melindungi Jenderal agar tidak kepanasan."
Yiu mengesampingkan rasa pegal di pundaknya akibat menahan tangan Wu Xiao, sebaliknya sekujur tubuhnya hampir merinding mendengar suara bisikan lembut itu menerpa halus daun telinganya.
Yiu refleks membuang muka dengan wajah tersulut api, hal itu membuat naluri menggoda Wu Xiao semakin bermekaran. Smirk dan manik penuh semangat di wajahnya tergambar sangat jelas.
Masih dengan berbisik lembut, "Jenderal, apa ada sesuatu yang mengganggumu?"
Yiu yang masih berkelahi dengan dirinya sendiri refleks menjawab sembari menghempaskan tangan Wu Xiao di bahunya dengan kasar, "Yah, dan itu kau! Kenapa kau tidak menganggu Putri kesayanganmu itu saja? Menyebalkan!"
Alis Wu Xiao berkerut dibarengi suara "Hmm?". Ia terdiam beberapa saat walau tangannya perlahan kembali memayungi Yiu, mencerna sesuatu, wajahnya kembali antusias.
"Jenderal, apa kau *minum cuka?"
*Idiom China Of The Day*
Minum cuka (吃醋)\= Cemburu
醋(cù) artinya cuka, karena cuka rasanya asam, istilah ini merujuk ke ekspresi ketika seseorang memakan sesuatu yang masam makanya wajahnya jadi asam seperti saat melihat dia bersama yang lain walaupun di depannya senyum sambil bilang, "Cieee".
Yiu segera menepis dengan berapi-api, "Mana mungkin?! Aku sedang menyuruhmu untuk tidak mengangguku sialan!"
Wu Xiao hanya mengangguk-angguk kecil sembari menaikkan alisnya, hal itu membuat Yiu semakin terpancing, "Jangan buat ekspresi seperti itu! Jangan ganggu aku!"
Wu Xiao sedikit menjauh. "Baiklah, setidaknya aku tahu kamu cemburu."
"Aku tidak!"
Masih dengan senyum andalannya. Ia berbicara dengan suara dalamnya yang sedikit berat, "Senang mengetahui kamu cemburu. Ingat baik-baik, itu yang kurasakan saat melihatmu bersama pria lain selain diriku, Liying."
Genderang perang bergema cepat selaras dengan debaran hati Yiu. Wajahnya seketika memerah dan tubuhnya memaku, maniknya yang terfokus lurus melebar.
Wu Xiao tiba-tiba mengeluh, "Yahh waktunya berpisah, tapi jangan bersedih. Kamu mungkin bisa lari darinya, tetapi dia akan menemukanmu dan membuatmu jatuh ke dalamnya."
Sebelum Yiu sempat merespon, Wu Xiao sudah menaruh payung kertas di genggaman Yiu dan menarik tali kekang kudanya menjauh.
♣♦♣
Kedatangan pasukan khusus jarak jauh ke markas besar yang ada di Qiu Wang merupakan tanda bahwa peperangan semakin dekat.
Warga ibu kota seluruhnya telah diungsikan ke berbagai tempat guna menghindari korban rakyat sipil.
Beberapa hari kemudian didirikanlah kamp kamp kecil untuk pemusatan latihan di luar gerbang. Keempat kerajaan ini nampak tak menunjukkan sedikit pun ketidakseriusan.
Hari itu, Yiu bersama beberapa jenderal besar pasukan berkumpul di bawah naungan tenda hitam berhawa sangat panas walau tak sebanding dengan semangat mereka.
"Serangan dari satu arah menurutku cukup efektif karena disitulah kekuatan berpusat. Bagaimana?"
__ADS_1
"Aku merasa strategi ini kurang tepat, Jenderal Chu."
"Tapi sebelum kita menyusun strategi menyerang terbaru, bukankah akan lebih baik jika kita juga memikirkan penjagaan benteng ini? Apalagi setelah pasukan cadangan berangkat kita benar-benar tidak memiliki kekuatan yang tersisa."
Yiu berkerut alis sembari mengusap-usap telapak tangannya yang berkeringat. "Aku merasa hal ini juga cukup masuk akal."
Pertemuan sedikit abu-abu, mereka tidak menemukan cara untuk mengatasi benteng. Yiu saat ini tengah duduk di atas batu besar di tepi sungai yang dekat dengan kamp pusat, maniknya seolah tengah berbicara kepada bintang.
Suara gemrusuk rumput menaikkan sinyal waspada. Yiu segera menyentuh belati perak yang bersarang di pinggangnya. "Siapa?!"
Sebuah bayangan putih mendekat perlahan. Bayangan itu semakin jelas dan terlihatlah seorang gadis cantik secerah sinar rembulan dan seanggun bunga teratai, Putri Ming Linghua.
Yiu menurunkan tangan dari pinggang sebelum kembali bersikap santai. "Ada hal mendesak apa yang membawa Putri Ming Lihua sampai kemari?"
Ia tersenyum sebelum membalas, "Bukan sesuatu yang penting. Oh iya, aku pernah berjanji sesuatu padamu, 'kan?"
"Benarkah?" Ming Lihua menangguk dan segera menarik tangan Yiu menuju sebuah tenda istirahat.
Ditengahnya sudah ada sebuah patung-patung singa yang membuat Yiu mengerutkan alisnya.
"Putri ingin menunjukkan hasil karya patung?" Pertanyaan Yiu langsung mendapat gelengan mantab dari sang putri.
"Aku sudah meneliti proyek ini selama hampir separuh hidupku. Lalu aku berhasil menyelesaikannya berkat bantuanmu, Putri Ying. Terima kasih."
Yiu semakin dibuat pusing olehnya, ia gelagapan dalam menjawab, "Ah aku tidak paham."
Ming Lihua hanya tertawa kecil sembari berjalan mendekati salah satu patung kepala singa di meja.
"Ini ada daun telinga dari senjata otomatis yang kubuat. Untuk melihatnya kita perlu kembali ke dalam benteng," ucapnya dengan senyuman yang semakin melebar.
"Jadi,... alasan kenapa saya dibawa kemari adalah?"
"Ah iya, karena aku ingin meminta izin karena telah memodifikasi senjata ledakmu, Putri."
Bersamaan dengan itu, Ming Lihua mengeluarkan sebuah kantung berisi bola-bola besi seukuran kelereng lalu menaruh beberapa di tangannya.
"Ini adalah senjata yang akan mengelinding keluar dari patung ini secara otomatis saat tali terlepas. Kepala singa ini nantinya akan dipasang di pojok atas dinding yang dibaliknya tersembunyi sebuah mekanisme otomatis sehingga kita tidak perlu khawatir jika suatu ruangan tidak dijaga. Untuk mengaktifkan mekanisme ini, kita hanya perlu memasang sebuah balok lantai yang diperkirakan berpotensi terkena pijakan dan terhubung oleh tali yang berada di sela-sela dinding dan menyerang seseorang dengan boom!"
Yiu sempat menegur dirinya sendiri karena lupa akan tradisi nenek moyangnya sendiri sebelum beberapa saat kembali berpikir sejenak. "Itu sangat bagus, Putri. Aku tidak menyangka kau akan menjadi penemu ciptaan ne- .... Tapi, takaran daya ledak dari bomku ini cukup kuat sehingga berpotensi menyebabkan dinding batu sekali pun runtuh. Apalagi, jika di baliknya terdapat mekanisme yang membuat fondasi asli batu menurun."
Jika benar bahwa di masa lalu penemuan ini benar-benar ditemukan oleh seorang wanita, maka seharusnya ia yang seharusnya menjadi bintang dalam sejarah ini. Namun, sekali lagi Yiu terheran karena tidak pernah menemukan satu artikel pun tentang riwayat hidupnya. Mungkin akibat dari faktor minimnya informasi yang bisa didapat oleh pada arkeolog.
"Jika nama dari penemu mekanisme pertama saja tidak tertulis dalam sejarah, itu berarti namaku pun yang hidup dalam kurun waktu yang sama nantinya juga tidak akan tertulis dalam sejarah?! Huh, sayang sekali. Aku harus membuat wasiat untuk seseorang mencari artikel sejarahku nanti di internet!" gumam Yiu pelan.
Di sisi lain, Putri Ming Lihua menurunkan bahunya lesu mendengar ucapan Yiu padanya. Yiu membalas dengan senyuman, "Bagaimana jika kau menggantinya dengan anak panah? Itu cukup mematikan dan tidak akan terlalu berpengaruh pada sisi dinding."
"Kau memang adik ipar terbaik, Putri Ying!!!" ucapnya sembari memeluk Yiu yang sedang terkena serangan jantung dengan erat.
Semenjak hari itu, selama tiga hari penuh nyaris tanpa istirahat, Yiu bersama Putri Lihua melakukan penelitian dan eksperimen-eksperimen tentang senjata mekanisme dan Yiu juga melakukan terobosan baru dengan memperbarui senjata ledaknya menjadi lebih kecil dan juga mencoba meniru cara kerja sederhana bom ranjau yang digunakan selama Perang Dunia II.
Inovasi terus dikembangkan dan semakin melibatkan kakak pertama Yiu untuk melakukan penyempurnaan persepsi daya ledak.
♣♦♣
Hari itu, sebuah mekanisme hasil uji coba yang dipasang di dalam penjara bawah tanah akhirnya selesai dibuat.
Yiu menyempatkan diri untuk mengunjungi Hai Ran yang terlihat kurus dan kotor di sudut penjara bawah tanah. Pakaiannya yang lusuh semakin menyatukan dirinya dengan kegelapan.
Dia berdiri tepat di depan Hai Ran yang bersekat jeruji besi sedingin es. Menatapnya lama dengan raut wajah datar.
Auranya terpancar dominasi kuat akan kekuatannya. Seolah mencoba mengintimidasi hewan di depannya dengan tatapan datar yang menusuk mata itu.
Hai Ran yang tertunduk mulai perlahan mengangkat wajahnya, membalas tatapan dingin milik Yiu. Mereka saling diam untuk waktu yang lama sebelum Yiu akhirnya membuka suara.
"Semoga kau masih sabar menunggu pemilikmu duduk bersama denganmu di sini. Aku akan berusaha lebih keras."
Ucapan itu langsung mendapat decihan kecil dari pria di depannya. Tangan gemetar bergelang besi itu perlahan tertunjuk lurus pada Yiu seolah menantangnya.
"Aku menantikan hal itu. Hanya saja mungkin nanti kita akan bertukar posisi di sini, percayalah."
Hai Ran kemudian tertawa sangat keras hingga gemanya berdengung kemana-mana. Yiu mengepalkan telapak tangannya di balik punggung.
__ADS_1
Yiu kemudian tersenyum hangat sembari melangkahkan kakinya pelan menjauhi tempat Hai Ran.
"Kita lihat seberapa mungkin khayalanmu akan terwujud, Hai Ran."
"Semoga beruntung, Putri! Jangan terkejut saat mengetahui kekuatan kami yang sebenarnya hahaha!"
♣♦♣
Persiapan mendekati sempurna dalam waktu kurang dari 10 hari. Hampir setengah dari pasukan sudah dikirim menuju perbatasan lengkap dengan beberapa senjata baru milik Yiu yang dipastikan akan melindungi mereka selama perjalanan.
Setelah melepas pasukan divisi lima pergi menuju perbatasan, Yiu masih bergeming dari tempatnya di balkon yang menghadap tepat menuju gerbang.
Wajahnya yang letih akibat tidak tidur berhari-hari menengadah memandang tanpa makna ke arah bintang-bintang.
Tiba-tiba sesuatu menyentuh kedua pundaknya yang tentu saja membuat Yiu refleks menoleh.
"Lusa giliran kita yang berangkat, cukupkan istirahat dari sekarang, Liying."
Yiu masih tidak memiliki mood untuk memulai pertengkaran dengan pria gila di sampingnya, ia terlalu letih untuk itu. Ia juga tidak menolak akan jubah yang di lingkarkan di pundaknya, justru Yiu semakin membuat jubah itu memeluk erat tubuhnya.
"Apa kamu lelah? Lingkaran hitam di matamu itu sangat mengerikan, kau tahu?"
Yiu menghela napas. "Yah, aku tak peduli."
"Kau harus menjaga kesehatan, bodoh. Jika nanti kau tiba-tiba jatuh sakit itu akan mempengaruhi kinerja prajurit kita. Tidak akan ada orang terdekatmu yang mengurus orang sakit-sakitan nantinya di medan perang, dasar keras kepala!"
Setelah mengatakan itu, Wu Xiao langsung bergegas pergi meninggalkan Yiu yang masih kebingungan.
Yiu mencoba tidak menghiraukan perkataannya yang sangat tidak sopan itu, walau terus terngiang di dalam kepalanya.
Tangannya bertumpu pada pagar pembatas di balkon. Kepalanya tertunduk lesu, ia mengerutkan keningnya berusaha menghilangkan pusing yang tiba-tiba menyerangnya.
Ia tengah cemas hingga berdampak cukup besar pada siklus istirahatnya. Ucapan Hai Ran hari itu membuatnya semakin gugup.
Perlu Yiu akui, sewaktu ia masih di Bai Qing, terlalu banyak kenyataan yang mengejutkannya. Prajurit rendahan mereka saja saja sudah sangat terlatih, jadi bagaimana kiranya kejutan dari pasukan tersembunyi Bai Qing?
Sebuah aroma wangi menusuk lembut hidung Yiu membuatnya membuka mata. Sebuah gelas kecil penuh uap terulur padanya.
"Jika masih nekat memaksakan tubuh, setidaknya jernihkan juga pikiranmu, gadis keras kepala."
Yiu tidak mengerti alasan mengapa Wu Xiao terus berkata kasar padanya.
Wajahnya seolah akan berubah menjadi sangat jelek jika Yiu tidak mengambil teh darinya.
Yiu meminumnya dalam sekali teguk setelah meniup beberapa kali. Rasa hangat dan sangat nyaman mengelilingi tenggorokannya.
Ia kembali melihat ke arah bintang, menolak menghadap Wu Xiao yang juga tengah meneguk tehnya. Keduanya hanya terdiam di sunyinya malam tanpa cahaya bulan.
Tiba-tiba, Yiu merasakan pusing luar biasa menyerang kepalanya, lebih parah dari yang sebelumnya. Ia sedikit terhuyung, genggamannya pada pagar balkon kian melemah. Wu Xiao yang melihatnya refleks menahan kedua pundaknya.
Rasa pusing itu semakin kuat seiring meningkatnya tekanan matanya untuk menutup dan dalam sekejap tubuh Yiu pun bersandar sepenuhnya tepat di dada Wu Xiao.
Wu Xiao nampak tenang sembari menahan Yiu agar tidak lepas dari pelukannya.
Tangannya yang kasar perlahan menyibak rambut Yiu yang menutup wajah cantiknya saat tertidur lalu mencubit-cubit kecil pipi yang mirip seperti bakpao itu.
"Maaf aku terpaksa melakukan ini, Liying. Aku tidak ingin malaikat cantikku ini jatuh sakit, kau bisa menghukumku apapun itu nanti setelah kau cukup istirahat .... Kamu sudah bekerja sangat keras, Bǎobèi."
Wu Xiao kemudian menggendongnya menuju kamar Yiu dengan berjalan sangat pelan dan berusaha santai. Seolah takut Yiu yang tertidur tenang di dadanya itu akan terbangun dan mengamuk.
Manik hijau zamrudnya seolah terbuat dari magnet, ia tidak bisa melepaskan pandangannya pada sosok cantik yang tengah tertidur damai di pelukannya, andai waktu bisa membeku untuk beberapa saat saja. Ia tidak ingin momen langka ini berlalu begitu saja.
Wu Xiao kembali pada pikiran lurusnya, ia beruntung karena kini Yiu tertidur pulas sehingga tidak dapat mendengar debaran jantungnya yang menggebu-gebu dan senyum aneh yang terukir jelas di wajahnya.
Langkahnya yang lamban nan pasti melangkah bermandikan cahaya redup obor di sudut-sudut lorong menuju paviliun dahlia.
♣♦♣
"Yang Mulia, baru saja pesan dari perbatasan barat tiba dan di dalamnya mengatakan jika pasukan Bai Qing menyerang kamp mereka dan berhasil mengambil alih kamp kita.
"Mereka menyerang dari barat?! Bagaimana mungkin?! Padahal kita memusatkan hampir seluruh pasukan di timur. Cepat kumpulkan pasukan dan bergerak!"
__ADS_1
"Baik, Yang Mulia."
TBC