Flower Of War

Flower Of War
Chapter 48 : Haruskah Aku Percaya Kembali?


__ADS_3

"Ayah ... Ibu ... kalian mau kemana?"


Sepasang pasangan yang saling bergandengan tangan berjalan menuju lingkaran cahaya menggunakan pakaian tradisional bernuansa emas memutar kepala mereka bersamaan ke sumber suara lirih milik seorang perempuan yang terdengar di belakang mereka.


Pria bertubuh tegap dengan mahkota emas di atas rambut yang di cepol menyunggingkan senyumnya. "Kau Yu'er dari masa depan, bukan? Pengganti tubuh anakku, A-Ying?"


Perempuan yang baru saja memanggil tadi menunduk melihat penampilannya yang lagi-lagi menggunakan celana bercorak tentara bersepatu, perempuan itu adalah Yiu dalam bentuk aslinya dari masa depan.


Yiu mendongak lesu dan perlahan menghampiri kedua pasangan itu kemudian bersuara terbata-bata dengan keringat dingin mengucur deras di punggungnya. Ia memberanikan diri bertanya, "Y-ya! Ta-tapi apakah a-aku boleh memanggil kalian ayah dan ibu?"


Pasangan itu tersenyum dan menyambut Yiu dengan uluran tangan lembut. "Tentu saja! Kau menyelamatkan nama anak kami ... jadi kamu juga sudah kami anggap sebagai anak kami."


Yiu tidak bisa tidak tersenyum mendengar itu, genggaman tangannya mengerat pada sepasang tangan dingin yang sudah dianggap Yiu sebagai ayah ibunya sendiri. Tak ada kata lain yang berhasil diucapkan sempurna oleh Yiu selain kata "Terima kasih".


Tak berselang lama, terdengar suara teriakan kecil dari pusat cahaya di belakang pasangan itu, suaranya begitu lembut dengan nada tinggi khas seorang gadis berusia sekitar 16 tahun.


"Ayah, Ibu!" Ketiganya memutar kepala menyapu sekitar mencari sumber suara kecil itu. Di sisi lain bayangan seorang gadis yang terlihat tak asing bagi ketiganya berdiri sembari melambaikan tangan kanannya penuh semangat di balik pakaiannya yang mengombak pelan.


Pasangan yang berada di genggaman Yiu segera tersenyum sebelum perlahan beralih menatap Yiu yang tengah diliputi awan kalbu. "Kami harus pergi. Kami titip A-Ce dan A-Huang, temukan mereka dan mereka pasti akan menjagamu. Maafkan kami."


Keduanya tersenyum begitu tulus nyaris membuat Yiu bergidik ngeri melihatnya, Yiu masih belum menangkap apa maksud mereka dan kembali mengeratkan genggaman sehingga keduanya sulit melepaskannya.


"Kalian mau kemana? Boleh aku ikut?" Kali ini tangan bebas Permaisuri Fu Yao bergerak mengelus lembut pipi yang sudah memerah itu sebelum kembali tersenyum dan menggeleng lemah.


"Waktu kami tidak banyak. Jaga dirimu ... sampai kapan pun kamu tetaplah kami anggap sebagai anak kami, A-Yu."


Kaisar Wang menarik tangannya dari genggaman Yiu dan beralih menggenggam tangan Permaisuri Fu Yao dan berjalan mendekati gadis yang ternyata adalah A-Ying!


Keduanya berjalan dengan anggun. Namun, ada satu hal yang tidak masuk akal!


Jejak mereka seperti teraliri sungai, dan itu berwarna merah. Yiu mematung, ia kembali ingin menangis.


Yiu ingin mengejar ketiganya tapi kakinya bagai dibelenggu oleh rantai seberat bongkahan batu kali, terlalu sulit bergerak!


Tiba-tiba ia merasa dirinya bagai dikelilingi air berwarna hitam yang berputar dan mengombak cepat, perlahan menyeretnya masuk ke dalam pusat pusaran membuat pandangannya kabur dan pita suaranya entah sudah menghilang kemana dan perlahan kesadarannya turut berkurang.


Yiu tersedak tak terbatuk merasakan cairan pahit yang memenuhi seluruh sisi tenggorokannya, memaksa masuk lebih dalam. Sangat pekat dan pahit!


Saat kedua maniknya kembali terbuka, ia melihat siluet pemuda berwajah cukup tampan berjarak se-inchi begitu dekat dengan wajahnya.


Manik Yiu membola, dengan tanpa pikir panjang melayangkan tinju kosongnya ke wajah pemuda yang berada dihadapannya.


Mendapatkan tinju dadakan yang begitu kuat dan spontan membuat pemuda itu jatuh tersungkur ke lantai di bawah ranjang.


Pemuda itu mengerang kesakitan sembari memegang pipi kirinya yang kini berwarna merah naas lalu bangkit berdiri dengan ekspresi kesal.


"Hei! Berani sekali kau memukulku! Aku sudah menyelamatkanmu tapi kau malah meninju wajah tampanku? Apa kau gila, ha?!"


Yiu menarik selimut yang entah kapan sudah menyelimutinya hingga batas lehernya. Perlahan ia menyadari sesuatu, pecahan memori sebelum Yiu jatuh pingsan perlahan tersusun rapi di benaknya.


Saat kesadaran dan pemikirannya sudah sepenuhnya sadar, Yiu mendongak dan menyapu matanya cepat mengelilingi sudut ruangan yang tidak terlalu besar tetapi tidak terlalu sempit juga. Melupakan keberadaan pemuda yang tengah memperjuangkan keadilan bagi pipi kirinya yang malang.

__ADS_1


Setelah sekelumit pertanyaan aneh muncul dibenak Yiu, ia memutar matanya menatap pemuda yang sedari tadi mengoceh tanpa henti bagai burung yang terjebak dalam sangkar meminta untuk diberi kebebasan.


Yiu memaksa dirinya untuk duduk dan bersandar pada sandaran ranjang dan dengan sorot mata tajam Yiu berkata, "Kau siapa?! Apa maumu?!"


Pemuda itu tersentak dan terdiam beberapa saat sebelum menghela napas gusar, "Kita hanya tidak bertemu beberapa bulan dan kau sudah tidak bisa mengenaliku? Kejam! Apa kau itu tititas Dewi Amnesia?!"


Yiu mengerutkan dahi dan mengamati lebih teliti setiap lekuk wajah pemuda itu dan menyadari sesuatu, dia adalah Pria Gila, Wu Xiao!


"Hei Gila! Bagaimana bisa kau disini?!" Pemuda itu terlihat ingin marah. Namun, kembali menahannya lagi dan kembali diam.


Yiu kembali mengajukan pertanyaan, "Aku bertanya padamu! Kenapa kau bisa ada disini? Aku dimana dan apa yang barusan tadi kau lakukan padaku?!"


Yiu begitu panik dan dengan cepat mengangkat selimutnya, mengintip sekaligus memastikan pakaiannya. Pakaiannya berubah!


Yiu menatap nyalang pria bergelar 'Gila' dari Yiu itu, "Siapa yang mengganti pakaianku? Kau berbuat macam-macam padaku, ya? Dasar kurang ajar, akan kubunuh kau! Akhh ...."


Yiu berbicara sembari berusaha turun dari ranjang dan berdiri, tetapi baru saja akan menurunkan dengan cepat satu kakinya ia meringis merasakan sakit luar biasa di kepala dan dadanya bagai ada ribuan pisau yang menghujani dirinya.


Wu Xiao yang berdiri di hadapan Yiu dengan cepat melingkarkan tangannya di pundak Yiu. Yiu yang menyadari perlakuan itu berusaha menjauhkan tangan dari tubuhnya dengan menggoyangkan pundaknya kasar.


Alis Wu Xiao menekuk cemas sehingga tidak menggubris respon Yiu dan segera duduk di samping Yiu. "Kau sebaiknya jangan banyak bergerak dulu, tubuhmu masih lemah. Apa perlu kupanggilkan tabib?"


Yiu berusaha mengatur napasnya untuk meredusir rasa sakit di jantungnya kemudian menggeleng sebagai jawaban untuk Wu Xiao lalu kembali berbaring di ranjangnya.


Keduanya terdiam cukup lama sebelum Wu Xiao memecah keheningan dengan berdehem ringan, "Ying ... aku ingin menjelaskan sesuatu agar kau tidak salah paham padaku. Kau mau mendengarkanku?"


Yiu mengangguk malas, melihat itu Wu Xiao kembali bersuara, "Aku disini karena tengah dalam misi mengintai Pasukan Bai Qing dan mencari kedua kakakmu yang menghilang tapi tanpa sengaja aku malah menemukanmu dikejar oleh mereka dan kau juga ping-"


Yiu menyela dengan cepat, "Apa yang terjadi dengan Istana Qiu Wang?!"


"Masuk," ujar Wu Xiao santai. Pintu terbuka menampilkan seorang pria dengan kepala tertunduk. "Ada apa?" lanjut Wu Xiao.


"Tabib Hua sudah datang untuk memeriksa, Yang Mulia." Wu Xiao mengangguk. "Biarkan dia masuk."


Tak lama seorang tabib perempuan berpakaian ungu terang dengan sanggul kecil dan tusuk rambut berwarna senada terpasang sempurna di rambut hitamnya tak lupa wajah kecil manis miliknya. Menyeret langkah kecilnya ke dalam kamar tempat Yiu berada.


"Salam Tuan Ji ... ahh Nyonya Ji anda sudah bangun?" wajah Tabib Hua tampak sedikit terkejut melihat Yiu. Wu Xiao memerah tanpa sadar.


Bersamaan dengan itu manik Yiu ikut membola, "Tuan dan Nyonya Ji? Hah?!" Wu Xiao segera menggenggam tangan Yiu di balik pakaiannya, menuliskan beberapa kata dengan jarinya di atas telapak tangan Yiu seraya melayangkan senyuman penuh arti ke arah Yiu.


Yiu awalnya ingin meledak marah. Namun, segera menangkap maksud di balik gengaman tangan Wu Xiao dan ikut tersenyum.


Tangan Wu Xiao segera terulur membelai lembut rambut sehitam malam yang berkilau bagai sungai malam indah milik Yiu.


"Ya. Istriku baru saja bangun dan kebetulan saya baru saja ingin memanggil anda kemari tapi ternyata anda sudah datang kemari."


Tabib Hua tersenyum. "Kalau begitu saya akan memeriksa keadaan Nyonya Ji."


Wu Xiao segera berdiri dan Tabib Hua segera mengambil tempat di sisi Yiu, mengambil tangan Yiu untuk memeriksa denyut nadi, "Syukurlah keadaan Nyonya Ji sudah berangsur membaik, apa Tuan Ji menyuapi obatnya tepat waktu?"


Wu Xio segera mengangguk dan Tabib Hua kembali berbicara sembari menatap Yiu, "Baiklah kalau begitu, biarkan saya membantu anda mengganti pakaian, Nyonya."

__ADS_1


Keduanya mengangguk lalu Wu Xiao segera keluar kamar dan menutup pintu. Tabib Hua membantu Yiu mengganti pakaiannya sembari mengajak bicara Yiu.


"Nyonya Ji sangat beruntung bisa mendapatkan suami seperti Tuan Ji. Dia sangat peduli dan menjaga anda siang dan malam."


Yiu tersenyum kikuk dan tertawa garing sebelum menjawabnya dengan kata "Ya" yang canggung.


Tabib Hua terlihat seperti tipe wanita yang suka berbicara membahas apapun itu sehingga ia kembali membuka suaranya, "Karena Nyonya Ji sudah bangun jadi Nyonya Ji tidak akan kesulitan meminum obat sendiri, 'kan?"


Yiu menekuk alis tajam membuat Tabib Hua menghentikan tangannya yang sedang memakaikan pakaian lapisan kedua Yiu, "Maksud anda?"


Tabib Hua seketika tersedak ringan, "Ekhem ... saya akan jujur saja tapi Nyonya tidak perlu merasa malu karena itu normal bagi pasangan. Anda sudah tak sadarkan diri selama tiga hari dan selama itu pula saat saya menyuapkan ramuan Anda tidak pernah membiarkan ramuan itu tertelan. Sehingga Tuan Ji membantu anda meminumkan ramuan itu dan selalu berada di sisi anda sepanjang hari."


Yiu memerah tanpa sadar. Tabib Hua kembali melanjutkan, ""Anda beruntung sekali, Nyonya. Kalian memang pasangan yang cocok! Yang satu tampan yang satu lagi sangat cantik! Benar-benar pasangan idaman! .... Bisakah Nyonya memberi saran bagaimana mendapatkan pasangan yang penuh perhatian? .... Aiyoo lupakan saja, saya tengah melantur. Dasar mulut bebek."


Tabib Hua terus berbicara tanpa menyadari raut wajah Yiu yang sudah memerah dengan tangan yang terkepal kuat dan buku-buku jarinya telah memutih di balik lengan pakaiannya.


Setelah membantu Yiu berpakaian dan meramu obat untuk Yiu, Tabib Hua segera berpamitan karena harus kembali dan membuka praktek pengobatan di rumahnya.


Yiu tengah duduk bersandar di ranjangnya dengan tatapan tajam dan aura hitam mengelilinginya. Tak berselang lama Wu Xiao masuk ke dalam kamarnya membawa nampan yang terdapat mangkuk porselen berisi ramuan berwarna hitam pekat.


Wu Xiao mengambil duduk di samping Yiu, mengambil mangkuk porselen itu dan meniup-niupnya sebelum diberikan ke arah Yiu. "Obatmu. Minumlah."


Yiu melirik tajam ke arah mangkuk itu dan meminumnya cepat bagai orang kehausan mengesampingkan rasa pahitnya luar biasa dari ramuan yang berwarna hitam itu.


Setelah menenggak habis ramuannya, Yiu menatap datar ke arah Wu Xiao.


"Hei Gila! Mendekatlah aku ingin bicara sesuatu."


Wu Xiao tanpa menaruh curiga mendekatkan telinganya ke wajah Yiu dan dalam sepersekian detik tangan Yiu sudah melingkar kuat di leher Wu Xiao dengan telapak menggenggam sebuah tusuk rambut dengan ujung tajamnya hanya berjarak seinchi dari leher jenjang Wu Xiao bersiap menusuk kapan saja.


"Apa motifmu di balik ini semua? Katakan! Apa kau sengaja mengambil kesempatan saat aku pingsan, ha?! Dasar laki-laki semuanya adalah binatang!"


Wu Xiao mengangkat tangan dan sedikit tergagap, "K-kau salah paham, Ying. Aku akan jelaskan semuanya t-tapi tolong ... tenanglah dulu."


"Katakan cepat!" Perlahan Yiu mengendurkan lengannya tapi tusuk rambut itu masih setia mengintai di dekat leher Wu Xiao.


"Aku sudah bilang aku berada disini karena misi dan orang-orang yang bersamaku semuanya adalah laki-laki, aku tidak membawa pelayan wanita disini. Jadi, aku meminta Tabib Hua untuk mengobati sekaligus mengganti pakaianmu .... Bagaimana bisa kau berpikir aku mengambil keuntungan!"


Wu Xiao menunduk sebelum melanjutkan, "Tentang membantumu meminum obat itu ... aku sungguh minta maaf karena tidak ada cara lain! Mulutmu selalu terkunci rapat saat waktu minum obat tiba."


Yiu masih siaga dengan semakin mendekatkan tusuk rambut itu untuk mengancam, membuat Wu Xiao kembali berkicau, "Aihh! Aku tidak bermaksud begitu sungguh! Coba kau pikirkan sekarang. Orang-orangku semuanya adalah laki-laki dan Tabib Hua tidak bisa berlama-lama disini untuk mengawasimu yang sangat bandel minum obat padahal nyawamu tengah sekarat! Kau masih beruntung aku berbaik hati mau meminumkannya untukmu. Jika aku menyuruh prajuritku yang melakukannya dan bilang kau adalah istinya bukankah kau pasti akan langsung membakar tempat ini? .... Aihh lupakan saja, yang jelas ini semua hanya demi menyelamatkan nyawamu. Tidak ada maksud lain."


Yiu sendiri pun juga merasa perlakuan Wu Xiao tidak salah lagi pula jika dia bermaksud jahat buat apa dia membuang-buang kesempatan emas untuk berbuat buruk pada Yiu disaat Yiu tengah tak sadarkan diri. Baiklah, kesempatan kedua baginya.


Perlahan Yiu menurunkan tangannya yang menggenggam tusuk rambut dan pandangannya segera kosong.


Wu Xiao memegang kedua bahu Yiu. "Aku tidak memintamu percaya padaku tapi jika aku terbukti memiliki niat buruk padamu kau bisa membunuhku saat ini juga! .... Aku juga sahabat dari kedua kakakmu jadi aku akan menjagamu hingga kau bertemu dengan kedua kakakmu, kita cari mereka bersama, setuju?"


Yiu mengangkat wajah datarnya yang tengah berlinang air mata bersiap menumpahkannya bagai air terjun. Ibu jari Wu Xiao segera menghapus bening air yang sudah turun beberapa titik air. "Jangan menangis, jangan takut. Aku disini akan melindungimu."


Tiba-tiba pintu kamar Yiu kembali terketuk dan seorang pelayan pria masuk dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


"Pangeran, gawat! Kaisar Liu Yu mengumumkan akan mengadakan pemeriksaan di setiap rumah untuk mencari seseorang penjahat wanita kejam yang kabur bersama kelompoknya! Gerbang kota juga akan di tutup selama pemeriksaan berlangsung mulai malam ini. Saya menduga mereka tengah mencari Putri Ying, lalu kita harus bagaimana, Pangeran?"


TBC


__ADS_2