
.
.
.
Kinanti yang tidak kunjung dapat sahutan pun menoleh ke arah sekeliling hingga matanya menangkap seseorang tengah mengawasi mereka tapi Orang itu langsung bersembunyi.
"apa ini?" batin Kinan seakan menebak-nebak ada seseorang yang sengaja mengerjai Kenan.
"Kenan? sepertinya ada yang sengaja mengempeskan ban mu." kata Kinanti menoleh ke Kenan dengan serius.
Kenan melirik kearah Kinanti, "pulanglah..!"
"tidak..! dalam pertemanan kesetiaan itu penting." kata Kinanti dengan serius.
Kenan tidak menyahut lalu Kinanti pun ber inisiatif mengangkat ban ganti Kenan, Kenan menghela nafas melihat tingkah Kinanti itu yang berusaha membantunya.
"jangan remehkan aku hanya karna kita berbeda jenis kelamin ya? aku tidak suka diskriminasi." peringatan Kinan dengan tersungut-sungut.
Kinan melihat Kenan yang diam saja pun sumringah segera duduk disamping Kenan yang sedang sibuk mengganti ban Mobil Kenan.
"apa kamu sabar dikerjai begini Kenan? aku rasa ini tidak akan berhenti sampai disini, pria-pria disini memang sangat menyebalkan." tanya Kinanti ke Kenan.
Kenan tidak menyahut lalu Kinanti mengangguk-ngangguk seperti mendapatkan jawaban yang dia mau padahal Kenan juga tidak bicara apa-apa.
Kinanti setia menunggu Kenan sesekali membantu Kenan walau hanya tukang angkat ban cadangan atau ban yang bocor saja.
malam hari,
"yess...! akhirnya selesai juga." senyum lebar Kinanti menoleh ke Kenan yang diam saja.
"ayo kita pulang..! aku sudah lapar." ajak Kinanti berlari mengitari Mobil Kenan sementara Kenan masuk di pintu belakang seolah Kinanti adalah supir tapi Kinanti tidak marah malah dengan senang hati melihat Kenan yang selalu menjaga jarak dari perempuan yang artinya Kenan adalah Pria mahal.
"bagaimana jika kita beli makanan dipinggir jalan Kenan?" tanya Kinanti penasaran.
Kenan melirik Kinanti seakan bertanya.
"bukannya aku malas memasak, tapi perutku benar-benar sudah kelaparan bahkan sekarang berbunyi, memasak pun butuh waktu." celoteh Kinanti.
Kenan memejamkan matanya sambil bersandar di bangku mobilnya seperti sedang tidur, Kinanti yang tidak dapat jawaban tapi juga tidak dapat penolakan Kenan pun tersenyum.
__ADS_1
"aku anggap kamu setuju ya?" tanya Kinanti.
"...?"
Kinanti juga tidak dapat jawaban dari Kenan semakin yakin kalau Kenan tidak keberatan, Kinanti menepikan kendaraannya lalu keluar dari Mobil Kenan membeli makanan pinggir jalan.
Kenan membuka matanya dan mengeluarkan ponselnya yang bergerar, Kenan mengangkatnya ternyata Ia diceramahi panjang X lebar oleh adik-adik perempuannya yang tidak terima dengan cara Kenan pergi dari Rumah meninggalkan fasilitas mewah demi keinginan diri sendiri yang tidak masuk akal itu.
"diam lah..!" kata Kenan lalu mematikan panggilannya secara sepihak.
Sysy dan Ketty sudah pasti mengomel-ngomel di sana dengan tingkah menyebalkan Abangnya itu.
tak berapa lama Kinanti kembali membawa 2 kantong plastik makanan lalu diletakkan disampingnya yang kosong sebab dibelakang ada Kenan.
"ayo kita berangkat..?" ajak Kinanti tersenyum lebar sambil melajukan kendaraan Kenan setelah memasang Seatbeltnya.
.
sesampainya di Gedung tempat tinggal Kenan dan Kinanti pun melangkah bersama menuju Lift, tangan Kenan bahkan tidak bekerja saat masuk Lift tapi tiba-tiba Lift terguncang.
"aakh...?" Kinanti terhuyung pun nyaris terjatuh tapi ditarik tangannya oleh Kenan yang masih berdiri kokoh.
"terimakasih." ucap Kinanti setelah Lift tidak lagi terguncang.
"disini Gedungnya sudah lumayan Tua Kenan jadi Liftnya masih model lama dan terkadang rusak." jelas Kinanti.
Lift yang mereka naiki pun tiba-tiba berhenti di lantai 2 secara tiba-tiba padahal tujuan mereka berada di Lantai 7.
"aduuh..! kenapa Liftnya harus mampet hari ini sih? aku sudah lapar." gerutu Kinanti dengan kesal.
Kenan melirik Kinanti sekilas, "tidak ada tangga darurat?"
"ada..! tapi menurutku dari lantai 2 ke lantai 7 sangat melelahkan." jawab Kinanti.
"ckk..?! fisikmu lemah." decak Kenan sambil melangkah keluar dari Lift yang rusak itu disusul Kinanti.
"apa kamu pikir naik tangga tidak butuh tenaga? aku sangat lapar lalu diajak naik tangga? siapa yang akan tahan?" gerutu Kinanti.
"bukankah aku sudah bilang kau pulang duluan?" sambar Kenan malas.
Kinanti mengerucutkan bibirnya tapi mengekori Kenan juga naik tangga darurat, Kenan tiba-tiba berhenti dan menoleh kebelakang Kinanti yang sedang memegang perut sambil menenteng kantong plastik makanan.
__ADS_1
Kenan menghela nafas lalu kembali menuruni tangga dan tanpa embel-embel berbicara apapun Kenan menggendong Kinanti yang memekik segera menutup bibirnya dengan tangannya, Kinanti melebarkan matanya syok dengan perbuatan Kenan itu.
"lemah.!" umpat Kenan melangkah menaiki tangga sambil menggendong Kinanti.
Kinanti melihat kebelakang pun merasa ngeri, "aku pegangan ya? aku takut kamu akan menjatuhkanku tiba-tiba." kata Kinanti lalu segera melingkarkan tangannya di leher Kenan sementara makanannya di letakkan di perutnya.
Kenan diam saja tanpa tau kalau hati Kinanti memekik senang di gendong oleh Kenan, Kinanti sendiri heran mengapa Ia malah senang dengan perbuatan Kenan padahal mulut Kenan sangat pedas tidak sesuai dengan tipe semua perempuan yang menyukai Pria dengan mulut romantis.
Kenan akhirnya tiba dilantai 7 dan Kinanti diturunkan tepat didepan Pintu, Kinanti membuka Pintu Darurat mempersilahkan Kenan duluan lalu mengekor dengan jarak aman dibelakang Kenan tentu saja Kinanti senyam-senyum dengan kepala tertunduk.
"Pria Gentle." gumam Kinanti sangat pelan nyaris berbisik.
.
sebelum Kenan masuk ke Rumahnya Kinanti menyerahkan 1 plastik yang Kinanti beli ke Kenan.
"hari ini saja aku tidak memasak tapi besok akan aku usahakan memasak jika pulang kita tidak selarut ini.. ya?" Kinanti.
Kenan menerima itu lalu langsung masuk ke Rumahnya tanpa mengucapkan Terimakasih, Kinanti tidak tersinggung karna menurutnya hal itu sudah impas saat Kenan menggendongnya tadi.
"apa aku pura-pura lemah saja ya?" gumam Kinanti tiba-tiba Ia memukul kepalanya sendiri untuk segera sadar.
"jadilah diri sendiri." rutuk Kinan pada dirinya sendiri lalu segera masuk ke Rumahnya sambil tersenyum.
.
Kenan sebenarnya juga lapar tapi di sembunyikan dengan baik dan beruntungnya lagi perutnya bisa diajak kompromi tidak membuat Kenan malu didepan Kinanti yang mengeluh lapar.
ketika Kenan mencoba masakan pinggir jalan itu ternyata lebih enak dari pikirannya, Ia makan dengan tenang tanpa peduli pelaku yang mengerjainya.
.
ke esokan harinya,
Kinanti seperti biasa mengantarkan sarapan tapi disuruh masuk oleh Kenan untuk menggosok pakaiannya, Kinanti pun melakukannya diam-diam Ia mencuri pandang melihat Kenan yang duduk dengan tenang di kursi sambil memainkan ponsel memakai jubah mandi warna hitam.
"ya ampun...! kenapa aku bisa punya pikiran mesum sih? apa yang salah dengan otakku? apa karna Brengs*k itu mengkhianatiku? tapi apa hubungannya dengan otakku berubah mesum?" batin Kinanti yang wajahnya memerah menggosok pakaian Kenan.
.
.
__ADS_1
.