
Yiu dan Wu Xiao menoleh serempak menatap pelayan pria itu dengan mata melebar serta garis alis yang terangkat tinggi. "Apa?!"
Mendegar nama itu disebut, hati Yiu bergejolak antara sedih dan kecewa. Yiu menggeser kepalanya menghadap Wu Xiao, tangannya tanpa sadar naik dan mencoba mengali celah antara tangan hangat Wu Xiao dan kedua pipinya yang sama hangatnya.
Menangkup kedua tangan itu dan menggenggamnya dengan erat, walau wajahnya terlihat seperti tengah kebingungan yang tidak berarti. Namun, Wu Xiao mengerti betul arti di balik pandangan itu.
Tangan Wu Xiao segera beralih dari menangkup pipi Yiu lalu menggenggam tangan Yiu yang menggenggamnya sesaat tadi. Kemudian, satu tangannya beralih mengelus rambut hitam bagai sungai tinta mengalir penuh kilau jernih dan mencoba meyakinkan, "Tenangkan dirimu. Kamu aman selama bersamaku."
Wajah Yiu berubah datar lalu menoleh mengintip di sudut matanya ke arah pelayan itu yang secara refleks segera mengundurkan diri setelah menyadarinya.
"Liu Yu binatang! Anjing Liar tidak tahu malu! Dia berbuat sejauh ini demi apa? Aku harus membunuhnya sekarang juga!"
Yiu beranjak turun dari ranjang bambu dalam satu gerakan cepat tetapi tangan Wu Xiao sama cepatnya menangkap dan menahan pergerakan Yiu dengan tenaga yang lebih kuat sebelum menarik kembali Yiu untuk duduk.
"Jangan gegabah! Dia berada di puncak langit sekarang! Bahkan jika seluruh kerajaan barat dan utara menyatukan kekuatan, kekuatannya tidak akan sebanding dengannya. Setidaknya untuk saat ini! Bersabarlah hingga waktunya tiba."
Yiu tidak memperdulikan apa yang Wu Xiao katakan, dengan sisa tenaga yang belum pulih ia masih mencoba lepas dari cengkraman pemuda itu dan kembali maracau, "Lepas! Aku ingin membunuh pria sialan itu! Jangan halangi aku! Dia bilang dia mencariku, 'kan? Baiklah ... aku akan datang untuk mengirimnya ke neraka terdalam detik ini juga!"
Wu Xiao merasakan sedikit sesak di dadanya, menatap sayu pada gadis yang tengah berapi-api di depannya.
Dengan satu gerakan Yiu tertarik ke belakang, mendarat di pelukan Wu Xiao yang dengan kuat mengukungnya yang masih belum menyerah untuk memberontak dan meracau.
Merasa tidak akan ada gunanya lagi untuk mencoba melepaskan diri, tubuh Yiu merileks berganti menjadi bahu yang bergetar turun dengan wajah yang tersembunyi di balik kedua tangannya.
Ia tidak peduli orang yang memeluknya ini akan bereaksi seperti apa saat melihat sisi lemahnya. Izinkan ia melepas semua topeng yang selalu ia kenakan.
Wu Xiao kembali mengelus rambut Yiu, mencoba menenangkannya. "Ssst tidak apa-apa, aku ada di sini, jangan khawatir."
Tangis Yiu semakin pecah dalam keheningan. Jujur saja, sekarang sekujur tubuh Yiu terasa sangat menyakitkan akibat luka dalamnya yang belum pulih sempurna.
Akan tetapi, rasa sakit itu tidak sebanding dengan luka yang tercipta di hatinya. Menggores dalam dan lebar membuat luka itu menganga penuh darah bercambur nanah, mengarungi lautan penuh luka lainnya dan melebur bersamanya bagai lava panas yang mengalir di kawah gunung dan akan terus membara sepanjang waktu, tak akan pernah padam.
Mengapa takdir begitu tega padanya?
Menempatkannya pada posisi yang sulit untuk kedua kalinya. Di kehidupan yang dulu, ia adalah seorang yatim piatu yang di punggut dari jurang oleh seorang kakek dan dengan kerja keras dan air matanya sendiri mencoba merangkak naik ke puncak.
Sekarang setelah terlempar kemari, dia kembali harus merangkak ke puncak untuk kemudian mulai mengerti dan merasakan bagaimana hangatnya cinta yang diberikan dari sebuah ikatan keluarga yang dahulu selalu ia damba-dambakan.
Mengapa takdir begitu kejam untuk menyeretnya kembali ke kenyataan bahwa dia sebenarnya hanya seorang gadis yang sendirian dan kesepian?
Gadis yang dibuang oleh takdir, walau seberapa keras dia berusaha mendapatkan cinta tetapi mengapa pada akhirnya tak ada satu pun yang tersisa untuk dirinya?
Hatinya terlalu sakit dan sekarang menjadi semakin sakit setelah mengetahui fakta tersembunyi bahwa dirinya juga telah jatuh dalam pesona serigala ... oh bukan! Anjing berbulu domba itu!
Mengapa ia harus datang membuat hatinya berdetak kencang nyaris hampir keluar saat pertama kali melihat senyum laksana pancaran sinar mentari lengkap dengan lesung pipi menawan hati itu.
__ADS_1
Yiu akui Yiu jatuh dalam perangkapnya, senyum yang dulu ia kira tulus untuk dirinya ternyata memiliki maksud lain dan bodohnya ia tidak bisa membaca semua itu.
Dia terlalu sibuk dengan bagaimana cara mengatasi debaran aneh yang ada di hatinya saat berada di dekatnya, terlalu sibuk membayangkan masa depan seperti apa yang akan dijalani bersama pemuda itu disisa hidupnya.
Perlakuan manis itu, senyum manis itu, mulut yang tak akan berhenti menggodanya hingga memerah, dan semua yang telah pria itu lakukan untuknya, semuanya palsu!
Yiu terlalu naif untuk tidak menyadari itu, sekarang satu hal yang ingin ia lakukan, membunuh orang yang telah mengambil nyawa kedua orang tuanya, merebut kembali kerajaannya, dan juga yang telah merebut hatinya!
.
.
.
Yiu tersedak di sela tangis lirihnya, tangannya mencoba memukul kuat-kuat ke dada Wu Xiao yang masih senantiasa memeluknya erat tanpa merasa berniat untuk melepaskan bahkan melonggarkan pelukannya sedikit saja.
Pemuda itu seakan tidak takut jikalau bajunya akan basah oleh air matanya, tidak jijik jikalau ia mengotori pakaiannya atau bahkan jijik melihat penampilannya yang sangat berbeda dari dirinya yang biasa.
Ia masih terus mendekapnya erat, jantungnya berdetak sangat cepat, hampir membuat Yiu khawatir apakah pemuda itu juga baik-baik saja.
"Pergi kau! Aku tidak ingin melihatmu. Lepaskan!" suaranya lebih terdengar parau daripada penuh amarah.
"Tidak! Aku tidak akan!" Tangan Wu Xiao yang semula mengelus lembut rambut Yiu perlahan mendorong kepala Yiu untuk bersandar padanya, semakin membatasi pergerakan Yiu.
"Biarkan aku pergi, tidak ada cara lain. Pasukan sialan itu cepat atau lambat akan sampai di sini dan menemukanku, jadi biarkan aku pergi sebelum kau terkena masalah juga."
"Tenanglah dulu. Dinginkan kepalamu. Aku memiliki saran yang cukup kuat untuk mengelabuhi dia." Bagai mendapat kekuatan dalam sekejap mata, Yiu mendorong tangannya mundur dan melepaskan diri dari pelukan Wu Xiao.
Terdapat sedikit kilatan binar bening di sudut matanya yang tajam membuat tatapan keanggunan dan ketajaman yang biasanya selalu terlukis di mata itu akhirnya musnah tergantikan dengan tatapan lembut lebih ke arah terkejut. "Benarkah? Beri tahu cepat!"
Wu Xiao sedikit merileks sebelum mendekatkan wajahnya ke telinga Yiu, membisikkan sepatah dua patah kata.
"Istirahatlah kita pikirkan esok."
♣♦♣
Mentari baru saja menyembul dari peraduannya bersamaan dengan angin musim dingin dan sedikit salju sisa semalam menari jatuh begitu indah.
"Nah selesai! Sekarang mari kita lihat pesona Nona Wu Xiao! ... aihh tidak tidak ... harusnya Nona Ji!"
Yiu meletakkan kertas pemerah bibir ke wadahnya yang berada di meja ruangan kamar Wu Xiao yang telah beralih fungsi menjadi meja rias untuk kali ini.
Wu Xiao mengangkat kepalanya cukup tinggi menatap Yiu yang berdiri dengan wajah penuh bangga tersirat di wajah cantiknya, ia kemudian memandang ke arah cermin tembaga yang berada di tangannya lalu kemudian sedikit menekuk wajahnya dengan menahan sedikit kekesalan di wajahnya.
"Bukan begini maksudku ... kenapa malah jadi aku yang berdandan seperti wanita? Harusnya orang itu adalah anak buahku!"
__ADS_1
Yiu melambaikan tangannya ringan di udara. "Aiyah tak apa tak apa. Hanya sebentar saja. Lagi pula jika diperhatikan kembali, kamu memang terlihat cantik seperti wanita! Petugas itu pasti tidak akan bisa menebak kamu adalah seorang pria."
Wu Xiao semakin menekuk bibirnya ke bawah kemudian menatap Yiu dengan tatapan seperti seorang bayi yang tengah bersiap meledakkan tangisnya, "Ta-tapi tinggi badanku ini bukan tinggi seorang wanita. Lihat, bagian bawah pakaian ini saja terlalu pendek!"
A/N : maafkan jika tidak sesuai ekspetasi krn ku edit seadanya.. Sisanya kalian aja yang bayangin.
Yiu memutar otaknya untuk mencari alasan. "Aiyah ... kau hanya tinggal duduk di kursi kebesaran itu dan berlatih suara wanita. Sangat mudah, 'kan?"
Mudah jidatmu! batin Wu Xiao.
Wu Xiao awalnya ingin kembali melayangkan protes. Namun, melihat Yiu yang baru ia sadari ternyata sejak tadi berusaha keras menahan tawanya yang semakin tak terbendung tetapi gagal dan kemudian tawanya segera meledak.
Wu Xiao tiba-tiba terdiam kaku menatap Yiu yang tengah membungkuk sembari memegang perutnya untuk melepaskan tawa tanpa berkedip. Sudut bibir Wu Xiao tanpa sadar tertarik melengkung ke atas.
Setelah menghentikan tawanya susah payah. Akhirnya, Yiu kembali dapat mengontrol emosinya. Ekspresinya berubah datar, dengan segera berbicara sembari menarik lengan Wu Xiao untuk berdiri dan menariknya ke pintu, "Baiklah baiklah sekarang giliranku berganti pakaian. Kau keluar!"
Sebelum mencapai ambang pintu, Wu Xiao segera melepaskan diri dan kini sedikit menunduk menatap nyalang Yiu yang hanya setinggi dagunya. "Hei hei! Kenapa aku yang diseret keluar? Apa otakmu sudah tidak waras?! Dimana lagi muka tampanku ini akan diletakkan di depan anak buahku?!"
Yiu menatapnya tak kalah tajam dan kembali mengeluarkan aura dingin penuh penekanan disetiap katanya, menandakan tidak menerima penolakan, "Lalu aku harus berganti baju dimana? Di ruang tamu? Di aula? Hei gila kumohon gunakan otakmu, kamu sudah kudandani seperti wanita untuk mengelabuhi petugas dan keluar sekarang atau nanti itu akan sama saja! Keluar!"
Blaam!!
Pintu kayu itu menutup dengan suara keras sesaat setelah Wu Xiao di dorong paksa. Wu Xiao tidak bisa tidak terkejut, terkejut akan suara pintu yang menggema keras di telinganya sekaligus terkejut dengan perubahan sikap Yiu yang dari putus asa menjadi bersemangat dan sekarang kembali menjadi dingin?
Oh ayolah ia lebih menggemaskan untuk dilihat jika sedang tertawa seperti sesaat tadi, pikir Wu Xiao.
Wu Xiao berusaha menetralkan jantung dan pikirannya kemudian berbalik dan melihat lima anak buahnya yang tengah berjaga atau hanya sekedar lewat, kini masing-masing dari mereka membeku dengan mata yang membola lebar dan berusaha menahan tawa mereka.
"Apa yang kalian lihat?! Apakah ini waktunya bersantai?!"
Wu Xiao menggertak marah dengan suara beratnya tapi karena penampilannya sekarang membuatnya terlihat sangat mirip gadis yang tengah marah sambil mengembungkan pipinya hanya saja suara berat itu terlalu menganggu kecantikannya.
Kerumunan patung itu tersadar dan segera berlalu dangan patuh.
Wu Xiao semakin merasa kesal dan mengibaskan-ibaskan kipas kecil yang diberikan Yiu sebagai pelengkap penampilannya dengan cepat, berjalan menuju kursi terdekat untuk menenangkan diri.
Tak berselang lama, Yiu keluar dari ruangannya dengan setelan pakaian berwarna putih dengan syal kain bertekstur kasar melilit lehernya, sama dengan pakaian yang dikenakan anak buahnya.
Rambutnya dikelabang ke atas kemudian disatukan dengan yang tergerai untuk di ikat cepol di bagian belakang kepala. Oh apa itu yang ada di wajahnya? Ah ... Yiu memakai kumis tipis rupanya. Sedikit tampan.
Tiba-tiba datang seorang pria yang berpakaian seluruhnya berwarna biru tua, membersihkan sedikit salju di bahunya sebelum mendekat ke Wu Xiao lalu menunduk. "Lapor Pangeran, petugas Bai Qing telah sampai dan mulai memeriksa setiap rumah dari ujung jalan."
Wu Xiao mengangguk. "Waktunya eksekusi. Perintahkan yang lain untuk menuju ruang tamu guna menyambut para petugas itu. Liying, sembunyikan dirimu baik-baik."
__ADS_1
TBC