
Yiu memilih diam mendengarkan interaksi antara Pangeran Liu Yu dan Kaisar Wang yang terus membahas banyak hal, dengan wajah dingin bercampur kesal dan pandangan tetap lurus ke depan.
Hanya karena ayahnya memiliki kekuasaan yang lebih besar saja sampai sampai diperlakukan dengan begitu hormat bahkan posisinya di anggap sejajar dengan Kaisar. Cihh dunia ini memang sama anehnya!
Kaisar Wang, "Aku akan segera mengurus semuanya secepat mungkin dan juga pesta pernikahan ini akan sangat mewah dan diadakan tiga hari tiga malam, Pangeran!"
Yiu seketika tersedak udara ...
Pangeran Liu Yu menarik kedua susut bibirnya dan menunduk sembari menundukkan bulu matanya sedikit, "Tidak perlu terburu-buru, Yang Mulia, yang terpenting adalah persiapan pernikahan ini haruslah matang dan skenario yang tersusun rinci agar tidak keliru suatu apapun dan semua ini haruslah dipikirkan dengan cermat, maaf jika ini sangat merepotkan Yang Mulia. Tapi jika saya boleh jujur, menurut saya yang paling penting adalah kedekatan yang harus tercipta diantara kita."
Pangeran Liu Yu menoleh lembut menatap wajah kesal Yiu yang masih belum menatap balik ke arahnya bahkan tidak mendengarkan apa saja yang mereka bicarakan sejak tadi dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
Entah mendapat perasaan di tatap darimana akhirnya Yiu menoleh dan maniknya bertemu dengan manik Liu Yu, "Apa? Kenapa menatapku begitu?!"
Kaisar Wang segera menyela, "A-Ying! Jangan bersikap tidak sopan!"
Liu Yu memutar kepalanya mengadap Kaisar Wang, "Tak apa ... kita belum terlalu dekat ... bisa dimaklumi, Yang Mulia. Aku saja yang terlalu lancang."
Kaisar Wang, "Tidak tidak! Putriku memang akhir-akhir ini terlalu sensitif. Ah iya, untuk tadi itu sama sekali tidak merepotkan .... Lagipula aku melakukannya dengan senang hati hahaha .... Ah iya maaf sebelumnya, Pangeran. Saya harus pergi mengurus hal lainnya jadi tidak bisa tinggal berlama-lama di sini dan terpaksa harus meninggalkan kalian. A-Ying tolong kau temani Pangeran Liu Yu bicara dan ajak juga dia juga berkeliling."
Sekali lagi Yiu tersedak udara ...
Kaisar Wang berdiri di ikuti dengan Pangeran Liu Yu dan Yiu yang kemudian menunduk hormat kepada Kaisar Wang yang mengangguk singkat sebelum melangkah keluar Aula Shanliang.
Yiu masih menatap kosong tempat bayangan Kaisar Wang yang sudah menghilang di balik dinding, masih berharap semua ini hanya imajinasi liarnya belaka sebelum sebuah suara rendah milik Pangeran Liu Yu menarik paksa dirinya kembali pada kenyataan yang pahit.
Pangeran Li Yiu tersenyum kemudian menunduk sedikit dengan tangan kiri yang terbuka mengarah ke depan--mempersilahkan Yiu berjalan terlebih dahulu--.
"Putri Ying? Mari."
Yiu mengangguk pelan dan berjalan beriringan dengan Pangeran Liu Yu menuju keluar Aula Shanliang dan berbelok ke arah koridor yang di samping kanan kirinya terdapat hamparan tanaman berbagai jenis bunga yang menyejukkan mata.
"Aku dengar tuan putri sangat menyukai seni beladiri dan mahir menggunakan senjata, apa itu benar?"
Yiu menoleh sedikit masih dengan wajah datarnya, "Saya tidak mahir hanya saya menyukainya."
Tatapan Pangeran Liu Yu melembut lalu tersenyum dan memperlihatkan lesung pipinya sebelum membuka sebelah telapak tangannya mendekat ke arah Yiu, "Kita menyukai hal yang sama, Putri ... Jadi maukah putri beradu pedang denganku?"
Yiu hanya melirik telapak tangan yang terbuka itu dengan dingin dan tersenyum kaku sembari menundukkan kepala pelan seolah enggan menyambut tangan Pangeran Liu Yu, "Dengan senang hati, Pangeran."
__ADS_1
Pangeran Liu Yu kembali tersenyum sembari menarik tangan kanannya dan membuka tangan kirinya ke arah depan dengan badan sedikit menunduk, "Mari Putri."
Yiu yang masih tanpa ekspresi kembali berjalan beriringan dengan Pangeran Liu Yu menuju lapangan pelatihan prajurit.
Kini Yiu sudah mengganti pakaiannya menjadi pakaian yang selalu ia kenakan saat sedang berlatih--sepasang baju besi ringan dan dengan lengan yang di ikat oleh seikat tali. Kemudian berjalan ke tengah lapangan pelatihan dengan membawa pedangnya pemberian dari sang ayah yang ia beri nama pedang sungai darah.
Di tengah lapangan, Pangeran Liu Yu sudah berdiri penuh elegan dengan kedua tangan di depan bertumpu pada pedangnya yang menancap di tanah.
Dia terlihat sangat anggun di bawah terik matahari dengan senyum manisnya yang entah sejak kapan tak bisa Yiu hiraukan kemunculannya dan manik yang menatap lembut ke arah Yiu.
Ujung pakaian dan rambut hitam kelamnya mengobak pelan di terpa angin sore hari, membuatnya terlihat bak keindahan sejati yang cukup membuat semua orang diam-diam mengagumi parasnya yang begitu agung.
Yiu dan Pangeran Liu Yu berdiri berhadapan dengan jarak cukup jauh antar keduanya, manik keduanya saling bertemu dan terdiam cukup lama sampai sebuah suara tegas dan penuh semangat mengintrupsi gerak keduanya.
Yiu selalu memilih menyerang terlebih dahulu, ia bergerak maju dan menghunuskan pedangnya dengan lihai ke arah Pangeran Liu Yu, pedang keduanya saling bertemu menciptakan suara nyaring besi beradu yang melengking tajam.
"Kemampuan berpedang anda ternyata cukup luar biasa, Putri. Saya jadi tidak begitu terkejut mendengar anda mendapat gelar Dewi Sembilan Langit."
Pangeran Liu Yu berbicara sembari terus melancarkan serangannya ke arah Yiu dengan kecepatan yang sempat menipu mata Yiu.
"Huh ... anda terlalu berlebihan dalam memuji, Pangeran."
Baru pertama kali ini dia bertemu dengan seorang ahli pedang yang sekuat dan setangguh Pangeran Liu Yu.
Gerakannya cepat dan membunuh, membuat Yiu sempat kewalahan sesaat. Jika Yiu kehilangan fokusnya sedetik saja mungkin ia sudah akan mendapatkan beberapa luka goresan yang dalam.
Dentingan pedang terus berbunyi tanpa henti hingga seluruh penjuru lapangan mungkin dapat mendengar suara berisiknya.
Keduanya bertarung cukup sengit di lapangan pelatihan dengan Yiu yang dominan merasa terpojok dan mundur beberapa langkah bahkan ia hampir menabrak pohon di belakangnya jika ia tidak segera menyadari keberadaan pohon itu.
Kaki kanan Yiu dengan cepat menapak ke batang pohon dan dalam sekali gerakan ia melakukan back flip membuat posisi keduanya kini berbalik dengan Pangeran Liu Yu yang sekarang terpojokan di pohon yang cukup besar itu.
Yiu melancarkan tebasan dengan cepat ke arah perut namun gerakannya dengan cepat dibaca Pangeran Liu Yu.
Detik yang sama Pangeran Liu Yu menunduk dan segera melangkah maju ke celah di sisi kiri Yiu kemudian hendak menyerang dari jarak dekat.
Yiu yang menyadari Pangeran Liu Yu lolos dari serangannya tanpa pikir panjang segera berbalik dan tanpa sadar tubuhnya bersenggolan dengan bahu kanan Pangeran Liu Yu dan kakinya yang tersandung di saat yang bersamaan membuat Yiu kehilangan keseimbangannya dan jatuh kesisi kiri.
Namun sebelum punggungnya menyentuh tanah, sebuah tangan yang ternyata merupakan tangan kiri Pangeran Liu Yu sudah sigap menangkap punggungnya lebih dulu.
__ADS_1
Yiu masih belum menyadari situasinya sekarang, manik keduanya saling bertemu cukup lama dalam keheningan yang menemani keduanya yang kini sama-sama tengah dalam posisi mematung tanpa mereka sadari, tenggelam dalam sekelumit pikiran yang kacau.
Tak berselang lama sebuah suara tepuk tangan serta sorakan riang yang nyaring terdengar dari kejauhan membuat Yiu dan Pangeran Liu Yu tersadar dari lamunan mereka masing-masing dan segera berdiri tegak untuk menengok ke arah sumber suara.
Di seberang lapangan pelatihan berdiri beberapa orang pria dan wanita yang terlihat seperti sedang asyik menonton pertarungan Yiu dan Pangeran Liu Yu.
Di barisan paling depan terlihat seorang pelayan yang asyik bertepuk tangan sembari sesekali bersorak 'hebat' atau 'putri dan pangeran sangat hebat benar-benar menakjubkan!' pada Yiu dan Pangeran Liu Yu.
Wajah pelayan itu sangat tak asing bagi Yiu, siapa lagi kalau bukan Chichi.
Yiu terlihat ingin mencekik pelayan 'tercintanya' yang satu ini dan berniat menghampirinya terlebih dahulu untuk segera memarahinya habis-habisan karena membuatnya kehilangan muka.
Baru selangkah dia berjalan Pangeran Liu Yu memanggilnya dan panggilan itu sukses membuat Yiu menghentikan pergerakannya membuatnya tak punya pilihan lain selain berbalik menghadap Pangeran Liu Yu dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Putri Ying ... Tolong tenang, jangan memarahi mereka, mereka hanya ingin melihat kita bertarung. Itu tidak ada salahnya kan? Sebaiknya anda beristirahat terlebih dahulu anda pasti lelah sekarang setelah bertarung."
Yiu tersenyum sedikit memaksa sembari menggaruk belakang lehernya yang tak gatal, "Baiklah kalau begitu saya pamit, Pangeran."
Setelah itu Yiu berjalan keluar lapangan dengan wajah dinginnya seperti biasa, tak lama kemudian Chichi mengikutinya tanpa suara di belakangnya.
Sesampainya Yiu di paviliunnya ia segera mendudukkan diri dengan suara 'bruk' di kursi dengan wajah lelahnya.
"Anda pasti lelah, Putri .... Sebentar akan saya sajikan teh untuk anda."
Chichi menuangkan teh ke dalam cangkir kecil di meja dan dengan cepat di minum oleh Yiu sebelum kembali menuangkan teh dari teko teh di tangannya sembari berbicara, "Putri apakah saya boleh bertanya? Apakah pangeran yang bertarung dengan anda tadi adalah Pangeran Liu Yu? Tunangan tuan putri?"
Yiu menyenderkan punggungnya di sandaran kursi sembari memutar bola mata jengah dan menjawab 'hm' dengan malas. Senyum Chichi semakin mengembang dan ia tampak terlihat semakin senang dan berbicara semakin panjang, "Benarkah, Putri? Wahh anda beruntung sekali mendapatkan tunangan setampan Pangeran Liu Yu, Putri! Dia sangat tampan dan juga sangat ahli berpedang bahkan hampir seluruh pelayan di istana diam-diam mengagumi ketampanannya, ahh anda sungguh beruntung dan kalian memang sangat cocok apalagi saat Pangeran Liu Yu menangkap tubuh anda yang akan jatuh tadi aaa dia sangat perhatian pada putri dan juga sangat ... romantis, ahhh anda sangat beruntung putri selamat selamat!"
Yiu menyesap teh dengan sekali tegukan dan melempar cangkirnya ke atas meja dengan bunyi 'tak' yang cukup keras membuat Chichi segera terdiam karena terkejut.
"Kau ini berisik sekali ya?! Tidak bisakah kau tutup mulut bebekmu itu sebentar?! Kepalaku sangat pusing mendengar ocehanmu itu kau tau!"
Chi chi seketika menunduk lesu, senyum yang sesaat tadi mengembang begitu jelas kini dalam sekejap mata sirna tergantikan dengan wajah cemberut cenderung takut, "Maafkan saya, Putri. Saya terlalu senang saat tau putri akan menikah dengan pangeran yang sangat tampan dan berasal dari kerajaan besar, itu saja."
Hati Yiu melunak, ia segera membuang napas kasar nan panjang, "Huhhh lupakan itu sekarang aku sangat lelah dan berkeringat cepat siapkan air mandiku."
Chichi mendongak dan kembali tersenyum sembari mengangguk cepat dan bersemangat sebelum pergi menyiapkan air mandi untuk Yiu, meninggalkan Yiu yang duduk sembari memijat pelipisnya, "Huh kenapa aku terus saja berbuat kesalahan hari ini."
TBC
__ADS_1