Flower Of War

Flower Of War
Chapter 56 : Terkepung


__ADS_3

Ming Zijing mengepalkan tangannya di atas pohon hingga buku-buku jarinya memutih.


Tak berselang lama rombongan mewah itu pergi setelah mengambil cap kerajaan dari tubuh pria setengah baya yang terbujur kaku penuh luka.


Ming Zijing dilema, ia sekarang hanya sendirian. Qiu Wang telah dikuasai musuh dan perbatasan negara masih sangatlah jauh.


Dia akhirnya turun dan perlahan menghampiri tanah yang kini menjadi kolam darah itu. Memberikan penghormatan terakhirnya.


Ia juga menyembunyikan tubuh ketiganya di dekat semak-semak dan menutupi jasad mereka dengan dedaunan kering.


Ia berencana meninggalkan sementara jasad ketiganya lalu membawa Pangeran Huang ke tempat aman terlebih dahulu sebelum mencari pasukan tambahan dan membawa jasad mereka.


Wajah Ming Zijing menggelap. Ia berdiri sebentar memandang untuk yang terakhir kalinya sebelum pergi. Tiba-tiba ....


Kresek kresek...


Ming Zijing mendengar suara rumput kering bergerak dari arah belakangnya, ia berhenti melangkah dan spontan memutar badannya sebelum kembali mematung.


Ada pergerakan dari bawah rumput kering!


Tanpa pikir panjang, Ming Zijing segera menyibak asal tumpukan rumput kering.


"Xiao Ce! Kamu masih hidup?! Bagaimana bisa?"


Pemuda bermandikan darah itu dipapah duduk oleh Ming Zijing. Ia tampak lemas dan wajahnya sangat pucat.


Pemuda yang merupakan Pangeran Mahkota Qiu Wang itu tidak menjawab dan hanya menatap jasad kedua pasangan paruh baya di sampingnya yang tak lain adalah kedua orang tuanya.


Ia bergumam lirih sebelum berteriak marah dan memukul tanah dengan gila, "Aku telah gagal .... Bodoh! Tidak berguna!"


Ming Zijing mencoba menenangkannya. Namun, itu tidak ada gunanya sehingga ia membiarkan Wang Xiao Ce memukul dan meraung dengan gila hingga kehabisan tenaga dan berhenti dengan sendirinya.


Wang Xiao Gie terus bergumam lirih, "Tidak berguna... tidak berguna. Tidak berguna. Lebih baik mati saja!"


Ming Zijing memiliki kepribadian hampir sama dengan Xiao Ce, mereka sama-sama pendiam dan suka menyendiri.


Maka dari itu, Ming Zijing tidak tahu harus berbuat apa untuk menghibur Xiao Gie dan hanya bisa duduk dengan kepala menunduk.


Ming Zijing memberanikan diri bersuara dengan lembut. Namun, tetap saja suara itu terdengar sangat dingin, "Jika kamu mati lalu bagaimana nasib Qiu Wang?"


"Aku tidak peduli!"


"Lalu bagaimana dengan kematian mereka? Apa kau akan tetap diam saja dan tidak membalas kematian kedua orang tuamu? .... Bagaimana dengan kedua adikmu, rakyatmu? Apa kau terima saja kekalahanmu dan membiarkan monster kejam itu berkuasa?!"


Gigi-gigi Xiao Ce bergemeletuk, matanya terbakar api amarah.


"Huang ada bersamaku, dia hanya kelelahan saat ini. Maaf, aku hanya berhasil menyelamatkan dia saja. Sebaiknya kita mundur sekarang dan mengobati luka-luka kalian lalu ikut bersembunyi denganku."


Setelahnya, Ming Zijing memutar otaknya untuk membawa empat orang sekaligus bersamanya.


Ia kemudian mendekati kereta kuda milik Kaisar Wang yang tampak mengenaskan. Ia melepas semua dinding dan atap, hanya menyisakan alas kereta, menyulapnya menjadi gerobak sederhana.


Ia menaikkan Huang, Kaisar dan Permaisuri Wang lalu menutupi jasadnya dengan jerami. Ming Zijing juga memberikan jubah putihnya kepada Xiao Ce, melihat pakaiannya sudah tidak berbentuk ditambah banyak luka goresan pedang di sekujur tubuhnya.


Mereka bergegas menuju utara sepanjang malam tanpa istirahat. Setelah keluar hutan, mereka tiba di sebuah desa kecil bernama Baotou. Hanya ada satu penginapan kecil di desa itu.


Ming Zijing menghentikan keretanya di depan gerbang penginapan yang bercahaya kuning temaram di sudut-sudut dinding. Ia berjalan masuk sendiri, berbincang singkat dengan pemilik penginapan sebelum membawa kereta itu masuk.


Beruntung, penginapan ini tidak memiliki banyak pengunjung hari ini sehingga mereka bisa sedikit lebih santai.


Mereka menginap beberapa hari disana untuk mengobati luka sekaligus mengkremasikan tubuh pemimpin Qiu Wang itu untuk mempermudah perjalanan.


Setelah dua hari, Pangeran Ming Zijing, Pangeran Xiao Ce, dan Pangeran Huang keluar dari penginapan.


Mereka kembali menaiki gerobak sederhana itu lagi dengan menyamar menjadi rakyat biasa, kereta itu ditarik oleh dua kuda terbaik yang ada di penginapan sehingga dalam waktu tiga hari mereka bisa mencapai perbatasan negara.


"Pangeran Xiao, maaf jika lancang tapi hal ini sudah menganggu pikiran saya beberapa hari ini. Bagaimana bisa kamu selamat setelah meminum racun hari itu?"


"Sejak kecil aku dibesarkan di lembah obat di Jiangxi. Aku terbiasa bermain dengan ular beracun dan sering tergigit oleh mereka hingga hampir kehilangan nyawa. Namun, seiring berjalannya waktu aku menjadi kebal terhadap racun jenis apa pun."


"... Oh."

__ADS_1


Setelah itu hening. Mereka terlarut oleh pikiran mereka sendiri, bahkan Huang yang biasanya cerewet kini bahkan lebih bisu daripada kakaknya.


Mereka melaju pelan menuju gunung utara yang terpencil di wilayah Kerajaan Guang Ming untuk bersembunyi.


Di sana telah dibangun gubug sederhana di dekat air terjun untuk kedua pangeran dan juga berdiri seseorang di samping gubug, Jenderal Pasukan Qiu Wang, Jenderal Rong, yang saat pertumpahan darah terjadi tengah bertugas mengirimkan surat penting kekaisaran.


"Maafkan hamba tidak bisa ikut mati bersama Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri. Hamba siap menerima kematian!" ucapnya dengan bersujud di dekat kaki kedua pangeran.


"Bangun, ... aku bilang bangun!"


Jenderal Rong pun berdiri dengan kaki goyah, ekspresinya tampak muram dan bersalah.


"Kamu bersedia menerima hukuman?"


"Ya!"


"Kalau begitu aku menjatuhi hukuman padamu untuk terus hidup dan membunuh Liu Yu untuk ketenangan orang tuaku dan rakyatmu."


".... Diterima!"


Kedua Pangeran bersama sang Jenderal tinggal disana untuk waktu yang cukup lama dan mengasingkan diri dari dunia luar yang kacau.


Suatu malam seorang prajurit berlari penuh semangat menaiki gunung menemui mereka. "Lapor, Putri Ying masih hidup! Jejaknya terakhir terlihat di ibu kota Qiu Wang. Putri Ying masih hidup!"


Wajah kedua pangeran yang sebelumnya terlihat lesu kini lebih sedikit terisi warna dan berseri. Senyum Pangeran Huang yang telah lama hilang semenjak kejadian itu kini mulai sedikit terlihat lagi.


Ia merengek bahagia sebelum nadanya terdengar panik, "Ge, A-Ying masih hidup! ... Di-dia ada di Qiu Wang?! Dia pasti sedang dalam bahaya, Ge."


Flashback off


Huang selesai bercerita hingga mulutnya berbusa. Ia memandang kakaknya yang sedari tadi hanya menunduk diam lalu beralih memandang manik tegas Yiu yang sedikit berkabut.


"A-Ying,kamu menangis?"


Yiu buru-buru mengusap kasar kedua matanya. "Tidak! Ada debu di mataku!"


Huang terkekeh, tangannya terulur mengusak pelan rambut hitam Yiu. Hal itu membuat Yiu segera naik pitam dan melotot marah.


Xiao Ce yang jengah dengan sikap kekanak-kanakan kedua adiknya itu kembali menghela napas dan mencubit pipi kanan Yiu serta telinga kiri Huang.


"Hei! Ini tidak adil! Kenapa Gege menarik telingaku sedangkan A-Ying di pipi?!"


"Gege, pwipwiku swakitt!!"


"Jika kalian terus bertingkah seperti anak kecil aku tidak akan segan menghukum kalian seperti anak kecil!" Nadanya terdengar tegas dan penuh penekanan tetapi wajahnya damai dan penuh kehangatan.


Meski begitu kedua adik yang malang itu hanya bisa mendengus kesal, masih seperti anak kecil lagi.


Momen haru ketiga bersaudara itu tergambar jelas hingga Wu Xiao dan Ming Zijing yang tengah berjalan beriringan di depan menarik sedikit sudut bibir mereka.


Hari kedua perjalanan mereka berada di hutan bambu yang cukup luas, karena tidak ada desa terdekat akhirnya mereka memutuskan untuk mendirikan tenda di tengah hutan.


Yiu duduk diam menatap api unggun yang berada di tengah tenda-tenda sederhana. Salah satu kebiasaannya jika berkemah di hutan, menyendiri.


Namun, bedanya kali ini ia tidak akan pergi jauh dari kelompoknya. Ia tidak ingin mengingat semua hal gelap di masa lalu sehingga memutuskan melihat api unggun yang meliuk-liuk ganas.


Saking terlalu fokus pada api unggun di depannya, Yiu sampai tidak sadar ada pergerakan pada batang kayu tua yang ia temukan tidak jauh dari tempatnya duduk dan ia gunakan sebagai alas duduk.


Ia sedikit terkejut saat sebuah tangan terulur padanya dengan sebuah mantel putih di gengamannya.


Yiu menoleh dan mendapati Ming Zijing duduk tak jauh dari tempatnya duduk dan juga tengah memandang kosong ke arah api unggun.


"Ini musim dingin. Pakai ini untuk menghangatkan tubuh."


Yiu awalnya menatap Ming Zijing binggung sebelum dengan canggung menolaknya, "Tidak perlu, di sini sudah cukup hangat."


Ini pertama kalinya mereka berbicara. Saat mereka pertama kali bertemu, keduanya adalah lawan sehingga tidak memiliki kesempatan untuk berbicara begitu pula dengan pertemuan mereka setelahnya hanya ada rasa canggung dan berakhir seperti tidak saling mengenal.


Ditambah wajah dingin seperti milik kakaknya itu mengirimkan sinyal bahwa ia tidak suka diganggu membuat Yiu berpikir tiga kali untuk memulai pembicaraan dengannya.


Awalnya Yiu sama sekali tidak tertarik untuk mengambil tawaran itu walau setelahnya ia merasa udara semakin lama semakin dingin.

__ADS_1


"Acheew!"


Yiu tidak bisa menahan bersin, ia menggosok hidungnya yang sedikit merah. Ming Zijing yang sebelumnya menarik tangannya karena Yiu tidak bersedia mengambil mantel yang ia berikan kini kembali mengulurkan tangannya dengan ekspresi datar.


Yiu menyengir kuda dan tidak punya pilihan lain selain mengambil mantel berbulu putih seputih bulu serigala musim dingin dan berterima kasih.


Keduanya kembali memasuki keheningan, hanya fokus pada pikiran mereka yang melayang entah kemana.


"Terima kasih." Suara Yiu akhirnya yang pertama memecah keheningan diantara keduanya.


"Kau sudah berkata itu tadi."


Yiu menggeleng. "Bukan untuk ini tapi untuk semua yang kamu lakukan untuk kedua orang tua dan kakakku. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi jika kamu tidak menyelamatkan mereka ... sekali lagi terima kasih."


Ming Zijing menundukkan kepalanya dan menjawab masih dengan wajah datarnya, "Tidak perlu. Kerajaan kita adalah teman, sudah seharusnya aku melakukan itu."


Yiu menatap Ming Zijing, perlahan ia tersenyum walau tidak terlalu lebar tetapi bisa ia jamin itu tulus. Ming Zijing hanya menatap Yiu tanpa mengubah ekspresi apa pun dan mengangguk kecil setelah beberapa saat.


"Liying!!"


Kedua insan yang tengah duduk di dekat api spontan menoleh ke sumber suara.


Dari tenda konsumsi keluar seorang pemuda dengan mengenggam kuat sebuah mangkuk beruap di tangannya dan berlari menghampiri Yiu.


Yiu memutar matanya jengah. Ia menatap api unggun dan merapatkan mantel bulunya, bersiap menghadapi kedatangan si perusak suasana damainya.


Wu Xiao menghampiri Yiu dan berjongkok tepat di samping Yiu dengan senyum cerah, "Lihat lihat! Aku membawakan makanan kesukaanmu."


Yiu melirik tanpa minat ke mangkuk di genggaman Wu Xiao. Walau sebenarnya ia sedikit tergoda dengan kuah merah penuh rempah dan bau wangi masakan itu tetapi sekali lagi Yiu berusaha untuk tetap menampilkan raut wajah datar.


Wu Xiao bercerita panjang lebar tentang makanan di mangkuk yang ternyata adalah buatannya. Ia mengoceh dan merengek pada Yiu untuk mencoba mencicipi masakannya.


"Enyahlah. Aku sedang ingin sendiri."


Wu Xiao mengintip wajah Yiu sebentar. "Ada apa denganmu? Tunggu ... ini mantel kerajaan ... dari siapa kamu mendapatkannya?"


"Bukan urusanmu. Aku lelah dan ingin tidur." Yiu berdiri, merebut mangkuk porselen berisi kuah pedas itu dan kembali memasuki tendanya menghiraukan Wu Xiao yang terus memanggilnya.


Wu Xiao masih berjongkok di tempatnya. Setelah melihat Yiu memasuki tendanya, Wu Xiao memutar kepalanya sedikit dan terkejut dengan keberadaan Ming Zijing yang duduk tak jauh darinya.


"Sejak kapan kau disitu?!"


Ming Zijing hanya meliriknya dingin sebelum beranjak pergi tanpa sepatah kata pun ia tinggalkan.


♣♦♣


Perjalanan hari ketiga.


Wu Xiao tengah melamun di atas pelana kudanya. Ia bergumam lirih, "Ini sangat aneh."


Ming Zijing yang berada di sebelahnya tidak sengaja mendengar gumamannya. Ia membalas lirih, "Kenapa?"


Wu Xiao menoleh kaget dan menjawab santai, "Aku hanya merasa sedikit aneh. Liying sudah bersama denganku beberapa minggu tapi kenapa dia masih bersikap dingin ya padaku? Apa aku ini tidak tampan sehingga dia menjauhiku?"


Ming Zijing yang menganggap hal yang akan dikatakan Wu Xiao adalah hal serius pun kini memutar bola mata jengah. Ia menarik tali kekang dan melajukan kudanya lebih cepat, meninggal Wu Xiao di belakang.


Wu Xiao segera menyusul Ming Zijing. "Aiyah kau ini kenapa tidak bisa diajak bercanda?! Baiklah ini serius. Bukankah kamu merasa aneh? Selama perjalanan kita tidak mendapatkan halangan apa pun, bahkan bertemu beberapa bandit kecil saja tidak ada."


"Aku juga merasa ada yang janggal. Apa akan terjadi sesuatu?"


Tepat setelah Ming Zijing selesai dengan perkataannya, rombongan memasuki tanah kosong di tengah hutan bambu dan tiba-tiba serangan panah melesat bertubi-tubi dari segala arah.


"Kita terkepung! Lindungi para pangeran!"


.


.


.


"Liying hati-hati!"

__ADS_1


TBC


__ADS_2