
Senyum Pangeran Huang dan Yiu tercetak jelas di wajah mereka menyambut kedatangan Ayahanda dan DaGe (Kakak tertua / kakak pertama) mereka.
Pangeran Xiao Ce menarik tali kekang kudanya dan turun dari atas pelana kemudian berjalan menuju ke arah Pangeran Huang dan Yiu yang berdiri tak jauh di depannya dengan senyuman yang masih setia terpancar di wajah mereka.
Sementara kereta kuda Kaisar Wang sudah lebih dulu memasuki area Paviliun Naga.
Di belakangnya para Jenderal dari kerajaan sekutu juga berjalan melangkah kearah Pangeran Huang dan Yiu.
Pangeran Huang dan Yiu membungkuk memberi salam penyambutan kepada Pangeran Xiao Ce dan para Jenderal di susul oleh Pangeran Wu Xiao dan Jendral Rong di belakang mereka.
Pangeran Xiao Ce membungkuk sedikit, para Jenderal turut membungkuk membalas salam mereka semua, Pangeran Huang membuka suaranya terlebih dahulu.
"Selamat datang kembali, Pangeran. Selamat atas kemenangan yang kau raih, Pangeran. Kami sangat bahagia mendengar kemenanganmu ... dan apakah kau baik-baik saja? Bagaimana dengan keadaan ayahanda? Kenapa beliau tidak turun dari kereta kudanya?"
Pangeran Xiao Ce menatap Pangeran Huang lembut kemudian beralih kearah Yiu dan tersenyum samar.
"Terima kasih atas ucapan dan penyambutan mu yang sungguh meriah Pangeran Huang dan Putri Ying. Aku baik-baik saja dan keadaan Ayahanda juga sudah mulai membaik namun ia masih belum bisa bangkit dari tempat tidur akibat luka tusuk yang cukup parah di bagian perut kanan maka dari itu beliau tidak bisa turun dari kereta untuk menemui kalian."
"Tapi apakah Ayahanda sungguh dalam keadaan baik, Pangeran? Kapan Ayahanda akan pulih?" Yiu mulai bersuara untuk memastikan keadaan Ayahandanya itu.
"Tenang saja Putri Ying, mungkin luka-luka di tubuh Ayahanda akan pulih beberapa hari ke depan dan sisanya hanya pemulihan tenaga saja."
Ucapan Pangeran Xiao Ce melembut namun masih menampilkan raut wajah setengah datar tapi cukup membuat hati Yiu lega.
Pangeran Xiao Ce kembali bersuara, "Bagaimana dengan Ibunda? Apakah keadaannya juga mulai membaik?"
"Sejauh ini kesehatan Ibunda berangsur-angsur membaik hanya mengalami syok berat dan butuh istirahat total selama dua minggu," ucapan Yiu dibalas anggukan kecil dari Pangeran Xiao Ce.
"Kalau begitu mari masuk dan rayakan kemenangan anda, Pangeran. Kami sudah mempersiapkan perjamuan untuk anda dan Kerajaan Sekutu."
Jenderal Rong menunduk dan tangannya mengarah ke dalam istana mempersilahkan Pangeran Xiao Ce dan lainnya memasuki aula istana untuk merayakan kemenangan mereka.
"Mari masuk!" Pangeran Huang menunduk sedikit mengajak Pangeran Xiao Ce dan lainnya masuk dan dibalas anggukan kecil dari Pangeran Xiao Ce.
Mereka semua berjalan beriringan memasuki area istana, hujan bunga dan teriakan kemenangan bergema sepanjang lorong istana.
Pangeran Xiao Ce berjalan paling depan dengan Pangeran Huang dan Yiu di kanan kirinya.
Sementara yang berjalan di belakang mereka adalah Pangeran Wu Xiao, Jenderal Rong, Jendral Yao, dan Jendral Xuan.
Di ikuti oleh Panglima Perang dan puluhan Prajurit dari masing-masing kerajaan. Akhirnya mereka telah sampai di Aula Istana Qiu Wang.
__ADS_1
Dekorasi ruangan penuh dengan warna kuning yang merupakan simbol dari kemenangan atau kejayaan.
Tirai-tirai di sekeliling istana berwarna kuning dengan hiasan pernak-penik berkilauan, lilin-lilin gantung memancarkan sinarnya dari sudut-sudut ruangan dan juga ditengah ruangan.
Semerbak asap cinabar beraroma kayu cendana menguar begitu memasuki Aula Istana menjadikan suasana hati siapa saja yang menghirupnya menjadi lebih tenang.
Kasim Sin mengarahkan para tamu ke meja mereka masing-masing, sedangkan Pangeran Huang, Yiu dan seluruh Jenderal sudah menduduki sebuah meja dan alas duduk di sisi kanan kiri, menciptakan ruang yang cukup besar yang memisahkan kedua sisi, setiap sisi cukup di isi oleh sekitar 20 orang dengan ukiran yang indah di kaki meja, dengan Pangeran Xiao Ce yang duduk di tengah ruangan sebagai pusat.
Berbagai macam makanan yang menguggah selera serta arak dan teh mulai di keluarkan dari dapur menuju aula istana untuk tamu istana.
Sebelum memakan hidangan yang di sajikan Pangeran Xiao Ce berdiri dari duduknya.
"Semuanya, Yang Mulia Pangeran Xiao Ce memiliki beberapa kata untuk di dengar"
Semua orang terdiam setelah mendengar ucapan dari Kasim Sin dan beralih kearah Pangeran Xiao Ce, spontan seisi ruangan segera berdiri.
"Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan kalian semua karena tanpa kalian saya tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Kerajaan Qiu Wang selanjutnya jika Kerajaan ini jatuh di tangan Tian Lu, maka dari itu saya mengucapkan banyak terima kasih kepada kalian semua atas bantuannya, mari bersulang."
Pangeran Xiao Ce mengangkat cawan araknya sembari membungkuk memberi hormat pada Pangeran Wu Xiao, Pangeran Huang, Jenderal Yao, dan Jenderal Xuan, mereka pun melakukan hal yang sama.
"Terima kasih atas sanjungannya, Pangeran, sudah tugas hamba untuk membantu menjaga Kerajaan Qiu Wang ini dengan nyawa hamba sendiri seperti menjaga Kerajaan HuanZou Lin," ucap Jenderal Yao dan di ikuti anggukan dari Jenderal Xuan.
Mereka semua kembali duduk tenang di kursi masing-masing dengan tenang terutama Pangeran Xiao Ce yang untuk pertama kalinya terlihat tersenyum walau terlalu tipis untuk di lihat sekilas.
"Dan juga saya ingin berterima kasih kepada Putri Ying dan Jendral Rong karena telah berhasil menahan serangan dari Tian Lu hingga bantuan dari Pangeran Huang dan Pangeran Wu Xiao datang."
Yiu tertegun dan kehilangan kata-kata untuk sesaat, namun segera menjawab perkataan dari Pangeran Xiao Ce beberapa detik kemudian sembari berdiri bersamaan dengan Jenderal Rong dan menundukkan kepala rendah.
"Sudah merupakan tugas saya selaku warga negara Qiu Wang dan terima kasih atas sanjungannya, Pangeran."
Tepuk tangan bergema di seluruh penjuru istana.
"Baiklah, sekarang mari kita rayakan kemenangan kita hari ini. Selamat menikmati."
Ucapan Pangeran Xiao Ce dibalas dengan sorak sorai berupa pujian dan seruan terimakasih dan semacamnya dari tamu kerajaan baru kemudian menyantap hidangan yang tersaji di meja masing-masing sembari mengobrol urusan kerajaan maupun hanya mengobrol santai.
Namun, ada beberapa pejabat militer mau pun panglima perang yang terkejut mendengar pernyataan Pangeran Xiao Ce sebelumnya tentang Putri Ying yang terkenal lemah dan mulai bergosip rendah tentang Putri Ying.
'Jangankan untuk bermain pedang, menyulam dan bermain musik serta menyanyi yang umumnya di kuasai seluruh bangsawan wanita saja ia tidak bisa melakukannya akibat fisiknya yang terlalu lemah, lalu bagaimana bisa ia tiba-tiba dapat mengangkat pedang mengobarkan perang bahkan membunuh Putra Mahkota Lu Fei yang terkenal mahir dalam berpedang?'
Mungkin seperti itulah pikiran di benak seluruh pejabat militer di aula istana. Namun tak sedikit juga panglima yang saling yang berbisik dan tak sengaja mencapai daun telinga pelayan maupun pengawal istana, membuat mereka yang ikut terjun ke medan perang geram akibat meremehkan Putri Kerajaan mereka yang kini bagaikan dewi penyelamat bagi mereka.
__ADS_1
Berita tentang Putri Ying yang berhasil membunuh Putra Mahkota Lu Fei saat pasukan Tian Lu menyerang Istana Qiu Wang memanfaatkan keadaan Istana yang sedang kosong karena Kaisar dan para pangeran yang sedang berperang dengan cepat tersebar di kalangan prajurit sekutu maupun bangsawan dan pengusaha kaya di kota.
"Ku dengar jika Putri Ying berhasil membunuh Putra Mahkota Lu Fei dengan pedangnya? Benarkah itu, Putri?"
Jendral Xuan menatap ke arah Yiu yang berada bersebrangan meja dengannya, ia berusaha memulai obrolan sehingga mencuri perhatian seisi ruangan membuat Yiu semakin menundukan kepalanya berusaha mencari jawaban yang tepat agar tidak mendapat amukan dari Pangeran Xiao Ce akibat melanggar larangan untuk menggunakan pedang.
Belum sempat Yiu mengeluarkan sepatah kata, Jenderal Rong menjawab pertanyaan dari Jenderal Xuan dengan penuh semangat.
"Benar, Jendral. Bahkan Putri Ying juga telah menyelamatkan nyawa saya saat saya tengah mengalihkan perhatian Pangeran Lu Fei hingga terluka parah kemudian Putri Ying datang dan membunuh Pangeran Lu Fei. Saya sangat berhutang nyawa pada Putri Ying."
"Saya baru tahu jika Putri Ying sangat handal dalam menggunakan pedang ... ah maafkan kelancangan saya, Putri, yang tidak tahu tentang hal ini."
Jenderal Xuan tersenyum dan menunduk untuk beberapa detik sebagai permintaan maaf kepada Putri Ying.
"Tidak apa-apa, Jenderal. Lagipula saya hanya berusaha untuk melindungi Kerajaan ini agar tidak jatuh ke tangan Tian Lu."
"Ah iya saya juga mohon ijin ingin bertanya pada anda Putri Ying."
Kini giliran Jenderal Yao yang membuka suara. Setelah mendapat anggukan tanda persetujuan dari Yiu, Jenderal Yao kembali melanjutkan perkataannya.
"Maaf jika saya terlalu lancang dalam bertanya, Putri. Apakah saat Putri bertarung, apakah anda juga mengikut sertakan para pelayan wanita dan rakyat biasa dalam pertarungan saat itu? Bukankah pelayan wanita dan rakyat biasa tidak bisa bertarung dan saat itu pasukan yang tersisa di istana juga tidak cukup banyak jika di bandingkan dengan pasukan dari Tian Lu dan saya juga mendengar bahwa bantuan dari Pangeran Huang tiba 7 jam setelah genderang perang dibunyikan lalu ... bagaimana siasat anda sehingga bisa bertahan dengan pasukan yang terbilang sedikit itu ditambah para Pangeran serta Kaisar tidak berada di Istana?"
Yiu terdiam sesaat sedikit gelisah dengan pertanyaan dari Jenderal Yao dan pandangan seisi ruangan yang seluruhnya tertuju pada Yiu, maniknya berusaha menatap Pangeran Huang dengan tatapan meminta bantuan namun Pangeran Huang yang sangat tidak peka malah tersenyum dan juga menantikan jawaban dari Yiu.
"Maaf jika pertanyaan saya terlalu lancang, Putri, saya hanya mengutarakan hal yang mengganjal di hati saya, jika putri tidak bersedia menjawabnya saya tidak keberatan, Putri," ucap Jenderal Yao sembari menundukkan wajahnya.
"Cepat ceritakan semuanya kepada kami Putri Ying, aku sebenarnya juga penasaran tentang itu."
Pangeran Hwang turut membuka suara dan tanpa merasa berdosa mengatakan perkataan itu walaupun Pangeran Huang sudah mengetahui jika Yiu akan diberi hukuman oleh Pangeran Xiao Ce jika menggunakan pedang untuk kedua kalinya.
Pangeran Wu Xiao dan Jenderal Xuan pun tak kalah antusias ingin mendengar cerita dari Yiu.
Yiu beralih menatap Jenderal Rong berharap pemuda itu akan menjawab pertanyaan yang menyudutkan ini atas nama Yiu namun, yang di tatap malah sedang asik menyantap makanan yang berlimpah di mejanya tanpa melirik sedikit ataupun berniat menjawab pertanyaan itu seperti sebelumnya.
Makanan benar-benar membutakan orang-orang disini!
Manik Yiu beralih menatap manik dingin Pangeran Xiao Ce.
Aku harus bagaimana?
TBC
__ADS_1