Flower Of War

Flower Of War
Chapter 70 : Target Selanjutnya


__ADS_3

Hari itu terasa waktu berjalan begitu lamban. Jasad Pangeran Ming Zijing sudah berangkat menuju Kerajaan Guang Ming untuk dikremasikan.


Yiu duduk sembari menyeka busur panah milik Ming Zijing. Tatapannya kosong seolah jiwanya terserap ke dalam kenangan bersama busur yang kini sudah tak berpemilik itu.


Sebuah kendi kecil terulur padanya, membuat kesadarannya tertarik kembali. Aroma manis dari kendi arak itu menusuk lembut hidung Yiu.


"Mau minum bersama?"


Awalnya, Yiu mengira Wu Xiao datang untuk menghiburnya. Namun, suara berat yang tenang itu membuat Yiu menoleh untuk memastikan.


"Huang Ge...."


Pangeran Huang tersenyum manis sembari kembali mengangkat kecil kendi arak yang terulur untuk Yiu.


Kedua kakak beradik itu minum bersama beratap langit malam yang tak berbintang.


"A-Ying, aku ingin bertanya satu hal padamu."


"Tolong jelaskan, Ge."


Huang menyesap arak terbaik di Kerajaan Zhang Wu yang ia bawa secara eksklusif bersamanya sebelum menoleh dan bertanya, "Apakah kamu masih ingin melanjutkan perang ini?"


Pertanyaan itu spontan mendapat respon negatif dari Yiu. "Apa maksud Gege?! Perang ini harus terus berlanjut sampai kita meraih kemenangan."


Huang tidak menunjukkan emosi, ekspresinya datar dan tenang bagai sungai tenang yang menghanyutkan.


Ia tersenyum kecil sembari meneguk satu tegukan penuh. "Kau tahu, A-Ying, perang hanya akan merugikan kedua belah pihak. Tidak akan ada pihak yang diuntungkan dalam perang."


Yiu mengeryit curiga, merasa aneh pada sikap kakaknya. "Aku tahu itu. Tetapi aku pernah mendengar sebuah pepatah, 'Jika kamu menginginkan kedamaian bagi dunia maka kamu harus bersiap untuk bertarung melawan dunia, kamu harus siap mengorbankan apa pun termasuk hidupku sendiri' .... Maka dari itu aku sudah mempersiapkan diriku di versi terburuk."


Huang melirik heran, ia belum pernah mendengar puisi yang sesingkat itu dan tidak memiliki kalimat sastra yang tinggi seperti hanya sebuah ucapan tanpa latar.


Bahasa yang sederhana tetapi penuh makna dibaliknya membuat Huang kembali terheran-heran. Apakah penyair ini baru saja menapaki dunia sastra?


"Puisi yang indah dan berbobot, A-Ying. Jika kamu yakin dengan jalanmu maka teruslah melangkah tanpa keraguan, Gege akan selalu mendukung di belakangmu walau tidak selamanya."


Yiu yang sedang menenggak araknya tiba-tiba tersedak dan batuk singkat. Huang yang panik segera menepuk-nepuk ringan pundak sang adik.


"Apa maksud Gege?! Ge, kumohon jangan berkata hal yang tidak masuk akal."


Huang menyeletuk, "Tidak ada yang tidak masuk akal. Kita semua manusia yang pada akhirnya akan mati, itu sudah takdir yang pasti."


Huang menggeser duduknya lebih rapat pada Yiu. Diusapnya singkat ujung kepalanya sembari berkata, "A-Ying, aku hanya ingin berpesan bahwa perang ini tidak akan pernah membawa kebahagiaan. Akan banyak darah yang tumpah, kebahagiaan yang terenggut karena sebuah perpisahan. Banyak keluarga yang akan menderita dalam masa-masa seperti ini."


Wajah Huang sedikit memerah dan rahangnya menegas. "Tapi, harus kamu ketahui, aku dan para prajurit kita akan berdiri dan berkorban nyawa bersamamu demi masa depan generasi mendatang yang lebih baik, masa depan anak cucu kita yang damai dan penuh suka cita. Maka dari itu, aku ingin kamu berjanji untuk tidak akan melibatkan perasaan dalam pengorbanan ini. Kita semua bisa saja mati detik ini atau besok tapi api yang ada di dalam jiwa kita tidak akan pernah padam. Harus ada seseorang yang bisa meneruskan mimpi ini."


Diraihnya tangan sang adik yang nampak kebingungan dalam mencerna maksud sang kakak.


"Berjanjilah padaku, entah siapa lagi yang akan kehilangan nyawa, entah itu Wu Xiao, aku, Dage, atau siapa pun, berjanjilah untuk tidak menangis atau mengurung diri, merasa bahwa dirimulah yang bersalah. Kamu harus berani berdiri kembali dan menganggap kematian itu sebagai sebuah tanggung jawab untuk semakin mengobarkan api itu. Kita adalah harapan satu-satunya rakyat, lebih baik kita semua mati daripada rakyat yang harus menanggung penderitaan. Maukah kamu berjanji untuk tidak akan ada air mata maupun kesedihan di perjalanan kita?"


Yiu merasakan sekujur tubuhnya merinding, maniknya yang terpaku perlahan berembun dan kabur. Ia berkedip dan menggeleng ringan untuk menjernihkan pandangannya.


Ia mencoba mengalihkan topik walau terbata-bata. Namun, selalu terpotong dengan pertanyaan yang terus dikukuhkan sang kakak.


"A-Ying, ini serius!" Suaranya tidak main-main membuat Yiu tak dapat mengelak kembali.


"Baiklah, aku berjanji." Yiu merasa sang kakak saat ini tengah emosional dan dia mengerti itu.


Hidup ini bagaikan memancing, jika ingin mendapatkan ikan yang besar maka harus mempertaruhkan umpan yang besar pula.


♣♦♣

__ADS_1


"Menurut kabar, Jenderal Shen sudah kembali dari wilayah barat, Yang Mulia."


Pria berpakaian satin yang tengah duduk santai di kursi kerjanya sembari meniup-niup tehnya melirik atensinya pada pria yang berlutut di bawahnya. "Lalu?"


Pria yang berlutut itu tampak gemetar dalam menjawab. "Kita kehilangan hampir seluruh pasukan dan pasukan pemanah berpencar karena ledakan sehingga hanya Jenderal Shen yang berhasil pulang."


"Tidak berguna," bisiknya pelan sembari menyeruput teh berkualitas tinggi di Bai Qing.


Pria setengah baya itu segera bersujud untuk memohon ampun, "Yang Mulia, mohon jangan marah. Hamba masih memiliki kabar baik yang ingin hamba sampaikan."


Setelah mendapat persetujuan Liu Yu, pria itu melanjutkan, "Pasukan musuh juga kehilangan sebagian besar pasukan yang mendiami markas tersebut dan yang paling penting mereka kehilangan salah satu jenderal besar mereka yang sekaligus merupakan salah satu pangeran berbakat dari Guang Ming, Pangeran Ming Zijing. Ini semua atas berkah Yang Mulia untuk angkatan laut Bai Qing."


"Oh? Apakah dia pria yang membawa kabur Pangeran Huang dari ibu kota waktu itu?"


"Benar, Yang Mulia."


Liu Yu tersenyum cerah, meletakkan cangkir tehnya dan menghela napas. "Ini merupakan pukulan telak bagi mereka. Tikus-tikus ini hanya perlu diberi tekanan sedikit lagi dan mereka akan bertekuk lutut di bawahku cepat atau lambat."


Liu Yu bangkit berdiri dan berjalan pelan menuju jendela ruang kerjanya. Angin berhembus ringan menimpa wajahnya yang nampak lesu dan pucat. Namun, sorot matanya masih sangat cerah nan tajam.


"Kudengar, A-Ying dan kedua kakaknya sangat dekat Pangeran Ming Zijing."


Liu Yu terkekeh sebelum kembali melanjutkan, "Bahkan gosip kerajaan yang beredar adalah keduanya saling menaruh hati .... Huh, sungguh tragis."


Wajahnya kembali berubah serius, ia menoleh kecil pada pejabat yang tengah berlutut itu, "Dengarkan perintahku, gerakkan mata-mata terbaik ke timur dan bakar gudang senjata mereka. Maksimalkan kesempatan emas ini."


"Baik, Yang Mulia." Pria itu memberi hormat dan hendak segera keluar dari ruangan sebelum Liu Yu kembali bergosip, "Dan aku ingin dengar siapa saja pria yang dekat dengan A-Ying-ku. Ah, khususnya Pangeran kedua dari Zhang Wu, kudengar ia selalu menemani A-Ying beberapa tahun terakhir. Jadi, kamu tau apa yang harus dilakukan selanjutnya bukan?"


"Hamba mengerti, Yang Mulia."


♣♦♣


Tiga hari pasca kematian Ming Zijing.


Hari itu cuaca tengah panas, mentari bersinar begitu terik di atas kepala mereka. Yiu tengah mengawasi para prajurit berlatih sembari sesekali mengajak mereka berduel untuk mengetahui titik lemah mereka.


Ditengah keramaian, Yiu merasakan kehampaan. Sepi dalam keramaian ini membuatnya tidak nyaman.


Dulu, dia sangat menikmati kesendirian. Namun, banyak hal telah terjadi dan banyak hal yang berubah.


Di saat ia kesulitan seperti ini, bahunya dipaksa untuk kembali kuat dan hatinya dipaksa mendingin walau ia tahu perempuan adalah makhluk yang mengandalkan perasaan tetapi konteks ini tidak berlaku padanya.


Ada banyak tanggung jawab yang harus penuhi, ada banyak harapan istri-istri yang menunggu kepulangan suaminya dari medan perang, banyak tawa dan masa depan anak-anak yang ia pertaruhkan.


Ia merasakan emosi yang tidak stabil akhir-akhir ini. Ia tidak akan munafik jika ia butuh bahu untuk bersandar saat ini. Ia sudah kehilangan dua sahabat yang memegang peran penting dalam hidupnya. Ah, bukan dua tapi satu, ia masih yakin jika Chichi masih bertahan hidup di sana. Ia yakin itu.


Yiu sebenarnya terlalu takut untuk bercerita tentang kecemasan di hatinya kepada sang kakak, ia takut menganggu pikiran dan kesehatannya karena ialah yang paling terpukul oleh kematian Ming Zijing di antara yang lainnya. Ia malu karena tidak bisa setegar sang kakak.


Dan sekarang pria gila yang dulu sering menganggunya kini tiba-tiba sering menghilang tanpa kabar. Apa dia sedang mabuk-mabukan bersama wanita-wanita cantik di suatu tempat untuk mengatasi rasa sedihnya? Rasanya Yiu ingin memotong mulut besar Wu Xiao begitu ia bertemu dengannya agar ia sadar bahwa saat ini sedang dalam masa perang.


Berani sekali si gila itu berkata akan selalu ada untuknya dan menemaninya sedangkan di saat Yiu sedang membutuhkannya, si gila tak tahu diri itu malah bersenang-senang dengan wanita lain di luar sana.


Dasar hidung belang! Awas saja, akan kupotong milikmu saat kembali nanti!


Yiu yang tengah sibuk dengan amarahnya pada Wu Xiao tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah benda merah berkilat di depannya.


Yiu menoleh dan mendapati pria yang sedari tadi memenuhi kepalanya sudah berdiri dengan senyum manis tanpa dosanya sembari memegang sebuah tanghulu.


Yiu yang sudah kesal setengah mati akhirnya menyerang Wu Xiao menggunakan pedang sungai darahnya. Membuat Wu Xiao berlari ketakutan dan berteriak kebingungan, "Liying, kamu kerasukan hantu apa?! Liying, sadar! Ini Pangeran Wu Xiao yang paling tampan sedaratan!"


Yiu hanya diam dan terus mengejar sembari terus melancarkan serangan pada Wu Xiao yang notabennya tidak tahu apa-apa itu.

__ADS_1


"Liying, aku membawakanmu sup kambing kuah pedas kesukaanmu! Ada tanghulu dan manisan lainnya juga!"


Seketika ayunan pedang Yiu pada Wu Xiao terhenti di udara. Namun, tatapan tajam dan penuh intimidasi masih menghiasi manik coklat Yiu.


Wu Xiao tidak menyia-nyiakannya kesempatan. Ia mendekat perlahan dan menaruh tanghulu di depan bibir Yiu. "Coba cicipi sedikit aaaa..."


Dengan wajah masih setia tertekuk, Yiu melahap sebiji buah tanghulu itu dengan amarah.


Wu Xiao tidak kuat melihat ekspresi datar dan pipi yang menggebung itu. "Menggemaskan sekali!" batinnya.


Wajah Wu Xiao merileks, ditariknya tangan Yiu menuju tendanya.


Begitu masuk ke dalam tenda, aroma wangi yang kuat dari rempah dalam sup kuah pedas memenuhi indra penciuman Yiu. Yiu duduk di meja yang sudah tersaji berbagai macam makanan kesukaannya.


Maniknya berbinar sesaat sebelum kembali menatap tajam pelaku overthinking-nya. "Dari mana saja? Dua hari ini aku tidak melihatmu sama sekali. Wajahmu nampak menyeramkan, kamu pasti minum-minum dan bersenang-senang semalaman, 'kan?"


"Liying, bagaimana bisa kamu menuduhku selingkuh dengan wanita lain di belakangmu?"


"Aku bukan istrimu!"


"Untuk saat ini belum ...." Wu Xiao yang refleks membalas segera diam untuk beberapa detik sebelum kembali mengubah topik. Pipinya tiba-tiba terasa panas.


"Liying, aku semalaman bersusah payah membuatkan makanan ini untukmu dan kamu malah menuduhku berselingkuh?! Huh, bagaimana bisa aku menduakan kecantikan nomor satu di penjuru negeri ini, hm? Aku tidak sebodoh itu, Liying."


Wajah Yiu seketika memerah bahkan sampai ke telinga. Ia refleks membuang muka dengan ekspresi dingin serta menghindari kontak mata dengan pria gila yang tengah membual di depannya ini.


Wu Xiao yang melihat tingkah Yiu merasa gemas sampai-sampai ingin mencekiknya.


Wu Xiao menggeser duduk menjadi di sebelah Yiu, ia mulai mengambil sup kambing dan meniup-niupnya singkat sebelum menyodorkan suapan pada Yiu.


"Aku tahu kamu belum makan, ayo habiskan sebelum dingin. Sebagai permintaan maaf karena sudah menghilang beberapa hari dan membuatmu khawatir, maka aku akan menyuapimu seminggu penuh!"


Yiu menoleh dengan mata berkaca-kaca. Tangan kosong Wu Xiao segera mengusap sudut mata Yiu dengan lembut. Memiliki seseorang yang mengkhawatirkan dirinya sudah sangat cukup untuk Wu Xiao dan ia berjanji akan selalu melindungi gadis keras kepala di depannya ini seumur hidupnya.


"Janji?" tanya Yiu dengan suara rendah dan masih berusaha menahan tangisnya.


"Mn, aku janji. Sekarang buka mulutmu aaa..."


Yiu terkekeh singkat sebelum menerima suapan Wu Xiao yang dengan telaten menyuapinya sembari bercerita banyak hal-hal lucu.


"Lapor!"


Tiba-tiba, suara petugas yang dengan lancang masuk ke dalam tenda membuat aktivitas intim keduanya terganggu.


"Lancang!" teriak Wu Xiao.


"Maaf, Pangeran ... da-dan Putri, ada berita penting dari Markas Timur."


"Katakan," seru Yiu.


"Lapor, Gudang Senjata dan gudang makanan di Markas Timur terbakar hebat dan pelaku pembakaran belum ditemukan, diperkirakan makanan para prajurit hanya cukup untuk lima hari."


"APA?!"


.


.


.


"Pangeran Huang, Pangeran Wu Xiao, dan semuanya, tolong beri aku waktu berpikir tiga hari untuk mendapatkan panah dalam waktu singkat."

__ADS_1


TBC


__ADS_2