
Secerca cahaya yang menyilaukan memaksa masuk ke dalam retina yang membuat pemilik manik berwarna coklat gelap itu terganggu dalam tidur nyamannya.
Yiu membuka matanya perlahan, pemadangan asing yang pertama yang ia lihat adalah langit-langit dan dinding kamar bercorak simbol kerajaan Qiu Wang tapi anehnya ruangan ini terasa sangat asing baginya.
Yiu bangkit untuk duduk sambil memegangi kepalanya yang terasa seperti akan pecah.
"Dimana aku?" lirih Yiu sembari meringis, menjambak rambutnya menahan sakit di kepala bagian belakang dan lehernya.
Seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan masuk ke dalam kamar yang Yiu tempati sembari membawa mangkuk berisi sup dan mangkuk porselen berisi air yang berwarna hijau kehitaman.
"Putri? Anda sudah sadar?! LinDang! LinDang!"
Wanita paruh baya itu berlari ke arah meja di samping ranjang Yiu untuk meletakan makanan yang ia bawa sembari berteriak memanggil nama seorang wanita.
Seorang pelayan datang menghampiri pelayan itu dengan langkah tergesa-gesa.
"Cepat beritahu Pangeran jika Putri sudah sadar cepat!"
Pelayan bernama LinDang itu mengangguk senang dan segera berlari meninggalkan mereka.
Pelayan paruh baya itu menghampiri Yiu dengan senyum cerah terkembang jelas dan sedikit kekhawatiran.
"Putri anda jangan bangun terlebih dulu, anda harus istirahat mari saya bantu," ucap Pelayan itu sembari mencoba mengarahkan Yiu ke posisi tidur namun Yiu menolak.
"Tidak, aku ingin duduk saja."
"Baiklah saya bantu anda bersandar."
Pelayan itu meletakkan bantal di belakang punggung Yiu kemudian duduk di lantai, tangannya mengambil mangkuk sup yang ia bawa tadi untuk disuapkan ke Yiu.
"Makanlah sup hangat ini, Putri."
"Tidak! aku tidak mau," tegas Yiu.
"Tapi Putri harus makan supaya anda cepat pulih," bujuk pelayan itu.
"Kenapa aku bisa ada disini?" ujar Yiu spontan.
Pelayan itu terdiam dan menaruh kembali sup itu ke meja di samping ranjang.
"Saya kurang tahu mengenai itu, Putri, yang saya tahu hanya pagi itu saya mendengar kehebohan di dekat gerbang dan saya melihat Pangeran Huang memacu kudanya seperti orang kesetanan di ikuti oleh Jenderal Rong dan sekelompok prajurit. Dari wajahnya terlihat jika Pangeran sangat khawatir dan saat kembali Pangeran Huang datang dengan mengendong anda yang sudah pingsan kemudian saya beserta pelayan lainnya ditugaskan menjaga anda tanpa istirahat."
"Huh Memangnya berapa lama aku tidur? Aku hanya pingsan selama beberapa jam, 'kan? Kau melebih-lebihkan perkataanmu," sarkas Yiu.
"Tidak, Putri, saya berkata jujur. Anda pingsan sudah hampir 2 hari, Putri. Pangeran sangat khawatir dengan keadaan Putri karena Putri tak kunjung membuka mata," elak pelayan itu.
"Apa?! Kau pasti berbohong, aku? Tertidur selama 2 hari? Huh jangan bercanda," ucap Yiu mencoba mengelak perkataan pelayan itu.
"Sungguh saya tak berani berbohong bahkan jika nyawa taruhannya, Putri ...."
Tak lama pintu kamar Yiu di dorong cepat hingga menimbulkan suara bantingan yang keras, mengejutkan kedua manusia yang berada di dalam ruangan.
Pangeran Huang masuk dengan tergesa-gesa ke dalam kamar yang Yiu tempati, tapi baru beberapa langkah dari ambang pintu Pangeran Huang berdiri diam menatap intens ke arah Yiu.
Pelayan yang menemani Yiu segera berdiri dari duduknya dan menunduk memberi hormat kepada Pangeran Huang.
Pangeran Huang sama sekali tidak melirik pelayan itu, maniknya terus terfokus pada adik perempuan satu-satunya itu.
__ADS_1
"Tinggalkan kami berdua," titah Pangeran Huang.
Pelayan itu membungkuk patuh dan segera berjalan keluar dari kamar kemudian menutup pintu.
Setelah pintu tertutup Pangeran Huang berjalan mendekat ke arah Yiu yang entah sejak kapan terus menunduk.
"Pembuat masalah!"
Singkat, padat, dan jelas. Perkataan Pangeran Huang sangat mewakili ketiga kata tersebut.
"Maafkan aku ... a-aku hanya ingin mengunjungimu," lirih Yiu pasrah.
Tubuh Yiu menengang, keringat dingin mulai mengalir di punggungnya.
Jika Pangeran Huang sudah dalam mode marah maka ia akan lebih mengerikan dari Pangeran Xiao Ce yang saat marah hanya akan melancarkan tatapan tajam tanpa berbicara sedikit pun.
Berbeda dengan Pangeran Huang yang akan menatap tajam dan membentak dengan suara yang tegas membuat siapa saja akan bergidik ngeri hanya dengan mendengar bentakan singkatnya saja.
"Apa kejadian kemarin tidak membuatmu jera untuk berkelahi lagi!" bentak Pangeran Huang.
"Aku tidak berkelahi dengan siapapun, Ge, aku hanya ... aku ... aku ... hanya ...."
Yiu mencoba menjelaskan apa yang terjadi semalam namun perkataannya hanya mencapai kerongkongannya.
"Hanya apa?! Kau itu seorang Putri, tak sepantasnya kau berkeliaran di malam hari dan berkelahi!"
Pangeran Huang berbicara dengan bentakan keras nan berat membuat Yiu sempat terlonjak kaget akibat suara tegas kakaknya.
Pangeran Huang menatap tajam ke arah Yiu yang semakin menundukkan kepalanya.
Yiu mengumpulkan keberaniannya untuk berkata penuh kemantaban kepada kakaknya.
Ia merasa nyaman jika bersama dengan kakaknya yang satu ini karena di kehidupan sebelumnya ia hanya di manja oleh sang kakek hingga usia 10 tahun dan setelah itu ia di latih keras untuk di persiapkan menjadi seorang tentara seperti kakek angkatnya.
Hingga saat umurnya mencapai 17 tahun, kakek yang sudah Yiu anggap orang tua dan sahabat itu pergi meninggalkannya sendirian menghadapi kejamnya dunia.
"Maafkan aku karena telah membuatmu khawatir, Pangeran, aku siap menerima hukumannya," sesal Yiu.
Yiu menyadari perkataan dirinya sebelumnya yang seharusnya tidak ia ucapkan dan akhirnya menghela nafas.
Pangeran Huang berjalan mendekat kearah Yiu dalam diam tanpa berniat menjawab pernyataan Yiu sebelumnya. Keringat dingin semakin mengalir deras di punggung Yiu.
Di tengah ketakutannya, Yiu terkejut saat seseorang mendekapnya erat di pelukannya dan mengelus lembut rambutnya yang tergerai bebas.
Pangeran Huang berbicara lirih, "Harusnya kau bilang padaku jika kau ingin bertemu, aku pasti akan langsung menuju istana untuk menemuimu, bukan sebaliknya ... itu sangat berbahaya, apa kau tahu?"
"Maafkan aku, Ge, aku hanya tidak ingin menganggu urusanmu yang pastinya cukup banyak disini," balas Yiu dan balas mendekap Pangeran Huang tak kalah erat, setitik air mata lolos dari pelupuk matanya begitu deras layaknya sungai.
Pangeran Huang melonggarkan pelukannya dan menghapus air mata di sudut mata Yiu, "Sudah jangan menangis, aku tahu kau kemari hanya ingin mengunjungiku dan tentang kejadian semalam aku sudah tahu semuanya."
"Maksudnya?" tanya Yiu cengo.
"Ada seseorang yang ingin berterima kasih padamu dan kita juga harus berterima kasih kepada dia."
Pangeran Huang tersenyum kemuduan tangannya terangkat membelai lembut kepala Yiu sebelum kembali berdiri di samping Yiu dengan kedua tangan di belakang punggung.
"Biarkan dia masuk," titah Pangeran Huang.
__ADS_1
Tak lama pintu kamar terbuka dan masuklah seorang gadis muda berpakaian sederhana dengan wajah menunduk, wajahnya terbilang cukup cantik dan manis serta postur tubuhnya yang kecil menambah kesan imut dalam dirinya.
"Siapa dia, Pangeran?"
"Kau akan tahu nanti. Bicaralah."
Gadis itu mengangkat kepalanya dan tersenyum ke arah keduanya sembari menurunkan sedikit badannya memberi hormat sebelum bicara.
"Saya disini ingin mengucapkan terima kasih kepada Putri karena telah menyelamatkan nyawa saya," ucap gadis muda itu.
"Menyelamatkanmu? Kapan?" tanya Yiu.
"Mungkin Tuan Putri tidak ingat bahkan tidak tahu siapa saya namun tak apa, biarkan saya memperkenalkan diri. Marga saya Zi nama saya Zi Rui, saya adalah salah satu dari tawanan yang diculik oleh sekelompok pria kemarin."
"Aaaa ... ya ya aku ingat wajahmu, tapi bagaimana kau bisa tau itu aku bukankah kau sudah ku suruh melarikan diri saat itu?"
"Benar, Putri, saat anda menyuruh kami untuk melarikan diri, saya segera menuju kemari untuk memberi tahu Pangeran Huang tentang keberadaan anda," jawab Zi Rui.
"Bagaimana kau tahu identitas asliku? Bukankah kita baru saja bertemu saat itu?" Yiu tanpa sadar seperti seseorang yang sedang mengintrograsi saksi.
"Dulu saya dan ibu saya tinggal di Istana Qiu Wang sebagai pelayan dan saat kabar serangan dari Tian Lu, Putri memberi titah agar seluruh anak-anak untuk dilarikan ke Nanjing supaya aman dan kebetulan di Nanjing saya memiliki kerabat lalu menginap untuk beberapa minggu disana. Saya saat itu tengah menyapu halaman belakang rumah dan beberapa pria langsung membekap saya hingga tak sadarkan diri, saat saya bangun saya sudah terikat di gubug itu bersama yang lainnya."
"Jadi sebenarnya kau sudah mengenalku lama? Ternyata begitu rupanya," tukas Yiu.
Yiu mengangguk-anggukkan kepalanya paham, sedangkan Pangeran Huang terus menatap kearah Yiu seolah memberi sebuah kode.
"Aaa kalau begitu aku juga harus berterima kasih padamu karena jika kau tidak ada aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya."
"Tuan putri tidak perlu berterima kasih seharusnya saya yang berterima kasih."
♣♦♣
Keesokan harinya.
"Segeralah kembali dan berhati-hatilah jangan sampai ketahuan oleh Pangeran Xiao Ce. Segera ganti keretamu dengan kuda dan menyelinaplah diam-diam, prajuritku akan membantumu," ujar Pangeran Huang.
"Tenang saja, Pangeran, aku akan baik-baik saja. Terima kasih atas bantuannya. Aku pergi."
Setelah berpamitan dengan Pangeran Huang, Yiu segera memasuki kereta kerajaannya dengan kawalan beberapa prajurit berkuda di sekelilingnya.
Yiu dan Pangeran Huang sepakat untuk tidak membocorkan rencana pelarian Yiu ke Nanjing sehingga Pangeran Huang bersama Yiu telah menyiapkan rencana untuk Yiu kembali dengan diam-diam namun tetap dalam pengawasannya.
"Ahh baiklah mari kita nikmati hari-hari yang sangat membosankan untuk beberapa bulan kedepan, Yiu."
Yiu mendesah pasrah karena akan kembali kerutinitasnya menjadi pengawas harem. Ia juga dituntut harus bersikap seanggun mungkin layaknya seorang Putri Kerajaan yang terhormat sebagaimana perilaku Putri Ying yang dulu sangat ramah, anggun dan sopan yang sangat berbanding terbalik dengannya.
Semumur hidup di kehidupan Yiu yang dulu, ia belum pernah merasakan bagaimana rasanya memakai gaun wanita apalagi gaun tradisional karena keadaan ekonomi kakeknya dulu yang cukup miskin sehingga tidak bisa membeli gaun layaknya putri untuk Yiu.
Saat Yiu berusia remaja sifatnya sangat mirip dengan laki-laki akibat teman mainnya yang hampir semuanya adalah laki-laki sehingga Yiu kecil menjadi seorang gadis tomboy yang sangat suka memanah dan memanjat pohon untuk mencuri buah tetangganya diam-diam, karena sifat tomboynya kakek Zhou Li akhirnya mempersiapkannya untuk menjadi seorang tentara.
Saat kereta Yiu melewati sebuah pasar yang cukup ramai, Yiu tak sengaja mendengar seorang pria yang berteriak keras yang saat meredam suara seluruh orang yang tengah asik dengan urusannya sendiri, tak terkecuali perhatian Yiu di balik tirai satin yang mengombak pelan tertiup lembut sapuan Sang Bayu. Suara itu membuat seluruh perhatian orang di sekitarnya tertuju padanya.
"Pengumuman pengumuman! Saya utusan dari Istana ingin menyampaikan beberapa pengumuman dari Putra Mahkota Qiu Wang Pangeran Xiao Ce bersama dengan beberapa Kaisar di Wilayah Utara dan Barat menyantakan bahwa, akan diadakan perlombaan persahabatan tahunan yang akan diikuti berbagai Kerajaan dan juga festival rakyat dengan berbagai macam pertunjukan. Jika anda semua berniat melihat pertandingan silahkan datang ke wilayah Fufeng dan nikmati juga pesta malam di istana, karena Istana Xiang Feng akan membuka gerbangnya lebar untuk kalian!"
Yiu sengaja menyuruh sang kusir untuk memperlambat laju keretanya dengan dalih agar tidak menabrak yang tengah berkerumun, hanya karena penasaran dengan pengumuman dari kakaknya itu.
Dari balik tirai satinnya, Yiu tersenyum samar penuh makna, "Mungkin hari-hari ke depan tidak akan cukup membosankan."
__ADS_1
TBC
Siapa ini yang nyuri mood ngetik ku huhu... diriku tak berdaya tanpa mood ngetik😣