Gadis Bar-Bar Tuan Muda Pendiam

Gadis Bar-Bar Tuan Muda Pendiam
minta


__ADS_3

.


.


.


setelah saat itu Kenan tidak lagi bertemu dengan Kinanti.


Kenan sibuk dengan urusannya mengatasi Perusahaan An di New York sampai tuntas selama beberapa minggu.


"ba--bagaimana bisa?" gumam Jonson melihat bukti-bukti kejahatannya di perlihatkan oleh Kenan.


"kau dan Marvin dipecat..!" seringai Kenan yang selama ini tidak terlalu mencolok akhirnya memperlihatkan dirinya yang ternyata memang seorang mata-mata utusan An.


"ti--tidak...! tidak mungkin." Jonson seketika memegang jantungnya yang terasa sakit lalu tak sadarkan diri dengan wajah pucat sementara Kenan tidak berniat membantunya sedikitpun apalagi menghubungi ambulance, Kenan malah pergi dari Ruangan itu meninggalkan Jonson yang meregang nyawa.


sore harinya,


brakhh....!


Marvin membuka paksa pintu Ruangan Kenan dengan mata menyala, "kau? membunuh pak Jonson?"


Kenan menaikkan sebelah alisnya, "aku tidak menyentuhnya."


"apa kau tidak tau dia punya riwayat penyakit jantung hah? apa yang kau perlihatkan padanya sampai dia mati? apaaa???" teriak Marvin.


Kenan tidak menjawab Marvin karna menurutnya tidak penting lalu tiba-tiba Marvin menoleh mendengar kabar dari Pekerja nya kalau Marvin telah dipecat oleh Atasannya di Perusahaan Pusat.


"apa?? mana mungkin..!" Marvin mendekati pekerjanya itu merampas ponsel pekerjanya itu dan berbicara dengan Atasannya ternyata memang benar Marvin dipecat secara tidak hormat.


Marvin seketika beralih ke Kenan yang tampak tidak terkejut lagi dengan kabar Ia dipecat oleh Atasannya.


"apa kau yang melakukannya?" tanya Marvin dengan nada marah.


Kenan mengangkat bahunya dengan acuh membuat Marvin marah lalu berlari ke arah Kenan telah bersiap memukul Kenan tapi Kenan malah menghindar sehingga Marvin hanya memukul angin.


"bedeb*h...! kau bermain trik selama ini ya?" geram Marvin tidak menyerah mencoba memukul Kenan lagi.


"kau berpura-pura tidak peduli tapi ternyata kau mengumpulkan bukti kami? bagaimana bisa hah?? aku sudah menyembunyikannya dengan baik selama ini." Marvin seperti kehilangan wibawanya sebagai Manager umum membentak Kenan.


Kenan yang jengah dengan Marvin yang seperti bermain- main dengannya jadi segera menendang kaki Marvin hingga tersungkur mengenai meja dan berkas-berkas yang ada di meja Kenan jadi berantakan.


"cepat usir pengemis ini..!" usir Kenan dengan lantang.


Marvin menggeram lalu mengambil vas bunga dimeja Kenan dan melemparnya ke Kenan membuat Pekerja yang ada disana memekik.


Kenan menahan dengan kepalan tangannya seolah sudah tau hal itu akan terjadi dan memijak salah satu kepingan vas bunga dengan gerakan cepat Kenan menangkapnya di udara lalu melemparnya ke arah Marvin.

__ADS_1


"akkh...!" Marvin berteriak memegang lengannya yang terluka terkena lemparan Kenan.


"sialan kau...!" teriak Marvin mendekati Kenan namun telah ditangkap oleh Satpam Perusahaan sambil memegang lengannya yang berdarah.


Kenan menatap dingin saja Marvin yang berteriak memakinya.


"akan aku balas kau sialan...! aku balas kau..!" teriak Marvin.


Kenan menatap tajam para Karyawan yang masih berkerumunan, mereka di tatap seperti itu oleh Kenan tentu langsung bubar.


Kenan sendiri yang menuntut Marvin serta menjebloskannya ke Penjara dan seluruh asetnya di sita oleh Perusahaan, Kenan meminta An menunjuk Orang kepercayaan An di Indonesia untuk mengisi kekosongan di Perusahaan yang ada di New York.


setelah menyelesaikan permasalahan di sana, Kenan pergi ke Bandara untuk kembali ke Indonesia tanpa ada niat untuk menjelajahi sekitar.


brakh...!


Kenan berdecak ketika seseorang menyenggol bahunya, ketika Kenan melihat pelakunya ternyata Steven yang sibuk disana entah apa yang dikerjakannya selama beberapa minggu belakangan ini, Steven seperti Orang tidak waras.


"Sorry..! sorry..!" ucap Steven.


Kenan yang tidak mau memperpanjang masalah pun memilih langsung pergi karna Steven tidak mengenalinya, Kenan tidak peduli juga masalah lama yang penting gadis yang saat itu Ia tolong baik-baik saja.


Steven kembali mondar-mandir mencari warga Indonesia entah apa tujuannya, beruntung Kenan tidak mengeluarkan bahasa aslinya tadi.


selama belasan jam Kenan berada di dalam pesawat dengan wajahnya tenang, Kenan sudah biasa menghadapi Pria yang tidak tau diri seperti Gerry dan Marvin yang jelas-jelas bersalah tapi malah bertindak seolah mereka itu adalah korban Kenan saja.


seperti biasa Kenan selalu pergi kesana-kemari setelah urusannya selesai.


.


"abang??" Kanze melambaikan tangannya ke Kenan.


Kenan menaikkan sebelah alisnya lalu mendatangi Kanze yang tersenyum lebar mengambil Koper Kenan membawanya masuk ke bagasi Mobilnya.


"kenapa jemput?" tanya Kenan dengan datar.


Kanze terkekeh, "aku melakukan ini atas perintah Nyonya Besar." jawab Kanze memberi tundukan hormat nya ke Kenan.


Kenan menghela nafas jika sudah Carrina yang memberi perintah siapa yang bisa melarang? Kenan melarang pun Kanze sudah terlanjur menjemputnya jadi pasrah saja.


"Abang hebat..! belum waktunya udah selesai masalah di sana-sini." puji Kanze dengan bangga ketika di dalam Mobil.


"hmm...! jangan ganggu abang." pinta Kenan memejamkan matanya di Bangku Mobil Kanze.


Kanze pun menambah pendingin Mobilnya lalu melaju dengan kecepatan sedang, Kanze memang Ramah seperti Carrina tapi juga bisa bersikap dingin seperti An maupun Kenan, bisa dikatakan Kanze punya Kepribadian ganda seperti Sysy terkadang Pribadi yang ceria dan terkadang Pribadi yang dingin.


setibanya di Rumah Keluarganya Kenan,

__ADS_1


"dimana abangmu nak?" tanya Carrina.


"sedang tidur Ma." jawab Kanze tersenyum lebar.


Carrina menoleh ke Mobil Kanze saat Ia hendak pergi ke Mobil Kanze dicegah oleh Sysy dan meminta Carrina memberi waktu Kenan istirahat.


di Ruangan Keluarga,


"kenapa tidak boleh membangunkan Kenan sayang? leher Kenan pasti pegal." tanya Carrina dengan cemas.


Kanze terkekeh, "Ma? Bang Kenan itu sudah besar kan? kenapa harus dikhawatirkan hmm?"


"Ma?? mendingan Mama pikirin Papa, nanti Papa menatap sengit Bang Kenan yang tidak tau apa-apa." kekeh Sysy.


"hihi...!" Ketty terkikik.


Carrina memberengut, "kalian memang sudah besar tapi Mama belum terbiasa melepas kalian, Mama masih butuh waktu kecuali sudah ada perempuan yang mengurus abang kalian nanti."


Ketty dan yang lainnya menyemburkan tawa lepas mereka seakan berpikir hal itu mustahil terjadi pada Kenan.


"Ma? mungkin Kanze duluan bisa saja Ma? tapi kalau abang Kenan? haha..? kayaknya belum bisa dipastikan deh." kata Ketty terbahak.


Sysy tertawa memandang Carrina yang seperti anak kecil mengerucutkan bibirnya, terkadang kalau Carrina jalan dengan anak-anak perempuannya maka mereka akan seperti saudaraan bukan seperti Mama Sysy maupun Ketty karna saking awet muda nya Carrina.


mereka berbincang cukup lama sampai Kenan tiba-tiba sudah duduk disamping Carrina.


"sayang kamu sudah bangun?" Carrina menangkup rahang Kenan yang mengangguk pelan mengucek matanya.


"bagaimana keadaan Mama? baik saja kan?" tanya Kenan dengan serius.


Carrina tersenyum manis, "mau makan apa nak? biar mama masakkin."


Ketty, Kanze dan Sysy hanya menatap geli pemandangan itu.


"Lobster Ma." jawab Kenan.


"Mama belanja dulu ya? stok Lobster kita sudah habis." kata Carrina segera berdiri mengusap kepala Kenan yang mengangguk.


"ayo Kanze antar Ma..!" Kanze merangkul lengan Carrina yang diantar ke Kamar mengambil tas dan dompet lalu pergi terburu-buru keluar Rumah.


Kenan jarang bicara panjang X lebar jadi kalau ada mau nya tentu Carrina menuruti permintaan Putranya sebab Kenan adalah anak pertama nya dengan An, buah Cintanya yang paling Ia tunggu kehadirannya ketika menikah dengan An.


"lihatlah Bang..! Mama memperlakukanmu seperti bocah 7 tahun." ejek Sysy.


Kenan memutar kedua bola matanya dengan malas, "kalian juga."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2