
Ucapan Tabib Ming membuat Yiu sedikit terkejut dan khawatir.
Yiu mengangguk dan berjalan mengikuti Tabib Ming menuju Paviliun Teratai dan masuk hingga depan kamar Permaisuri.
"Ceritakan semuanya."
"Keadaan permaisuri walau sudah membaik tapi mentalnya masih sangat terguncang-"
Belum sempat Tabib Ming melanjutkan ucapannya, Yiu memotongnya dengan nada menekan dan helaan nafas berat.
"Aku tau ... Huh, aku sudah mengirim Permaisuri menuju Istana Musim Panas dan memberinya obat tidur agar Permaisuri tidak ikut turun tangan dalam masalah penyerangan kemarin. Jika ia sampai tau tentang itu maka Permaisuri tak bisa membedakan yang nyata atau maya dan yang terjadi kemarin sama persis dengan dugaanku."
"Ah, anda memang benar Putri ... maka dari itu Permaisuri butuh istirahat total selama kurang lebih 2 minggu. Hanya itu yang ingin saya sampaikan, Putri."
Yiu mengangguk memberi ijin Tabib Ming untuk undur diri dan membuka pintu kamar Permaisuri.
Yiu berjalan pelan menuju samping ranjang tempat Permaisuri tidur. Yiu duduk di samping ranjang dan menggapai tangan Permaisuri lalu menempelkan tangan Permaisuri di pipinya.
"Maafkan aku ibu ... maafkan aku yang tidak bisa menjaga ibu ... seharusnya ibu masih di Istana Musim Panas sampai aku datang menjemput ibu dan seharusnya ibu tidak nekat kembali ke Istana, kalau tadi aku tidak datang dan hal itu terjadi mungkin aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri."
Yiu berucap dengan nada sedikit bergetar dan tanpa sadar setitik air mata lolos dari manik coklatnya.
Setelah dirasa cukup, Yiu menghela nafas dan perlahan berdiri kemudian berjalan keluar kamar kembali menuju Paviliun Dahlia.
Saat akan tiba di Paviliun Dahlia, Yiu menghentikan langkahnya saat mendengar sebuah suara berat yang familier dari arah belakang memanggilnya.
"Putri Ying!"
Yiu membalikkan badan hendak melihat siapa yang memanggil namanya.
"Kenapa kau tidak berada di Paviliun mu? Bukankah luka ditubuhmu belum kering?"
Pangeran Wu Xiao berjalan pelan kearah Yiu yang terlihat sedang memutar bola mata jengah.
Ya Dewa, kenapa harus perusuh ini yang datang.
"Aku baik-baik saja, Pangeran, tak perlu khawatirkan diriku. Luka-lukaku sudah sembuh semua."
Yiu tersenyum kecut ke arah Pangeran Wu Xiao yang berujar seperti kakaknya.
"Oh, benarkah? Apakah bisa luka tusuk sembuh dalam waktu sehari? Wah, kau menggunakan obat ajaib apa? Ah, lebih baik aku tanyakan pada tabib Istana atau mungkin pada Pangeran Huang saja?"
Pangeran Wu Xiao berbalik dan hendak berjalan menuju tempat Paviliun Pangeran berada.
"Tu ... tunggu!"
"Jangan katakan pada Pangeran Huang jika aku tidak berada di Paviliunku."
Yiu memohon pada Pangeran Wu Xiao karena tadi ia sudah di peringati untuk langsung menuju Paviliun dan tidak boleh keluar sampai besok.
"Apa yang kau lakukan di sini, Putri Ying?"
Suara Pangeran Huang tak jauh dari tempat mereka berdiri mengagetkan Yiu dan Pangeran Wu Xiao dan membuat wajah Yiu berubah pucat.
****** kau Yiu!
"Bukankah aku sudah bilang untuk tetap berada di Paviliun Dahlia hingga luka-lukamu sembuh, Putri? Lalu kenapa kau masih berkeliaran di luar bersama Pangeran Wu Xiao?"
"Egh, aku tadi pergi sebentar ke-"
Belum sempat Yiu memberikan sanggahan Pangeran Wu Xiao sudah memotong pembicaraannya.
"Begini Pangeran, tadi aku tak sengaja melihat Putri Ying sedang berjalan-jalan di area Istana lalu aku menghampirinya dan memperingati Putri Ying jika ia tidak boleh keluar Pavilium hingga luka-lukanya membaik namun Putri Ying menolak dan malah mengancamku akan diusir dari sini."
__ADS_1
Pangeran Wu Xiao berkata dengan penuh penghayatan sehingga terlihat jika ia memang sedang berkata jujur dan tidak mengada-ada.
Yiu melotot tajam kearah Pangeran Wu Xiao mendengar karangan cerita tentangnya yang dan dibalas senyuman licik di wajahnya.
"Benar begitu, Putri Ying? Ah, kau sudah mulai membangkang dengan ucapanku, ya? Baiklah kau aku hukum tidak boleh keluar dari kamar apalagi paviliun hingga rombongan dari Kaisar datang."
"Tapi, Pangeran, aku tidak-"
"Jangan membantah! Cepat kembali ke Paviliun mu dan jangan keluar dari kamar sampai Rombongan Kaisar datang esok hari! Wu Xiao tolong temani Putri Ying."
Yiu hanya mendengus kesal dan melirik tajam ke arah Pangeran Wu Xiao yang berada di samping Pangeran Huang.
Pangeran Wu Xiao tersenyum manis ke arah Yiu yang masih melotot tajam ditambah muka masam, kemudian Pangeran Wu Xiao mengedipkan kedua matanya perlahan mempersilahkan Yiu untuk kembali bersamanya.
Yiu segera berjalan menuju Paviliunnya tanpa bicara sepatah katapun dengan Pangeran Wu Xiao.
"Hei jangan menekuk wajahmu seperti itu Putri Ying. Aku hanya bercanda saja tadi." Pangeran Wu Xiao mencoba membuka gembok sunyi antara keduanya.
"Tak tahu malu!" tanpa sadar Yiu mengumpat rendah.
Pangeran Wu Xiao berpura-pura tuli, "Kau ini selalu menatapku sengit seperti itu, apakah aku ini pernah berbuat jahat padamu?"
Yiu mati-matian menahan emosinya yang semakin membuncah mencoba bersuara senetral mungkin, "Tutup mulut bebekmu atau akan ku penggal kepa- ah."
Belum selesai Yiu menuntaskan bicaranya, luka di perut kiri Yiu kembali terbuka sedikit akibat terlalu banyak bergerak.
Sontak Pangeran Wu Xiao segera membopong tubuh Yiu bagaikan membopong sekarung beras. Yiu lagi-lagi kehabisan kata-kata melihat tingkah tidak sopan Pangeran Wu Xiao.
Yiu, "Kamu! ..."
Pangeran Wu Xiao, "Apanya yang aku aku? Huh dasar, sudah tahu terluka parah masih saja berkeliaran dan memarahi ku. Padahal aku sudah membantumu tapi kau selalu saja menyumpah serapah ku."
Yiu segera memberontak berharap dapat melepaskan gendongan Pria gila ini, "Lepaskan aku, ini di Istana! Jika ada yang melihat bagaimana?!"
Yiu melotot tajam, "Aku tidak sudi menikah denganmu sialan! Turunkan aku cepat!"
Pangeran Wu Xiao terkekeh, "Tenang saja aku juga tidak sudi mempunyai teman sepertimu, Istana sedang sibuk sekarang jadi para pelayan sibuk di Aula dan dapur. Kita tak akan ketahuan."
Yiu terdiam dan hanya pasrah berada dalam gendongan Pangeran Wu Xiao, jujur dirinya juga terlalu lelah berjalan dan selagi mereka menyusuri koridor penuh keheningan, Yiu menyumpah serapahi Pangeran Wu Xiao yang selalu membuatnya naik darah.
Hingga tak terasa keduanya sudah berada di pintu masuk Paviliun Dahlia, Pangeran Wu Xiao segera menurunkan Yiu dan berpisah jalan.
Pangeran Wu Xiao berseru saat Yiu hampir mendekati pintu masuk Paviliun, "Hei Putri Ying! Kau tidak berterimakasih padaku?"
Yiu berkata tanpa menoleh sedikitpun, "Jangan mengangguku lagi, Sialan!"
Pangeran Wu Xiao membalas sembari mengerucutkan bibirnya, "Baiklah, aku anggap itu sebagai ucapan terima kasih."
Yiu segera masuk menuju kamarnya dengan beberapa pelayan menyambutnya di depan kamar bersamaan dengan sosok Chichi diantara mereka.
"Putri saatnya anda istirahat, anda tidak boleh terlalu lelah karena luka ditubuh anda belum mengering, Putri."
Suara Chichi membuat Yiu semakin mendengus kesal. Disatu sisi ia ingin menyembur Chichi namun akhirnya ia menuruti perkataan Chichi karena memang luka di tubuhnya agak sedikit sakit apabila terlalu banyak bergerak dan memilih pergi ke alam mimpi.
♣♦♣
Keesokan harinya.
Matahari kemerahan hendak kembali ke perpaduannya tetapi seluruh penghuni Istana Qiu Wang masih di sibukkan dengan persiapan Upacara Penyambutan Kaisar dan sekutunya yang berhasil memadamkan serangan Tian Lu dan meraih kemenangan.
Berbeda dengan Yiu, ia masih dikurung selama seharian penuh di dalam kamar oleh sang kakak agar beristirahat dan tidak diperbolehkan keluar dari kamar selangkah pun.
Penjagaan di dalam maupun luar paviliunnya semakin diperketat membuat Yiu semakin sulit bergerak.
__ADS_1
Akibat saat dirinya ingin kabur sebentar untuk sekedar berjalan-jalan di hutan sekaligus melihat persiapan penyambutan Kaisar dengan cara memanjat atap paviliun dan bahkan tak membuat suara sedikitpun.
Namun lagi-lagi aksinya sudah tertangkap basah oleh Pria sialan bernama Wu Xiao itu yang sudah bersender dalam diam di dinding luar istana dekat pelarian Yiu seperti sudah menunggu kedatangan Yiu, sepertinya Pangeran Wu Xiao sudah menduga jika Yiu tidak akan bisa tetap diam di kamar walaupun sedang terluka parah dan pasti akan mencari cara untuk kabur mencari angin bak sedetik.
Sungguh saat itu ingin sekali Yiu mencekik Pangeran Wu Xiao hingga mati.
Tak hanya dikurung saja, ia juga harus meminum ramuan obat berwarna hijau ke hitaman dan sangat pahit yang membuatnya ingin muntah hanya dengan sekali menghirup baunya.
Dan Permaisuri juga masih belum keluar dari kamar karena harus beristirahat total untuk memulihkan pikiran dan mentalnya yang sedikit terguncang.
Ia juga menyuruh Chichi untuk merawat dan menjaga Permaisuri bersama dengan pelayan pribadi Permaisuri selama 24 jam.
Pangeran Huang, Pangeran Wu Xiao dan Jendral Rong juga masih sibuk mempersiapkan upacara penyambutan dan memulihkan kondisi rakyatnya setelah perang usai.
Matahari pagi mulai muncul perlahan dari ufuk timur, hampir seluruh penghuni Istana dan rakyat Qiu Wang sudah bersiap untuk upacara penyambutan Pasukan Kaisar.
Dan kini ia sudah siap dengan pakaian kerajaan yang terkesan sangat mewah dengan rambut yang disanggul rapi.
Yiu memakai hanfu berwarna kuning terang seterang matahari dan seindah bunga peony yang sedang mekar membuatnya terlihat bak dewi surga yang teramat cantik di pandang walau kini raut wajah Yiu seperti kertas yang di tekuk beberapa lipatan.
Yiu duduk melamun di samping jendela kamarnya, pikirannya berkelana entah kemana. Kebiasaan disaat bosan.
Sebuah suara menarik paksa kesadaran Yiu dan membuatnya menoleh kearah sumber suara itu.
"Putri, Rombongan Kaisar sudah tiba di gerbang masuk pusat kota dan sebentar lagi akan tiba di Istana. Putri di mohon turun untuk menyambut mereka di gerbang istana bersama yang lainnya."
Yiu tersenyum manis ke arah pelayan itu dan bangkit berdiri dari duduknya kemudian berjalan perlahan menuju gerbang masuk Istana.
Disana sudah terlihat Pangeran Huang dengan balutan hanfu berwarna emas dan sedikit warna putih yang terkesan elegan dan berkharisma.
Disampingnya berdiri Pangeran Wu Xiao dengan pakaian kebesaran khas seorang Jendral Besar yang gagah berani berwarna keperakan, dan Jendral Rong yang berpakaian layaknya seorang Jendral Perang dengan tangan kanan yang memegang pedang yang bersarung besi putih seputih salju.
Yiu berdiri di samping Pangeran Huang, maniknya sedari tadi terus menelusuri penjuru istana mencari keberadaan seseorang.
"Dimana ibunda?"
Yiu menoleh ke arah Pangeran Huang dan bertanya dengan nada polos seakan lupa akan rasa kesalnya yang kini tergantikan dengan rasa penasaran sekaligus khawatir.
"Kondisinya masih belum pulih, Ibunda terlalu syok saat mengetahui dirimu yang mengambil keputusan tanpa persetujuannya ditambah dengan keadaan Ayahanda saat itu."
Ucapan Pangeran Huang terdengar cukup dingin bagi Yiu, ia merasa Pangeran Huang sedang menyinggung dirinya yang bertindak gegabah.
"Maafkan aku. Tapi sebelum berita penyerangan itu sampai di telinga Ibunda kondisi Ibunda memang sudah lemah dan setelah itu jatuh pingsan."
"Bukan salahmu, ini semua karena kutu Tian Lu itu yang berani membuat onar di Qiu Wang dan memanfaatkan kesempatan saat kami tidak ada tapi semua sudah berakhir jadi tak ada yang perlu di permasalahkan lagi."
Pangeran Huang tersenyum singkat dan kembali menatap lurus ke depan. Yiu pun ikut tersenyum sedikit terpaksa kemudian mengikuti arah pandang Pangeran Huang.
Tak berselang lama suara tabuhan gendang raksasa bergema ke seluruh penjuru istana.
Gerbang istana mulai di buka perlahan menampilkan rombongan dengan pakaian perang dan pedang disisi pinggang mereka tak lupa puluhan bendera perang berwarna merah berkibar dalam rombongan.
Barisan depan iring-iringan terdapat puluhan prajurit yang berjalan setegap papan dan satu persatu mulai menepi menjadi pagar hidup dan memberi jalan kepada para panglima perang dengan kudanya yang dipimpin oleh Pangeran Xiao Ce dan kereta kuda besar nan mewah di belakang mereka untuk memasuki istana.
Di belakangnya terdapat beberapa Jendral Besar yang merupakan sekutu dari Kerajaan Qiu Wang dan membantu dalam peperangan di wilayah Zin Shu, seperti Jendral Yao dari Kerajaan Guang Ming, Jendral Xuan dari Kerajaan Zhang Wu.
Menyusul di belakang mereka adalah pasukan yang sudah gagah berani menumpas kelicikan dan keonaran dari Kerajaan Tian Lu di wilayah Zin Shu.
Bunga-bunga mulai berjatuhan ke arah kepala mereka dan teriakan kemenangan dari para prajurit mengema di seluruh penjuru kota membuat semua orang merinding mendengar teriakan prajurit yang terlalu semangat itu.
TBC
Yoyooo jejaknya jangan lupa😉
__ADS_1