
Yiu segera bersiap-siap secepat yang ia bisa, ia tak peduli jika kini pakaian yang disiapkan oleh Chichi adalah hanfu wanita. Yang ada di pikirannya sekarang adalah nasib Kerajaannya, kabarnya penyerangan disana terbilang cukup besar dan letaknya cukup jauh dari wilayah pusat kerajaan.
Ia takut jika Kaisar tak bisa menangani ini sendiri tanpa bantuan dari kedua pangerannya yang merupakan senjata andalan kerajaan.
Dan setidaknya ia juga bisa melindungi permaisuri jikalau terjadi sesuatu diluar dugaan.
Dalam *2 ke, ia sudah siap dengan segala urusan pribadinya dan melangkah keluar menemui Putra Mahkota Xiao Ce dan Pangeran Huang yang sedang berdiskusi dengan Kaisar Wu Zhang.
* 2 ke, ke dalam perhitungan waktu Tradisional China telah didefinisikan sebagai 1/96 hari sehingga 1ke sama dengan 15 menit atau seperempat jam. Jadi 2 ke \= 30 menit
Yiu menunduk memberi salam kepada Kaisar dan kedua kakaknya.
"Putri Ying karena keadaan di Istana Qiu Wang sedang tidak menentu dan kami menerima surat langsung dari Kaisar Wang jika kami harus segera tiba disana secepat mungkin dengan bala bantuan dari Kerajaan Zhang" Putra Mahkota Xiao Ce menatap Yiu dengan tatapan tegas seperti tidak menerima penolakan apapun dari Yiu.
"Lalu bagaimana dengan saya Pangeran? Jika pangeran berkenan saya juga bisa ikut berperang melawan musuh yang ingin merebut daerah kekuasaan Kerajaan Qiu Wang dengan senang hati" Yiu mencoba menawarkan bantuan kepada Putra Mahkota Xiao Gie.
Ucapan Yiu mengundang tatapan tajam dari kedua kakaknya.
"Apakah ada yang salah dengan perkataanku? Kaisar dan Pangeran pastilah telah mengetahui bagaimana kemampuan saya dalam bertarung setidaknya saya bisa ikut berpartisipasi dalam perjuangan ini" Yiu berucap dengan menunjukan ekspresi lugu nan polos.
"Tidak putri Ying, kau adalah seorang putri kau harus dilindungi walau kau bisa bertarung sekalipun kau belum berpengalaman dalam pertarungan sungguhan" kini giliran Pangeran Huang yang berkata sembari menatap intens kearah Yiu.
Belum berpengalaman? Hello?! Aku ini komandan pasukan perang bagaimana mungkin aku ini tidak berpengalaman!.
Yiu mengutuk dalam hati ucapan kedua kakaknya yang meremehkan dirinya, namun bagaimanapun juga sebenarnya mereka hanya mengkhawatirkan Yiu.
"Putri Ying, sebaiknya anda menuruti perkataan Pangeran Xiao Gie dan Pangeran Hwang. Ini demi kebaikanmu sendiri" Ucap Kaisar Wu Zhang penuh wibawa yang semakin membuat Yiu menundukkan kepalanya.
Kaisar Wu Zhang telah mengetahui identitas asli dari Yiu pagi tadi setelah Pangeran Xiao Ce datang ke ruang kerjanya untuk meminta bantuan pasukan dalam penyerangan yang terjadi diwilayah kerajaan Qiu Wang.
"Kita tak punya banyak waktu, Putri Ying kau akan kembali ke Istana Qiu Wang bersama Jenderal Ru Fen dan pasukannya sementara kami akan menyusul Kaisar Wang dengan membawa bala bantuan dari Kerajaan Zhang"
Setelah berucap Putra Mahkota dan Kaisar pergi menuju kerumunan prajurit yang berbaris rapi menunggu perintah tuannya.
"Jaga dirimu baik-baik Ying, aku tahu kau tidak lemah untuk itu tetaplah di istana dan jaga Ibunda saat kami pergi" Pangeran Huang tersenyum namun senyumnya seperti dipaksakan.
Ia membelai lembut puncak kepala Yiu dan pergi menyusul Putra Mahkota Xiao Ce dan Kaisar Wu Zhang.
Yiu termenung beberapa saat dan lamunannya terhenti saat sebuah suara menarik paksa kesadarannya.
"Putri sudah waktunya anda kembali, kereta anda dan pasukan Kerajaan Zhang sudah siap" Chichi berusaha berkata sehalus mungkin agar tidak menyinggung tuannya.
"Kita kembali sekarang!" ucap Yiu dingin, ucapan Yiu yang sedingin es itu berhasil membuat Chichi bergidik ngeri.
Yiu melangkah menuju sebuah kereta kuda yang cukup besar nan mewah, disebelahnya sudah berdiri seorang pemuda gagah yang menunggu kedatangan Yiu bersama pasukannya.
"Silahkan masuk putri" pemuda itu menunduk sembari membukakan pintu kereta untuk Yiu.
Kereta kuda itupun akhirnya melaju dengan kecepatan normal meninggalkan wilayah Istana Zhang.
__ADS_1
Di dalam perjalanan yang cukup lama dan membosankan Yiu hanya bisa memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Pikirannya berkelana kemana-mana memikirkan situasi yang sedang dihadapi Kerajaannya.
Yiu yakin jika pertempuran ini akan berhasil dimenangkan oleh Kaisar Wang dan kedua kakaknya.
Kini yang harus ia lakukan adalah membantu keamanan diwilayah Istana dan melindungi ibundanya.
♣♦♣
*5 Dian kemudian ...
*1 Dian dapat diartikan satu jam.
Yiu dan rombongannya telah tiba di pintu gerbang Istana Qiu Wang.
Keamanan di istana sangat ketat terbukti dengan pasukan dari Jendral Ru Fen yang harus diperiksa terlebih dahulu karena berada dibarisan depan rombongan sang Putri sebelum mereka mengetahui bahwa itu rombongan Yiu.
Setelah kereta berhenti, Yiu turun dan ternyata dirinya sudah disambut langsung oleh sang Permaisuri yang merupakan ibunda Ying.
Yiu berjalan pelan dan menundukan pandangannya mendekat kearah Ibundanya.
"Ying memberikan salam kepada Permaisuri semoga anda hidup 1000 tahun lagi."
"Bagaimana kabarmu, Putri Ying apakah kau senang berada disana?"
Bukannya menanyakan kedua kakakknya ia malah menanyakan tentang pestanya?!.
"Saya sangat senang ibunda terima kasih telah memberikan saya ijin untuk menghadiri pesta tersebut" Yiu tersenyum namun masih menundukan pandangannya.
"Ya silahkan Putri Ying tapi sebelum itu sebaiknya kita masuk terlebih dahulu" Permaisuri tersenyum samar seolah mengerti arah pembicaraan Yiu. Saat hendak berbalik menuju pintu masuk istana sebuah suara membuat Permaisuri dan Yiu membalikkan badannya.
"Hamba memberikan salam kepada Permaisuri Fu Yao dan Putri Ying semoga anda hidup selama 1000 tahun lagi"
Ternyata suara itu berasal dari Jendral Ru Fen yang sudah berlulut dibelakang Permaisuri sebelumnya.
"Ahh aku hampir melupakanmu Jendral, terima kasih telah mengawal Putri Ying sampai di istana, ucapkan juga rasa terima kasihku kepada Kaisar Zhang karena bantuannya, dan sebagai jasamu aku akan memberikan hadiah untukmu."
"Terima kasih atas kebaikan hati Yang Mulia, hamba mohon ijin kembali ke Kerajaan Zhang" ucap Jendral Ru Fen dan diangguki oleh Permaisuri lalu mundur beberapa langkah dan sebelum berbalik kearah pasukannya.
Kini Permaisuri dan Yiu sudah berada di gazebo taman istana untuk berbincang tanpa ada seorangpun didekat mereka.
Gezebo itu berbahan dasar kayu untuk pagar pendek dan tiang tiangnya. Gezebo itu memiliki atap limas segi enam yang melengkung keatas, disetiap batas atap yang membentuk segitiga diberi profil bundar bertumpuk dan puncaknya diberi hiasan mahkota.
"Ibunda bagaimana situasi diwilayah Zin Shu apakah ada perkembangan?" Yiu mulai membuka suara diantara keheningan.
"Kaisar dan para Pangeran sedang mencoba mengatasi serangan dari kerajaan Tian Lu, mereka ingin merebut paksa wilayah itu karena memang Zin Shu adalah desa yang sangat strategis dan hasil bumi yang begitu menggiurkan kerajaan lain."
"Mereka pasti bisa memukul mundur pasukan Tian Lu dan pulang membawa kemenangan sejati karena hampir seluruh pasukan terkuat kerajaan dikerahkan untuk memukul mundur mereka" Permaisuri tersenyum lalu mengelus pipi Yiu sekilas.
__ADS_1
"Yang perlu kita lakukan sekarang adalah memperketat penjagaan di wilayah Ibukota dan menunggu kepulangan mereka" Yiu mengangguk tanda setuju dengan ucapan sang Permaisuri.
"Lebih baik kau istirahat sekarang, kau pasti lelah setelah melakukan perjalanan panjang yang melelahkan" titah Permaisuri yang dibalas senyuman kecut di wajah Yiu.
Yiu berdiri dan segera pamit untuk kembali ke pavilium Dahlia yang sudah lama ia tinggalkan dengan lesu.
Setelah tiba dikamar miliknya, Yiu segera membersihkan dirinya dengan berendam air hangat sebelum pergi ke alam mimpi.
♣♦♣
Hari sudah semakin malam, sinar sang surya telah bertukar peran dengan sang rembulan.
Yiu bangun saat Chichi membangunkannya untuk makan malam di Ruang Makan Istana bersama sang Permaisuri.
Yiu segera bersiap dengan memakai hanfu yang sederhana namun masih terkesan mewah, ia melangkahkan kaki menuju ruang makan istana.
Hanya dentingan sendok yang beradu yang mengisi suara diruang makan istana, tiba-tiba seorang kasim datang menghadap Permaisuri.
Mengetahui jika sang permaisuri sedang memakan makan malamnya, kasim tersebut membisikan sesuatu ke pelayan Permaisuri yang berada didekatnya.
Pelayan itu mengangguk dan segera berlutut disisi sang Permaisuri sembari mengucapkan sesuatu yang tidak bisa didengar oleh Yiu.
Yiu mengernyitkan dahinya saat melihat Permaisuri Fu Yao meletakan alat makannya dan segera pergi keluar ruangan tanpa memalingkan wajah kearah Yiu sedikitpun.
Yiu tau jika sedang terjadi sesuatu dan dia harus tau mengenai itu, Yiu dengan cepat meletakan alat makannya dan berjalan keluar ruangan sembari berkata kepada pelayan yang berada disekitarnya.
"Aku sudah selesai, aku ingin kembali ke paviliumku" ucapan Yiu begitu dingin sehingga para pelayan hanya bisa menunduk dan mulai menbersihkan meja makan.
Setelah dirasa aman dari jangkauan para pelayannya, Yiu mengenal endap menuju Aula Istana untuk mencuri dengar pembicaraan antara Permaisuri Fu Yao dan Kasim tersebut.
Ia bersembunyi dan mengintip dari balik kursi khusus pangeran dan melihat jika saat ini Permaisuri sedang berbicara dengan seorang Jendral bukan seorang kasim.
Yiu menajamkan pendengarannya namun ternyata jarak antara tempat Permaisuri dan Jendral itu berada cukup jauh dari tempatnya bersembunyi sekarang.
Yang bisa ia simpulkan hanyalah Jendral tersebut yang sepertinya gugup saat berbicara dengan Permaisuri.
Ia berlutut dibawah kaki permaisuri dan kepalanya menunduk dalam, tak berani menatap Permaisuri.
Dan juga raut wajah Permaisuri yang semula tenang dan hampir tanpa ekspresi kini perlahan berubah menjadi raut wajah ketakutan dan keterkejutan.
Lama kelamaan tubuh sang Permaisuri mundur beberapa langkah dengan raut wajah seperti orang yang sangat terkejut dan pucat pasi.
"Permaisuri!" Yiu berteriak dan berlari secepat mungkin menangkap tubuh sang Permaisuri yang sudah terhuyung lemas kebelakang tak perduli akan persembunyiannya.
Jendral yang mendengar teriakan seseorang segera mengangkat kepalanya dan terkejut melihat Permaisuri yang sudah pingsan dipelukan Yiu.
"Kenapa Permaisuri bisa pingsan apa yang kau katakan padanya hah! Cepat panggil Tabib Ming aku akan membawa permaisuri ke paviliun Teratai! Cepat!" Yiu berteriak dan segera membopong tubuh ibundanya menuju kepavilium Teratai.
Pasti telah terjadi sesuatu yang buruk aku harus segera mencari tau dan segera bertindak!.
__ADS_1
TBC
Jangan Lupa Vote,Like dan komennya ya:*