Flower Of War

Flower Of War
Chapter 55 : Ini Bukan Salah Gege


__ADS_3

Hari telah gelap dan bulan di langit memancarkan sinar redupnya lalu perlahan bersembunyi di balik awan hitam. Semuanya gelap dan gelisah bercampur dengan perasaan yang unik.


Senang dan sedih bercampur di wadah, berputar membentuk arus jurang di tengah pertemuan keduanya.


Yiu perlahan mendapatkan kesadarannya, ia membuka manik cokelatnya. Cahaya silau kekuningan mulai menembus masuk ke dalam retina kecilnya.


Ia batuk beberapa saat. Paru-parunya sedikit sesak dan kepalanya berputar. Ia terlalu akrab dengan rasa sakit ini.


Yiu melempar ingatan terakhir yang dia ingat dan mengerti bahwa dia terkena efek dari ledakan saat itu.


Ia mengangkat maniknya dan perlahan melihat siluet seseorang yang bergegas duduk di dekatnya.


Penglihatan tidak fokus, ia melihat satu tangan pria itu melambai di wajahnya. Namun, ia seperti melihat tiga tangan dan sebuah wajah yang samar.


Yiu menebak dia adalah Wu Xiao sehingga dengan cepat mengalihkan wajahnya.


"Pergilah Wu Xiao, aku tidak apa-apa. Aku bisa mengurus diriku sendiri."


Tangan pria itu terulur menyentuh pipinya, awalnya Yiu ingin membuang tangan itu. Namun, suara pria itu menghentikan niatnya.


"A-Ying ...."


Yiu menegang lalu mencoba mendapatkan tenaga untuk duduk perlahan sembari menggelengkan kepalanya beberapa kali dan mengabaikan bau menyengat rempah yang familiar, mencoba mendapatkan kembali penglihatannya. Dengan jantung berdegup ia memberanikan diri mengangkat wajahnya.


Bayangan kabur itu semakin terlihat jelas.


Ekspresi itu ... dingin dan khawatir. Alis dan mata tajam itu ....


"Da Ge?"


Tanpa sepatah kata, tubuh Yiu ditarik mendekat oleh pria itu. Pria itu mendekap Yiu terlalu erat membuat Yiu kembali merasa sesak.


Namun, rasa sesak kali ini berbeda. Rasa sesak ini membunuh rasa khawatir dengan kerinduan yang lama bersarang di dalam hatinya.


Mereka berpelukan cukup lama. Setelah itu, Yiu meneliti seluruh tubuh kakaknya.


"Ini sungguh *D*a Ge?"


"Mn. Ini aku .... Bagaimana perasaanmu? Kamu harus beristirahat beberapa hari lagi, A-Ying." Xiao Ce memegang pundak Yiu dan menduplikat gerakannya.


"Aku baik, Ge. Tidak perlu khawatir. Bagaimana Gege bisa ada di sini? Aku pergi ke utara untuk mencari Gege. Kenapa tidak mengirim surat padaku, Ge? ... aku khawatir terjadi sesuatu pada kalian!"


Xiao Gie terdiam dan menunduk. "Ayah dan ibu meninggal, kerajaan direbut, kamu tidak jelas keberadaannya, dan kami masih harus lari bersembunyi dari dia. Bagaimana perasaanmu?"


Benar juga. Kenapa aku meminta Gege menulis surat padaku? Keadaan sudah berubah, hidup dan mati digaris yang sama. Bagaimana bisa lagi saling bertukar surat jika kita tidak tahu apakah kamu masih membuka mata atau tidak. Apakah masih hidup atau sudah mati .... Bodoh!


"Ini bukan salahmu, ... seharusnya aku tidak percaya pada dia dan menyerahkan kamu. Ini salahku! Tolong maafkan aku yang tidak becus menjaga adikku." Xiao Ce bermaksud berlutut di bawah. Namun, ditahan oleh Yiu.


"Ini bukan salah Gege atau salahku. Ini bagian takdir, Ge. Tugas kita sekarang adalah berjuang sekuat tenaga untuk mengubah takdir yang suram ini."


Ekspresi Xiao Ce dingin tetapi maniknya berkilat samar. Keduanya merasakan perihnya takdir. Yiu kembali merengkuh tubuh kakaknya dan memeluknya sekali lagi sembari bergumam pelan, "Ini bukan salah Gege, bukan salah Gege."


Setitik air mata akan kerinduan dan kejamnya dunia meluncur turun membasahi wajah dingin Xiao Ce. Dia tidak sanggup menahannya lagi, perih di hatinya terlalu sakit hingga ia tidak merasakan apa pun.


"Gege, dia menyakitiku ... aku pulang."


"Ada Gege di sini. Gege akan menjadi perisai terkuat untukmu, tidak akan ada yang menyakitimu lagi. Kamu bisa tenang."


Hatinya menghangat, senyumnya terkembang bersama dengan air mata yang ia sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba keluar, padahal Yiu sudah berjanji tidak akan ada air mata lagi dalam hidupnya.


Kriet...


Pintu kamar terbuka, sesosok pemuda tampan dengan celemek putih ysng sedikit berdebu serta bau rempah-rempah yang menguar di seluruh tubuhnya langsung melangkah masuk dengan nampan di tangannya tanpa permisi.


"A-Ying? Kamu sudah bangun?"


Kedua bersaudara yang tengah melepas rindu itu menoleh bersamaan.


Yiu melepas pelukan dan berseru dengan semangat, "Huang Gege!"


Huang segera berlari mendekat, meletakkan nampan itu dan segera mendekap Yiu erat.


"Syukurlah, ... aku mengira tidak akan bertemu dengan adik tercantikku ini lagi."


"Aku tidak bisa menebak apakah Gege sedang memujiku atau mengejekku."


Huang terkekeh, ia menatap wajah Yiu lekat sebelum kembali memeluknya seakan tidak pernah puas.

__ADS_1


"Aku sempat mengira berita yang menyebar tentangmu dari Bai Qing adalah kebenaran. Namun, aku percaya adikku tidak semudah itu untuk ditaklukan. Mana mungkin wajah seseram ini ditambah dengan sifat ganasnya bis-"


Yiu dengan cepat mendorong Huang hingga ia sedikit terhuyung ke belakang. Yiu beralih menatap Xiao Ce dengan wajah cemberut, "Gege, dia juga menyakitiku! Dia bilang aku cantik tapi setelah itu bilang kalau wajahku seram dan aku pemarah, marahi dia!"


Xiao Ce menggeleng pelan, dengan ringan ia memukul kepala adik lelakinya.


Huang merasa tidak terima dan protes, "Da Ge, aku tidak bersalah! Dia yang mendorongku tapi kenapa kamu memukulku? Lihat wajahnya sekarang ini, tertawa tanpa dosa!"


Yiu terkikik dengan mata yang menyipit haru, kehangatan merangsak masuk menghidupkan hatinya yang dingin. Ia berseru dengan nada suaranya marah tetapi wajahnya tersenyum bercampur kabut air mata, "Mana ada! Huang Ge yang mengatai aku lebih dulu!"


Keduanya terus bertengkar, Xiao Ce yang melihatnya merasa gemas. Kedua tangannya terulur merangkul kedua pundaknya dan dengan cepat menutupi wajah kedua adiknya yang sedari tadi terus bertengkar.


Memeluk keduanya di masing-masing pundaknya dengan wajah dingin.


Huang ingin membalas pelukan aneh itu dan menarik napas. Namun, ....


"Gege tanganmu bau bawang!!!"


♣♦♣


Beberapa hari berlalu semenjak kedatangan Pasukan Bai Qing hari itu.


Dunia menjadi semakin kacau berkat campur tangan dari Tangan Besi, Liu Yu. Semua negara di daratan ini tak terkecuali negara Liyu Feng merasakan niat kejamnya dalam menguasai daratan yang terlalu luas ini di bawah sayapnya.


Karena Hai Ran telah melakukan ekspedisi ke Liyu Feng, membuat tempat ini tak lagi aman untuk ketiga bersaudara yang kini hanya bisa saling mengandalkan satu sama lain itu.


Ketiganya beserta Wu Xiao dan Pangeran Ming Zijing yang juga beberapa hari yang lalu datang bersama ayahnya kini ikut mengawal ketiga bersaudara itu menuju utara Liyu Feng yaitu negaranya sendiri, Guang Ming.


Setelah diskusi antara pemimpin negara disepakati bahwa mereka diam-diam menyatukan kekuatan dibawah bendera keadilan untuk merebut kembali Qiu Wang dan menjatuhkan pemerintahan otoriter Bai Qing.


Ketiga bersaudara itu menaiki satu kereta sedangkan Wu Xiao dan Ming Zijing mengendarai kuda di sisi kereta dengan alasan keamanan perjalanan dan mencegah identitas asli bocor.


"Da Ge, Huang Ge, ... kalian belum memberi tahuku dimana saja kalian selama ini," ucap Yiu dengan wajah dingin yang familiar.


Kedua Pangeran Qiu Wang itu saling bertukar pandangan. Setelah beberapa saat Pangeran Huang menghela napas dan mulai berbicara, "Aku akan ceritakan tapi ... mendekatlah."


Flashback on.


"A-Huang, ibu mendapat kabar Pasukan Guang Ming yang membawa pesanan perak untuk pernikahan meimei-mu sudah sampai di ibu kota. Maukah kamu pergi menyambut mereka?"


Pangeran Huang memacu kudanya keluar istana bersama selusin prajurit menuju gerbang ibu kota. Setelah menunggu beberapa waktu terlihat sebuah rombongan pasukan berkuda memakai zirah putih dan tiga gerobak bermuatan kotak-kotak kayu terlihat dari kejauhan.


Baris terdepan terlihat satu orang berpakaian mencolok dengan wajah sedingin dan seindah patung giok yang terpahat sempurna. Kelihatannya dia adalah pemimpin rombongan itu.


"Rupanya Pangeran Ming Zijing. Selamat datang di Ibu Kota Qiu Wang, Pangeran."


"Terima kasih atas sambutannya, Pangeran Huang. Saya mendapat utusan untuk mengawal pesanan ini menuju kemari dengan aman."


Kedua pangeran dari dua negara koalisi itu melintasi jalanan ibu kota yang ramai dengan santai.


Setelah menghantarkan pesanan pernikahan sekaligus mengirimkan hadiah pernikahan dari Guang Ming, Pasukan yang dipimpin Pangeran Ming Zijing beristirahat beberapa hari di kamar tamu kerajaan.


Hari itu Pangeran Ming Zijing memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di pasar ibu kota bersama Pangeran Huang.


Mereka membeli beberapa teh dan makanan ringan khas jajanan pasar, sebenarnya bukan mereka tetapi Pangeran Huang sendiri yang berbelanja berbagai macam makanan ringan.


Siang hari yang cerah itu tiba-tiba berubah menjadi gelap, awan mendung menutupi sinar matahari.


Suasana berubah.


Batu-batu kecil jalanan bergetar kecil di bawah kaki keduanya. Getarannya terlalu kecil sehingga orang biasa tidak akan menyadarinya. Namun, kedua pangeran yang sering terlibat pertempuran itu dapat merasakan kuatnya getaran itu.


Manik Pangeran Huang membola, dengan segera ia berlutut kemudian membungkuk untuk menempelkan daun telinganya di jalanan batu.


Ekspresinya berubah tegang. Pangeran Ming Zijing yang berada di sampingnya ikut terheran. "Ada apa?"


"Aku mendengar derap langkah kaki dan juga sepatu kuda keras sekali ... seharusnya itu adalah sebuah rombongan tapi ... jumlahnya terlalu banyak! Gawat! Ada yang tidak beres! Kembali ke istana!"


Pasukan yang datang tidak diketahui berasal dari mana. Mereka terlambat menyadari hal ini dan tidak ada waktu untuk mengumpulkan pasukan untuk berjaga di depan gerbang.


Hanya dapat menahan mereka sebentar lalu melihat apakah mereka musuh atau kawan.


Di dekat Gerbang Kota Qiu terlihat sebuah pasukan berpakaian perang berjumlah hampir sekitar tujuh ratus orang berbendera merah dengan tulisan "Bai Qing Liu" terlihat berlari menuju gerbang kota.


Tanpa sepatah kata negosiasi sedikit pun, mereka langsung bertarung dengan pasukan penjaga gerbang, seperti yang terlihat ... mereka kalah jumlah sehingga dengan leluasa masuk ke dalam kota dan menimbulkan kekacauan di setiap belokan jalan menuju istana.


Mereka tidak segan menghajar bahkan membunuh warga sipil tanpa pandang bulu demi memunculkan ketakutan dan kegaduhan. Pasukan mereka menyebar hampir di setiap jalanan, merusak dan membunuh orang yang mereka temui.

__ADS_1


Pasukan itu akhirnya sampai di jantung kota, Istana Qiu Wang. Pemimpin pasukan itu adalah Hai Ran, dengan ekspresi dingin meremehkan ia maju ke barisan paling depan pasukan.


Di depan gerbang istana sudah banyak berbaris gagah para prajurit Qiu Wang dan tokoh-tokoh beladiri di kota, tak terkecuali Pangeran Huang.


"Lancang! Berani sekali kalian membunuh warga tidak bersalah!" seru Pangeran Huang mengebu-gebu.


"Aaa ... maafkan kelancangan yang rendahan ini, Yang Mulia," balas Hai Ran dengan nada sopan.


"Apa maksud kalian datang kemari?! Dimana tuanmu? Dimana adikku? Kenapa menyerang rakyatku?!"


"Tenang saja, Pangeran. Adikmu yang malang itu aman bersama tuanku, tuanku yang kuat berbaik hati ingin menjaganya dari kematian yang akan kalian hadapi hari ini."


"Keparat! Apa maksudmu?!" Pangeran Huang naik pitam.


"Bukankah sudah jelas? Tapi tidak apa, akan saya ulangi kembali. Kami kemari bermaksud baik ingin mengantar kalian menuju reinkarnasi berikutnya."


"Kurang ajar! Pasukan serang!"


Pertarungan sengit terlihat, suara pedang berdenting menjadi nyanyian yang tersisa, sungai kecil berwarna merah tercipta di pertarungan kali ini dengan mayat penuh luka sebagai hiasan batu kali untuk melengkapi sungai darah yang mengalir deras.


Keadaan semakin kacau dengan semakin menipisnya Pasukan Qiu Wang yang memang dari awal sudah kalah jumlah.


Pangeran Huang sendiri sudah terluka di beberapa tubuhnya. Namun, kekuatan bertarungnya tidak melemah sedikit pun.


Dengan cepat Pasukan Bai Qing berhasil menembus gerbang dan mulai mencari keluarga kerajaan di setiap seluk kerajaan. Namun, tidak menemukan keluarga kerajaan yang tersisa.


Hai Ran mulai gelisah, pasti mereka keluar lewat jalan rahasia!


Di lain sisi, Pangeran Huang sudah hampir tidak kuat mengangkat pedangnya bahkan untuk berdiri saja dia mulai terhuyung lemah.


Akhirnya ia jatuh terduduk, beruntung Pangeran Ming Zijing keluar dari persembunyiannya tepat waktu dan dengan berlari sekencang angin di atas kudanya ia mengapai tubuh lemah Pangeran Huang dan membawanya pergi menuju gerbang terdekat.


Wajahnya tertutup jubah putih yang berkibar indah, ia mendudukkan tubuh Pangeran Huang di depannya. Tangan kanannya memegang pedang sedangkan tangan kirinya memegang tali kekang kuda.


Pangeran Ming Zijing menebas puluhan kepala di setiap langkahnya menuju ke luar kota.


Pangeran Hwang masih memiliki kesadarannya yang samar dan ia berkata dengan lemah di atas kuda yang terus berlari, "Berhenti! Kembali! Aku harus kembali! Pengkhianat itu tidak boleh mengambil keluargaku!"


"Aku sudah mengevakuasi keluargamu ke luar ibu kota, seharusnya mereka sudah aman. Bertahanlah, kita akan menyusul mereka."


Mendengar itu, Pangeran Huang tidak bisa tidak bernapas lega dan langsung jatuh kehilangan semua kesadarannya.


Di luar kota, Hutan Shui di barat laut Qiu Wang. Pangeran Ming Zijing menembus lebatnya hutan penuh daun berguguran di sana tanpa lelah.


Namun, ia merasa aneh kenapa dia tidak segera menjumpai kuda milik kaisar dan anggota kerajaan lainnya.


Apa mereka sungguh bisa berlari secepat itu di medan yang sulit seperti ini?, pikirnya.


Tak berselang lama ia mendengar suara seseorang berseru dengan sedikit tawa tercampur dalam nada samar itu.


Pangeran Ming Zijing waspada lalu segera memelankan laju kudanya. Ia menurunkan Pangeran Huang yang masih tidak sadarkan diri, menyandarkannya di bawah pohon besar bersama kudanya.


Kemudian ia berjalan menuju arah suara tertawa yang kian menggema di hutan. Terlihat sekitar satu *peleton dan mereka membentuk lingkaran seolah mengelilingi sesuatu.


*Peleton\= pasukan yang terdiri dari 30-50 pasukan dan biasanya terbentuk dari 3-4 regu.


Ming Zijing tidak dapat melihat siapa yang tengah berada di pusat lingkaran sehingga memutuskan untuk memanjat pohon yang daunnya masih lebat dan belum terlalu kering untuk gugur mengingat ini adalah musim gugur.


Dengan hati-hati memanjat pohon mangnolia dan melihat semua dari kejauhan. Maniknya membola dan tubuhnya langsung membatu setelah mengetahui ada tiga orang berlutut dengan dikelilingi pedang, punggung mereka menghadap Ming Zijing tetapi ia tahu siapa ketiga orang disana.


Sedangkan pria yang berdiri gagah di depan mereka dengan pakaian mewah menatap penuh tawa mengerikan.


"Tidak sia-sia aku berkunjung beberapa hari di Qiu Wang saat itu. Negara kalian sangat kaya dan sangat mudah di terobos, aku sampai ingin tertawa .... Minumkan racun itu!"


Setelahnya, Ming Zijing menutup mata dengan enggan, tidak kuasa melihat adegan yang terjadi selanjutnya.


Ketiga orang yang terdiri dari dua orang pria, muda dan paruh baya, dan juga satu wanita paruh baya yang terus batuk tanpa berhenti. Semakin lama semakin keras suara batuk itu diiringi dengan bau besi berkarat terasa di indra pengecap mereka.


Kedua pria dan wanita paruh baya itu akhirnya batuk darah terus menerus. Wanita itu memegang jantungnya yang terasa seperti terkoyak-koyak lalu ambruk ke tanah.


Sedangkan tubuh kedua pria itu lebih dulu sudah penuh akan luka sayatan pedang, sepertinya sebelum mencapai kejadian sekarang sudah ada adegan pertarungan yang mengawali pertemuan mereka dan sekarang luka itu semakin bertambah parah.


Pria berbaju kuning emas dengan jubah hitam bersulam pola naga emas itu tertawa lagi dan tawanya kian mengeras.


"Qiu Wang sudah ditanganku sekarang!"


TBC

__ADS_1


__ADS_2