Flower Of War

Flower Of War
Chapter 19 : Ambil Alih Kembali


__ADS_3

Yiu duduk dengan gelisah disampidi sampingnya yang sedang pingsan dan tengah diobati oleh Tabib Ming.


"Bagaimana keadaan Permaisuri?" ucap Yiu dengan nada cemas.


"Permaisuri mengalami guncangan akibat keterkejutan atas suatu hal yang ada dipikirannya. Permaisuri harus beristirahat selama beberapa hari ini dan tolong jangan dipaksakan untuk berpikir terlalu keras jika tidak, mental Permaisuri berada dalam bahaya dan dia akan melakukan segalanya tanpa berpikir panjang," setelah memberi penjelasan kepada Yiu, Tabib Ming segera undur diri.


"Ibunda cepatlah sadar dan kembali pulih," Yiu memegang tangan Permaisuri dan menempelkannya di pipi Yiu.


Meskipun ia hanyalah jiwa yang mengantikan jiwa Putri Ying yang asli namun ia sudah menganggap Permaisuri Fu Yao adalah ibundanya sendiri.


Setelah itu, Yiu keluar ruangan memberikan waktu untuk ibunya beristirahat namun, saat sedang berjalan kembali menuju paviliunnya Yiu mendengar ada seseorang yang memanggilnya.


"Mohon ampun Putri telah menganggu anda, namun saya datang kemari ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting," ternyata itu adalah suara Jendral Rong yang sebelumnya bertemu dengan Permaisuri hingga membuatnya pingsan.


"Sesuatu yang penting? Baiklah ikut aku kita bicara di tempat lain," ucap Yiu datar nyaris tanpa emosi.


Setelah itu mereka berdua masuk ke aula istana dan duduk di meja kecil dengan 2 kursi di kanan kirinya.


"Cepat sampaikan sesuatu yang penting itu," ucap Yiu penuh wibawa.


"Mohon ijin Putri, keadaan Istana sekarang sedang gawat, pasukan dari Kerajaan Tian Lu ternyata telah menerobos masuk ke wilayah XinFeng dan hendak menyerang istana, Putri. Mereka diperkirakan akan tiba mungkin saat matahari terbit dan datang dari arah tenggara, pasukan yang kita punya di istana sangat sedikit untuk menghadapi serangan dari Tian Lu. Saya hanya bisa melakukan serangan di beberapa titik tertentu untuk melemahkan kekuatan namun ternyata mereka telah sangat siap," wajah Jendral Rong semakin memucat.


"Dan apabila kita meminta bantuan dari sekutu terdekat itu akan sulit karena Pasukan Tian Lu sudah memblokade jalan menuju perbatasan terdekat. Saya juga menerima kabar bahwa sekarang Kaisar juga tengah terluka parah akibat serangan dari Tian Lu di perbatasan Desa Zhi Shu namun mereka masih bisa mengatasi serangan dari Tian Lu. Pangeran Hwang sudah mengetahui pergerakan dari Tian Lu yang akan menyerang istana dan akan kemari dengan membawa bala bantuan namun akan tiba sekitar 12 jam lagi akibat jarak yang ditempuh yang terlalu jauh sehingga kita harus bisa mengulur waktu untuk menunggu bala bantuan. ... dan sekarang hamba menunggu perintah dari Putri."


Yiu yang menyimak segala perkataan Jendral Rong terkejut bukan main, ia harus mengambil alih kendali karena permaisuri sedang dalam kondisi yang tidak memungkinkan. Yiu berpikir sebentar lalu menghela nafas.


"Baiklah Jendral aku akan mengambil alih semuanya karena kondisi Permaisuri yang masih perlu istirahat, aku ingin kau siapkan prajurit terkuat untuk melawan Pasukan Tian Lu, segera evakuasi warga terutama anak-anak, wanita, dan orang tua. Minta para pria yang dengan suka rela ingin ikut berperang untuk bergabung dengan pasukanmu."


"Aku akan membuat ramuan racun untuk dioleskan di pedang kalian untuk memudahkan kalian melawan pasukan Tian Lu, aku akan meminta para pelayan wanita untuk ikut berperang dalam situasi ini."


Sebagai seorang prajurit negara yang terbiasa hidup di bawah tekanan bahkan berbulan bulan bertahan hidup di dalam hutan membuat Yiu mengerti berbagai jenis racun dari berbagai macam hewan dan tumbuhan di hutan.


Perkataan Yiu yang terakhir membuat Jendral Rong mengernyitkan dahinya.


"Mohon ampun putri, namun bagaimana bisa pelayan istana ikut andil dalam pertempuran ini?"


"Mudah saja, aku akan meyuruh mereka menyiapkan air panas dan minyak panas di tungku besar dan membuat bubuk cabe untuk menyiramkan itu semua ke arah pasukan Tian Lu."


Di dalam hati Jendral Rong sangat memuji ide cemerlang dari sang Putri, ia tak habis pikir dengan rencana sang Putri.

__ADS_1


"Mohon ijin bertanya, lalu kemanakah Putri dan Permaisuri ingin melarikan diri? Untuk keamanan Putri dan permaisuri saya sarankan untuk lari menuju istana musim panas di sana anda akan aman, Putri."


"Tidak Jendral, hanya Permaisuri saja yang akan bersembunyi di sana, aku tidak akan kemana-mana dan akan memimpin pasukan di barisan depan," ucapan Yiu membuat sang Jendral semakin tercengang.


"Apakah itu tidak terlalu berbahaya bagi keselamatan Putri, lebih baik Putri ikut bersama Permaisuri."


"Aku tidak terima penolakan Jendral, cepat pergi dan laksanakan tugasmu kita tak punya banyak waktu. Ah ya, bawa juga para menteri pertahanan dan divisi keamanan bersamamu," Yiu mengertak Jendral Rong untuk mengakhiri perdebatan.


Maafkan Yiu ibunda karena lancang mengambil alih masalah ini tanpa menunggu persetujuan darimu, namun ini semua aku lakuan demi yang terbaik untuk Kerajaan ini.


Setelah Jendral Rong undur diri, Yiu bergegas menuju ke arah dapur istana untuk menjalankan rencananya.


Ia juga menyuruh Chichi dan 2 Panglima perang untuk menjaga dan mengawal Permaisuri menuju ke Istana musim panas dengan pengawasan yang sangat ketat, mereka semua harus menyamar agar mereka tidak dikenali sebagai rombongan istana sekaligus meminta bantuan sekutu terdekat di sana.


Ia sekarang hanya bisa mengandalkan pelayan setianya itu untuk melindungi ibundanya karena hanya dialah orang yang bisa memakai senjata api miliknya selain dirinya.


Malam yang panjang berlalu, semua orang sibuk dengan tugas dan persiapan mereka masing masing. Hingga tak terasa sebentar lagi sang fajar akan menampakan sinarnya.


Yiu yang awalnya memakai hanfu wanita kini sudah berganti pakaian dengan baju perang.


Yiu memantau situasi terkini dan perkembangan dari rencananya apakah ada kendala atau tidak.


"Baik Jendral, suruh para prajurit dan pejabat bersiap di posisi masing-masing dan menunggu aba-aba menyerang dariku," Yiu segera bergegas menaiki kuda putihnya bersiap memimpin pasukan.


Setelah sampai di barisan terdepan pasukan, Yiu duduk tegak di atas kuda putihnya lengkap dengan membawa pedang di sakunya.


"Para prajuritku yang tangguh dan pemberani, perang yang akan terjadi hari ini harus dapat kita menangkan walau kekuatan kita memang tak sebanding. Tapi saya percaya kita mampu mengalahkan Pasukan Tian Lu dan mengulur waktu untuk bala bantuan dari sekutu dan Pangeran Huang, saya percaya kalian semua adalah kesatria sejati jadi mari kita buat mundur Pasukan Tian Lu!! Dewa bersama dengan kita!" Yiu berbicara lantang sembari mengacungkan pedangnya ke angkasa, membakar semangat para prajuritnya yang berseru tak kalah semangat.


Tak lama kemudian dari dalam hutan muncullah bayangan manusia yang begitu banyak, sekitar 10.000 prajurit Tian Lu berjalan tegas menuju pintu masuk Ibu Kota Qiu Wang, berbanding terbalik dengan pasukan Yiu yang bahkan tak mencapai setengah dari pasukan Tian Lu.


Yiu menoleh sejenak ke arah Jendral Rong dan beberapa Panglima perang yang berada di kanan kirinya.


Yiu mengangguk mantab ke arah mereka lalu bersiap menarik pedang dari sarungnya.


Setelah jarak kurang lebih 1 li antara Pasukan Yiu dan Pasukan Tian Lu, seorang pemuda muncul diantara barisan Prajurit dengan menunggangi kuda bersurai coklat.


Pemuda itu tampak sangat mencolok di antara pasukan Tian Lu lainnya, pakaian perangnya yang mewah nan kuat yang terbuat dari besi terkuat dengan zirah merah yang berkibar tertiup angin ditambah perawakan yang gagah layaknya kesatria.


"Aku tak menyangka ternyata lawan yang akan kuhadapi ternyata sangat mudah" Pemuda itu tersenyum mengejek kearah Yiu.

__ADS_1


"Mau apa kalian datang kemari dasar perusuh tak tau malu!" Yiu berteriak menggertak sang lawan.


"Huh? ... karena aku tau kau akan kalah maka aku akan memberitahu mu alasanku datang ke tempat penuh orang bodoh ini," Yiu mengepalkan tinjunya dan semakin menatap tajam pemuda itu.


"Apa kau lupa jika dulu ayahmu telah dengan kejam membunuh Kaisar Tian Lu yang juga merupakan ayahku, kini adalah saatnya pembalasan dendam kepada kerajaan mu dan meluluh lantakan semuanya dengan kejam tanpa ampun seperti yang kau lakukan kepada ayahku," Pemuda itu tersenyum sombong dan mendongakkan kepalanya.


"Sudahlah terima saja kekalahan mu, Putri lemah! Kau hanya gadis kecil yang masih berlindung di sayap orang tua dan sudah di pastikan kau sudah tak bisa berbuat banyak lagi " Yiu semakin mengertakan giginya.


"Jangan merasa menjadi yang paling hebat Pangeran, kau bahkan mungkin tak akan bisa melukaiku walau satu goresan tipis," Yiu terkekeh pelan, maniknya mulai mengeluarkan aura ingin membunuh.


"Kita lihat saja nanti," Pria itu menyeringai dan mengeluarkan pedangnya dari sarungnya hal yang sama juga dilakukan oleh Yiu.


"Pasukan!! Seranggg!!!"


"Pasukan!! Seranggg!!!"


Pertarungan antar keduanya tak terelakan, Pasukan Tian Lu dan Pasukan Qiu Wang mulai saling mengayunkan pedangnya dan hanya ada suara dentingan pedang di iringi dengan teriakan semangat namun juga kesakitan dari prajurit.


Pasukan pemanah Qiu Wang juga sibuk melepaskan anak panah berapi dari busurnya.


Pria yang tak bisa bertarung dengan pedang maupun senjata tajam lainnya diberikan sebuah kotak besi yang berisi bubuk mesiu buatan Yiu yang akan meledak apabila terkena guncangan setelah diaktifkan dan efek ledakan yang kuat dapat merenggut nyawa seseorang dari jarak 100 kaki.


Para pelayan wanita yang bersiap diatas gerbang pun sibuk menyiram pasukan Tian Lu yang berusaha mendobrak pintu masuk gerbang dengan air panas dan minyak panas tak lupa dengan bubuk cabe yang sangat pedih dimata membuat mereka meraung kesakitan.


Prajurit berpedang Qiu Wang pun tak kalah ganas menghadapi lawan, karena dipedang mereka sudah diolesi racun yang mematikan dan juga garam yang apabila menggores sedikit kulit akan menimbulkan efek perih yang kuat, sehingga mereka dengan cepat melumpuhkan prajurit lawan.


Namun racun yang berada di pedang mereka tak akan bisa meracuni diri mereka sendiri karena mereka telah meminum ramuan penawar racun buatan Para Tabib Istana.


Pasukan Tian Lu yang hanya bertarung dengan pedang, tombak, dan panah pun kewalahan dengan serangan dari pihak lawan, mereka sama sekali tak akan menduga hal ini akan terjadi. Pasukan mereka berkurang hampir sepertiga dengan cepat.


Yiu benar-benar cerdik dalam membuat siasat dan taktik di antara perang yang tak seimbang ini.


Yiu juga sibuk bertarung di atas kuda putihnya hingga pedangnya bertemu dengan pedang milik Pangeran dari Kerajaan Tian Lu.


Aura membunuh memancar dari keduanya.


TBC


Vote komennya jan lupaaa😚

__ADS_1


__ADS_2