
"Aku salah menduga tentang dirimu, Putri," Pangeran itu menyerang Yiu sembari tersenyum sinis.
"Menyerah saja pangeran maka aku akan mengampuni nyawa mu," Yiu menangkis pedang Pangeran itu dan melakukan beberapa tebasan.
"Sepertinya ucapan mu itu terbalik, Putri payah. Kau memang pandai dalam bermain pedang tapi kau tak akan bisa mengalahkanku, seharusnya kau yang kalah dan seharusnya kau juga sudah lama mati dan aku sudah menguasai kerajaan mu sejak dulu."
Pengeran itu mencoba menusuk jantung Yiu namun dengan cepat di tangkis Yiu dan membuat luka gores yang cukup dalam di kaki depan kuda pangeran itu membuat kuda bersurai coklat itu terjatuh ke tanah beserta penunggangnya.
"Sialan! Pangeran Lu Fei tidak akan memaafkan mu, Putri payah!!" Pangeran bernama Lu Fei menyumpah serapahi Yiu saat dirinya mendarat di atas tanah dengan bunyi 'gedebuk' kemudian tertindih oleh kudanya.
Yiu yang masih berada di atas kuda putihnya turun untuk menghampiri Pangeran Lu Fei yang masih tertindih kuda kebanggannya.
"Oh ... sekarang aku mengerti siapa orang di balik penyerangan diam-diam kepadaku yang lemah ini sampai tiga kali hingga diriku tak sadarkan diri selama 4 hari dan seluruh keluarga mengira jika aku hanya ingin bunuh diri."
Yiu berjalan sembari memainkan pedang di tangannya lalu berjongkok disamping Pangeran Lu Fei.
"Lalu penyerangan saat diriku diam-diam keluar istana di malam hari saat perjalanan pulang dari pasar malam ternyata itu semua adalah ulahmu Pangeran Lu Fei?! Huh! Kenapa kau lemah sekali dengan mengirimkan 20 prajurit bayangan hanya untuk membunuh seorang gadis lemah sepertiku ini."
Memang ingatan Putri Ying yang asli mulai bermunculan sedikit demi sedikit sehingga Yiu tahu bagaimana sang putri diculik dan di sekap selama berhari-hari lalu di paksa meminum racun yang merusak organ dalamnya namun tak mematikan kemudian tubuhnya yang lemah di hanyutkan ke sungai sekitar Kerajaan Qiu Wang.
Sehingga orang atau prajurit yang menemukan tubuh sang putri mengira jika sang putri putus asa dan kemudian bunuh diri dengan cara meminum racun lalu menceburkan diri ke sungai, pembunuh ini terlalu bermurah hati.
Dan saat itu sang putri yang masih dalam keadaan sadar tak bisa berbuat banyak dan hanya pasrah menerima takdir hingga ia meninggal akibat kekurangan pasokan udara, kemudian tubuhnya menarik jiwa Yiu masuk ke dalam tubuh sang putri untuk mengambil alih kendali tubuhnya.
Setelah mendapatkan ingatan tersebut Yiu bersumpah pada dirinya sendiri untuk membalaskan dendam sang putri.
Yiu mengarahkan pedangnya menempel tepat di bawah dagu sang Pangeran yang masih berusaha keluar dari tindihan kudanya.
"Ya! Memangnya kenapa kalau aku yang melakukan itu semua?!" tubuh Pangeran Lu Fei seakan membeku bak patung akibat pedang yang menempel tepat di dagunya namun wajahnya menunjukan amarah yang terpendam.
"Untuk apa kau melakukan itu semua? Apa salah keluargaku kepadamu?" Yiu memutar bola mata jengah dan tersenyum mengejek, kembali menatap Pangeran Lu Fei dengan tatapan membunuh.
"Tentu saja untuk membalaskan dendam ayahku kepada kerajaanmu yang telah membunuhnya dengan kejam."
Pangeran Lu Fei menangkis pedang Yiu yang berada di dagunya dengan pedang miliknya, berguling untuk keluar dari tindihan kudanya lalu berdiri mengacungkan pedangnya kearah Yiu sembari meludah.
"Puft! Bukankah ayah mu sendiri yang mencari masalah dengan kerajaanku terlebih dahulu pangeran?"
Nampak tenang, Yiu berdiri dan menatap santai Pangeran Lu Fei seolah tak takut akan pedang yang sudah berada tepat diwajahnya.
"Jangan sembarangan bicara! Kaisar Tian Lu tidak melakukan apapun dan malah berbuat baik dengan mengunjungi Qiu Wang untuk mempererat persaudaraan tapi apa balasannya?! Kaisar Wang malah membunuh ayahku dengan kejam!"
Pangeran Lu Fei semakin mempererat pegangannya pada pedangnya setelah melihat reaksi Yiu yang malah tertawa mengejek ke arahnya.
Benar-benar ahli membalik hitam putih.
"Mempererat persaudaraan? Apa aku tak salah dengar? Dengan datang ke Qiu Wang untuk mengundang Kaisar Wang datang ke Tian Lu dengan kedok membuat suatu hubungan dagang dan membuat perjanjian yang menguntungkan namun saat Kaisar Wang tiba, Kaisar Lu Zhu memaksanya menyerahkan sebagian wilayah kerajaannya untuk Tian Lu dan mengambil hak monopoli dagang itukah yang dinamakan mempererat persaudaraan?!"
Yiu mundur selangkah dan mengayunkan pedangnya ke arah leher Pangeran Lu Fei.
Mendengar perkataan Yiu, Pangeran Lu Fei tak dapat berkata-kata dan hanya bisa berusaha menangkis serangan Yiu.
"Beruntung waktu itu Kaisar Wang bisa melarikan diri dan meminta bantuan dari Kerajaan Guang Ming dan berhasil mengalahkan Kaisar Lu Zhu!"
__ADS_1
"Tetap saja Kerajaan mu telah membunuh Ayahku dan kalian semua harus bertanggung atas kematiannya dengan cara MATI!" Aura membunuh Pangeran Lu Fei semakin kental terasa.
Yiu berputar mengarahkan pedangnya kearah Pangeran Lu Fei namun segera ditangkis dan Pangeran Lu Fei pun menangkis, membalasnya dengan beberapa tebasan yang membuat Yiu sedikit kewalahan.
♣♦♣
"Dimana ini? Apa yang telah terjadi?"
"Permaisuri ... Anda harus beristirahat dulu dan jangan terlalu banyak berpikir."
Permaisuri mencoba duduk di ranjangnya, segera menoleh kearah Chichi yang sudah gemetar dengan wajah menunduk dalam.
"Apa yang terjadi? Dan dimana ini? Ini bukan Istana Qiu Wang! Yah, jelas bukan, aku hafal betul setiap detail ruangan di istana Qiu Wang!"
Permaisuri bergerak menuju pinggir ranjang hendak berdiri namun segera dicegah oleh Chichi.
"Maaf permaisuri anda harus beristirahat untuk beberapa hari ke depan."
"Tidak aku sudah tidak kenapa-kenapa! Ah, ... Iya dimana Putri Ying?"
Chichi semakin menunduk dalam, tubuhnya gemetar hebat wajahnya tak berani mengadah menatap Permaisuri.
"Dimana dia pelayan! Dan ... bukannya Istana.. yah, bagaimana dengan penyerangan itu! Apa yang terjadi! Cepat katakan! Istana sedang dalam bahaya aku harus segera bertindak!"
Permaisuri meracau dan segera bangkit dari ranjang dan berjalan menuju pintu kamar namun segera dicegah Chichi.
"Tenanglah permaisuri, anda tak perlu panik. Anda sudah aman sekarang dan anda tak perlu banyak berpikir lebih baik anda beristirahat terlebih dahulu."
"Ingat Chichi, jangan biarkan Permaisuri kembali apapun yang terjadi. Jika keadaan telah aman, aku akan menjemput Permaisuri kemari. Ingat kesehatan mental Permaisuri sedang terganggu dan dia tak dapat berpikir jernih."
Perkataan dari Yiu terus terngiang dibenaknya, hingga Chichi tidak sadar Permaisuri sudah tidak berada di pelupuk matanya.
Permaisuri berjalan cepat keluar kamar dan menuju kearah Aula Istana Musim Panas, namun langkah cepatnya terhenti saat melihat keadaan sekitar yang tenang dan damai tapi juga terasa asing.
"I ... ini ... Istana Musim Panas! Pelayan!" Permaisuri membalikkan badannya kemudian berteriak keras memanggil Chichi yang juga tengah berlari menyusul permaisuri.
"I ... iya Permaisuri," tubuh Chichi bergetar hebat.
"Jelaskan semuanya!" Chichi terlonjak kaget mendengar bentakan Permaisuri Fu Yao.
"Ini semua perintah dari Putri Ying, Permaisuri ... Putri menyuruh kami membawa anda yang untuk bersembunyi di istana musim panas agar anda tetap aman dari ancaman Pasukan Tian Lu," tubuh Chichi bergetar wajahnya menunduk dalam.
"Kenapa kau membiarkan dia sendirian menghadapi musuh! Dia putri kecilku kenapa kau membiarkan dia sendirian!"
Permaisuri mundur beberapa langkah, tatapannya kosong, bibirnya mulai memucat, pikirannya kacau, kakinya juga tiba-tiba terasa lemas dan akhirnya jatuh terduduk.
Chichi segera menangkap tubuh lemas Permaisuri yang terhuyung kebelakang.
"Kami terpaksa Permaisuri, Putri tak ingin anda sakit atau terluka, ia ingin anda aman. Karena keadaan istana yang berbahaya dan anda saat itu sedang pingsan maka putri mengambil alih semuanya di bantu oleh Jendral Rong beserta Mentri Kerajaan untuk menghadapi Pasukan Tian Lu dan menyuruh kami membawa lari anda ... Maafkan kami Permaisuri."
Chichi meneteskan air matanya sungguh di dalam hatinya ia sangat tak rela jika harus meninggalkan Putri Ying sendirian menghadapi pasukan Tian Lu yang terkenal cukup brutal dalam bertarung.
Tatapan kosong Permaisuri Fu Yao dengan air mata yang mengalir begitu saja seperti sungai dan bibirnya yang terus meracau asal perlahan berubah.
__ADS_1
Matanya melebar, bibirnya terkatup rapat, tangannya terkepal, dan duduk tegak, pandangannya seolah menunjukan amarah sekaligus kecemasan.
"Kita kembali ke Istana ... Se ... ka ... rang!!"
♣♦♣
Gerbang masuk pusat kota Qiu Wang.
Pertarungan antara Kerajaan Qiu Wang dan Tian Lu berlangsung cukup sengit. Kini jumlah pasukan keduanya hampir sama.
Prajurit Tian Lu semakin lama semakin menipis sedangkan Prajurit Qiu Wang mulai sedikit kelelahan akibat menghadapi musuh yang tiga kali lipat dari jumlah mereka.
Dan sekarang Yiu masih beradu pedang dengan Pangeran Dan Tian. Keduanya sama-sama kuat dan pandai dalam pertarungan pedang.
Yiu sudah mulai kelelahan namun ia harus bertahan karena ia harus mengulur waktu selama mungkin untuk menunggu bantuan dari Pangeran Huang dan mungkin juga Chichi telah meminta bantuan kepada sekutu terdekat disana.
Matahari semakin meninggi, panas sinarnya semakin menyengat kulit. Tubuh Yiu sudah banjir keringat begitu pula dengan Pangeran Lu Fei.
Aksi saling tebas-menebas dan tangkis-menangkis dari keduanya masih berlangsung dan tak ada satupun yang menunjukan tanda-tanda akan menyerah. Saling menyerang dan beradu mulut tanpa henti.
"Menyerah sajalah Pangeran Lu Fei ... Jika kau menyerah sekarang aku akan membebaskan mu dan mengirim mu kembali ke Tian Lu. Namun jika tidak jangan salahkan aku jika nyawa mu taruhannya."
"Huh! Kau yang seharusnya kalah karena kau memang payah huh!"
Tiba-tiba fokus Yiu terpecah saat mendengar suara yang sangat familiar di telinganya.
"Putri Ying! Putri Ying, kau dimana! Anakku kau dimana!"
Yiu menoleh ke belakang dan mendapatkan seorang wanita berpakaian mewah tengah berjalan kebinggungan seperti sedang mencari seseorang di antara prajurit yang berperang.
"Ibunda!" Yiu terbelalak kaget.
Kenapa ibunda bisa ada disini?! Sial tempat ini sangat berbahaya, aku harus menyelamatkan ibunda!
"Jendral Rong!" Yiu berteriak memanggil Jendral Rong yang bertarung di dekatnya.
Seakan mengerti ucapan Yiu, Jendral Rong segera membunuh prajurit di depannya dan berlari menyusul Yiu yang sudah berlari menjauh, ia berusaha menghalangi Pangeran Lu Fei yang juga mengejar Yiu.
Yiu berlari cepat ke arah ibundanya dan sesekali menggerakkan pedangnya saat beberapa Prajurit Tian Lu mendekatinya.
"Ibunda! Cepat pergi dari sini! Terlalu berbahaya!" Yiu berlari dan berteriak memanggil ibundanya, manik mereka berdua akhirnya bertemu.
Saat jarak mereka semakin dekat, Yiu melihat seorang Prajurit di samping kanan tak jauh dari tempat Permaisuri berdiri.
Prajurit itu berusaha mengarahkan pedangnya ke arah Permaisuri membuat Yiu mempercepat langkahnya.
"Ibunda awas!"
SRIETTTT ...
"Putri Ying!!"
TBC
__ADS_1