
Hari demi hari pun berlalu. Ming Zijing dan Wu Xiao saling bersaing dalam ambisi jago merah. Beberapa hari terakhir, Wu Xiao mulai menunjukkan bakatnya dalam menembak membuat Yiu memutuskan mengikutkannya dalam latihan khusus bersama Ming Zijing.
Dor dor dor dor...
"Bagus, Ming Zijing, Wu Xiao. Sekarang arahkan pada sasaran yang di sana."
Ming Zijing masih celingukan mencari sasaran yang dimaksud Yiu. Wajah bagai embun beku miliknya manatap Yiu dengan kebingungan.
Menyadari itu, Yiu menunjuk ke arah bawah balkon menuju halaman di bawah balkon tempat mereka berlatih. Di tengah halaman berdiri sebuah papan kayu dengan lingkaran sebagai sasaran di tengahnya.
Keduanya mengarahkan pucuk senapan mereka pada sasaran yang menukik tajam ke bawah. Ming Zijing terlihat sulit untuk menempatkan posisi yang pas dan tertangkap oleh manik Yiu, ia mulai mendekat dan membantu mengarahkan tangan Ming Zijing pada sasaran.
"Turunkan bahumu sedikit, pegang dan arahkan pada sasaran. Jangan terlalu tegang, kenapa tanganmu kaku sekali...."
Hal itu sontak membuat tangan dan wajah Ming Zijing semakin kaku bagai patung hidup. Yiu mencoba menepuk-nepuk salah satu pundak Ming Zijing supaya merileks.
Di sisi lain, Wu Xiao hanya diam dengan lirikan elangnya. Tiba-tiba, Wu Xiao mengangkat kakinya dan menendang belakang lutut Ming Zijing untuk menyadarkannya tanpa sepatah kata.
Yiu refleks menahan lengan Ming Zijing dan melayangkan tatapan elangnya yang hanya ditanggapi senyuman santai oleh Wu Xiao.
Yiu menegur pelan, "Wu Xiao!"
Wu Xiao menunduk menggeleng kecil sembari mengeluarkan smirk-nya. "Kau yang seharusnya berhati-hati, Putri Ying."
Setelah sedikit terhuyung, untuk pertama kalinya Ming Zijing sedikit gelagapan dan kembali mencoba fokus dengan melebarkan jarak, membuat ruang untuknya sendiri.
Yiu tidak mengambil pusing, ia kembali menginterupsi keduanya untuk menembak. Hasilnya sempurna di tiap sasaran hingga mentari hampir mendekati peraduannya.
"Pangeran Wu Xiao, Pangeran Ming Zijing, kerja bagus. Melihat perkembangan kalian, aku bisa menyerahkan divisi tiga dan lima pada kalian berdua esok. Ambil buku panduan singkat ini untuk materi dan taktik perang yang sudah kita susun. Kalian bisa istirahat setelah ini, terima kasih atas kerja kerasnya."
Yiu memberikan sebuah buku kecil pada keduanya, mereka pun kembali tenggelam pada kesunyian . Tiba-tiba sesuatu terlintas di pikiran Yiu, ia menoleh pada Ming Zijing yang tengah serius membaca. "Pangeran Ming Zijing, bolehkan kita berbicara sebentar?"
Ming Zijing mendongakkan kepalanya, siap mendengarkan. "Tolong awasi Pangeran Huang untukku. Aku tahu dia tidak nyaman jika berlatih bersamaku karena aku adiknya. Jadi, maaf merepotkanmu."
Ming Zijing mengangguk singkat. "Dia setiap malam selalu memaksaku untuk berlatih bersama. Namun, harus kuakui Pangeran Huang cukup pintar, hanya dengan melihat sekali saja dia mampu menirukannya dengan cukup sempurna."
Yiu tersenyum dan membalas, "Apa dia mengacaukan sesuatu?"
"Yah, dia hampir menembak dirinya sendiri karena mengira senapannya rusak. Untung saja, saat ia menarik pelatuknya aku masih sempat melempar tombak yang menyenggol tangannya sehingga peluru itu pun meleset. Ada lagi, saat dia memegang senapan khusus tembakan jarak jauh, ia mencoba menembak bom milikmu di hutan belakang istana dari atas dinding pagar. Hasilnya, ia terkejut sendiri dan jatuh ke tanah."
Kikikkan Yiu makin tak tertahankan hanya dengan membayangkan wajah kakaknya yang marah-marah pada dirinya sendiri.
Yiu menyeka sudut matanya yang basah sebelum mengumpulkan niat untuk bicara, "Maaf jika tingkahnya membuatmu pusing, dia memang selalu seperti itu. Tolong jangan menyerah mengajari dia, ya?"
Ming Zijing juga ikut tersenyum lalu mengangguk. Setelah berbincang singkat, Ming Zijing undur diri dan tersisalah Yiu sendirian.
Oh iya, aku harus meminta maaf pada Wu Xiao, aku terlalu kasar padanya beberapa hari ini.
Yiu menolehkan kepalanya ke segala arah. Namun, tidak menemukan sosok yang tengah ia cari. "Kemana dia pergi?"
Yiu akhirnya memutuskan untuk kembali ke kediamannya karena hari sudah gelap. Di perjalanan, ia melewati kediaman Putri Ming Lihua dan mendengar sedikit keributan.
Penasaran, Yiu mengintip dari celah pintu yang setengah terbuka.
__ADS_1
"Wu Xiao, kembalikan! Aku akan membunuhmu jika kamu tidak mengembalikan kuasku!"
Terlihat Wu Xiao berlari ke luar menuju halaman sembari menggenggam puluhan kuas di tangannya. "Huahua, kamu sangat buruk dalam melukis! Kau pilih kasih! Bagaimana bisa wajahku yang tampan ini terlihat sangat mengerikan apalagi di samping wanita secantik itu! Wajahnya sangat mirip denganmu, apa-apaan itu! Ulangi!"
Tak lama, Ming Lihua juga keluar berlari dengan gaun yang terseret-seret sembari berusaha meraih kuas dari genggaman Wu Xiao. "Butuh waktu berjam-jam untuk melukis serealistis itu! Apalagi kau tidak bisa diam jadi sangat sulit untuk melukismu. Tapi jika dilihat-lihat lagi, lukisan ini sudah sangat mirip denganmu."
Wu Xiao kembali berlari lalu memanjat pohon untuk menghentikan pelariannya. "Tidak! Aku lebih tampan dari itu. Kau harus membuatnya seperti pasangan yang tampan dan menawan. Kalau tidak aku tidak akan mengembalikan kuasmu!"
Di bawahnya, Ming Lihua melompat-lompat kecil berharap tangannya dapat menggapai ujung pakaian Wu Xiao sembari memaki-maki Wu Xiao yang sangat keras kepala. Pertengkaran itu terlihat jelas dari sudut pandang Yiu.
Yiu mengurungkan niatnya untuk menghampiri keduanya mengingat itu bukanlah hal yang sopan, ia kembali berjalan di lorong sunyi sendirian. Entah mengapa sesuatu dalam dirinya terasa sangat hampa.
"Wu Xiao dan dia terlihat sangat akrab. Apa dulu mereka sepasang kekasih? Atau hingga sekarang? Tunggu, kenapa aku memikirkan hal tidak berguna seperti ini?! Sadarlah, itu bukan urusanmu. Jangan melewati batas," gumam Yiu yang dirutuki oleh dirinya sendiri.
♣♦♣
Keesokan harinya, rutinitas Yiu masih seperti hari-hari sebelumnya. Melatih pasukan kemudian berlatih sendiri sebelum memikirkan taktik perang serta menyelidiki beberapa kasus yang janggal baginya beberapa hari terakhir.
Entah bagaimana Yiu menjadi lebih dekat dengan Ming Zijing dan kakaknya akhir-akhir ini. Mereka akan berlatih bersama di waktu istirahat. Sedangkan Wu Xiao? Dia selalu tiba-tiba menghilang, entah pergi kemana.
Yiu kini tengah berjalan bersama Ming Zijing menuju ruang persediaan senjata untuk mengambil beberapa amunisi yang hanya dapat dibuka oleh Yiu.
Di seberang jalan, terlihat seorang gadis berlari sekuat tenaga dengan tangan yang sibuk menaikkan pakaiannya yang cukup panjang dan tertawa. Gadis itu adalah Ming Lihua, ia berpapasan dengan Yiu dan tiba-tiba berhenti.
Senyum manis di wajahnya tak luntur sedikit pun. Dia menyapa Yiu begitu manisnya dengan napas yang masih terengah-engah, "Putri Ying? Kebetulan sekali kita bertemu, maaf aku membuatmu tidak nyaman tapi aku ingin berkata satu hal. Kamu hebat sekali, kamu lebih muda dariku tapi namamu sudah bersinar di seluruh penjuru daratan, sangat hebat!"
"Huahua, berhenti berlari! Kembalikan barangku!" Suara familier itu terdengar dari kejauhan. Ketiganya sontak menoleh ke sumber suara.
Wajah Ming Lihua kembali memucat. Ia bersiap berlari sembari berteriak, "Maaf aku harus pergi, monster itu sudah dekat. Ah iya, jangan dekat-dekat dengan monster itu, Putri Ying. Dia berbahaya, lebih baik bersama dengan kakakku saja!"
Yiu nampak kebingungan, ia kembali menoleh dan melihat Wu Xiao yang berlari setengah sesak napas akibat terus berteriak, ia semakin dekat dengan Yiu. Namun, tak ada tanda-tanda ia akan berhenti. Sebaliknya, ia terus berlari dan hanya melayangkan senyuman manis untuk Yiu.
"Liying, jangan dengarkan Huahua. Dia tidak bisa dipercaya!" ucapnya sembari terus berlari meninggalkan Yiu dan Ming Zijing yang berwajah aneh.
"Itu sebabnya kenapa aku menolak Wu Xiao datang kemari, adikku jadi ikut tertular penyakit sakit jiwa dari Wu Xiao." Yiu hanya mengangguki hal itu dengan wajah dongo.
Hari demi hari hingga minggu demi minggu pun berganti begitu cepat hingga tak terasa satu bulan telah berlalu.
Kelima divisi yang dipimpin oleh Yiu berjumlah lima ratus orang itu sudah berbaris rapi dengan jubah besi mereka di halaman Kerajaan Guang Ming.
Hari ini mereka akan menuju Qiu Wang untuk menyatukan perintah dalam bendera keadilan. Bersatu bersama delapa ratus pasukan berperang lainnya.
Divisi tiga yang bertugas membawa alat-alat berat serta amunisi dan bom masih sibuk menata barang bawaan di kereta kuda kerajaan sembari menunggu kehadiran Yiu dan ketiga pangeran yang bertanggung jawab di tiap-tiap divisi.
Yiu berjalan cepat menyusuri jalanan istana sembari mengecek pedang miliknya sebelum memasukkannya ke selongsong dengan terburu-buru.
Jenderal Rong yang menunggunya di dekat pintu aula kerajaan, bergegas mengarahkannya ke gerbang istana tempat para prajurit menunggunya.
Sebuah kuda bersurai putih dengan pelana berwarna hitam di punggung kuda putih itu telah disiapkan untuk Yiu.
Yiu naik dan menuju ke depan barisan divisi satu, bergabung dengan pimpinan para divisi. Huang memberikan isyarat pada untuk memulai pidato singkat, dengan satu tangan memegang senapan yang ujungnya menunjuk langit, satu tembakan terlepas ke udara.
Semua perhatian tertuju pada Yiu. Yiu menegakkan punggungnya di atas pelana sembari satu tangan memegang erat tali kendali. "Aku berdiri di sini bersama kalian, bukan semata untuk menunjukkan kekuatan atau apa pun. Tapi, aku berdiri disini, saat ini, detik ini, untuk berjuang bersama kalian, menjadi bagian dari perombak sejarah tentang ketidakadilan yang berkibar di negeri kita ini. Selama kita memiliki tekad yang kuat dan jiwa pantang menyerah, aku yakin kita semua akan mampu menggulingkan kezaliman dan melindungi negeri ini, bangsa ini, dan keluarga ini, ... selama kita masih bernapas, tidak ada hal yang tidak mungkin!"
__ADS_1
Suara lantang Yiu bergema bersanding bersama semilir angin yang mengibarkan rambutnya penuh semangat. Ia menarik napas sebelum melanjutkan, "Maka dari itu, aku ingin bertanya tiga hal pada kalian. Bersediakah kalian untuk membela kebenaran segenap jiwa raga?!"
"BERSEDIA!"
"Bersediakah kalian kehilangan nyawa demi masa depan anak cucu kita?!"
"BERSEDIA!"
"Bersediahkan kalian berjuang bersama saudara kita hingga titik darah penghabisan?!"
"BERSEDIA!"
"TERIAKKAN LEBIH KERAS LAGI!"
"KAMI BERSEDIA MATI BERSAMA PUTRI WANG YINGMEI DEMI KEADILAN!!"
Seluruh prajurit bersorak sembari menghentak-hentakkan tombak di tangan kanan mereka. Membakar api semangat yang berkobar liar.
"Buka gerbang!"
Gerbang Istana Guang Ming terbuka, Yiu memimpin barisan keluar istana. Genderang perang tak henti-hentinya bergemuruh mengiringi pasukan yang siap bertempur itu.
Meski akses jalanan kota ditutup, antusias warga Guang Ming masih begitu tinggi. Mereka rela menaiki atap-atap rumah maupun toko demi bisa melemparkan bunga mengiringi kepergian prajurit.
Tidak akan ada keuntungan dari setiap peperangan. Namun, dengan berperang kita bisa menyelamatkan tanah ini dari ketidakadilan demi masa depan yang cerah.
♣♦♣
Pasukan itu sudah memasuki jalur hutan yang berbatasan langsung dengan hutan milik Zhang Wu. Yiu berjalan bersama sang kakak di belakang kereta kuda milik Putri Ming Lihua, sedangkan Wu Xiao dan Ming Zijing berjalan di depan kereta kuda.
Sampai saat ini, Yiu belum mengerti pasti tentang alasan mengapa Kaisar Ming memberi titah pada putrinya untuk ikut bersama ke Qiu Wang.
Ia sibuk memikirkan alasannya hingga tak sadar ia sudah berjalan tepat di samping kereta kuda itu. Bertepatan dengan itu, Ming Lihua menyembulkan kepalanya keluar jendela, membuat keduanya sontak terkejut dalam diam.
"Ah kau hampir saja membuat jantungku lepas."
Yiu yang juga terkejut dalam beberapa detik segera menundukkan kepalanya. "Maafkan saya, Putri Lihua."
Ming Lihua tersenyum tanda tak keberatan. Ia melipat kedua tangannya di jendela sembari menatap Yiu yang sedikit kebingungan.
"Kau sepertinya memiliki sesuatu untuk ditanyakan padaku, Putri. Tanyakan saja tidak perlu sungkan."
Yiu tertegun mendengarnya. Belum sempat Yiu memberanikan diri untuk bertanya, Ming Lihua sudah menebaknya, "Tentang keikutsertaanku, 'kan? Dari wajahmu tergambar jelas tentang itu. Hm, aku sebenarnya ingin memberitahumu sekarang tetapi aku belum siap, masih ada beberapa hal yang harus kupersiapkan untuk misi dari ayahku. Tapi kamu tenang saja, aku akan memberitahumu nanti jika rencanaku ini sudah matang. Fokuslah pada kemenanganmu kali ini, adik manisku."
Senyum itu sangat tulus hingga Yiu hampir bergidik ngeri. Ia merasa di balik sikap manisnya itu tersembunyi kekuatan yang bisa menjadi kartu as untuknya, membuat aura mencekamnya menyelimuti tubuh Yiu. Yiu benci mencurigai orang sendiri.
Yiu hanya mengangguk dan kembali pada formasinya, di samping sang kakak. Sepanjang perjalanan Yiu terus memikirkan hal apa yang disembunyikan Kerajaan Ming padanya.
Manisnya terus tertuju pada interaksi antara Wu Xiao dan Ming Lihua yang kini tengah saling bercanda gurau. Membuat emosi Yiu entah mengapa semakin naik di tengah panasnya sinar mentari yang bersinar.
Emosi yang semakin memuncak itu bersaing dengan rasa perih nan sesak di dadanya. Entah mengapa rasanya begitu sesak hanya dengan melihat interaksi antara Ming Lihua dan Wu Xiao.
Memori tentang Wu Xiao yang terus menganggu hidupnya kini menjadi sesuatu yang terus menganggunya. Bukankah ini yang dulu selalu ia inginkan, damai bersama pikirannya tanpa gangguan dari pria gila yang kini sudah menemukan seseorang yang sama gila dengannya dan akan hidup bahagia selamanya?
__ADS_1
Huh, lagi-lagi Yiu bertengkar dengan pikirannya sendiri. Mungkin ini yang seharusnya terjadi, keduanya menemukan kehidupan yang mereka impikan. Takdir yang pahit selalu adil.
TBC