Flower Of War

Flower Of War
Chapter 39 : Perpisahan


__ADS_3

Hari demi hari berlalu dengan keadaan istana yang sedang sibuk mengurusi pesta pernikahan antara Yiu dan Pangeran Liu Yu.


Sedangkan Yiu terus berusaha membuat masalah entah itu mengacaukan dekorasi atau merusak rencana secara sengaja bahkan sampai memaki Pangeran Liu Yu di depan matanya tetapi bukannya marah, Pangeran Liu Yu sama sekali tak bereaksi atau pun membalas makiannya, dia terus bersikap lembut seolah apa yang baru saja dilakukan Yiu hanyalah angin lalu dan itu membuat Yiu sangat jengkel, tangannya selalu sangat ingin mencakar wajah penuh senyum itu akan tetapi selalu saja berujung ia yang akan kena tegur oleh kedua kakaknya.


Pagi ini, Yiu yang masih bergelung dengan selimutnya sudah diseret paksa oleh Chichi untuk segera bersiap dan menemani Pangeran Liu Yu yang juga tengah sibuk mengurus persiapan pesta bersama dengan Kaisar Wang dan kedua kakaknya.


Yiu yang masih ingin tidur akibat ia baru bisa tidur saat dini hari setelah perjamuan kecil keluarga kerajaan sebelum Yiu dan Pangeran Liu Yu meninggalkan ibu kota dan pergi ke Bai Qing keesokan harinya pun berusaha kembali menuju ranjangnya.


Yiu berulang kali menolak dan beralasan apapun sembari berusaha berjalan kembali menuju tempat tidurnya namun entah kenapa hari ini tarikan Chichi begitu kuat sampai sampai Yiu hampir saja terjungkal ke depan saat Chichi menarik tangannya begitu kuat.


"Ayo Putri, anda harus bangun dan bersiap secepatnya! Anda hari ini akan pergi kerumah anda yang baru yaitu Istana BaiQing Liu bersama Pangeran Liu Yu! Suami tercinta anda Putri, ayo bangunlah!"


Bulu kuduk Yiu meremang mendengar kata 'suami tercinta' dari mulut laknat pelayan tak tahu diri itu yang untung saja sudah Yiu anggap sahabatnya sendiri, jika tidak sudah pasti ia akan memenggal kepalanya detik itu juga.


Butuh waktu cukup lama untuk Yiu bersiap, tidak seperti hari biasanya. Tentu saja ini adalah bagian dari rencana Yiu untuk menghindar dari bertemu dengan Pangeran Liu Yu yang sangat menyebalkan itu.


"Nah Putri sudah siap! Anda terlihat sangat cantik sekarang, waktunya untuk menemui Pangeran tampan anda tuan putriku yang cantik, saya jamin pangeran pasti akan langsung terpesona begitu melihat anda!"


Yiu menatap malas pantulan dirinya dicermin yang terbuat dari kuningan itu, "Bolehkan aku tidur lagi sebentar saja ku mohon aku masih sangat mengantuk biarkan aku tidur ya?!"


"Tidak bisa Putri, anda harus menemui Pangeran Liu Yu! Kasihan dia sudah sangat lama menunggumu bersiap, ayolah putri saya tau anda tidak rela untuk meninggalkan Qiu Wang tapi seorang wanita memang harus meninggalkan rumahnya dan tinggal bersama suaminya tapi anda masih bisa sesekali kemari untuk mengunjungi mereka jadi putri tak perlu sesedih itu."


Yiu memutar bola mata jengah mendengar perkataan 'sok tau' dari pelayan laknatnya ini, "Kenapa malah jadi kau yang sangat bersemangat hah?! Kenapa tidak kau saja yang menikah dengan Pangeran tampanmu itu? Kau tau aku sangat tidak ingin menikah dan aku juga benci orang itu jadi tolong berhenti memaksaku menikah!"


Yiu sudah habis kesabaran dan tanpa sadar memarahi Chichi dengan nada suara tinggi dan mengerikan sampai membuat seisi ruangan dan pelayan lainnya bergidik ngeri mendengar nada suara Yiu.


Setelah mendapatkan kembali kesadarannya Yiu merasa bersalah, ia mengenggam tangan Chichi sembari menyunggingkan senyum samar, "Maaf hari ini aku terlalu emosi, suasana hatiku sedang tidak baik ku harap kau mengerti itu."


Chichi yang juga merasa bersalah kembali mengangguk singkat membalas senyuman Yiu.


Selesai bersiap, Yiu berjalan keluar paviliunnya dengan langkah santai tanpa terburu-buru sedikitpun.


Di sepanjang jalan menuju aula istana sudah ada sosok pemuda yang banyak dipuja kaum hawa karena paras serta berbadan tegap yang kini tengah berdiri membelakangi Yiu, menikmati semilir angin yang menerpa ringan pakaian agung berwarna kuningnya.


Yiu berjalan mendekat kearah sosok itu dalam diam, berjarak sekitar beberapa langkah,  Pangeran Liu Yu membalikkan badannya ke arah Yiu dan langsung menampilkan senyuman khasnya, "Selamat pagi Tuan Putri Ying, anda sudah siap?"


Yiu mengangguk singkat kemudian membalas pertanyaannya, "Maaf sudah membuat Pangeran Liu Yu menunggu lama."


Pangeran Liu Yu tersenyum semakin lebar hingga lesung pipinya kembali tercetak jelas di wajah putihnya, "Tidak lama Putri. Anda tenang saja saya akan menunggu anda bahkan jika itu memakan ribuan purnama lamanya."


Yiu terdiam beberapa saat, maniknya menatap ke arah Pangeran Liu Yu penuh tanda tanya, raut wajahnya terlihat binggung.


Cukup lama manik mereka saling beradu pandang tanpa suara seolah keduanya tengah tenggelam dalam pikiran masing-masing hingga suara Pangeran Liu Yu memutus kontak antar keduanya, "Ah mari Putri ... Kaisar, Permaisuri, dan kedua Pangeran sudah menunggu anda di Aula istana."


Keduanya berjalan beriringan dalam diam, tak ada yang membuka suara selama perjalanan menuju Aula Istana.


Sesampainya mereka dia Aula Istana, keduanya disambut oleh anggota kerajaan Qiu Wang yang sudah menunggu mereka.


Yiu dan Pangeran Liu Yu membungkuk memberi salam kepada semua yang hadir di Aula tersebut, "Maafkan saya Yang Mulia karena telah membuat anda dan yang lainnya menunggu."


Kaisar Wang tersenyum lebar kemudian bertukar senyum dengan Permaisuri Fu Yao yang duduk di sampingnya, "Tak perlu terlalu sungkan A-Ying, disini kita adalah keluarga jadi tak perlu berbicara sekaku itu."

__ADS_1


Yiu dan Pangeran Liu Yu di giring oleh salah satu kasim untuk duduk di sisi kanan Kaisar yang bersebrangan dengan meja kedua kakaknya.


"Hari ini adalah hari keberangkatan A-Ying dan Liu Yu menuju BaiQing, 'kan?"


Semua orang mengangguk penuh antusias kecuali Yiu.


"Perjalanan kalian akan di temani Pangeran Huang dan Jendral Rong sebagai perwakilan kerajaan ... Ah Pangeran Liu Yu sampaikan salam dan restuku untuk kalian kepada Kaisar dan Permaisuri.  Setelah persiapan di sini selesai aku dan yang lainnya akan menyusul ke BaiQing!"


Pangeran Liu Yu mengangguk patuh dengan senyum cerah terpancar di wajahnya, "Terima kasih Yang Mulia dengan senang hati akan saya sampaikan langsung kepada mereka."


"Baiklah kalau begitu kalian harus segera berangkat menuju BaiQing, jarak ibukota dengan BaiQing lumayan jauh. Kereta kalian sudah siap di gerbang kerajaan."


Kaisar Wang bangkit dari duduknya di ikuti oleh semua yang hadir di aula tersebut, mereka pun membungkuk kemudian kompak berseru "Terima Kasih Yang Mulia!" setelahnya Kaisar Wang berjalan terlebih dahulu menuju gerbang istana.


Yiu berjalan beriringan dengan Pangeran Liu Yu dan Pangeran Huang, keduanya menampilkan senyuman yang sama cerahnya.


Pangeran Huang berbicara sembari mencubit pipi Yiu gemas yang langsung mendapat pelototan tajam dari sang empu, "Hei kucing kecil liarku kenapa kau terlihat tak bersemangat? Apa kau tidak senang?"


Yiu melotot tajam ke arah Pangeran Huang namun malah membuat sang pemilik nama tertawa lebar, "Siapa kucing liarmu hah? Dan kenapa kau mencubit pipiku ge? Kau minta dipukul ya?!"


"Kau mudah sekali marah saat di goda haha memang julukan kucing liar sangat cocok untukmu A-Ying haha! Oh atau kau ingin ku panggil 'kesayangan Liu Yu'?"


Pangeran Huang menurunkan nada bicaranya hampir setengah berbisik. Pipi dan telinga Yiu tiba-tiba berubah menjadi merah dan wajahnya semakin menggelap.


"Aww heii Ying! Sadarlah aku ini gegemu! Kenapa kau mencubit lenganku aww! Lepaskan ini sangat sakit Ying lepaskan akh!"


Yiu terlihat enggan melepaskan cubitan mautnya dari lengan kiri Pangeran Huang yang sudah terlihat kesakitan.


Salah sendiri berani main main denganku ge rasakan itu lain kali akan lebih parah!


"Istri tersayangku ... tolong lepaskan Pangeran Huang, Huang gege masih harus mengendarai kuda di perjalanan yang panjang ini jadi kasihanilah dia, jika tangannya terluka bagaimana?"


Sebuah suara kecil bahkan teramat kecil namun terdengar sangat jelas ditelinga kiri Yiu, tak perlu dipertanyakan siapa pemilik suara rendah itu.


Yiu mematung seketika, tubuhnya kaku untuk beberapa detik, ia masih berjalan biasa seperti tak terjadi apa-apa hanya saja tangan kanannya tanpa sadar sudah tidak mencubit lengan kiri Pangeran Huang.


Pangeran Huang segera mengelus-elus lengan kirinya sedangkan Yiu beralih menatap tajam ke arah Liu Yu, menuntut penjelasan.


Pangeran Liu Yu hanya tersenyum manis, tiba-tiba jari telunjuknya bergerak mengelus singkat hidung Yiu membuat sang empu kembali kehilangan kata-kata.


"Kau!!"


Yiu melotot tajam, jari telujuknya menunjuk tegas ke arah Liu Yu. Yiu ingin memaki Liu Yu namun suaranya tercekat ditenggorokan. Yiu menghempas kasar kain lengannya, kembali fokus ke arah depan.


Jantung Yiu berdetak cepat nyaris keluar dari tubuhnya, semburat merah muda terpancar jelas di pipi putih Yiu.


Ada apa dengan dirimu Yiu? Kenapa kau tidak memarahinya? Oh bahkan sekarang kau tak sanggup menatap matanya! Sadarlah Yiu dia sudah keterlaluan!


Tiba-tiba Yiu merasa canggung berjalan di samping Liu Yu, ia tak tahu harus berbuat apa sekarang.


Suasana berubah canggung seketika.

__ADS_1


"A-Huang kenapa kau berisik sekali? Kau menggoda meimei-mu lagi ya? A-Ying kemarilah ..."


Suara Permaisuri menyelamatkan Yiu dari rasa canggung, amarah, dan debaran aneh yang Yiu rasakan akibat perbuatan kedua laki-laki laknat disampingnya ini.


Yiu berjalan menghampiri Permaisuri, mereka telah sampai di depan gerbang istana.


"A-Ying, sebenarnya ibu sangat tidak ingin kau pergi dari istana ini tapi kau sudah dewasa sekarang dan kau sudah menemukan masa depanmu ..."


Wajah Yiu semakin tertekuk berkali kali lipat.


"Hei jangan menekuk wajahmu seperti itu, ibu tau kau tidak ingin pergi dan menikah dengan Liu Yu kan? Tapi ibu percaya dia adalah laki-laki yang baik, kau tak perlu mencintainya tapi setidaknya kau harus membuka hatimu untuk mencoba menerima kehadirannya di hidupmu. Ingat pesan ibu, cinta datang karena terbiasa."


Manik Yiu menatap sendu wanita cantik di depannya itu yang kini tengah tersenyum sembari mengelus-elus lembut kepala Yiu.


"Sudah jangan bersedih, kalau kau rindu kami kau bisa kemari, pintu istana selalu terbuka lebar untukmu, A-Ying."


Yiu tersenyum lebar, sangat lebar untuk pertama kalinya membuat seseorang tak dapat mengalihkan pandangannya dari Yiu.


Yiu segera bergerak maju memeluk tubuh ibundanya itu, pelukannya teramat erat. Air mata Permaisuri sudah menetes tanpa izin.


"Sudah sudah kau harus segera pergi, A-Ying, lihatlah mereka sudah menunggumu."


Yiu melepaskan pelukannya dan sebelum berjalan menuju sisi antara kedua Pangeran dari kedua negara tersebut, Yiu berjalan kedepan Pangeran Xiao Ce dan Kaisar Wang.


"Umur berapa kau?! Dasar cengeng!"


Suara sarkastik Pangeran Xiao Gie menusuk pendengaran Yiu membuatnya semakin enggan pergi.


Hey ... Aku bahkan tidak mengeluarkan setetes air mata!


Baru saja Yiu hendak menjawab ucapan kakaknya itu, tubuh Yiu sudah ditarik menuju ke dalam pelukan Pangeran Xiao Ce.


Setitik air mata lolos tanpa izin dari manik Yiu.


"Jangan pernah menunjukkan raut wajah seperti itu, teruslah bahagia. Jika dia menyakitimu, pulanglah aku disini untukmu." Yiu mengangguk ringan di tengah acara pelukan kakak beradik ini.


Terkadang Yiu binggung dengan sikap kakak pertamanya ini yang kadang sangat sulit di tebak.


Kaisar Wang menepuk-nepuk pundak Yiu pelan membuat Yiu beralih memeluk Kaisar Wang. Air matanya terus jatuh, untung saja dia membelakangi semua orang sehingga tidak ada yang melihatnya menangis.


Entah mengapa ia merasa tidak ingin pergi, sungguh sulit baginya meninggalkan mereka seolah ini adalah pertemuan terakhir mereka.


"Teruslah berbahagia Ying, jaga dirimu baik-baik. Pintu istana tak pernah tertutup untukmu."


"Meimei ... kita harus segera pergi sebelum matahari semakin meninggi."


Anggap saja Yiu terlalu lemah pada perpisahan tapi itulah yang Yiu rasakan sekarang. Seolah-olah ia kembali harus merasakan rasanya kehilangan yang begitu besar di suatu perpisahan.


Perpisahan ini terlalu menyakitkan!


Kereta kuda beserta rombongan kerajaan perlahan berjalan keluar pintu istana. 

__ADS_1


TBC


Jangan lupa like vote komennya ya.. terima kasih♥✨


__ADS_2