
"Pemuda bermarga Wu ini cukup tampan, sepertinya seorang tuan muda? Sebentar saya perlu waktu ... Wu dari wilayah barat? Wu dari Kerajaan Zhang Wu? Apakah ini ... Pangeran kedua Zhang Wu, Pangeran Wu Xiao?!"
Yiu mengangguk ringan dan Wu Xiao langsung bersemangat dalam diam.
Wajah Xu Lan segera kehilangan warnanya, Madam Ning juga tak jauh berbeda. Keduanya menahan napas tanpa sadar.
Yiu yang binggung dengan ekspresi mereka segera bertanya, "Kalian kenapa?"
Xu Lan dengan cepat membalas, "Sebelumnya maafkan saya karena tidak mengenali Anda, Pangeran. Saya pikir Anda ... Anda .... Saya tidak mengira jika Anda ... argh! Yang rendahan ini berdosa sekali, tolong ampuni saya."
Madam Ning, "Yang rendahan ini juga bersalah, Yang Mulia."
Wu Xiao mendapat kembali wibawanya dan dengan santai berkata, "Sudah lupakan saja. Aku tidak terlalu mempermasalahkan."
Pasangan ibu dan anak itu sempat meragu dan beradu pandang sebelum tersenyum dan berterima kasih, "Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia." Wu Xiao mengangguk.
Yiu yang mengerti keadaan lalu berujar, "Kami berdua sedang menyamar lagipula aku yang mendandani wajahnya menjadi lebih jelek lagi dari aslinya jadi wajar jika kalian mengira dia pelayanku."
Manik Wu Xiao membola, menatap tak percaya ke arah Yiu yang sejak dulu selalu tak menghiraukan pandangannya.
Yiu kembali bertanya, "Oh ya, bagaimana kalian bisa langsung tahu jika dia Pangeran Kedua? Dari sekian banyak Pangeran dari Zhang Wu kenapa kalian bisa langsung menebak?"
Madam Ning bersuara dengan sedikit gemetar, "Disini pernah tersebar desas-desus tentang kedatangan Pangeran dari Zhang Wu untuk menyelamatkan kedua pangeran saat peristiwa pengalihan kekuasaan secara sepihak terjadi, tetapi setelah sampai ia tidak berhasil menemukan keduanya sehingga segera kembali ke negaranya sebelum sang Kaisar menemukannya. Saya tidak menyangka jika jika rumor itu benar adanya dan sekarang saya tak menyangka akan melihat langsung Yang Mulia Pangeran Wu Xiao berdiri disini bersama Yang Mulia Putri seperti sekarang."
Yiu mengangguk paham.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar derit pintu pagar rumah tengah didorong oleh seseorang. Spontan Yiu dan Wu Xiao segera waspada.
"Istriku, kami pulang!" Yiu bernapas lega setelah mendengar suara yang tak asing lagi di telinganya.
Pria itu membuka pintu utama dan nampaklah dua sosok pria dengan wajah berwarna merah akibat cuaca dingin di luar tengah berjalan menuju ruangan tempat mereka berasa. Kedua pria itu adalah Xu Rui dan putra keduanya--Xu Gui--yang bergegas pulang setelah selesai menutup toko kain mereka.
Kedua pria itu menangkap ada dua orang asing yang tengah bertamu. Xu Gui mematung seketika bersamaan dengan Tuan Xu yang juga segera mengenali sosok yang lebih pendek diantara keduanya, menghampirinya dan berkata, "Yang Mulia? Yang Mulia Putri Ying? Ini sungguh Anda?"
Tuan Xu tersenyum senang. "Syukurlah jika Anda baik-baik saja. Kami semua sempat khawatir saat Anda tidak kunjung kembali hari itu. Kami pikir telah terjadi sesuatu pada Anda."
Yiu balas tersenyum dan menjawab, "Aku baik-baik saja, Tuan Xu. Sebenarnya hari itu memang terjadi sesuatu padaku tapi untunglah ada dia, dia yang menyelamatkanku dan menyembunyikan diriku beberapa hari ini."
Wu Xiao membatin tak percaya, "LiYing? Sejak kapan kamu bisa menyanjung orang lain? Apa otakmu kemasukan air?"
Pandangan Tuan Xu beralih ke arah Wu Xiao dan ingin bertanya tetapi Madam Ning segera menyela, "Suamiku, perkenalkan dia adalah teman baik dari tiga bersaudara Qiu Wang yang berasal dari Kerajaan Zhang Wu, Yang Mulia Pangeran Wu Xiao."
Tuan Xu terdiam sesaat sebelum kembali tersenyum senang dan membungkuk memberi salam bersamaan dengan Xu Gui.
"Merupakan suatu kehormatan besar dapat bertemu dan menyambut langsung kedatangan Pangeran dari negeri di barat laut. Maafkan jika rumah kami terlalu kecil sehingga membuat Anda merasa tidak nyaman. Ayo silahkan duduk kembali, Yang Mulia."
Wu Xiao segera mendudukan diri sembari mengangguk pelan. "Tidak masalah."
Xu Gui yang sedari tadi hanya berdiri bak patung yang tengah berdoa tiba-tiba membuka suaranya, "Yang Mulia Putri, apakah tujuan Anda sudah berhasil? Apa yang bisa kami bantu direncana selanjutnya?"
Yiu sedikit mendongak menatap Xu Gui yang masih menunduk takut lalu berkata, "Aku harus segera menemukan cara untuk pergi ke utara. Kami menduga kakakku meninggalkan petunjuk di rumah makan utama di kota, ia meninggalkan liontin berbentuk burung phoenix di kaki meja tempat ia biasa makan di rumah makan itu. Aku sempat ragu tapi Wu Xiao bilang ia juga mempunyai liontin itu sebagai hadiah kecil atas partisipasi dalam perburuan tahunan musim dingin di utara."
Yiu merogoh kelepak bajunya dan mengeluarkan sebuah liontin emas berbentuk burung phoenix dan menaruhnya di atas meja, membiarkan semua orang melihatnya.
Xu Lan mengambil giliran, "Sekarang gerbang keluar masuk kota sangat dijaga ketat, akan sangat sulit jika menggunakan cara yang dulu."
Yiu mengangguk. "Itu yang menjadi masalahnya, aku belum mendapatkan cara."
Xu Gui, "Saya ada cara tapi saya kurang yakin apakah ini akan berhasil."
__ADS_1
♣♦♣
"Menuju gerbang timur segera." Xu Gui mengangguk dan mulai menjalankan kereta kuda pelan menembus padatnya jalanan kota.
Untung saja salju yang menutupi jalanan sudah dibersihkan sehingga mempermudah kereta untuk melintasinya ditambah dengan beberapa hari terakhir tidak turun salju sehingga semakin melancarkan rencana kali ini.
Kereta yang dikemudikan Xu Gui semakin mendekati gerbang utara, hanya tinggal beberapa belokan saja.
Di gerbang utara terlihat antrian pejalan kaki maupun kereta bermuatan di sisi utara dan selatan gerbang yang tengah menunggu giliran melewati pemeriksaan petugas sebelum keluar atau masuk ke Kota Qiu Wang.
Xu Gui melirik ke sudut bangunan yang di sana berdiri seorang pria dengan tudung biru tua yang merupakan ayahnya, Tuan Xu Rui.
Tuan Xu Rui menengok ke arah gerbang beberapa detik lalu beralih menatap Xu Gui dan mengangguk memberi sinyal.
Xu Gui menoleh sembari berbicara lirih untuk memberi tahu orang yang berada di dalam kereta, "Yang Mulia, permainan akan dimulai."
Segera setelah itu Xu Gui memacu kudanya kencang di tikungan dan mengarahkan kereta itu mendekat ke gerbang utara tanpa berniat menghentikan keretanya justru sebaliknya, ia terus memacu kereta itu menjadi kecepatan maksimal.
Sontak hal itu mengejutkan tak hanya masyarakat tapi juga para penjaga yang spontan berniat ingin menghadang. Akibat kecepatan kereta itu terlalu tinggi para penjaga mengurungkan niat mereka untuk menghadang tetapi petugas yang berjaga dengan kuda segera memposisikan diri.
"Hentikan kereta itu! Di dalam kereta itu ada Putri Ying!! Cepat hentikan mereka!" Suara itu berasal dari seorang pria ringkih bertudung biru tua.
Sontak teriakan itu menarik seutuhnya semua perhatian masyarakat sekitar. Banyak orang yang ingin mengejar tetapi mereka tidak dapat menemukan kuda untuk ditumpangi sehingga hanya bisa berdiam dan menonton kereta yang semakin menjauh.
Berbeda dengan para petugas gerbang yang segera mengapai erat tali kekang, duduk tegak di pelana dan dengan satu hentakan tangan mereka memacu kuda mengejar kereta yang sudah keluar dari kota dan masuk ke pedalaman hutan.
Kalau bukan karena beredar sayembara dengan hadiah fantastis yang berisi tentang siapa saja yang berhasil menemukan buronan kerajaan, Putri Ying, entah hidup atau mati maka akan mendapatkan hadiah 5000 koin emas dari Kaisar ditambah ekonomi rakyat yang semakin menurun, maka mungkin saat ini orang akan berbondong-bondong menghalangi para penjaga itu untuk mengejar Putri Ying, bukan sebaliknya.
Tak hanya menarik perhatian masyarakat saja, beberapa penjaga yang tersisa untuk menghabiskan antrean juga terus mengawasi dari jauh acara kejar-kejaran tersebut sembari sesekali menanyai barang bawaan yang ada di tas para pejalan kaki itu dengan mata terus mengarah ke pedalaman hutan.
Memasuki jalan hutan yang panjang nan berkerikil, Xu Gui tanpa ragu terus memacu kereta yang ditarik oleh kuda terkuat yang bisa di beli di pasar. Dalam beberapa detik ia mengintip di balik keretanya untuk memastikan.
"Mn. Berhenti jika kau sudah siap." Xu Gui mengangguk lalu kembali fokus memacu kuda.
Saat Xu Gui merasa ini tepat di tengah hutan, ia mulai memperlambat laju kudanya.
"Yang Mulia, saya akan berhenti." Terdengar deheman ringan dari dalam sebagai jawaban.
Berbagai macam teriakan memekakkan telinga dari petugas itu semakin mendekat lalu segera mengelilingi kereta itu untuk memblokir jalan.
Xu Gui masih duduk tenang memegang tali kendali kudanya ketika tujuh orang dari mereka turun dan mendekati Xu Gui dengan tatapan seram, satu petugas menarik kasar pria itu dan mengunci tubuh Xu Gui yang terngkurap dengan kakinya.
Satu orang yang tersisa di atas kuda mengintrupsi, "Bawa keluar orang yang di dalam!"
Satu orang naik ke atas kereta dan menendang keras pintu kereta lalu mengintip ke dalam.
Di dalam duduk seorang pria berpakaian biru tua dengan wajah menunduk, melihat pintu di dobrak paksa pria itu mendongakkan kepalanya lalu tersenyum hangat. "Hai."
Petugas itu sedikit terkejut mendapati orang yang ada di dalam bukanlah yang mereka incar, petugas itu lalu menarik paksa pria itu dan melemparkan dia dari atas kereta.
"Lapor, Komandan! Mungkin kita salah kereta?"
Pimpinan mereka menekuk dalam alisnya, "Terus cari! Wanita jalang itu begitu licik seperti rubah!"
"Siap!" Dua orang segera mendekati kereta dan mengobrak-abrik semua benda yang ada di dalam kereta yang tergolong kecil itu.
"Katakan dimana dia!" bentak pimpinan kelompok itu pada kedua tawanan.
Pria yang baru saja di dorong dari kereta tersenyum miring dan menjawab, "Yang Tuan maksud dia itu siapa? Aku hanya ingin ke kota sebelah untuk membeli sesuatu sebelum barang itu habis terjual!"
__ADS_1
"Jangan berbohong! Katakan dimana wanita rubah itu!" Tiga buah pedang keluar dari sarungnya bersamaan dengan bentakan itu.
Pria yang tengah dikelilingi pedang itu adalah Wu Xiao, ia bergeming, menatap tanpa rasa takut dengan manik silaunya. "Sudah kubilang aku tidak tahu dan aku tidak mengenal dia!"
Pemimpin itu habis kesabaran, dengan wajah merah padam ia mengangkat tangannya dan melambai pelan, memberi instruksi pada bawahannya.
Mendapat perintah, salah satu dari tiga orang yang mengepung Wu Xiao mulai mengangkat pedangnya bersiap menebas leher mulus Wu Xiao.
Wu Xiao masih pada posisi tenangnya lalu berteriak, "Serang!"
Xu Gui yang tertindih segera menggulingkan badan lalu bertarung dengan petugas yang menindihnya tadi.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Wu Xiao, ia dengan mudah melepaskan diri dari cengkraman dua orang lalu mulai bertarung dengan tangan kosong.
Keduanya bertarung melawan tujuh orang dengan tangan kosong, mencoba bermain di jarak sedekat mungkin untuk menghindari lawan akan menyerang balik menggunakan pedang.
Wu Xiao memegang dua kepalan tangan yang siap menghantam wajahnya lalu memutar lengan mereka ke belakang sembari menendang seorang lagi kemudian menendang lutut dua petugas di cengkeramannya membuat keduanya jatuh terduduk sembari merintih kesakitan.
Xu Gui menghindar dari pukulan petugas, mengambil langkah cepat menuju balik badan petugas itu dan menebas kuat titik di belakang lehernya membuat petugas itu langsung jatuh tak sadarkan diri.
Dengan mudah Wu Xiao mengambil alih pedang di tangan salah satu petugas dan dengan cepat menebas lehernya, dilanjut dengan petugas lain yang membuat gerakan menusuk ke bagian perut Wu Xiao.
Wu Xiao bergeser menyamping untuk menghindar lalu mendekap pria itu di lengan kuatnya sebelum menggeser lengannya dan besi tipis di tangannya berhasil menggores mulus lehernya tanpa celah.
Wu Xiao menunduk mengambil satu pedang yang jatuh ke tanah lalu memanggil Xu Gui sambil melemparkan pedang di tangan kanannya, "Tangkap!"
Pedang itu mendarat tepat di gengaman Xu Gui yang langsung menebas leher petugas yang mendekatinya dari arah belakang.
Tak butuh waktu sampai dupa terbakar sepenuhnya, keduanya berhasil melumpuhkan semua petugas itu, yang tersisa hanyalah pemimpin mereka yang terlihat gemetar.
Ia mengangkat dan memegang erat pedang di tangannya sembari mundur setengah langkah secara perlahan.
Wu Xiao berjalan mendekati pemimpin itu dengan senyuman miring menghiasi wajahnya yang terpapar silau matahari yang samar.
"Tuan, Anda ingin kemana?" ucap Wu Xiao.
"Jangan mendekat!" Wu Xiao semakin semangat mendekati petugas itu.
"Sudah kubilang aku tidak mengenal siapa itu tadi yang kau cari itu tapi kau masih saja menunduhku. Mana keberanianmu tadi saat menuduhku tanpa alasan?!"
"Tidak tidak! Saya salah menangkap orang ... maafkan saya, Tuan Muda."
"Aku ini anak pengusaha tambang di Kota Xi Ning jadi jangan remehkan aku!"
Wu Xiao membatin, "Dengan ini dia tidak akan mencurigaiku dan hal lainnya."
"Baik baik saya salah, saya tidak akan menangis dan mencurigai Anda lagi." Setelah menyelesaikan perkataannya, petugas itu segera menyambar tali kekang dan melaju kembali ke Kota Qiu.
Wu Xiao melempar pedang di tangannya yang sudah bermandikan darah lalu menoleh ke Xu Gui dan berkata, "Kita ambil jalan memutar."
Xu Gui mengangguk, ia masuk lagi ke dalam kereta dan keluar dengan membawa pelana kuda yang dipernis indah.
Xu Gui juga melepas ikatan kereta pada kuda bersurai hitam itu lalu memasang pelana itu ke atas punggung kuda yang sebelumnya menarik kereta.
Wu Xiao menaiki kuda yang Xu Gui siapkan setelah itu Xu Gui berlari menghampiri kuda milik salah satu petugas yang berada tak jauh dari sana dan segera menaikinya.
"Ayo berangkat." Keduanya memacu cepat kudanya menuju kota terdekat di timur Qiu Wang.
LiYing ... kau harus melindungi diri sendiri saat aku tidak ada.
__ADS_1
TBC