
.
.
.
Kinanti dibawa menuju Kamar yang telah disewa Kenan semalam, Kinanti sesekali melihat ke dinding kaca disampingnya yang basah terlihat sekali derasnya hujan malam ini membuat Kinanti memeluk dirinya sendiri seolah takut merasakan dinginnya saat kehujanan beberapa jam yang lalu.
"silahkan Kak!"
Kinanti mengucapkan Terimakasih pada Pelayan Hotel yang mau mengantarkannya ke Kamar Kenan lalu Ia memegang kartu Kamarnya bersama Kenan.
"huh..! kenapa aku bisa berdebar? apa yang salah denganku? kami tidak melakukan apa-apa kan? kenapa pula aku gugup?" oceh Kinanti.
"sadarlah Kinanti..? aku tidak menyuruhmu mengkhayal." rutuk Kinanti pada dirinya sendiri.
Kinanti memasukkan Kartu Kamarnya dan berbunyi lalu Kinanti melangkah memasuki Kamar itu, jujur saja jantung Kinanti berdebar-debar kuat seperti seorang Pengantin perempuan yang mendatangi suaminya.
"dimana dia?" gumam Kinan memutar kepalanya ke segala arah dan melihat sosok Kenan tengah duduk di balkon memandangi rintikan deras air hujan.
Kinanti pun mendekati Kenan dan duduk disamping Kenan tapi masih dengan jarak aman, "sedang apa disini?" tanya Kinan penasaran.
Kenan melirik sekilas Kinanti lalu kembali memandang rintikan air hujan.
"kenapa masih diam? apa dia demam karna menyerahkan jaketnya padaku tadi?" batin Kinanti penasaran lalu tiba-tiba Ia tersadar segera memutar kepalanya ke Kenan.
"Ken? apa kamu sehat?" tanya Kinanti menatap intens kening Kenan.
Kenan menunjuk kening Kinanti lalu mendorongnya sedikit menjauh darinya, Kinanti menepis tangan Kenan.
"aku pegang ya?" izin Kinan.
"pegang apa?" tanya Kenan dengan sorot mata tajam.
"keningmu lah..!" jawab Kinanti dengan nada cukup tinggi menepis tangan Kenan yang berusaha menolak sentuhannya.
Kinanti berhasil menyentuh Kening Kenan dan ternyata baik-baik saja.
"enggak panas kok..!" gumam Kinanti membandingkan suhu Kening Kenan dengan suhu Keningnya.
Kenan menepis tangan Kinan, Kinanti terlonjak kaget ketika tangan Kenan lah yang kini memegang kening Kinanti.
"kau yang demam.!" kata Kenan dengan wajah datar.
Kinanti memegang kedua pipinya sendiri lalu juga memegang keningnya, "masa sih?"
Kenan melihat ke arah rintikan hujan yang masih deras, "lebih baik kau tidur saja..? aku tidak bisa membeli obat untukmu."
Kinanti melihat ke arah tempat tidur, "tapi tempat tidurnya cuma 1 Ken? apa kamu tega membiarkan perempuan tidur di Sofa?"
Kenan menatap datar Kinanti, "tidurlah."
__ADS_1
Kinanti tersenyum lebar lalu berlari ke arah Ranjang hotel itu dan dengan nyaman Kinanti meringkuk di balik selimut tebal, Kinanti tersenyum begitu lebar dibalik selimut.
.
pagi-pagi,
Kinanti terbangun dan langsung kaget celingukan disemua tempat.
"Ken?" panggil Kinanti seolah takut Kenan meninggalkannya.
Kinanti turun dari ranjangnya dan melihat ke arah Sofa tidak ada siapapun, Kinan panik memikirkan kalau Ia memang benar-benar ditinggalkan.
"Kenn?" kesal Kinanti berlari menuju pintu dan membukanya, Kinanti hendak berlari malah melihat Kenan juga yang mau membuka pintu.
"Ken?" sapa Kinan terkejut hampir saja menabrak tubuh kekar Kenan.
Kenan menatap datar Kinanti yang terlihat panik, "ini obatmu..!"
Kinanti tersenyum lebar dan membuka pintu lebih lebar untuk Kenan, Kenan pun masuk ke Kamar mereka dan Kinanti mengekori Kenan.
"Ken?? aku pikir kamu benar-benar tinggalkan aku, aku tidak tau tempat." kata Kinanti menggerutu.
Kenan menoleh ke Kinan dan menatap sekilas saja gadis yang terlihat feminim itu, "cepat minum obatmu lalu berangkat." titah Kenan.
Kinanti mengambil obat yang Kenan belikan untuknya lalu meneguk botol minuman yang Kenan beli, setelah meminum obat tentu mereka harus melapor ke pihak hotel dan mengembalikan kartu kamar.
.
"pegangan..!" kata Kenan membuat Kinanti segera melingkarkan tangannya di perut Kenan.
Kenan tidak mencari kesempatan tapi Ia memang tidak mau di repotkan kalau Kinanti terjatuh sementara mereka telah terlambat ke tempat kerja, Kenan melaju dengan kecepatan tinggi.
Kinanti tersenyum manis di balik kaca helmnya, "mereka semua menganggapku pacarnya Ken." batin Kinanti mengingat gerak-gerik setiap pengunjung Hotel tadi memandang Kinan jalan ber iringan dengan Kenan.
setibanya di tempat kerja,
Oji berlari mendekati Kenan.
"Kenan??" teriak Oji menarik kerah baju Kenan.
Kinanti melepas helmnya pun langsung memegang lengan Oji, "apa yang kau lakukan?"
"minggir..!" kata Oji mendorong Kinanti yang segera ditarik oleh Kenan.
"huh..! makasih Ken." ucap Kinanti yang hampir saja terjatuh karna dorongan Oji.
"bedeb*h kau..? gara-gara kau kami jadi gelandangan." teriak Oji mendekati Kenan dan menarik lengan Kenan untuk menoleh kearahnya bukan kearah Kinanti.
Kenan melepaskan Kinanti lalu meminta Kinanti untuk berdiri dibelakangnya.
"kau dengar aku tidak??" marah Oji.
__ADS_1
Kenan berbalik langsung menghadiahkan kepalan tinjunya pada Oji yang langsung tersungkur dengan sudut bibir berdarah.
"Ken?" bisik Kinanti membekap mulutnya bukan karna takut tapi karna ingin sekali berteriak saking suka nya dengan pemandangan itu.
Oji berdiri dan berusaha melawan Kenan yang mudah menghindar, tangan Kenan dimasukkan ke dalam kantong celananya lalu begitu santainya menendang lutut Oji sampai terduduk bersimpuh.
"kau yang salah, aku sudah bilang jangan mengusikku kan." Kata Kenan dengan dingin.
Oji bangkit dan berteriak memaki Kenan, "memangnya siapa kau hah? kenapa kau bisa menghancurkan kami?? apa permintaan maaf kami tidak bisa kau dengarkan? kenapa kau begitu tidak punya hati? sesama rekan kerja seharusnya kau membantu kami kan?"
"ciih...!" Kenan meludah kesamping lalu melenggang pergi meninggalkan Oji dan Kinanti yang segera berlari menyusul Kenan.
"Ken?" panggil Kinanti.
"biarkan saja." jawab Kenan dan Kinanti pun tidak lagi bertanya.
Oji berusaha mengejar Kenan tapi ketika masuk Lift tidak bisa diikuti olehnya sebab menggunakan ID khusus sementara Oji sudah dipecat, Gedung itu tidak punya tangga darurat.
.
kini Kenan dan Kinanti berada di Ruangan Molen.
"kalian tidak berniat menjelaskan sesuatu?" tanya Molen seolah curiga Kinan dan Kenan punya hubungan serius.
"kami tidak punya hubungan apapun." jawab Kenan dengan tegas.
kinanti hanya diam tanpa berbicara sepatah katapun.
"Kinan?" sapa Molen.
Kinanti pun baru berani menatap mata Molen, "kami hanya tetangga baik Pak."
Molen mengangguk, "jika kalian punya hubungan serius pun tidak masalah."
Kenan memasang wajah dinginnya lalu menundukkan sedikit kepalanya dan pergi dari Ruangan Molen, Kinanti menghela nafas panjang.
"Pak? maafkan Kinanti Pak." ucap Kinanti dengan merasa bersalah.
Molen tersenyum, "tidak apa Kinanti, tapi bapak lihat kamu tertarik pada Pria dingin itu ya?"
"apa ketara Pak?" tanya Kinanti memegang kedua pipinya sendiri.
Molen mengangguk, Kinanti langsung memerah malu dan izin pergi dari Ruangan Molen.
Molen menggeleng kepalanya pelan lalu kembali melihat berita di Komputernya, kehancuran Keluarga ternama itu tidak bisa dicegah atau ditutupi oleh kebaikan apapun yang dilakukan Keluarga Oji dan kawanannya.
Keluarga 6 sekawan itu benar-benar sudah hancur hanya karna postingan akun Hacker Mawar Putih yang sejak dulu sudah dipercayai sebagai Hacker mematikan karna jika sudah memposting artikel maka targetnya akan hancur tanpa bisa di perbaiki lagi.
.
.
__ADS_1
.