Gadis Bar-Bar Tuan Muda Pendiam

Gadis Bar-Bar Tuan Muda Pendiam
cemas


__ADS_3

.


.


.


di luar Cafe,


"kamu yakin tadi melihat anak jal*ng itu disini?" tanya Friya serius ke Fika.


"Iya Ma..! tadi aku lihat Kinan lewat sini." jawab Fika dengan yakin.


"naik apa dia tadi?" tanya Friya.


"mana aku tau Ma..! dia setengah berlari tadi, mungkin sama Mobil." jawab Fika asal.


"Mobil? dia punya Mobil?" tanya Friya dengan raut wajah terkejut.


"sudah aku bilang Ma.! dia punya banyak uang, waktu itu kalau bukan karna pacarnya itu aku pasti bisa mendapatkan semua uangnya. dibuku tabungannya ada uang banyak aku aja pusing menghitung Nolnya Ma." jawab Fika.


Friya mengangguk, "Mama tidak menyangka jal*ng kecil itu berhasil di Kota ini." gumam-gumam Friya celingukan kesana-kemari melihat Kota Pusat yang sepadat ini bisa memperkerjakan Kinan yang tidak punya pendidikan yang sangat tinggi.


"aku udah berkali-kali bilang Ma kalau kita harus pindah kesini, betulkan apa yang aku bilang? sekarang Kinan bisa membiayai adiknya Kuliah kedokteran, Mama tau berapa biaya semester kuliah kedokterankan? sangat mahal Ma..! tapi dia tidak pernah nunggak bayar uang semesternya." geram Fika yang sangat iri dengan kesuksesan Kinan.


"kenapa tidak temui Ibunya? dia yang jadi penyebab Om-mu mati, sejak awal dia memasuki Keluarga kami memang jadi kacau karnanya." Friya.


"dia pandai melawan sekarang Ma." lapor Fika.


Friya mengusap kepala Fika dan mengatakan dengan yakin bahwa Fika belum berpengalaman dalam hal menjebak Orang, dulu Orangtua Friya membenci Elsi karna semua yang mulut Friya Katakan sampai mengusir anak laki-laki di Keluarga Friya akibat adu domba dan hasutan Friya, semua harta dan kekayaan jatuh ke tangan Friya setelah meninggalnya kedua Orangtuanya dan seribu logam pun tidak terkasihkan oleh Friya untuk Keluarga adik laki-lakinya (suami Elsi alias Papanya Kinan dan Kevin).


saat adik laki-lakinya meninggal dapat asuransi 2 M langsung saja Friya begitu panas dan merebut semua itu tapi karna ada Polisi serta Mata-mata utusan Maldev terpaksa Friya merelakan 100 Juta ke tangan Elsi, ada juga membayar sogokan, lebihnya bisa Friya dapatkan. setelah pembagian itu Elsi pergi dan Friya tidak peduli hanya sibuk menghamburkan uang asuransi kematian adiknya.


"jadi Mama bisa membuat wanita itu memberi uang pada Kita?" tanya Fika sumringah.


Fika bukannya malu dengan kejahatan Friya menjatuhkan Keluarga Kinan malah semakin membara saja hatinya ingin kembali meniru semua tindakan Mama nya.


"tentu saja..!" jawab Friya.


"baguslah..! aku tidak sabar Ma dapat uang 100 Juta darinya." kata Fika dengan gembira.


"jangankan 100 Juta, seluruh asetnya pun bisa kita dapatkan." ujar Friya dengan bangga.


Fika memekik kesenangan memeluk Friya.


"sekarang kita fokus mencari jal*ng kecil itu..! dimana tempat tinggalnya?" Friya melepas pelukannya dengan Fika.

__ADS_1


Fika mengangguk-ngangguk senang, "ayo kita berangkat.!"


Fika dan Friya pergi ke Gedung Kos-an Kinanti, berbagai drama telah dilakukan akhirnya pemilik Kos menyerahkan kunci cadangan ke Friya yang mengaku-ngaku khawatir dengan kondisi tempat tinggal keponakan kecilnya.


"terimakasih Bu." ucap Friya dengan sedih.


"iya Bu Friya, jangan sedih lagi ya? Kinan baik-baik saja Kok..! dia sibuk bekerja." jawab si Ibu Kos.


Friya menghapus air matanya dan si Ibu Kos pun pamit pergi meninggalkan Friya disana bersama Fika.


ceklek..


Fika menganga takjub melihat perubahan ekspresi Friya yang berdecak bangga.


"bagaimana? lisan Mama baguskan?" tanya Friya.


"Mama hebat..?! aku sampai harus menggoda anak Kos lantai bawah supaya bisa masuk ke Kos-an ini." gerutu Fika.


"lalu apa balasannya untukmu?" tanya Friya.


"hanya dicium saja langsung tegang dan pingsan, aku ya pergi aja." jawab Fika dengan kesal.


Friya tertawa lalu menangkup pipi Fika memuji betapa cantik nya Fika sehingga manusia dari kalangan bawah tidak cocok untuk Fika, Fika sangat cocok dengan anak Konglomerat.


Fika dan Friya memeriksa Kamar Kinanti yang anehnya tidak ada apa-apa selain Pakaian yang sudah usang, barang-barang masih ada tapi barang penting tidak ada.


Fika mengangkat kasur Kinanti dibantu oleh Friya tapi tidak ada apapun disana selain kertas putih yang terlipat-lipat saja.


"kamu yakin dia tinggal disini?" tanya Friya mulai meragukan tempat ini jadi tempat tinggal Kinanti.


"kenapa begitu Ma? jelas-jelas barang-barang usangnya masih disini, dia tinggal disini Kok." jawab Fika.


"kasurnya aja berdebu..! ini menandakan dia tidak tidur disini." tunjuk Friya ke kasur Kinan.


Fika memegang kasur Kinan pun mengerutkan keningnya dengan bingung, "Kok bisa? apa dia tidur di Tempat kerjanya ya?"


"tempat tinggal Ibunya dimana? apa kamu tidak tau.?" tanya Friya.


Fika dan Friya malah bertengkar gara-gara Kinan tidak meninggalkan jejak apapun yang berharga ditempat itu.


.


ditempat lain,


"hah??" Kinanti kaget melihat jam tangannya sudah malam.

__ADS_1


"apa jamnya rusak?" gumam Kinanti melihat jam lagi di Ponselnya ternyata memang sudah malam.


Kinanti melihat banyak panggilan tidak terjawab dari Kenan membuat Kinan merasa bersalah saja pada Kenan.


"Kevin? kamu tau ini sudah malam? tapi tidak memberitau Kakak?" tanya Kinanti dengan kesal ke Kevin.


Kevin menggeleng, "aku juga lupa waktu Kak." jawab Kevin menggaruk kepalanya sendiri.


Elsi pun izin pulang namun Kevin dan Kinanti tidak terima Mama mereka pulang sendiri, berdasarkan kesepakatan Kinan lah yang mengantar Elsi pulang.


setibanya di Rumah Elsi,


"itu siapa Nak? itu nak Kenan kan?" tunjuk Elsi.


Kinanti beralih ke arah tunjuk Elsi ternyata memang Kenan, Kinanti buru-buru keluar berlari ke arah Kenan.


"kenapa tidak diangkat?" tanya Kenan dengan serius.


Kinanti gelagapan dan menoleh ke Elsi yang juga berdiri disampingnya tersenyum ke arah Kenan, Kenan masih menghormati Elsi sebagai Orangtua lalu Elsi membawa masuk Kenan dan memperlakukan Kenan begitu baik padahal Kenan menolak dengan halus tapi dipaksa, alhasil Kenan tidur di Rumah itu walau kecil tapi Ia menghargai kekhawatiran Elsi kalau Kenan pulang Malam.


"nak?! terimakasih atas ajaranmu ke Kinan Nak, Mama senang dia mau mendengarkanmu." ucap Elsi ke Kenan.


Kenan menatap ke arah Kinan yang tersenyum kikuk, hilang sudah amarah Kenan yang khawatir Kinanti tak kunjung mengangkat panggilannya tapi tidak mau juga mengganggu Kinan dengan melacak keberadaan Kinan jadi sengaja menunggu Kinan di Rumah Elsi.


"tidak masalah Ma..! dia memang patuh." jawab Kenan menyunggingkan senyum nya.


Kinanti diam-diam merasa senang melihat Kenan tidak seperti sebelumnya, aneh kalau Kenan marah tidak membentak, mengomel atau main tangan tapi malah diam namun berhasil membuat Kinanti kalang kabut tidak bisa didiamkan oleh Kenan.


.


Kinan mengantarkan selimut ke Kamar Kenan tidur malam ini, "Ken?" panggil Kinanti.


Kenan menarik lengan Kinanti dan mencium bibirnya Kinanti serta melum*tnya lembut namun menuntut, Kinan sampai menjatuhkan selimut yang dipegangnya.


"lain kali kabari aku dimanapun kamu berada." bisik Kenan dengan suara berat.


Kinanti mengangguk patuh, "maaf..! jangan diam lagi." cicit Kinan.


Kenan memeluk Kinanti dan menarik nafas dalam-dalam, "aku tidak mengerti perasaanku sendiri Kinan, aku sangat mencemaskanmu."


Kinan tersenyum dipelukan Kenan, "kamu sangat baik Ken..!"


Kinan tidak peduli Kenan sadar dengan perasaan Kenan sendiri atau tidak, menurutnya Kenan adalah Pria yang Kaku dan sulit mengekpresikan dirinya lewat kata-kata tapi lewat tindakan saja, jadi menurut Kinan tindakan Kenan saat ini adalah Cinta.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2