
Yiu mendudukkan dirinya di sebuah kursi dekat arena agar tetap bisa melihat hiburan selingan sembari mengistirahatkan tubuhnya sebentar lagipula jika ia kembali ke tempat duduknya akan terlalu merepotkan karena berada di menara tingkat kedua.
Tak lama kemudian, masuklah sekelompok gadis dengan pakaian mereka yang mengombak indah tertiup angin, mereka semua memakai pakaian yang indah nan gemerlap bak kecantikan surgawi dan mulai menari di tengah arena di iringi alunan musik yang mengalun lembut membuat setiap pasang mata tidak bisa tidak memuja keindahan yang ada di depan mereka.
Yiu yang tak bergerak dari posisinya hanya menatap udara kosong di depannya dengan masih memegang erat pedangnya dan terkadang melempar singkat ke udara lalu menangkapnya kembali akibat bosan, ia sempat tertarik dengan hiburan tarian yang disuguhkan di depannya untuk beberapa saat sebelum merasa tarian itu membosankan dan gerakan yang di ulang-ulang.
Yiu kini tengah di lingkupi aura membaranya yang sudah sangat siap menghadapi lawan dan dengan melihat pertunjukan yang menurutnya terlalu membosankan di tambah ia sekarang merasa waktu bergerak lebih lama dari yang seharusnya membuatnya tidak bisa tidak bertambah geram.
Jika saja Yiu sekarang tidak sedang berada di acara formal ia pasti sudah memaksa masuk ke arena, mengusir paksa gadis penari itu dari arena dan menyeret asal pria yang bisa bertarung pedang dengannya. Salah siapa sudah membuat tangan Yiu gatal ingin bertarung dengan orang lain!
Di sela-sela hiburan, Chichi sempat beberapa kali menawarkan teh maupun pijatan lembut untuk Yiu yang sudah memasang muka masamnya dengan balasan tolakan mentah oleh Yiu.
Setelah menunggu hampir dua dupa pembakaran, akhirnya tarian para gadis itu selesai dan sekarang waktunya melanjutkan pertarungan yang sempat tertunda beberapa saat yang lalu.
Pangeran Wu Xiao ternyata juga sudah berada sisi arena lainnya dan masuk lebih dulu daripada Yiu. Mereka berdiri menghadap satu sama lain dengan pedang di tangan kanan mereka masing-masing.
Manik keduanya kini saling menatap satu sama lain dengan terpisahkan jarak beberapa kaki. Yiu dengan raut wajah yang sudah sedikit memerah karena tidak sabar dan Pangeran Wu Xiao yang masih memasang senyum merekah namun terlihat memiliki maksud tersembunyi di wajah putihnya.
"Apa kabar LiYing? Apakah selama aku tidak ada kau masih diam-diam membuat onar di luar hmm? Berapa banyak perampok yang kau bunuh di pasar akhir-akhir ini atau berapa banyak kau diam-diam membeli tanghulu disana? Katakan!"
[A/N : Buat yang pelupa:v LiYing itu nama panggilan khusus dari Wu Xiao untuk Yiu karena Yiu sempat menyamar sebagai Zhou Li sehingga nama akhiran Li dipake jadi nama depan tambahan dari Ying dan 'pria gila' itu adalah julukan khusus juga dari Yiu untuk Wu Xiao gegara tingkah lakunya yang sangat 'menyimpang' dr sifat pangeran:v eh paham gk sih?.. Kalau masih blm paham baca ulang aja chap 14 ya hehe]
Pangeran Wu Xiao membuka percakapan lebih dulu dan mencoba menggoda Yiu seperti saat mereka bertemu dulu dikerajaan Zhang Wu.
Yiu memutar kepala jengah dan memasang posisi siaga menyerang setelah mendengar aba-aba 'bersiap' dari Jendral Meng Yao yang berada di atas menara.
"Berhentilah bermain-main, Pria Gila atau aku akan membunuhmu!" Disaat bersamaan Yiu menyerang Wu Xiao dengan sebuah tusukan yang diarahkan ke bagian perut dan dengan sigap Wu Xiao memutar tubuhnya ke samping untuk menghindari serangan sebelum menyempatkan diri untuk membalas ucapan Yiu tadi.
"Apa kau yakin kau bisa membunuhku, LiYing? Kau tidak akan bisa menemukan lagi teman yang setampan dan semenarik diriku di dunia ini apa kau tega hmm?" Tubuh Pangeran Wu Xiao terus bergerak menangkis dan sesekali melakukan serangan ke arah Yiu dengan mulut yang tak juga berhenti berceloteh tidak jelas.
"Aku tidak punya teman!" Yiu melakukan tebasan ke arah kaki tapi serangannya segera terbaca oleh Wu Xiao yang langsung melompat kesamping dan menyerang Yiu dari arah samping.
Wu Xiao kembali berbicara dengan cengir kudanya yang tercetak jelas di wajah putihnya mengabaikan wajah menakutkan Yiu yang jika dilihat orang biasa maka bisa dipastikan orang itu akan langsung pingsan akibat ketakutan setelah melihatnya.
__ADS_1
"Keganasan dan ketidakramahanmu memang tak pernah berubah sejak kita pertama bertemu, LiYing! ... dengan sikapmu yang sedingin ini tak akan ada yang mau berteman denganmu dan kau akan sendirian seumur hidupmu kecuali jika kau mau menjadi temanku kita bisa saling membantu satu sama lain bagaimana?"
Wajah Yiu semakin menggelap dan Yiu menjadi semakin agresif dalam menyerang, ia mulai menebas, menusuk, menjegal, dan melakukan banyak gerakan tipuan tapi seluruhnya dapat terbaca dengan jelas oleh Wu Xiao membuat matanya semakin terlihat mengerikan.
"Tidak akan! Tutup mulut bebekmu itu! Aku muak mendengar ocehan tidak berguna darimu!" Kesabaran Yiu semakin menipis dan serangannya semakin agresif tetapi Wu Xiao bukanlah seorang yang bisa dianggap remeh dalam berpedang jadi akan cukup sulit untuk melawannya.
Karena bertarung dengan amarah serangan Yiu yang terlalu terburu-terburu di tangkis dengan cukup kuat oleh Wu Xiao dan membuat pedang Yiu terlepas dari gengamannya.
Tanpa pikir panjang Yiu menunduk menghindari tebasan pedang Wu Xiao sekaligus berusaha mengambil kembali pedangnya yang terjatuh ke tanah.
Sebelum tangannya berhasil menyentuh ujung pedangnya, kaki Wu Xiao sudah mendorong mundur tangan Yiu dan kembali mengacungkan pedangnya ke arah Yiu.
Tubuh Yiu menyamping dan menunduk untuk menghindar dari serangan pedang yang menuju ke arahnya secara bertubi-tubi kemudian Yiu mencondongkan tubuhnya ke belakang dan berguling ke samping kemudian dengan cepat dan penuh tenaga, kaki kanannya menendang pergelangan tangan Wu Xiao yang membuatnya melepaskan pedangnya dan segera di tangkap oleh Yiu sembari bangkit berdiri dari tanah seteleh berguling beberapa kali.
Kini keadaan mereka berbalik, Yiu kembali memegang pedang di tangan kanannya dan Wu Xiao yang bertangan kosong.
Yiu menyunggingkan senyum dinginnya lalu kembali menyerang Wu Xiao dengan sedikit berlari karena jarak antar keduanya menjadi cukup jauh setelah Yiu berguling di tanah.
Tanpa disangka Wu Xiao menunduk dan berguling di tanah sama seperti yang baru aaja dilakukan oleh Yiu bedanya gerakannya lebih cepat dan gesit dari Yiu.
Para Bangsawan yang melihat pertarungan dengan gerakan unik itupun mulai saling berbisik dan beberapa mulai diam-diam menertawakan adegan yang sedang dilakukan Pangeran Wu Xiao.
Tak lama setelah berguling sekitar tujuh atau delapan putaran Pangeran Wu Xiao melempar tanah yang sudah di gengam di tangan nya sebelumnya, membuat Yiu refleks menutup matanya agar tanahnya tidak mengenai mata dan kemudian membukanya sedikit membuatnya kehilangan fokus sesaat tapi masih tetap berusaha menganyunkan pedangnya asal dan menghetikan gerakannya di udara.
Kabut tanah yang tercipta sesaat, menutupi kedua petarung itupun akhirnya menghilang dan Yiu kembali membuka penuh maniknya.
Saat membuka mata ternyata pedang yang ia kira berada di udara kosong ternyata sudah berada di leher Pangeran Wu Xiao, sesaat Yiu bersenang hati namun setelah melihat arah tangan kanan Pangeran Wu Xiao yang mengarah ke arahnya, Yiu akhirnya menyadari situasi sepenuhnya.
Mereke sama-sama kalah!
Pedang Pangeran Wu Xiao ternyata juga sudah berada di dekat lehernya membuat keduanya terkunci dalam kuncian lawan, keduanya hanya bisa diam terpaku dan tidak berbuat apapun.
Karena jika mereka bergerak sedikit saja sudah pasti pedang sang lawan siap mengiris tipis kulit leher mereka ataupun sebaliknya.
__ADS_1
Keadaan menjadi hening seketika. Tak berselang lama mulai ramai terdengar berbagai bisikan yang saling bersahutan.
"Lihatlah, Mereka sama-sama kalah jadi siapa yang menjadi pemenangnya?"
"Benar, pedang keduanya berada di leher lawannya jadi mereka bisa dianggap seimbang! Dan keduanya adalah pemenangnya!"
"Kemampuan mereka sama-sama hebat jadi akan sangat sulit untuk menentukan siapa pemenangnya jika dilihat dari keahlian berpedang. Tapi Pangeran Wu Xiao mungkin sedikit unggul?"
Beberapa Putri kerajaan mulai berbisik-bisik membicarakan hasil pertarungan ini dan menebak siapa pemenang pertarungan pedang kali ini.
Ditengah bisikan-bisikan yang semakin membesar hingga berubah menjadi topik pembicaraan, Kaisar Feng bertepuk tangan lambat namun keras dengan senyuman terpatri diwaijahnya yang penuh wibawa.
"Pertandingan yang cukup unik tapi tetap berkesan bagus bagus kalian berdua memang hebat!!"
Yiu dan Wu Xiao menurunkan pedang mereka masing-masing dan berdiri bersebelahan menghadap Kerajaan Feng lalu membungkuk singkat.
Perbedaan wajah keduanya terlihat sangat kontras, Pangeran Wu Xiao dengan senyum lebar nan ramah yang senantiasa terpahat jelas di wajahnya dan raut wajah dingin dengan manik mata sebening kaca dan setajam elang yang sama sekali tidak menunjukan keramahan tercetak jelas di wajah Yiu.
Pakaian perang keduanya mengombak pelan menari-nari di udara terlihat bagai ombak dan dengan punggung tegap dan pedang di tangan kanan mereka masing-masing membuat keduanya terlihat bagai laksana pendekar langit yang begitu memikat hati.
"Yang Mulia, ijinkan hamba bertanya siapa pemenang pertandingan ini? Pedang keduanya sama-sama berada di leher lawan dan itu artinya mereka sama-sama kalah!" Jendral Meng Yao menunduk hormat menunggu jawaban atas pertanyaannya.
"Untuk apa kau bertanya padaku, Jendral? Bukankah sudah terlihat jelas siapa pemenangnya? Mereka berdua adalah pemenangnya!"
Jendral Meng Yao mengerti maksud perkataan Sang Kaisar dan semakin merendahkan badannya sebelum kembali berdiri tegap mengahadap ke arah arena tempat dimana Yiu dan Pangeran Wu Xiao berdiri.
"Selamat untuk Pangeran Wu Xiao dan Putri Wang YingMei kalian berdua adalah pemenang pertandingan tahun ini! Selamat atas kemenangan kalian berdua!" Suara lantang Jendral Meng Yao terdengar hingga sudut-sudut menara diikuti suara berisik dari tepuk tangan semua orang yang hadir termasuk Kaisar Feng dan Permaisuri Hua Ji dan ucapan selamat langsung Pangeran maupun Putri dari tempat duduk mereka disela tepukan tangan mereka.
Yiu tersenyum sedikit namun ada sedikit guratan rasa ketidakpuasan di hatinya, setelah memberi hormat ia berbalik hendak keluar dari arena sebelum suara rendah Pangeran Wu Xiao menghentikan niatnya.
"Lain kali jangan biarkan lawan memancing emosimu dan mulailah belajar mengontrol emosimu agar tidak cepat marah hanya karena hal-hal sepele karena itu akan menjadi kelemahanmu suatu hari nanti ... dan jika saja tadi aku tidak melempar tanah dan mempertaruhkan nyawaku dengan menempatkan leherku di dekat pedangmu pasti sekarang kau sudah kehilangan wajah jadi kau seharusnya berterima kasih kepadaku yah walau aku tau tak akan sudi melakukannya. ... Jadi selamat atas kemenanganmu, LiYing!"
Wu Xiao berjalan keluar arena setelah menyelesaikan perkataannya meninggalkan Yiu yang masih mematung di posisinya beberapa saat dengan wajah yang tidak dapat ditebak sebelum akhirnya berjalan mengikuti arah Pangeran Wu Xiao keluar dari arena.
__ADS_1
TBC