
Yiu beralih menatap Madam Ning yang sama bingungnya dengan dirinya.
Tuan Xu Rui masih mematung. "Maafkan hamba, Yang Mulia. Kami tidak tahu jika Anda tengah menyamar."
"Suami, apa maksudmu?" tanya Madam Ning.
"Tanda," jawab Tuan Xu Rui sedikit gemetar.
Madam Ning segera menutup pintu dan beralih ke sisi kanan Yiu, memperhatikan sesuatu sebelum kemudian ikut berlutut seperti yang suami dan anaknya lakukan.
"Mohon maafkan atas kelancangan kami, Yang Mulia," ucap Madam Ning dengan suara bergetar.
Yiu dalam diam mengukir pertanyaan di benaknya, Bagaimana bisa kalian tahu jika aku adalah Putri Ying? Apa aku membocorkan sesuatu?
Yiu menuntun Madam Ning untuk berdiri dan bertanya, "Apa maksud semua ini?"
Madam Ning menjawab takut-takut, "Kami pernah mendengar rumor jika Putri Qiu Wang tiba-tiba mahir beladiri setelah percobaan pembunuhan Putri Kekaisaran. Yang Mulia Putri Ying sangat mahir bertarung senjata dan refleksnya juga sangat cepat dan tepat. Dialah satu-satunya wanita bangsawan yang mahir memainkan senjata. Berita yang beredar, Putri Ying sangat pandai menyamar tetapi jika kalian melihat seseorang entah itu pria atau wanita yang mempunyai tanda lahir yang sangat langka yaitu berbentuk bulan sabit di telinga sebelah kanan maka itulah Putri Ying. Ku mohon maafkan kami Yang Mulia karena tidak mengenali Anda."
A/N : buat yang lupa bisa cek lagi di chapter 3 yaw..
Yiu tersenyum lega akibat sebelumnya mengira dirinya sedang dalam situasi berbahaya. Jadi ia segera menurunkan kewaspadaannya kemudian tangannya beralih mengaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Apa cerita tentangku bisa seheboh itu hingga seluruh negeri mengetahui detail paling kecil itu ahaha ...."
Tuan Xu Rui menjawab dengan posisi yang tak bergeser sedikit pun. "Cerita itu sudah menyebar hingga ke negeri seberang, Yang Mulia."
Yiu mengibaskan tangan malu dan menjawab santai, "Sudahlah ayo bangun dan masuk. Di luar sangat dingin."
"Baik, Yang Mulia." Satu keluarga itu berdiri dan memasuki ruang makan, mengular di belakang Yiu yang sudah lebih dulu melangkahkan kaki.
Yiu duduk di kursi makan kemudian meraih apel yang berada di keranjang buah dan memakannya tanpa beban seperti hari yang lalu.
Madam Ning tiba-tiba membersihkan tenggorokannya untuk memecah keheningan yang datang sejak identitas asli Yiu terbongkar beberapa waktu sebelumnya, "Saya akan ke dapur untuk memasak makan malam, Putri."
Yiu menoleh, "Apa perlu ku bantu?"
"Tidak perlu, Yang Mulia. Anda hanya perlu duduk saja saya akan menyiapkannya bersama A-Ruo." Madam Ning segera menarik tangan mungil Xu Ruo yang masih belum mengerti situasi apa yang tengah terjadi sebelum dirinya kembali terseret ke dapur.
Manik Yiu beralih menatap Tuan Xu Rui dan ketiga anaknya yang masih berdiri di sebelah Yiu dengan kepala tertunduk seperti pelayannya di istana, "Kenapa kalian tidak duduk?"
Putra Sulung Xu, Xu Lan, angkat bicara, "Kami yang rendahan ini tidak berani bertindak kurang ajar, Yang Mulia."
Yiu memutar bola matanya, tanpa kata tangan terulur menarik pergelangan tangan Xu Lan untuk duduk di bangku sebelahnya dan beralih menatap sisanya, "Tidak perlu seformal itu ... aku berhutang nyawa pada kalian jadi duduk dan bersikap seperti tak terjadi apa-apa."
Ketiganya dengan ragu-ragu berjalan mengambil duduk di kursi mereka, suasana menjadi hening kembali.
Putra bungsu Xu, Xu Bai, yang terlihat memiliki sesuatu untuk dikatakan bersuara memecah keheningan yang kesekian kalinya, "Mohon ijin, Putri. Apa aku boleh bertanya sesuatu?"
Yiu mengigit apelnya lagi sebelum berujar, "Tentu saja."
Xu Bai, "Maaf jika saya lancang tapi bagaimana bisa anda berakhir disini? Bukankah anda seharusnya berada di Bai Qing bersama Yang Mulia Liu Yu?"
Mendengar nama yang bagi Yiu adalah sebuah kutukan itu disebut bahkan disandingkan dengannya membuat Yiu dengan wajah menggelap tanpa sadar mengepalkan tangannya yang masih memegang apel. Dengan suara "splash" apel di tangan Yiu meledak hingga mengotori seluruh bagian meja.
Keempat pria itu terkejut dan segera berlutut dengan sedikit gemetaran. Putra kedua Xu, Xu Gui, angkat bicara, "Adik hamba telah lancang, Yang Mulia. Mohon Yang Mulia tidak memasukannya ke hati. Sebagai gantinya Anda bisa menghukum saya dengan hukuman mati."
Wajah Yiu masih memerah sebelum menghela nafas kasar dan menenangkan diri, "Lupakan semuanya dan bangunlah. Cukup satu hal yang harus kalian ingat. Dimasa depan Qiu Wang akan beradu pedang dengan Bai Qing jadi kusarankan kalian jangan ke ibu kota, di sana berbahaya."
Setelah kembali duduk, Tuan Xu dan putranya saling beradu pandang. Xu Lan kembali membuka mulut, "Maafkan kelancangan saya, tapi apakah Putri memiliki dendam pada Bai Qing? Jika iya kami bisa membantu."
__ADS_1
Yiu menatap Xu Lan dengan ekspresi rumit membuat sang pemilik wajah menunduk gemetar.
"Aku telah mencoba melarikan diri dari Bai Qing untuk kembali ke ibukota dan mengibarkan bendera perang sebelum tentara sialan mereka mencapai Qiu Wang tapi ... aku tidak tahu kondisi ibu kota, informasi di sana sangat dijaga ketat."
Xu Lan kembali berbinar dan dalam satu gerakan kembali berlutut dengan kedua tangan menangkup di depan kepala tertunduk, "Kami bersedia melindungi dan bergabung dengan pasukan bersama Yang Mulia untuk melindungi negeri!"
Tuan Xu dan kedua saudara Xu Lan segera mengikuti gerakan Xu Lan, "Kami bersedia mati mendampingi Yang Mulia!"
Yiu sempat terkejut sebelum kembali menormalkan ekspresinya dan bergegas mengangkat tubuh Tuan Xu Rui yang berada disebelah kanannya. "Bangunlah ... jangan seperti ini, aku tidak pantas. Bangun bangun."
Yiu kembali bersuara setelah beberapa saat, "Apa tujuan kalian ingin pergi ke ibukota sebenarnya?"
Tuan Xu, "Sebenarnya saya adalah kepala pasukan penjaga perbatasan di Provinsi Selatan dan anak-anak saya juga tergabung dalam pasukan. Saat itu entah kenapa Yang Mulia Kaisar menurunkan titah kerajaan untuk mengurangi sedikit pasukan perbatasan provinsi sehingga saya membubarkan pasukan dan membawa keluarga saya menuju ibu kota untuk berdagang dan melanjutkan hidup damai. Tapi tak disangka diperjalanan kami bertemu dengan Anda."
Yiu menganggukan kepala kecil. "Kalau begitu bisakah kalian membawaku menuju Qiu Wang secepatnya? Aku tadi melihat terlalu banyak pasukan Bai Qing di sini sehingga aku tidak bisa sembarang menyelinap masuk ibu kota ... setelah aku mencapai istana kalian kembalilah keluar ibu kota karena pasti sekarang ibu kota tidak aman."
Keadaan menjadi hening ....
Tak mendapat respon, Yiu tanpa pikir panjang segera menangkupkan kedua tangannya dan sedikit membungkuk.
Dirinya harus memohon karena luka dalamnya masih belum pulih seutuhnya sedangkan para pasukan inti Bai Qing pasti sudah berjaga di ibu kota sehingga sangat sulit untuk menyelinap masuk ibu kota dan juga pasti mereka telah mengambil sedikitnya setengah kursi pemerintahan di Qiu Wang, perlahan-lahan berusaha menggiring Qiu Wang ke jurang kematian.
Sontak Tuan Xu Rui beserta ketiga putranya panik, Tuan Xu Rui dengan cepat menahan tangan Yiu dan kepalanya tampak menggeleng panik.
Tuan Xu Rui, "Putri, kumohon jangan lakukan ini! Kami tidak pantas! Kami sangat bersedia membawa Putri memasuki ibukota dengan taruhan nyawa dan bergabung dengan pasukan karena di masa lalu leluhur kami sangat berhutang budi kepada Kaisar, tapi ... tapi bagaimana jika ternyata keadaan ibu kota tengah kacau? Bukannya kami takut hanya saja kami menghawatirkan keselamatan Putri dan Keluarga Kerajaan."
Yiu kembali duduk tegap setelah diyakinkan oleh Tuan Xu Rui. Akan tetapi perkataan Tuan Xu Rui sebelumnya membuat Yiu kembali berpikir dua kali.
Yiu, "Kalian tidak perlu mencemaskan diriku, aku baik-baik saja. Tapi kumohon kali ini bantulah aku kembali ke istana."
♣♦♣
Keluarga Xu dan Yiu bergegas meninggalkan rumah sewa dan melanjutkan perjalanan pagi-pagi sekali agar dapat mencapai ibu kota sebelum gelap dengan berjalan kaki, menggunakan kereta pembawa barang dengan kerbau sebagai penariknya.
Sekitar setengah hari rombongan itu hampir mencapai ibukota, jalur gunung yang mereka lewati mulai dipadati orang yang keluar masuk ibu kota.
Rombongan itu akhirnya mendekati gerbang masuk ibu kota dan menjalani pemeriksaan barang sebelum memasuki ibu kota oleh beberapa prajurit berseragam Qiu Wang.
"Berhenti! Kalian membawa apa?" ujar seorang prajurit penjaga gerbang sembari menyuruh prajurit lainnya memeriksa kotak kayu di kereta.
Tuan Xu Rui segera menjawab, "Kami pedagang sayur dan kain dari kota di Provinsi Selatan, Tuan."
Madam Ning dan keempat anaknya berdiri dengan ekspresi rumit, tangan Madam Ning berkeringat dingin sedangkan Xu Lan, Xu Gui, dan Xu Bai berusaha berekspresi seperti tidak ada sesuatu dan Xu Ruo yang berdiri di samping ibunya dengan ekspresi polos.
Kedua penjaga itu sudah selesai memeriksa kotak kayu yang berisi berbagai kain tenun, sekarang keduanya bergerak mendekati dua keranjang berisi sayur-sayuran dan menyibak penutupnya hingga tergeletak mengelilingi keranjang itu.
Yiu yang bersembunyi di dasar keranjang sayuran kedua mulai berkeringat dingin saat melihat penjaga itu mulai mendekat dari sela-sela keranjang bambu.
Yiu mencoba menundukkan kepalanya tapi kepalanya senantiasa menatap was-was penjaga itu.
Tak disangka kedua manik mereka bertemu tapi entahlah Yiu tidak bisa memastikan apakah penjaga itu benar-benar melihat Yiu atau tidak.
Yiu terdiam bak patung bahkan dirinya tak berani untuk sekedar bernapas. Tangannya diam-diam mengeluarkan belati dari sepatunya, bersiap menyerang kapan saja.
Penjaga itu mengamati bawah keranjang yang berisi lobak cukup lama membuat keluarga Xu berkeringat dingin, hingga penjaga itu berdiri dan mempersilahkan rombongan itu lewat, "Biarkan mereka lewat."
Yiu yang sudah bersiap ingin keluar dari tempat persembunyiannya kini bernafas lega. Kereta itu melaju memasuki ibukota.
Di lain sisi teman penjaga yang memeriksa keranjang sayur itu mendekati penjaga itu yang menatap kosong kepergian kereta rombongan Keluarga Xu yang sudah menghilang di tengah keramaian kota.
__ADS_1
"Kau kenapa?"
Penjaga itu menggeleng sambil tersenyum, "Surga sudah datang membantu kita dengan berkatnya."
♣♦♣
Setelah memasuki kota, Yiu keluar dari keranjang sayur dan segera mengenakan mantel berbulu sebagai penyamaran sekaligus penghangat di musim dingin.
Ia melihat banyak sekali pasukan Bai Qing dan Qiu Wang yang berpatroli di pasar maupun perumahan di ibu kota.
Xu Lan berjalan di sisi Yiu. "Putri, sekarang apa rencana anda?"
Yiu masih menunduk menutupi wajahnya di balik mantel bulu berwarna hitamnya. Ia bersuara lirih, "Kalian carilah rumah untuk tempat tinggal, aku akan melihat-lihat sebentar dan tandai rumah kalian dengan pita ini agar aku tau itu rumah kalian."
Xu Lan mengangguk dan menerima pita berwarna merah itu kemudian mengarahkan kereta kerbau berjalan menuju pemukiman, menyusuri jalan besar yang tertutup salju tipis.
Yiu segera memisahkan diri dari rombongan dan berjalan menuju Istana Qiu Wang.
Jalanan pasar kali ini ramai disesaki penduduk yang berdagang maupun membeli kebutuhan di awal musim dingin ini.
Kakinya bergerak dengan gundah, berjalan menunduk menyeret paksa kakinya untuk berjalan dan ia memeluk dirinya sendiri untuk menjaga suhu tubuh agar tetap hangat.
Ayah, ibu, kakak, aku pulang ....
Yiu telah menampakkan kakinya satu li dari gerbang istana tetapi Yiu merasa ada yang berbeda, gerbang istana tertutup rapat dan kenapa baju prajurit yang dikenakan sedikit berbeda dan serangkaian pertanyaan lain yang menumpuk di kepala Yiu.
Setelah itu ia melihat sebuah kereta kuda mewah dengan pengawalan ketat mulai memasuki istana dan dua orang yang turun dari kereta tersebut adalah orang yang sangat Yiu kenal, Liu Yu, dan tangan kanannya, Hai Ran.
Yiu bertanya-tanya dalam hati bagaimana bisa keduannya bisa dengan mudah memasuki istana? Lalu samar-samar Yiu mendengar suara samar dua pejalan kaki yang baru keluar dari sebuah kedai keramik tak jauh dari tempat Yiu berdiri.
"Kau tau setelah kematian Kaisar Wang dan Permaisuri Fu Yao, kedua pangeran juga menghilang secara tiba-tiba! Sekarang pemerintahan dipimpin oleh menantu kaisar, Yang Mulia Liu Yu," ucap salah satu laki-laki setengah baya itu.
Laki-laki setengah baya yang lebih pendek terkejut dan hampir menjerit, "Apa?! Sejak kapan kaisar dan permaisuri meninggal? Kenapa tidak ada upacara pemakaman? Kenapa ibu kota tidak berkabung?"
Lelaki itu kembali menjawab, "Kabarnya negara telah berada di tangan Bai Qing dan Kaisar Liu Yu lebih dulu menghabisi Putri Ying sebelum menggerakkan pasukannya kemari tapi sesampainya di Bai Qing, kaisar dan kedua pangeran mencurigai gerak-geriknya dan memutuskan untuk mencegat Liu Yu sebelum berhasil mencapai ibu kota. Tetapi semuanya terlambat, pasukan Bai Qing sudah berada di ibu kota diam-diam mengepung istana membuat pertarungan berdarah di istana tak terelakan dan menimbulkan kekacauan di seluruh ibu kota hari itu. Aku pikir pengumuman penobatan Kaisar Liu Yu adalah besok. Jangan lupa, aku ini mantan penjaga istana jadi aku tidak mungkin berbohong."
Lelaki satunya kembali menyahut, "Astaga saat itu aku masih di kuar ibu kota tapi kenapa beritanya tidak menyebar keluar ibu kota? Dan semoga kedua pangeran bisa kembali merebut Qiu Wang, aku tidak menyangka ternyata Kaisar Liu Yu seburuk itu. Semoga langit membalas kematian kaisar, permaisuri, dan Putri Ying."
Yiu kembali mengepalkan jarinya hingga berdarah, rasa sakitnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya saat ini. Ia mati-matian menahan rasa ingin menyerang masuk dan menantang Keparat Liu Yu untuk bertarung pedang kematian dengannya. Namun sayang, ia kembali harus menahan semuanya sebelum ia mengumpulkan pasukan untuk merebut Qiu Wang dan membunuh Liu Yu di bawah pedangnya sendiri.
Dasar binatang! Apa dengan membunuhku itu kurang cukup untukmu?!
"Lihat itu Putri Ying! Yang Mulia, Putri Ying di sini!"
Yiu menoleh dan melihat penjaga gerbang yang mengenali dirinya sebelum beralih menatap Liu Yu.
Liu Yu, "Cepat tangkap dia! Aku ingin dia hidup atau mati sekali pun!"
Yiu bergegas berlari kesembarang arah, menghindar dari kejaran serangan panah yang terus menembak ke arahnya.
Tenaganya belum sepenuhnya pulih, luka dalamnya kembali menimbulkan rasa sakit. Kakinya mulai memperlambat langkah panjangnya, nafasnya tercekat dan kepalanya pusing.
Ia tidak bisa melanjutkan pelarian ini! Yiu ambruk saat mencapai pojokan jalan buntu, samar-samar Yiu merasa ia tidak jatuh di tanah, mungkin pasukan Bai Qing sudah berhasil menangkapnya.
Tak apa jika di penjara lagi, setidaknya aku memasuki istana, aku akan memutar otak lagi. Tunggu, tapi suara ini ... suara ini ....
"LiYing, bertahanlah."
TBC
__ADS_1