
Yiu dan pemuda itu sekarang berada disebuah perkampungan dekat istana dipinggir kota.
Mereka berdua mencari tempat untuk beristirahat sembari mengobati luka pemuda itu akibat terkena beberapa goresan pedang.
Sebelum mereka melanjutkan perjalanan mencari perkampungan terdekat Yiu menyobek sedikit pakaian untuk membalut luka pemuda itu ditangan kanan dan kirinya, untuk luka diperut ia menutupnya dengan ikat rambutnya yang panjang agar darahnya berhenti mengalir.
Apakah Yiu terluka? tidak usah dipikirkan, kalian lupa bagaimana dia bisa mengalahkan Jendral Rong di istana?.
Mereka akhirnya singgah dirumah warga yang ternyata seorang tabib, selain untuk mengobati luka pemuda mereka juga berencana menginap semalam disana.
"Tuan Yuwen sudah tidak apa apa Tuan Zhou, dia sekarang tengah beristirahat dan sebaiknya anda juga beristirahat tuan" tabib itu bersikap ramah dan berbaik hati membiarkan mereka berdua menginap dirumahnya.
Oh jadi namanya Yuwen. Hmm nama yang cukup bagus.
"Terima kasih tabib anda sangat baik. Saya akan membayar ini semua" Yiu tersenyum sembari sedikit membungkuk hormat sebagai ucapan terima kasihnya.
"Tidak perlu tuan, saya dengan senang hati membantu tuan. Lagi pula memang disini banyak perampok tuan sehingga anda harus berhati hati." tabib itu tersenyum tulus.
Aku yakin mereka bukan perampok mereka pasti suruhan seseorang, buktinya kenapa mereka tidak menyuruhku menyerahkan uangnya tapi langsung ingin menghabisiku.
"Mungkin anda memang benar tabib, sekali lagi terima kasih"
Sang tabib mengangguk singkat dan berlalu pergi meninggalkan Yiu dan pemuda bernama Yuwen itu didalam kamar untuk beristirahat.
Tunggu.. Apa tabib mengira aku ini laki laki sehingga dia hanya memberikan satu kamar untuk aku tempati dengan pria gila ini?!!.
"Sepertinya mereka tadi bukan mengincarmu tapi mengincarku" Yuwen berbicara datar tanpa menatap Yiu yang berdiri bersandar dipintu kamar.
Yiu tersadar dari lamunannya dan menampakan wajah datar.
"Kau terlalu percaya diri pria gila, jelas jelas mereka lebih banyak menyerang kearahku"
"Mungkin kau benar. Aku tak ingin ikut campur lebih dalam lagi jadi sekarang tidurlah Zhou Li aku akan mengantarmu keistana besok"
Yuwen menggeser memberi sedikit ruang untuk Yiu tidur di tempat tidur itu.
Yiu terkejut didalam hati 'dirinya masih punya harga diri Yuwen kira dia gadis macam apa hah.. Oh aku lupa dia menganggapku laki laki dasar pelupa'
"Aku akan kesana sendiri kau tak perlu repot repot mengantarku justru aku yang akan mengantarmu kerumahmu dan kau tidur saja aku akan tidur dibawah"
"Kau tak perlu mengantarku dan aku tak perlu mengantarmu jadi kita tak usah saling antar dan untuk sekarang kita istirahat dulu esok baru kita melanjutkan perjalanan masing masing."
"Tidak, aku akan tetap mengantarmu kau masih terluka dan bisa saja mereka kembali menyerangmu"
"Jangan keras kepala, aku bisa menjaga diriku dan luka ini hanya luka kecil besok juga akan sembuh. Sekarang tidurlah aku mau berganti pakaian dulu" Yuwen berdiri dan meraih pakaian yang diberi tabib tadi dan mulai membuka hanfunya.
"Ka.. Kau mau apa hah!" Yiu mulai gugup melihat Yuwen mulai melepaskan tali pakaiannya, pikiran negatif memenuhi kepalanya.
"Kau lihat kan aku ingin berganti pakaian? Lihatlah bajuku sudah kotor dan bajumu juga sudah kotor cepat ganti pakaianmu dengan pakaian yang diberikan oleh tabib tadi"
__ADS_1
Yuwen berkata dengan santai tanpa memperdulikan tatapan Yiu ia segera membuka hanfu lapisan pertamanya.
"Hei apa kau tak punya malu berganti pakaian dihadapan orang lain?!"
Yiu gelagapan saat melihat Yuwen dan memilih membalikkan badan.
"Untuk apa aku malu kau kan seorang laki laki dan aku juga laki laki lalu apa masalahnya?"
Yuwen berkata santai tanpa merasa berdosa sedikitpun yang membuat wajah Yiu semakin memerah.
Baiklah aku yang salah seharusnya aku tidak menyamar menjadi laki laki.
"Sudahlah aku akan ganti baju dikamar mandi"
Yiu segera mengambil pakaiannya dan berlari menuju kamar mandi secepat kilat menyisakan Yuwen yang kebinggungan melihat tingkahnya.
Dasar pria aneh. Gumam Yuwen sembari mengangkat bahunya acuh dan melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.
Tak lama Yiu keluar dari kamar mandi memakai hanfu pria yang diberikan tabib itu.
Segera Yiu merebahkan diri ditikar, tangan kanannya ia jadikan sebagai bantal dan mulai menutup mata. Posisinya miring ke kanan membelakangi ranjang yang ditempati Yuwen.
"Kenapa kau tidur disitu pria aneh kau ingin mati kedinginan disana?"
Memang benar kalau malam ini terasa sedikit dingin dan akan semakin dingin saat tengah malam.
Yiu masih tak bergerak dari posisinya sejujurnya ia sedikit merasa dingin namun ia masih punya harga diri diatas rasa dingin yang menyelimutinya jika ia memilih tidur bersama Yuwen harga dirinya akan hilang walau
Yuwen tak tau kalau sebenarnya dirinya adalah seorang perempuan tapi kalau dia berkata jujur pada Yuwen kalau dirinya adalah perempuan bisa saja ia akan bertanya kalau dia adalah Putri Ying, Yuwen mengira dia adalah prajurit Putri Ying tapi jika ia mengaku perempuan otomatis dia membongkar identitasnya.
"Terserah kau saja" Yuwen tak memperdulikan Yiu lagi ia memilih tidur daripada memusingkan hal itu.
♣♦♣
Matahari baru menampilkan setengah sinarnya, embun pagi mulai turun dari langit menambah rasa sejuk serta, kicauan burung dipagi hari menggambarkan suasana indah dipagi hari.
Yiu telah terbangun dari tidurnya sebelum matahari terbit, itu sudah menjadi kebiasaannya bangun pagi-pagi sekali, kini ia sudah rapi dengan memakai hanfu pria berwarna hitam abu abu dan merah.
Yiu berjalan menuju sebuah meja kecil dipojok ruangan, ia menemukan sebuah kertas kosong dan tinta disebelahnya dengan cepat Yiu menulis sebuah surat untuk Yuwen.
*Untuk Yuwen
Hei pria gila aku akan pergi ke istana sekarang Putri Ying sangat membutuhkanku saat ini, maaf kalau aku meninggalkanmu begitu saja habisnya kau tidur seperti kerbau!.
Sebelumnya terima kasih atas bantuannya dan maafkan aku karena diriku kau jadi terluka, kalau kau membutuhkanku datang saja ke pavilium dahlia dan bertanya pada Putri Ying kau mau bertemu denganku. Oke aku pergi dulu pria gila. Bye*.
Yiu melipat dan meletakan kertas itu dimeja dan segera pergi menuju istana, tentunya setelah berpamitan dengan tuan rumah.
Dia tak boleh sampai ketahuan siapapun apalagi saat sudah sampai diistana, bisa bahaya. Mungkin dia akan dihukum setahun tidak diperbolehkan keluar pavilium dan tidak diberi uang saku. Tidak!! aku bisa mati konyol dipavilium kalau begitu.
__ADS_1
Yiu terus berlari menuju bagian barat istana disana adalah tempat pavilium dahlia, pavilium milik Putri Ying. Yiu memanjat pohon dan melompat dari pohon ke pohon dengan hati hati agar tak menimbulkan suara hingga ia sampai di atap paviliumnya.
Yiu dengan cepat dan hati hati turun dari atap dan langsung masuk kekamarnya melalui jendela, beruntung jendela kamar Yiu tidak dikunci sehingga Yiu bisa masuk kedalam.
Yiu bergegas berganti pakaian secepat yang ia bisa, matahari semakin naik dan mungkin sebentar lagi Chi chi akan masuk kekamarnya untuk melihat apakah dia sudah kembali atau belum sembari membawakan nampan untuknya sarapan.
Setelah selesai berganti pakaian, Yiu segera merebahkan dirinya dan menarik selimutnya sampai leher dan berpura pura tidur.
Dikamar pelayan, Chi chi terus menangis semalaman akibat Putri Ying hilang sejak kemarin malam dan belum kembali ia takut kejadian seperti dulu terulang kembali.
"Putri anda dimana putri, saya merindukan putri cepatlah pulang putri hiks hikss"
"Sudahlah, Putri Ying pasti baik baik saja dan pasti sebentar lagi ia akan kembali jadi berhentilah menangis" ucap salah satu pelayan sembari mengelus elus punggung Chi chi agar perempuan itu tenang.
Tiba tiba pintu kamar para pelayan pavilium dahlia didorong dengan kuat dari luar oleh salah satu pelayan membuat Chi chi dan para pelayan lainnya terkejut bukan main.
"Putri Ying telah ditemukan, ia sekarang berada dikamarnya" Pelayan itu berkata dengan senyum yang merekah karena mengetahui tuannya telah kembali.
Chi chi yang sejak tadi menangis kini tersenyum bahagia dengan cepat ia berlari menuju kamar sang putri.
Sesampainya didepan pintu kamar sang putri, Chi chi segera mengetuk pintu kamar pelan hingga terdengar suara dari dalam yang mempersilahkan Chi chi untuk masuk kedalam, tanpa pikir panjang Chi chi membuka pintu dan masuk kedalam.
"Putri anda sudah kembali? Kemana saja anda semalam putri saya sangat khawatir dengan keadaan anda saya takut anda kenapa napa seperti kejadian waktu itu putri hiks hiks" Ucap Chi Chi dengan berjalan pelan menuju kearah Yiu diiringi tetesan air mata.
"Ssttss sudah tenangkan dirimu aku tidak kenapa napa, aku kemarin hanya berjalan jalan ke kolam ikan dipavilium dan aku ketiduran di gazebo dekat kolam." ucap Yiu bohong, tanggannya mengelus lengan Chi chi pelan agar ia tenang.
Ia tak ingin siapapun tau kalau dirinya pergi ke pasar malam kalau Kaisar sampai tahu pasti hukumannya akan berlipat lipat.
"Syukurlah jika putri tidak kenapa napa saya kira putri diam diam pergi kepasar malam dipusat kota tanpa kawalan dari para prajurit, saya takut jika putri terluka" tangisnya mulai mereda namun wajah khawatirnya masih kentara.
Yiu menegang seketika dan wajahnya nampak terkejut saat mendengar dugaan dari Chi chi yang sepenuhnya benar, beberapa detik kemudian ia kembali menetralkan wajahnya.
"Sudah tidak usah dibahas lagi sekarang siapkan air hangat untukku mandi tubuhku ini sangat lengket" Yiu mencari alasan agar Chi chi tidak semakin banyak bertanya dan diangguki oleh Chi chi.
Selang beberapa dupa pembakaran, Yiu telah siap dengan hanfu berwarna biru laut dan dikepalanya disanggul kecil lalu diberi hiasan bunga peony, sederhana namun elegan.
Karena hari ini dia masih dalam masa hukuman lebih tepatnya hari ini adalah hari terakhir Yiu dikurung dipaviliumnya, Yiu lebih memilih memandangi hamparan kebun bunga dari jendela kamar sembari merenungkan sesuatu entah apapun itu.
Tiba tiba suara lantang Kasim Sin dari luar kamarnya mengagetkan dirinya.
"Perhatian, Kaisar, Permaisuri, dan Putra Mahkota memasuki ruangan"
*Degg..
Aku harus berbohong apa lagi kali ini*?!!
TBC
Jejaknya jangan lupa ya😉
__ADS_1