
Suara berisik yang samar perlahan semakin keras, membuat pemilik manik mata coklat itu bergerak di bawah kelopak mata yang masih tertutup rapat.
Kepalanya perlahan mulai terasa bagai tertusuk ribuan jarum, badannya terus bergoyang ke kanan dan kiri menambah pening kepalanya.
Cahaya putih perlahan menusuk retinanya, dan dengan sedikit tenaga yang berhasil terkumpul, Yiu bangun dengan sedikit linglung.
Maniknya menelusuri tempat sempit yang diterjang gempa kecil itu. Berpegang erat pada dinding kayu dan berusaha bangkit duduk dengan tenaga kecilnya yang tersisa.
Baru setelah duduk, ia menyadari jika dirinya sekarang tengah dalam sebuah kereta yang tengah bergerak cepat.
Dicapainya pinggiran jendela yang tertutup kain rapat kemudian menjulurkan kepalanya keluar, mengesampingkan cahaya terang yang semakin memperburuk pusingnya.
Sesosok pria bertunggang kuda hitam yang berada di dekat kereta segera menyadari dan memanggil Yiu.
"A-Ying, kamu sudah sadar? .... Bagaimana perasaanmu?"
Yiu menyipitkan matanya sebelum menjawab sembari menggelengkan kepalanya kuat untuk meredusir rasa sakit di kepalanya.
Seolah ia melupakan alasan mengapa dirinya jatuh tertidur lalu tiba-tiba terbangun di dalam kereta yang melaju dengan kecepatan penuh.
"Ge, apa yang terjadi? Kemana kita pergi?"
"Istirahat kembali. Kita akan menuju ke barat daya, tidak perlu cemas."
"Barat daya? Untuk apa? Tunggu ...."
Yiu seketika melempar kembali memori otaknya kemudian bersiap menyembur api pada Pangeran Huang yang berada di dekatnya.
Ia ingat semuanya. Kejadian sebelum ia tak sadarkan diri dan tujuan awal pasukan adalah ke timur, mengapa tiba-tiba merubah arah menuju barat?!
"Ge, dimana Wu Xiao? Apa yang terjadi? Kalian melaju seperti orang kesetanan, pasti telah terjadi sesuatu."
Huang yang ditatap oleh manik tajam yang seolah menusuk tepat ke dalam retinanya membuatnya tidak dapat berkutik. Namun dengan mempertahankan pembawaan yang santai, Huang membuka kipas dan mengipasi dirinya sembari menghela napas kesal.
"Kita hanya tengah terkejar waktu, kita harus mengecek kondisi perbatasan barat sebelum menuju timur, itu saja."
Raut wajah santai tetapi alis menekuk tajam, kipasan yang terkesan berlebihan, serta menghindari kontak mata. Yiu begitu mengerti kakaknya satu ini.
Tatapan penuh intimidasi terus menusuk retina Huang hingga ia tidak tahan lagi. Ia berdecih sebelum menutup kipasnya dengan marah dan berkata, "Baiklah, aku akan bicara! Berhenti menatapku seperti itu!"
Yiu tidak merubah raut wajahnya, hanya saya matanya sedikit turun santai.
"Aku, kakak, dan para petinggi kerajaan lain hanya mengkhawatirkan kesehatanmu saja, A-Ying. Kau tidak tidur berhari-hari, membuat jantungku hampir lepas saja, dan Wu Xiao menyarankan untuk memberimu obat tidur, sudah itu saja...."
Yiu masih belum puas, ditatapnya lebih intens sang kakak dengan manik elangnya seraya bersuara rendah, "Lalu?"
Butuh waktu hingga seperempat dupa sebelum Huang menimpali, "Bai Qing tiba-tiba menyerang kamp barat dan hampir berhasil mengambil alih dalam waktu semalam. Kita harus segera sampai di dekat hulu Sungai Yangtze sebelum keadaan semakin memburuk."
Yiu yang setengah pucat tidak terkejut bahkan wajahnya tidak berubah. Sebaliknya, ia memandang tanah penuh kerikil kecil itu dengan tenang.
"Permainan sudah dimulai ternyata," ucapnya sembari menyingkap rambutnya yang tersapu angin dan menutupi wajahnya.
Di sisi lain, Huang kebingungan sendiri. Ditambah, Yiu tiba-tiba tertawa begitu mengerikan yang membuat beberapa prajurit yang mendengarnya sedikit bergidik.
"Baiklah jika itu cara kalian bermain."
♣♦♣
Dua regu batalyon yang dipimpin oleh Pangeran Wu Xiao dan Pangeran Huang itu akhirnya tiba di kaki pegunungan yang cukup landai yang menjadi markas besar pasukan sayap kiri di barat daya.
Malam itu terlihat bagai sore hari, awan berwarna oranye dengan asap hitam mengebul dimana-mana. Terlihat banyak pasukan sekutu sudah tergeletak bersimbah darah.
Yiu keluar dari keretanya dengan baju besi keemasan hadiah langsung dari Kaisar Qiu Wang. Tepat selangkah turun dari kereta kudanya, pedang sungai darah yang berada di tangan kirinya sudah terlepas dari sarungnya.
Ia berjalan santai sembari dengan lihai menghunuskan pedangnya, menembus kerumunan mencari sosok pemegang komando tertinggi pasukan musuh.
Suara tembakan, anak panah yang menembus angin, dentingan licin pedang, serta bau asap bercampur anyir yang cukup pekat menghiasi pertunjukan hebat di markas barat daya.
Yiu menghadapi lawan-lawannya seperti halnya menghadapi seekor serangga kecil.
__ADS_1
Akhirnya setelah pencarian panjang, Yiu menemukan jenderal musuh yang tengah duduk di atas kudanya jauh dari arena pertempuran.
Angin barat laut berhembus begitu kuat, mengibarkan jubah merah Yiu yang dengan tenang menyeret pedang berlumuran darahnya sembari berjalan sedikit tertunduk menuju posisi sang jenderal.
Hal itu membuat pasukan musuh segera membentuk lima lapis perisai untuk melindungi sang jenderal.
Wajah tenang Yiu yang sebelumnya tertunduk, perlahan mengangkat wajahnya yang sudah tercetak sebuah garis horizontal berwarna merah pekat yang kemungkinan besar adalah salah satu darah dari pasukan musuh yang telah terbunuh di tangannya.
Wajahnya tampak tenang walau sorot matanya tak menampakkan hal yang sama.
Yiu berdiri tanpa takut tepat di depan tombak pasukan lapisan pertama. Tombak di depannya sedikit bergetar, pemilik tombak terlihat gemetar berada di jarak sebegitu dekatnya dengan Yiu yang terkenal dengan sebutan "Dewi Sembilan Langit" itu.
"Putri Wang Ying Mei, apakah Anda sebegitu inginnya mati sehingga datang kemari sendirian?"
Suara itu berasal dari seorang pria yang duduk di atas kuda di samping kuda sang jenderal.
"Aku pernah membunuh tiga puluh orang sendirian dengan tangan yang terluka. Apakah pertanyaan bodohmu itu sedang mencoba merubah paksa sebuah fakta demi mental prajurit tak bergunamu ini?"
Wajah para prajurit itu semakin kehilangan warna walau tubuh mereka tetap tegap menyatakan tak gentar, membuat Yiu semakin menyunggingkan senyum tanpa ekspresi.
Yiu mundur beberapa langkah sebelum mengangkat pedangnya menunjuk tajam ke langit malam lalu perlahan menurunkannya, menunjuk tepat ke arah sang jenderal yang nampak santai di atas kudanya.
"Aku akan memberikan kalian dua pilihan, mundur saat ini juga seraya nyawa kalian akan aman atau membiarkan dua senjataku mengambil alih jiwa kalian."
Jenderal Bai Qing mengerutkan alisnya samar, ia meneliti seluruh tubuh kecil Yiu yang berdiri tegap bagai singa medan perang dan hanya mendapati satu saja senjata yang tergenggam oleh tangan yang berlumuran darah pasukannya itu.
Ia tertawa kecil mengingat Jenderal Besar Kerajaan Qiu Wang dapat membuat kesalahan dalam menyebut jumlah senjatanya, kendati pun jika ia memiliki senjata rahasia pastinya hanyalah sebuah belati atau senjata kecil lainnya yang tidak akan membahayakan mereka.
Namun, jika senjata tersembunyi itu diasumsikan sebagai sesuatu yang berdaya ledak itu adalah sebuah ketidak mungkinan karena ia tahu pasti jika Putri Ying ini sangat berambisi untuk membunuh Kaisar Liu Yu, maka ia tidak akan menyia-nyiakan nyawanya untuk bunuh diri bersama seorang jenderal biasa seperti dia.
Setelah terhanyut dalam pikirannya, Jenderal itu mendapat kepercayaan diri yang tinggi serta melihat peluang yang besar dengan pasukan pemanah di barisan belakang, "Bagaimana bisa aku mundur jika sebuah kesempatan emas tengah menantiku untuk diraihnya. Bunuh dia!"
Prajurit lapis pertama bergerak maju, Yiu semakin tersenyum lebar.
"Kalian menyia-nyiakan nyawa tak berharga kalian."
Pertarungan tak imbang pun tak terelakan. Sekitar lima belas prajurit bertombak mengepung seluruh sisi leher Yiu dengan tombak, membentuk simpul yang mengunci pergerakan Yiu yang sedari tadi bergeming di tempatnya.
"Kalian berlatih sekian lama dan hanya bisa mempraktekkan cara mengunci tombak? Keren!"
Belum sempat para prajurit mencerna maksud perkataannya, Yiu dengan mudah menarik kepalanya turun dan lolos dari kuncian tombak. Berjongkok dengan satu kaki lurus untuk penyeimbang dan memutar tubuhnya sembari menebas kuat tulang kering prajurit itu yang walaupun terlindung besi tetapi tetap akan berdampak pada pukulan yang diciptakannya.
Beberapa prajurit itu ambruk seketika dan beberapa lagi terhuyung mundur. Yiu mengangkat pedangnya, menebas beberapa leher dengan epiknya tanpa mengerakkan kakinya selangkah pun.
Sebuah tombak mengarah padanya, Yiu dengan cepat berputar sembari memegang batang tombak, mematahkannya dan menusuk jantung musuhnya dengan patahan tombak.
Tombak berikutnya menyusul dengan arah tuju kepalanya, Yiu refleks memiringkan kepalanya sembari melirik tombak yang melesat di atas pundaknya.
Dengan cepat Yiu memegang tengah batang tombak itu. Dengan bertumpu pada pundak kanannya, Yiu membalikkan tombak itu beserta pemiliknya yang terangkat ke udara beberapa detik sebelum dengan keras terlempar menghantam tanah, Yiu pun membidik dan melemparkan tombak itu tepat ke jantung prajurit itu, gerakan itu lebih mirip seperti permainan lempar lembing baginya.
Selanjutnya Yiu tidak ingin bermain-main lagi, ia memanjat pundak salah satu prajurit sebagai batu loncatan dan mengeluarkan senapan apinya yang tersembunyi dibalik jubahnya.
Adegan selanjutnya hanya berlangsung beberapa detik. Namun, terasa bagai ribuan tahun keajaiban. Yiu yang melompat hampir setinggi pohon apel itu mengarahkan pistolnya dan menembaki prajurit yang tersisa di bawahnya.
Dor dor dor....
Bunyi itu terpantul ke seluruh benda yang bisa memantulkan bunyi. Musuh mengira Yiu mengeluarkan peledak yang biasa ia lakukan sehingga beberapa prajurit yang belum maju sontak menutupi kepala mereka, berharap terhindar dari jangkauan ledakan.
Namun, apa yang mereka takutkan tidak terbukti. Hening yang tercipta setelahnya membuat beberapa prajurit kembali menyembulkan kepalanya dan melihat tidak terjadi apa-apa.
Tidak ada api, tidak ada asap maupun sisa-sisa ledakan, hanya tersisa seorang yang setengah berlutut dengan jubah merah yang berkibar hebat di tengah tubuh teman-teman mereka yang seluruhnya telah tumbang.
Apa yang terjadi? Bagaimana bisa?!
Salah seorang prajurit yang telah frustasi berteriak, "Kutukan, kita terkena kutukan kembali! Tanah ini tanah suci!"
Yiu kembali menyarungkan senapan apinya ke belakang badannya kemudian mengambil pedang sungai darah lalu memasukkannya kembali ke dalam sarung.
Barisan pemanah yang berdiri tepat di belakang formasi lingkaran telah memutuskan mundur terlebih dahulu dan menghilang di antara pohon-pohon hutan karena mengira akan terjadi ledakan besar.
__ADS_1
Posisi ini membuat Jenderal Bai Qing tidak dapat mengalihkan atensinya pada Yiu yang berdiri sendirian dengan sorot mata yang begitu mengerikan.
Dengan ragu-ragu ia mengerahkan seluruh empat lapisan pelindungnya untuk menyerang Yiu secara bersamaan.
Yiu menghela napas, tidak sempat baginya untuk mengeluarkan kembali pistolnya yang hanya tersisa beberapa peluru ditambah faktor jarak tembak yang terlalu dekat sangat mempengaruhi gerakan melawannya.
Pedang kembali dicabut, Yiu melakukan back flip sebelum menebas sebuah kepala dengan mulus.
Ia juga memakai kuda-kuda musuh sebagai batu lompatan dan menusuk jantung beberapa musuhnya. Yiu terlalu fokus pada musuh di depannya hingga lupa akan sang jenderal yang ternyata tengah berusaha melarikan diri.
Yiu mengeluarkan seluruh tenaganya, menendang, memukul, menebas, menusuk, apa pun itu caranya untuk mengalahkan hampir dua puluh orang itu.
Seluruh musuhnya telah tumbang dalam hitungan menit. Yiu berlari dan menunggangi kuda coklat yang ada di dekatnya dan segera berlari mengejar sang jenderal.
Kondisi hutan di dekat Sungai Yangtze cukup lebat dan gelap, Yiu kesulitan untuk melihat jalan. Namun, sebuah derap kuda mendekat dari arah belakangnya.
Yiu spontan menoleh dan mendapati seorang pria berkuda dengan membawa obor di tangannya.
Pria itu segera berusaha mensejajarkan diri dengan kuda Yiu. "Liying, jalannya tidak memungkinkan untuk dilewati dua kuda. Biarkan aku akan naik ke kudamu, ya?"
Yiu yang mempertimbangkan medan yang juga tidak memungkinkan akhirnya menyetujui permintaan Wu Xiao. Setelah terhalang beberapa pohon akhirnya Wu Xiao melompat dan mendarat di belakang Yiu.
Yiu segera menyerahkan tali kekang kuda padanya. Wu Xiao memacu kuda sembari membawa obor di masing-masing tangannya.
Kuda terpacu semakin kencang, akhirnya mereka dapat menyusul jenderal beserta wakil jenderal yang bersamanya tadi.
Wakil jenderal itu berada tepat di belakang sang jenderal sehingga ia menjadi yang pertama menyadari kehadiran Yiu dan Wu Xiao.
Yiu sudah sedari tadi berada di posisi menembak. Namun, punggungnya terus berguncang dan itu akan sangat mempengaruhi hasil tembaknya.
Wu Xiao seakan memahami kesulitannya segera berkata, "Sandarkan punggungmu di pundakku, itu akan mengurangi guncangan."
Tanpa pikir panjang, Yiu menyandarkan punggungnya ke salah satu pundak Wu Xiao, sedangkan Wu Xiao sendiri memiringkan kepalanya ke kanan agar pengelihatannya tidak terganggu oleh Yiu.
Awalnya Yiu telah fokus dan bersiap melesatkan peluru. Namun, deru napas panas dan cepat yang berhembus di lehernya membuatnya hilang fokus sesaat.
"Kenapa belum menembak? Apa jaraknya kurang dekat?" Yiu sudah tak tahan hanya dengan mengumpat dalam hati karena bisikan Wu Xiao yang tepat di samping lehernya membuat dirinya semakin kacau.
"Bacot!" teriaknya spontan tanpa peduli apakah Wu Xiao mengerti akan perkataannya atau tidak.
Wu Xiao berhasil mencapai jarak yang dapat dijangkau oleh senapan milik Yiu, dan Yiu pun dengan cepat menembak kepala wakil jenderal dan mengenai sasaran yang tepat.
Ia tumbang seketika bersama kudanya. Namun karena jarak mereka yang terlalu dekat, membuat kuda keduanya tidak dapat menghindari tabrakan dengan kuda milik wakil jenderal tersebut.
Alhasil, Yiu dan Wu Xiao ikut terjatuh karenanya. Wu Xiao dengan sigap membuang obornya, memeluk Yiu untuk melompat dari kuda sebelum menghantam dan berguling di tanah.
Di saat Wu Xiao melompat, Yiu dengan cepat melesatkan dua tembakan yang sedikit meleset sebelum berguling di tanah bersama Wu Xiao. Satu peluru mengenai telinga kiri jenderal itu dan satu lagi adalah punggung belakang dekat dengan jantung.
Mereka kehilangan jejak dan tidak memungkinkan untuk mengejar kembali saat ini. Yiu berteriak marah dan memukul-mukul tanah.
Wu Xiao segera membantu Yiu berdiri dan memenangkannya, "Tak perlu khawatir, dia terluka cukup parah dan kita pasti dapat mengejarnya. Mari kembali dan bawa beberapa pasukan untuk mengejarnya."
Yiu tetap bergeming, keras kepala seolah tak menggubris perkataan Wu Xiao. Wu Xiao menambahkan, "Dia akan bergerak di perbatasan sungai ini untuk kembali ke markas terdekat Bai Qing dan jika kamu masih ragu akan kehilangan jejak, maka lihatlah jejak di tanah."
Yiu berjalan beberapa langkah ke depan dan menemukan jejak darah di tanah. Ia kembali melirik Wu Xiao dan setuju kembali bersamanya.
Keduanya kembali dan segera memisahkan pasukan menjadi dua--pasukan yang berjaga dan ikut bersama Yiu--lalu segera menuju timur detik itu juga.
Huang bertugas tinggal dan mengirimkan pesan pada Ming Zijing yang berada di markas timur untuk membantu penangkapan jenderal itu, selain itu demi mencegah rahasia senjata baru Yiu bocor dan sampai di telinga musuh. Senjata ini bagai kartu As yang perlu disembunyikan dan dijaga ketat keberadaannya.
Setelah melepaskan merpati putih, Ming Zijing mengetahui isi pesan itu saat mentari mulai terbit. Ia segera membawa sejumlah pasukan bersamanya dan mulai mengarungi pinggiran Sungai Yangtze.
Seharusnya jika pasukan barat telah berangkat sejak malam, maka mereka akan bertemu dan mengepung jenderal itu tepat di tengah-tengah jalur Sungai Yangtze.
Ming Zijing sejak awal entah mengapa merasakan perasaan aneh seperti sesuatu berjalan tidak benar. Meski begitu ia tetap memacu kudanya menyisir sungai itu sembari berhati-hati agar tidak berpapasan dengan Armada Laut Bai Qing yang menguasai jalur perairan Sungai Yangtze.
Tidak perlu di ragukan kembali, Bai Qing menjadi kuat salah satunya karena sokongan dari armada laut mereka yang luar biasa kuat.
A-Ying, cepat temukan dia dan kembali. Jangan sampai bertemu dengan armada laut mereka.
__ADS_1
TBC