
.
.
.
Kenan benar-benar menurunkan Kinanti di Rumah Sakit Magang Kevin July.
"Ken?? Terimakasih..!" ucap Kinanti dibelakang Kenan.
"turunlah..!" pinta Kenan.
"aah.. iya." Kinanti tersadar dengan tingkahnya malu sendiri lalu segera Ia turun dari Motor Kenan.
Kinanti terkejut tiba-tiba pijakan kaki Motor Kenan lepas, "akkkhh...!" pekik Kinanti dan pinggangnya pegang erat oleh Kenan sehingga Ia tidak jadi terjatuh.
Kenan memandang terkejut Kinanti, Kinanti membuka matanya dan mengerjab menatap bola mata tajam Kenan.
"ma--maaf Ken..? terimakasih." ucap Kinanti sambil meringis memegang kakinya.
Kenan melihat ke arah pijakan Motornya yang bisa-bisanya terlepas.
"ak--aku pergi Ken..! hati-hati di jalan ya?" Kinan menyapa dengan kikuk lalu segera pergi dengan langkah sedikit pincang.
Kenan melihat langkah Kaki Kinanti yang terluka, Kenan melaju pergi bukannya ke Tempat Kerja malah ke bengkel untuk memperbaiki pijakan Motornya.
.
"kaki kakak kenapa?" tanya Kevin melepas maskernya memegang bahu Kinanti dengan pandangan serius.
Kinanti tersenyum, "bisa lihatkan kaki kakak dek? sakit."
"ikut aku Kak..!" ajak Kevin tiba-tiba menggendong Kinan yang terkejut dengan tindakan Kevin tapi Kinanti segera melingkarkan tangannya di leher Kevin.
"adikku sayang sudah besar ya?" kata Kinanti mengelus kepala Kevin.
Kevin tersenyum kecil, "sekarang kakak katakan kenapa Kaki kakak bisa terluka?"
"hanya tergelincir." jawab Kinanti menduselkan sisi wajahnya dengan manja pada sang adiknya itu.
Kinanti sangat menyayangi adiknya melebihi sayang Kinan pada dirinya sendiri.
Kevin membawa kakaknya ke Ruangannya lalu dengan cekatan memeriksa kaki Kinanti, "kaki kakak harus diperbaiki."
__ADS_1
"memangnya kenapa? apa kaki kakak parah?" tanya Kinanti.
"tulang kakak bergeser, kalau dibiarkan bakal bengkak dan makin lama sembuhnya." jawab Kevin memegang ujung kaki Kinanti yang memekik seketika.
"sakit Vin..!" kesal Kinanti.
Kevin mengomeli Kinanti yang kurang hati-hati sedangkan Kinanti mengerucutkan bibirnya dengan pasrah, walau Ia bar-bar tapi kalau Kinanti bersalah mana bisa Kinan melawan omelan Kevin yang juga sangat menyayanginya.
"kakak antar ini..!" Kinanti memberikan plastik berisi Ponsel mahal untuk Kevin.
"apa ini?" tanya Kevin sambil membuka isinya dan terkejut memandang Kinan tidak percaya.
"kakak mencuri ya?" tanya Kevin yang tau Ponsel itu keluaran baru walau Ia sempat ingin memilikinya tapi biaya hidupnya yang masih dalam masa kuliah membuatnya berpikir 1000 kali kalau mau beli Ponsel.
"kakak memenangkan hadiah dengan calon Abang iparmu tapi dia tidak mau Ponselnya, dia sendiri yang meminta Kakak untuk memberikannya padamu. dia sangat pengertian loh..! dia bilang Ponsel ini punya muatan besar dan sangat cocok untuk seorang Dokter magang yang butuh aplikasi khusus." kata Kinanti menambah-nambahkan supaya Kevin menyukai Kenan.
"apa dia tidak butuh Ponsel ini?" tanya Kevin.
"dia tidak sama dengan kita, dia Pria hebat pujaan kakak." jawab Kinanti dengan bangga.
Kevin memutar kedua bola matanya dengan malas lalu meletakkan ponsel pemberian Kinanti dan membenarkan posisi tulang kaki Kinanti yang menjerit seketika.
Kevin tanpa merasa bersalah memijit-mijit kaki Kinanti, "memangnya bisa perhatianku dialihkan kak? sekarang kaki kakak sudah baikan."
Kevin dan Kinan berbicara perihal Kaki Kinanti lalu Kevin menuntun Kinan keluar mencari taksi, tak lupa Kinanti memberi uang saku pada Kevin walau banyak drama antara kakak-adik itu tapi Kinanti tetap pemenangnya.
Kevin melambaikan tangannya melihat kepergian Kinanti yang naik taksi, Kevin menyimpan uang pemberian Kinanti. jujur saja selama Kevin Kuliah tidak pernah kekurangan uang berkat kegigihan Kinanti dalam membiayainya. Kevin merasa beruntung memiliki Saudara perempuan seperti Kinanti yang sudah mirip sebagai Ayahnya Kevin.
.
Kinanti tiba di tempat kerjanya di suguhkan oleh pemandangan tak enak.
"kauu??" tunjuk Kinanti.
Fika tersenyum lebar, "haii?? sepupu?" sapa Fika.
Kinanti melihat sekitar banyak murid dan rekan kerjanya yang ada disana.
"siapa dia Kinan?" tanya rekan kerja Kinan penasaran.
"sepupu." jawab Fika tapi jawaban Kinan malah berbeda.
"pengemis." jawaban Kinan membuat rekan pekerjanya berbisik-bisik.
__ADS_1
"Kinan?? kamu bicara apa sih? kenapa kamu begitu kejam?" tanya Fika seolah-olah perempuan yang tersakiti.
"kau fikir bisa menipuku? aku tidak butuh image baik didepan banyak Orang. !? silahkan kau bersandiwara apapun yang kau inginkan tapi kau harus ingat kalau aku tidak akan memberi uang sepersenpun untukmu."
Kinanti bukan seorang Penjilat, Ia adalah seorang Gadis pekerja keras yang tidak suka Orang munafik apalagi penghianat.
"Kinantii??" panggil Fika berlari kecil menyusul Kinanti yang melangkah pergi.
"aku sekali ini saja minta tolong Kinan..! kenapa kamu begitu pelit sama saudaramu sendiri hah?" bentak Fika.
Kinanti berbalik badan langsung menampar wajah Fika sampai pipinya memerah membuat seisi tempat kerja Kinanti terbelalak syok.
"kau tidak tau julukanku disini?" tanya Kinanti dengan sinis.
Fika menatap Kinanti tidak percaya dengan keberanian Kinanti menamparnya didepan banyak Orang.
"julukanku pelatih tak punya hati." kata Kinanti lagi dengan tatapan tajam.
"jangan pancing-pancing kemarahanku." sambung Kinanti lagi dengan kesal lalu melenggang pergi.
Fika melepas heels tingginya dan melemparnya ke Kinanti tepat mengenai Kaki Kinanti yang baru saja di obati Kevin, Kinanti memejamkan matanya merasa sakit dikakinya.
"dasar perempuan tidak tau diri..! kau sudah membunuh Omku sekarang tidak mau membantuku hah?? kalau Omku masih hidup pasti dia akan memberiku Uang." teriak Fika dengan penuh dendam.
Kinanti memejamkan matanya menahan rasa sakitnya lalu berbalik mengambil heels Fika dan melemparnya lagi ke Fika yang berusaha mengelak tapi malah mengenai kepalanya Fika.
"Om-mu itu Papaku sialan...!! kau masih punya Papa, apa gunanya Papamu itu hah?? uang asuransi Papaku kalian yang mengambilnya kan? apa penderitaan Mamaku kurang bagi kalian hah?? dia sampai sakit-sakitan merawat kami sedangkan pencari nafkah kami sudah meninggal, uang asuransinya pun kalian yang ambil..! kemana uang 2 Milyar itu hah?? kemanaaa??" jerit Kinanti tak kalah marah.
Kinanti berjalan dengan sedikit pincang lalu menjambak Fika yang sedang sakit dibagian keningnya, Kinanti tidak peduli apapun karna Perempuan gila itu membuatnya emosi.
"Sakiit..!! Kinan?? aku akan panggil Mama kesini." jerit Fika dengan penuh ancaman.
"kau fikir aku sama dengan Kinanti yang dulu hah?? dulu aku hanya bisa menangis dan menangis tapi sekarang kau tidak punya hak menindasku, apalagi mengatakan tentang status Papaku adalah Keluargamu, uang 2 Milyar itu sudah cukup untukmu, berani-beraninya kau datang meminta uang lagi padaku." Kinanti.
pertengkaran mereka mulai dramatis, Kinanti dan Fika jadi tontonan banyak Orang.
Kenan pun baru tiba di tempat itu karna mendengar laporan muridnya tentang Kinanti.
.
.
.
__ADS_1