
.
.
.
"bagaimana Kinan?" tanya Molen ke murid terbaiknya.
"terima saja Pak..!" jawab Kinanti dengan serius.
Molen terkejut, "kamu yakin Kinan?"
Kinanti tersenyum lebar, "sangat yakin..!"
6 Pelatih nya Molen tidak terima pun bersuara,
"tapi Pak? Dia itu hanya bicara sok keren." cegah Fiki.
"Pak? jangan main terima saja Pak." sahut Bawn.
"katakan dulu dia berlatih ilmu beladiri dari mana?" potong Ebby.
"jangan terlalu terburu-buru Pak, kita harus tau asal-usulnya." sambung Oji.
"apa-apaan ini pak? saat kami melamar jadi pelatih disini tidak semudah ini, kenapa anda mempermudah dia yang sok keren ini?" protes Dikky.
"kami tidak bisa terima keputusan sepihak bapak." sahut Linggo.
6 Pria itu mengajukan Protes masing-masing ke Molen, Molen tidak bisa menjawab pun seperti meminta bantuan Kinanti untuk menjelaskan hal itu.
Kinanti tersenyum tipis, "apa kalian pernah menyerang lawan dalam sekaligus? kalian saja kalah menyerang Tuan ini sekaligus, apa itu tidak bisa dijadikan bukti kemampuannya?"
Molen mengangguk-ngangguk setuju lalu para perempuan yang mendukung Kinanti pun sontak bersuara memojokkan mereka yang dikatakan iri pada Kenan yang begitu hebat.
"baiklah..! hentikan unjuk rasa kalian ya?" Molen bersuara.
Fiki, Linggo, Ebby, Bawn, Dikky, Oji pun menatap tajam Kenan seolah punya dendam yang begitu besar pada Kenan sehingga nama baik yang telah mereka jaga selama ini didepan pujaan hati masing-masing menjadi sia-sia karna Kenan.
Kenan diam saja seperti tidak merasa bersalah sama sekali telah menyinggung 6 Pelatih terbaik Pria di tempat itu.
"Kinanti..? katakan apa saja Visi-misi kita sebagai pengajar serta tugas nya di tempat ini, kamu juga kenalin semua tempat di Gedung Pelatihan kita ini." pinta Molen ke Kinanti.
__ADS_1
Kinanti mengangguk lalu berlari ke arah Kenan namun masih jarak aman, "Tuan? ahh?? tidak-tidak..! bagaimana bisa aku memanggil Tuan sementara kita akan menjadi rekan kerja." celoteh Kinanti entah bicara pada Kenan atau pada dirinya sendiri.
"Tuan? siapa nama anda?" tanya Kinanti.
"Kenan." jawab Kenan berdiri dihadapan Kinanti tapi tidak membuat Kenan risih sebab Kinanti juga tidak terlalu dekat dengan Kenan.
"Oh..? Kenan? ayo kita pergi." ajak Kinanti.
Kenan pun mengikuti Kinanti sembari mengenalkan semua tempat di tempat pelatihan nya dan Kinan juga memberitau Loker ganti baju Kenan serta letak kamar mandi khusus Pria yang digunakan bersama-sama saja seperti tempat Sauna.
"panggil aku Kinanti." pinta Kinanti dengan senyuman ketika Kenan seperti bingung ingin memanggilnya.
Kenan diam saja sambil membuang muka, mengapa Ia masih punya jiwa pemalu? apa yang salah dengannya? atau karna Kenan tidak tau mau menjawab apa jadi malu sebab Kinanti tau Kenan kebingungan memanggil Kinanti.
"Kinan? Kenan? kenapa bisa begitu ya?" tanya Kinanti terkekeh ke Kenan.
Kenan diam saja lalu melangkah pergi meninggalkan Kinanti yang tersenyum lebar.
"kenapa penolakannya terlihat sangat seksi ya? Oh God..!!? aku suka sekali dia, tipe Idealku banget." gumam Kinanti yang meraup angin seolah ingin sekali menangkap Kenan.
.
Kenan memasuki Mobilnya tapi tiba-tiba ada sebuah tangan menahan pintu Mobilnya, Kenan melirik ke arah samping seolah sudah tau akan kedatangan Orang itu.
Kenan menepis tangan Fiki lalu mendorongnya kuat sampai terjatuh, Fiki yang geram bangkit tapi Kenan sudah masuk ke Mobilnya dan meninggalkan kawasan itu.
Fiki mengepalkan tangannya, "bedeb*h angkuh itu perlu diberi pelajaran."
Fiki menghubungi rekannya yang juga tidak terima penolakan Kenan itu yang tidak menghargai Fiki sebagai Senior di Tempat Bekerja Kenan.
sikap Kenan itu memang menyebalkan tapi memang darah keturunan sang Penguasa mengalir dalam nadinya Kenan, pantas Kenan bersikap angkuh dan tidak suka diatur itu oleh Orang asing.
.
ke esokan harinya,
Kinanti mengetuk Pintu Rumah Kenan yang jaraknya sangat dekat dengan tempat tinggal Kinanti.
Kenan keluar dari Rumahnya dan menaikkan sebelah alisnya ke Kinanti yang kaget ketika memukul dada bidang Kenan untuk mengetuk pintu sebab Kinanti tadi melihat kebelakang jadi tidak sadar pintu Rumah Kenan telah dibuka.
"Hehe..! kamu naik apa Kenan?" tanya Kinanti menutupi rasa gugup.
__ADS_1
Kenan tidak menjawab seolah pertanyaan Kinanti tidak pantas untuk dijawab olehnya.
"karna tujuan kita sama bagaimana jika aku menumpang denganmu?" tanya Kinan yang bersikap berterus terang ke Kenan demi dekat dengan Kenan tapi tidak diperlihatkan kalau Kinanti tertarik pada Kenan.
Kenan hendak menutup pintu tapi ditahan dengan tangan Kinanti, Kenan tentu tidak mau menjepit tangan Kinanti karna didikan An, Ana dan Alena yang tidak suka Kenan menyakiti perempuan tapi harus menghargai perempuan. kalau Kenan tidak suka tinggal pergi tapi tidak boleh menyakiti fisik perempuan.
"aku akan bayar dengan cara memasak untukmu pagi dan malam gratis bagaimana? aku pikir-pikir biaya ke tempat kerja sangat jauh kalau naik Bus sangat lama tapi kalau naik taksi mahal, naik Gojek pake paket Internet kadang aku tidak punya paket internet apalagi pulsa." kata Kinan memamerkan Ponselnya ke Kenan.
Kenan pun diam memikirkan, makan gratis tanpa repot memasak jelas itu sebuah kesepakatan yang baik tapi ada yang kurang.
"menggosok?" tanya Kenan.
Kinanti tersenyum lebar, "baiklah..! aku bisa menggosokkan bajumu tapi harus ditempatmu ya? aku irit token listrik."
Kenan pun setuju lalu Kinanti mengulurkan tangannya ke Kenan.
"ini arti kita sudah sepakat, Kontrak dibuat dan tidak boleh dilanggar." kata Kinanti menjelaskan.
Kenan menggeleng kepalanya karna menurutnya Kinanti itu sangat kekanakan harus pake Kontrak tangan padahal mereka sudah dewasa, Kenan langsung masuk ke Rumahnya tapi tidak menutup pintu Rumahnya, Kinanti tidak masuk tapi Ia tidak tersinggung malah tersenyum lebar membayangkan Ia akan lebih leluasa memasuki Rumah Kenan nanti.
Kenan pun keluar dari Rumahnya dan Kinanti mengikuti Kenan dengan jarak aman sambil menahan senyum saja bahkan langkah kakinya Kenan saja seperti model di atas panggung fashionshow.
.
Kinanti berlari ke arah Pintu Mobil Kenan bagian pengendara hingga Kenan menautkan kedua alisnya.
"mulai saat ini biar aku yang bawa Mobilmu, kamu tinggal duduk dibelakang atau didepan." kata Kinanti.
Kenan pun berpindah tempat dibelakang sementara Kinanti terlihat senang tidak mengeluarkan biaya apapun mulai hari ini dan kedepannya, Kenan mengerutkan keningnya melihat tingkah Kinanti.
"bukankah kau pernah bekerja di BlackMalv?" tanya Kenan heran dengan kesenangan Kinanti sebab bekerja di BlackMalv gajinya sangat besar.
Kinanti menggaruk kepalanya yang tak gatal, "sebenarnya aku punya tabungan banyak tapi aku juga masih ada Mama dan seorang Adik laki-laki sedang kuliah kedokteran, aku menyimpan tabunganku untuk membiayai mereka."
Kenan pun tak lagi bertanya karna Ia tau biaya Sekolah Kedokteran memang mahal bagi ukuran Orang biasa.
Kinanti mengintip Kenan sekilas lewat Kaca kecil diatasnya lalu kembali fokus dengan kendaraannya sambil tersenyum.
.
.
__ADS_1
.