
Merasa seperti ada yang mengguncang cepat tubuh Yiu, akhirnya Yiu kembali mendapatkan kesadarannya yang sempat hilang.
"Ahh ... Engkau rupanya Pangeran Wu Xiao maafkan aku yang mengiramu pencuri tadi hihi" Yiu terkekeh pelan melihat wajah Pangeran Wu Xiao yang sudah pasti merah padam walau cahaya yang berada disekitarnya sangat temaram.
"Dasar ... Ka ..." Pangeran Wu Xiao berteriak dan hendak memarahi Yiu namun harus terhalang akibat tangan Yiu yang spontan membungkam mulutnya dan menaruh jari telunjuknya dibibirnya.
"Sssttt ... Dasar bodoh kau ingin membuat Pangeran Xiao Ce dan Pangeran Huang terbangun dan kita ketahuan apa?" ucap Yiu tegas namun lirih karena takut akan ketahuan oleh kedua kakaknya yang mungkin saja juga menganggu tidur mereka di pagi buta.
"Salahmu sendiri karena dirimu kepalaku yang berharga ini jadi terasa pusing" ucap Pangeran Wu Xiao menggerutu namun sedikit memelankan suaranya membuat Yiu memutar bola mata jengah.
"Terserah. Mau apa kau kesini pagi-pagi buta seperti ini?" ucap Yiu menatap Pangeran Wu Xiao tajam.
"Bukankah aku sudah memberitahumu kemarin? Kau pura-pura lupa atau memang pelupa hmm?" Pangeran Wu Xiao terlihat sedikit kesal.
Yiu terkekeh pelan melihat raut wajah Pangeran Wu Xiao yang ditekuk masam.
"Aku hanya bercanda, lalu apa yang ingin kau berikan padaku sebagai hadiah?" ucap Yiu malas dan menopang kepalanya dengan satu lengan.
"Pakai ini cepat!" ucap Pangeran Wu Xiao sembari melempar pakaian yang dibungkus dengan kain kearah Yiu.
"Apa ini?" tanya Yiu setelah menangkap bungkusan kain itu.
"Baju penyamaran agar tak ada yang mencurigai kita, cepat pakai dan aku akan menunggu disini"
"Apakah aku tak boleh membasuh tubuhku dengan air dulu?"
"Tak usah badanmu sudah bau sejak dulu jadi jika kau mandi sekalipun itu tak akan ada gunanya" Pangeran Wu Xiao tampak santai menanggapi ucapan Yiu yang dihadiahi pelototan tajam dari Yiu.
"Cepat ganti bajumu! Apa perlu aku yang memakaikan bajumu?" ucap Pangeran Wu Xiao yang sudah ingin melompat masuk ke dalam kamar Yiu.
"Cari mati kau hah! Jangan coba-coba masuk!" segera Yiu menutup jendela kamarnya dan menganti pakaiannya secepat mungkin karena takut apabila nanti Pangeran Wu Xiao membuka paksa jendela Yiu saat ia sedang berganti pakaian.
Tak butuh waktu lama akhirnya Yiu membuka jendelanya dan melompat keluar, memakai hanfu wanita sederhana layaknya rakyat biasa.
Yiu dan Pangeran Wu Xiao berjalan sepelan mungkin agar tak ketahuan dan memanjat tembok tinggi pembatas kerajaan yang sudah dipasang tali untuk memanjat sebelumnya oleh Pangeran Wu Xiao.
Setelah mereka memanjat tembok kerajaan, mereka segera menuju ke arah seekor kuda bersurai coklat milik Pangeran Wu Xiao yang sudah menunggu mereka di dekat tembok kerajaan.
Yiu melotot tajam kearah Pangeran Wu Xiao karena hanya menyediakan satu ekor kuda untuk mereka berdua.
"Terlalu beresiko ketahuan jika aku membawa kabur 2 ekor kuda dikandang kuda milikku" ucap Pangeran Wu Xiao sembari menyengir kuda kearah Yiu.
Karena tak ingin bertengkar dengan Pangeran Wu Xiao akhirnya ia hanya mendengus malas menaiki kuda bersama Pangeran Wu Xiao.
Yiu berada di depan Pangeran Wu Xiao yang bertugas mengendalikan kuda miliknya, Pangeran Wu Xiao memacu kudanya sangat cepat membelah lebatnya hutan yang lumayan gelap akibat matahari yang baru akan memunculkan sinarnya diufuk timur.
__ADS_1
Meski begitu Pangeran Wu Xiao masih bisa melihat keadaan sekitar dan terus memacu kudanya.
Hawa dingin akibat embun pagi dan perjalanan mereka terasa mulai menembus masuk ke tulang Yiu, tubuhnya mulai mengigil kedinginan namun Yiu berusaha melawan rasa dingin itu sebisa mungkin.
"Pakailah jubahku untuk menyelimuti tubuhmu jangan sampai kau mati kedinginan dan merepotkanku"
Pangeran Wu Xiao menggunakan satu tangannya yang tak ia gunakan untuk memegang tali kemudi, mencoba melepaskan jubah yang ia pakai dan segera memberikannya ke Yiu.
"Terima kasih" kali ini Yiu tak menolak atau membantah perkataan Pangeran Wu Xiao sedikitpun.
Setelah perjalanan yang membelah hutan lebat dan menaiki medan yang terjal akhirnya sampailah mereka disebuah tempat yang menurut Yiu sangat indah.
Mereka berhenti di sebuah tebing curam dan dibawahnya terdapat hutan lebat yang memanjang hingga sejauh mata memandang sangat cocok untuk dijadikan tempat melihat sunrise.
Yiu langsung terpana akan keindahan alam yang ia lihat sekarang, sangat jarang ia bisa pergi melihat pemandangan alam yang masih sangat asri didunianya dulu, yang ada hanyalah hamparan gedung-gedung pencakar langit dengan polusi udara dimana-mana dan jika ia melihat pemandangan hijau pun pastinya hanyalah hutan belantara dan padang rumput yang dipenuhi darah ditanah akibat perang yang terjadi disana.
"Aku selalu disini saat sedang ingin sendiri karena disini aku bisa menikmati matahari terbit dan tenggelam sembari menikmati hamparan hutan hijau yang indah" ucap Pangeran Wu Xiao dengan tatapan lurus menatap matahari yang akan terbit sebentar lagi dan beralih menatap Yiu.
Pangeran Wu Xiao terpaku menatap Yiu yang sedang tersenyum sembari menutup kedua matanya lalu menghirup dalam dalam udara sejuk dipagi hari.
'Walaupun ia belum mandi tapi ia tetap terlihat cantik' mungkin itulah yang ada di pikiran Pangeran Wu Xiao entalah.
Dan ini adalah pertama kalinya Yiu bisa melihat pemandangan yang indah dikehidupannya sekarang setelah hampir berminggu-minggu hanya mendekam di istana saja entah itu di istana Qiu Wang maupun istana Zhang jika keluarpun hanya untuk pergi ke pasar.
Mereka terdiam beberapa saat memandang matahari yang sebentar lagi sudah menunjukkan seluruh sinarnya.
"Sudah puas menikmati? Jika sudah ayo kita pergi ke pasar aku sangat lapar sekarang" Pangeran Wu Xiao menarik tangan Yiu yang masih terhanyut dengan pikirannya menuju kuda mereka.
Yiu yang terkejut tangannya tiba-tiba ditarik hanya bisa pasrah lagipula ia juga lapar sekarang mengingat sejak kejadian kemarin ia belum makan atau minum apapun.
Pangeran Wu Xiao sudah sangat lapar sekarang, ia langsung menaikan Yiu keatas kuda dan dirinya kemudian memacu kudanya cepat menuruni bukit menuju pasar dekat istana.
Sesampainya mereka di pasar, Wu Xiao meninggalkan kudanya di gerbang masuk pasar tanpa repot-repot menali kudanya agar tidak kabur, ia tau kudanya itu pasti akan setia menunggu pemiliknya kembali.
Pangeran Wu Xiao dan Yiu masuk kedalam area pasar, Pangeran Wu Xiao kini sudah memakai topi bambu untuk menyembunyikan wajah dan identitas aslinya, topi itu ia dapatkan di warung yang nampak sepi dan disana tergeletak sebuah topi tanpa tau siapa pemiliknya.
Dan untuk Yiu ia tak perlu repot-repot menyembunyikan wajahnya, buat apa ia menyembunyikan wajahnya jika saat dirinya menyamar menjadi seorang pelayan di sekitar kerajaannya saja tak ada satupun rakyatnya yang mengenali Yiu apalagi disini.
Mereka berjalan beriringan menembus masuk diantara kerumunan orang yang berada di pasar yang tak terlalu padat.
"Kau ingin makan apa?" Pangeran Wu Xiao memecah keheningan diantara keduanya walaupun dipasar tersebut sudah cukup ramai oleh pedagang dan pembeli.
"Terserah kau saja" ucap Yiu sembari celingak celinguk entah apa yang sedang ia cari.
__ADS_1
Pangeran Wu Xiao mengenggam tangan Yiu dan membawanya masuk kedalam kedai yang cukup besar dengan interior dan ukiran ukiran indah menghiasi kedai itu.
Setelah memilih tempat duduk, seorang pelayan kedai menghampiri mereka untuk menanyakan pesanan.
"Apa yang Tuan dan nona ingin pesan?"
"Aku ingin teh hijau, *Jiaozi, dan "baozi, kalau kau Ying?"
"Samakan denganmu saja."
*Jiaozi (Pangsit Cina)
Dipenuhi dengan sayuran dan atau daging, Jiaozi - atau pangsit Cina - adalah makanan jalanan yang umum. Mereka berbentuk seperti batangan emas kuno, yang diyakini membawa keberuntungan bagi Anda. Jiaozi dimakan sepanjang tahun, tetapi lebih pada Tahun Baru Cina.
*Baozi (Roti China)
Baozi adalah roti adonan yang sering diisi dengan daging yang berair seperti **** panggang atau sayuran, dikukus dalam nampan mengepul yang terbuat dari bambu. Mereka disiapkan dengan cara yang sama Jiaozi pangsit disiapkan bedanya adalah baozi terdiri dari adonan yang lebih tebal, serta jumlah pengisian yang lebih besar.
Setelah menunggu beberapa waktu makanan yang mereka pesan telah tiba dan tanpa menunggu aba-aba Pangeran Wu Xiao segera melahap jiaozi-nya rakus.
"Kau seperti belum makan setahun saja" ejek Yiu sembari meminum teh hijau miliknya.
"Kau tau, aku benci makanan istana. Disana makanannya selalu saja sudah dingin karena peraturan istana setiap jam makan seluruh anggota kerajaan baru boleh menyantap makanannya ketika Kaisar dan Permaisuri telah hadir kecuali jika memang ada urusan penting, Kaisar pasti selalu datang terlambat dan makanan yang sudah disajikan akan menjadi dingin" Pangeran Wu Xiao berbicara panjang lebar sembari mengunyah jizao kelimanya dan baozi ketiganya.
"Kau ini cerewet sekali rupanya" Yiu berdecak kesal karena ocehan Pangeran Wu Xiao yang jauh dari kata seorang Pangeran.
Setelah menyelesaikan sarapan pagi dengan sedikit adu mulut dan candaan receh dari Pangeran Wu Xiao, akhirnya keduanya memutuskan untuk segera kembali ke istana sebelum penyamaran mereka terdeteksi.
Wu Xiao memarkirkan kudanya di sebelah dinding yang berbatasan dengan pavilium Yiu yang terdapat pohon besar menjulang tinggi melebihi dinding pagar istana.
Yiu dan Pangeran Wu Xiao memanjat pohon tersebut dan berjalan perlahan sembari menunduk diatas atap pavilium yang miring dan licin lalu turun tepat didekat jendela pavilium Yiu.
"Segera ganti pakaianmu dan berpura-pura tidur, terima kasih telah menemaniku pagi ini semoga takdir akan mempertemukan kita lagi setelah ini" Pangeran Wu Xiao tersenyum lalu bergegas menuju paviliumnya sebelum ketahuan.
Yiu terdiam namun maniknya terus terfokus pada Pangeran Wu Xiao hingga tubuhnya hilang dibalik dinding istana.
Untung saja hari ini penjagaan dibelakang pavilium sedikit lengah karena mereka terlalu sibuk mengurusi tamu undangan yang satu persatu meninggalkan Istana Zhang untuk kembali kekerajaan masing-masing.
Yiu segera berganti pakaiannya dengan hanfu tidur yang ia pakai sebelumnya dan duduk ditepi ranjang dan tepat saat ingin merebahkan tubuhnya tiba-tiba pintu kamar dibuka cepat oleh Chichi membuat Yiu menoleh cepat.
Raut wajahnya seperti seorang yang baru saja lari marathon, pucat pasi lengkap dengan nafas terengah engah dan ketakutan tersirat jelas dimatanya.
"Putri, kita harus segera kembali. Terjadi penyerangan di daerah kerajaan Qiu Wang, para Pangeran harus segera memadamkan penyerangan itu dengan membawa bala bantuan dari sekutu" ucapan Chichi sukses membuat Yiu tersentak kaget.
Kenapa firasat ku tidak enak?
__ADS_1
TBC